Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Hujan turun tanpa aba-aba, seolah langit sengaja menumpahkan segala beban yang sedari siang menggantung di awan. Begitu Nadia menutup pintu kamar kosnya, suara gemuruh air menghantam atap seng dan jalanan sempit di luar terdengar begitu jelas. Ia bersandar sejenak di balik pintu, menghela napas panjang dengan rasa syukur yang tidak bisa ia sembunyikan. Sedikit saja ia terlambat turun dari mobil Rio, tubuhnya yang rapuh pasti sudah basah kuyup. Nadia tahu benar batas ketahanan tubuhnya sekali saja kehujanan, flu akan dengan mudah menjalar, disusul demam yang membuatnya terkapar berhari-hari.
Ia melepaskan sepatu dengan gerakan lambat, menaruhnya rapi di sudut kamar. Udara lembap menyusup masuk, membawa aroma tanah basah yang entah kenapa membuat dadanya terasa sesak. Nadia berjalan tergesa menuju dapur kecil di sudut kamar kos yang nyaris tak layak disebut dapur. Kompor satu tungku, panci kecil, dan rak kayu yang sudah mulai lapuk menjadi saksi kesehariannya sebelum semua kekacauan ini terjadi. Ia menuangkan air ke dalam panci, menyalakan kompor, lalu menunggu hingga air itu hangat tidak perlu mendidih, cukup untuk menenangkan tenggorokan dan perutnya yang sejak sore meronta meminta diisi.
Sambil menunggu, Nadia menyandarkan tubuhnya di meja dapur. Tangannya refleks memijat perut yang terasa kosong. Ia belum makan apa pun sejak siang, dan semua yang terjadi bersama Arya membuatnya lupa pada kebutuhan paling dasar. Ketika air sudah cukup hangat, ia menuangkannya ke dalam gelas, meniup pelan sebelum meneguknya sedikit demi sedikit. Hangatnya air merambat turun, memberi sedikit rasa nyaman di tengah kekacauan batinnya.
Pandangan Nadia lalu tertuju pada kalender kecil yang tergeletak di atas meja. Kalender murah dengan gambar pemandangan yang warnanya sudah mulai pudar. Ia mendekat, menatap tanggal hari ini dengan mata yang sedikit menyipit. Angka-angka kecil itu mendadak terasa memiliki makna lain setelah percakapannya dengan Rio. Angka tujuh. Nadia mengulangnya dalam hati. Kebencian dan ketakutan Arya terhadap angka itu masih terasa tidak masuk akal baginya. Pria seperti Arya—dingin, arogan, seolah tak tersentuh apa pun ternyata memiliki ketakutan yang begitu spesifik dan, di mata Nadia, rapuh.
“Lucu,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar di antara suara hujan. Bibirnya perlahan melengkung, membentuk senyum tipis yang kemudian berubah menjadi senyum lebar. Ada sesuatu yang berdenyut di dadanya bukan kegembiraan, melainkan rasa puas yang bercampur niat buruk. Kelemahan. Arya memiliki kelemahan. Selama ini Nadia merasa dirinya selalu berada di posisi tertekan, menjadi pion yang digerakkan sesuka hati. Namun sekarang, informasi itu seperti pisau kecil di tangannya. Tidak besar, tidak mematikan, tapi cukup tajam untuk melukai.
“Menarik,” bisiknya lagi. Ia bisa menggunakan itu. Bukan untuk membalas secara fisik ia tahu ia tidak punya kekuatan untuk itu melainkan untuk merusak mental pria itu, setidaknya sedikit demi sedikit. Nadia mengatupkan rahangnya, tekadnya menguat. Ia tidak bisa terus diam, tidak bisa terus menerima semua perlakuan itu tanpa melakukan apa pun. Ia ingin melihat seberapa jauh ketidakwarasan Arya, ingin tahu apakah pria itu benar-benar sekuat yang ia tunjukkan.
Nadia segera meraih ponselnya dari atas meja, membuka layar yang memantulkan wajahnya sendiri wajah yang tampak lebih lelah dari usianya. Ia membuka mesin pencari, jari-jarinya bergerak cepat mengetik kata-kata yang terlintas di benaknya, ketakutan terhadap angka tertentu. Hasilnya bermunculan, artikel demi artikel tentang fobia spesifik, tentang bagaimana seseorang bisa mengalami ketakutan irasional terhadap sesuatu yang bagi orang lain tampak sepele. Nadia membaca dengan saksama, matanya bergerak cepat, sesekali mengernyit ketika menemukan istilah-istilah psikologis yang asing.
“Jadi dia masih manusia,” gumamnya, kali ini dengan nada yang lebih datar. Selama ini, melihat bagaimana kejamnya Arya