NovelToon NovelToon
Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Reinkarnasi
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: dhanis rio

bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.

Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19.SIMFONI CACAT DI BALIK PAGAR MANSION

Mansion di pinggiran Ovelia itu berdiri megah, dikelilingi pagar besi hitam yang memisahkan kemewahan ksatria suci dengan hiruk pikuk kota. Namun bagi Arka, tempat ini hanyalah sebuah bangunan besar yang terlalu banyak membuang ruang.

Saat ia melangkah ke aula utama, dua belas pelayan berseragam rapi sudah berbaris sempurna. Gerakan mereka sinkron, namun Arka menangkap sesuatu yang tidak biasa, cara mereka berpijak terlalu stabil untuk sekadar pelayan yang biasa mengurus dapur.

Arka menguap lebar, matanya yang malas menyapu barisan itu. "Kalian... siapa?"

Seorang wanita dengan rambut hitam yang diikat kencang melangkah maju. "Nama saya Lyra, Tuan. Kami adalah pelayan pribadi yang dikirim oleh Komandan Alaric. Tugas kami adalah menjaga kenyamanan Anda dan memastikan rahasia di dalam mansion ini tetap terkunci di balik pagar."

Arka menggaruk lehernya, tampak tidak terkesan. "Dengar, aku tidak suka dilayani. Tugas kalian di sini sederhana: bersihkan tempat ini. Mansion ini terlalu luas, repot sekali kalau aku harus menyuruh murid-muridku menyapu setiap hari. Untuk makanan, jangan campuri urusan kami. Kami akan berburu atau memasak sendiri. Aku tidak cocok dengan lidah bangsawan."

Para pelayan itu saling pandang, sedikit terkejut dengan tuan baru mereka yang lebih mirip pengangguran daripada seorang legenda yang ditakuti Komandan mereka.

...

Sore harinya, di halaman belakang yang luasnya setara lapangan latihan militer, Arka mulai mengawasi Jiro, Kael, dan Elara. Pelatihan kali ini tidak lagi menggunakan pedang kayu, Arka meminta mereka melepaskan mana secara murni hingga udara di halaman itu bergetar hebat.

Lyra berdiri di teras dengan sapu di tangan. Matanya tanpa sadar terpaku pada Jiro. Ia melihat pemuda itu bergerak, dan dalam pikirannya, Lyra sudah menghitung tiga celah fatal dalam pertahanan Jiro. Ia melamun, teringat saat-saat ia masih menjadi Peringkat A yang disegani, sebelum sebuah serangan sihir menghancurkan sirkuit mana di lengan kanannya, mengubahnya menjadi "sampah" yang hanya bisa memegang sapu.

Tiba-tiba, sebuah kerikil melesat seperti peluru ke arah wajahnya.

Hap!

Tangan kiri Lyra bergerak secepat kilat, menangkap kerikil itu tepat satu inci di depan matanya. Sedetik kemudian, wajahnya pucat pasi. Ia baru saja melakukan refleks tempur tingkat tinggi di depan Arka.

"Refleks yang lumayan untuk seorang pembantu rumah tangga," Arka sudah berdiri di belakangnya tanpa suara, membuat Lyra hampir melompat. "Peringkat A, bukan? Atau setidaknya... dulu."

Lyra menunduk, menyembunyikan tangannya yang gemetar. "Maafkan saya, Tuan. Kami semua adalah mantan ksatria dan mata-mata Alaric. Kami cacat, sirkuit mana kami hancur dalam tugas. Komandan mempekerjakan kami agar kami tidak mati kelaparan di jalanan."

Arka berdiri, menatap lengan kanan Lyra yang terbungkus kain seragam—lengan yang sirkuit mananya telah hancur total, membuatnya lumpuh secara magis.

"Kalian semua... Alaric mempekerjakan kalian karena loyalitas. Tapi bagiku, kalian hanya kumpulan barang rusak yang bersembunyi di balik seragam pelayan," Arka berjalan mendekati tangga. "Kumpulkan semua rekanmu di lapangan. Sekarang."

...

Dua belas pelayan itu kini berdiri di hadapan Arka di tengah lapangan latihan. Mata mereka tidak lagi menunjukkan kehampaan; ada api kemarahan di sana.

Arka memandangi dua belas pelayan itu. Matanya yang tajam bisa melihat aliran mana mereka yang tersumbat dan rusak—seperti kabel-kabel yang terputus.

"Kalian setia pada Alaric karena dia memberi kalian makan," Arka mengeluarkan sebuah botol kristal kecil yang memancarkan cahaya ungu redup dari inventory-nya. Elixir Reconstruction: Grade Mythical. "Tapi kalian akan setia padaku karena aku akan mengembalikan martabat kalian."

Arka tidak banyak bicara. Ia menarik tangan kanan Lyra dengan kasar. Sebelum wanita itu sempat protes, Arka menyiramkan setetes cairan itu ke kulitnya.

Seketika, Lyra menjerit. Suara teriakannya merobek kesunyian sore itu. Cahaya ungu mulai merambat masuk ke pori-porinya, mencari sirkuit mana yang hancur dan menyambungnya kembali dengan cara yang brutal. Logam sihir yang mengendap di sarafnya dipaksa keluar hingga darah hitam menetes dari ujung jarinya.

Beberapa saat kemudian, hening.

Lyra menatap tangannya. Ia mencoba mengalirkan mana. Wush! Sebuah pusaran angin kecil tercipta di telapak tangannya. Matanya membelalak. Ini bukan hanya sembuh, sirkuit mananya kini terasa lebih lebar dan lebih murni dari sebelum ia terluka.

"Aku bisa melakukan ini pada kalian semua," ucap Arka dingin pada pelayan lainnya. "Tapi aku tidak memberikan ini secara gratis. Aku tidak butuh pelayan. Aku butuh lawan tanding untuk murid-muridku. Kalian akan menjadi bayangan yang melatih mereka dan memastikan mereka siap menghadapi monster yang sebenarnya."

Satu per satu pelayan itu jatuh berlutut. Kali ini bukan karena perintah Alaric, melainkan karena rasa syukur yang melampaui logika. Bagi seorang petarung, mengembalikan sirkuit mana yang hancur adalah mukjizat yang lebih besar daripada menghidupkan orang mati.

"Kami tidak butuh gaji, Tuan Arka," suara seorang mantan ksatria berat karena haru. "Dengan bertarung melawan murid-murid Anda, kami sendiri akan menjadi lebih kuat. Kami akan menjadi perisai dan belati Anda di kegelapan Ovelia."

Arka tersenyum tipis. "Bagus. Mulai malam ini, kalian bukan lagi pelayan Alaric. Kalian adalah Shadow Servants-ku. Cari uang kalian sendiri dengan mengambil misi di guild saat kalian tidak sedang melatih murid-muridku. Tapi ingat satu hal: identitas kalian tetap rahasia."

...

Malam itu, Arka berjalan menuju Guild Petualang dengan langkah santai. Kota Ovelia tampak tenang, namun di balik ketenangan itu, Arka baru saja menanam benih organisasi yang akan mengguncang tatanan kerajaan.

Ia masuk ke kantor Baros tanpa mengetuk pintu. Sang Ketua Guild sedang menyesap kopi hitamnya saat Arka melempar setumpuk dokumen ke meja.

"Apa ini?" Baros mengerutkan kening.

"Pendaftaran untuk kelompok baru. Sebut saja mereka faksi 'Bayangan'," Arka duduk di kursi depan Baros. "Mereka akan beroperasi secara mandiri, tapi semua misi mereka berada di bawah tanggung jawabku. Pastikan kau menyiapkan misi Peringkat A dan S yang selama ini terbengkalai. Karena mulai besok, guild ini akan menjadi tempat yang sangat sibuk."

Baros melihat identitas di kertas itu. Nama-nama yang ia kenal sebagai ksatria yang sudah "pensiun" atau menghilang. Ia menatap Arka dengan ngeri.

"Arka... apa yang sebenarnya sedang kau bangun di Mansion itu?"

Arka hanya menguap, berdiri dan berjalan menuju pintu. "Hanya sebuah tempat peristirahatan yang sedikit lebih sibuk, Baros. Pastikan saja guildmu siap menerima gelombang kenaikan level yang akan datang."

...

Kembali di Mansion, bulan menggantung rendah di atas pepohonan taman, menyiramkan cahaya perak yang dingin ke halaman belakang. Arka melihat Lyra sedang berlatih sendirian di sudut taman. Gerakannya tajam, belati di tangannya membelah udara dengan presisi seorang pembunuh bayaran, namun Arka bisa melihat keraguan di setiap transisi geraknya.

​"Jangan hanya mengandalkan kecepatan tanganmu, Lyra," ucap Arka datar dari balik kegelapan pohon.

​Lyra tersentak. Tubuhnya berputar secara insting, belatinya terangkat dalam posisi siaga. Begitu menyadari siapa yang berbicara, ia segera menurunkan senjata dan membungkuk hormat. "Tuan Arka. Maaf, saya tidak menyadari kehadiran Anda."

​Arka melangkah keluar dari bayangan, tangannya masih di dalam saku celana. "Itu masalahmu. Kau masih bertarung seperti petarung arena, mengandalkan otot dan kecepatan visual. Seorang pembunuh sejati tidak boleh membiarkan targetnya tahu bahwa mereka sedang diburu sampai ajal menjemput."

​Lyra mengerutkan kening, mencoba memahami. "Tapi Tuan... kecepatan adalah segalanya bagi seorang Assassin."

​"Salah," Arka menatap mata Lyra dengan dingin. "Keberadaanmu adalah segalanya. Lihat ini."

​Arka berdiri tepat di depan Lyra, hanya berjarak tiga meter. Secara tiba-tiba, udara di sekitar Arka seolah-olah tersedot masuk ke dalam lubang hitam. Lyra merasakan merinding hebat di tengkuknya. Dalam satu kedipan mata, Arka menghilang.

​Bukan melompat, bukan berlari. Ia hilang begitu saja dari pandangan mata, seolah-olah eksistensinya dihapus dari realitas.

​Lyra terperangah. Ia segera memasang kuda-kuda tempur, matanya bergerak liar menyisir setiap sudut taman yang remang. Ia mencoba menggunakan indera pendengarannya, namun tidak ada suara gesekan rumput. Ia mencoba menggunakan indera penciumannya, namun bau tanah basah tidak terusik. Bahkan hawa keberadaan (presence) Arka benar-benar nol.

​"Tuan?" suara Lyra bergetar. Ia menengok ke kiri, lalu berputar ke kanan dengan cepat. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia merasa seperti sedang dikurung di dalam ruangan hampa udara di mana ia adalah satu-satunya makhluk hidup.

​Tiba-tiba, suhu di belakang leher Lyra turun drastis.

​Sebuah sentuhan jari yang sangat ringan, setipis helai rambut namun sedingin es mendarat tepat di atas nadinya. Lyra membeku. Seluruh bulu kuduknya berdiri. Ia merasa seolah-olah sabit kematian sedang bersiap memanen nyawanya.

​"Jangan biarkan mereka tahu kau ada di sana," bisikan Arka terdengar tepat di telinganya, sangat dekat hingga napasnya terasa dingin. "Sampai mereka merasa dingin di leher mereka."

​Lyra menelan ludah dengan susah payah. Ia bahkan tidak berani bernapas. Saat ia memberanikan diri untuk menoleh, Arka sudah berdiri di belakangnya dengan ekspresi malas yang sama, seolah-olah ia tidak pernah bergerak sedikit pun dari tempatnya semula.

​"Itu adalah teknik Void Walk," Arka berbalik, berjalan santai menuju pintu mansion. "Gunakan mana untuk menekan udara di sekitarmu agar tidak bergesek dengan tubuhmu. Jika udara tidak bergerak, suara tidak akan tercipta, dan cahaya akan berbelok melewatimu. Kau bukan hanya harus tak terlihat, kau harus menjadi 'tiada'."

​Lyra terpaku di tempatnya berdiri selama beberapa menit. Ujung jari Arka yang tadi menyentuh lehernya masih menyisakan sensasi dingin yang menusuk tulang. Nasihat singkat itu bukan sekadar teori, itu adalah wahyu yang meruntuhkan semua pemahaman sihir yang ia pelajari selama puluhan tahun di militer Alaric.

​Mulai malam itu, Lyra menyadari bahwa ia tidak hanya sedang melayani seorang yang di takuti Alaric peringkat SS. Ia sedang melayani Sang Raja Kehampaan yang bisa mencabut nyawa siapa pun tanpa pernah membiarkan korbannya tahu bahwa kematian telah datang. Ia adalah murid bayangan pertama, dan ia baru saja mencicipi sedikit dari keagungan Void King.

1
dhanis rio
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!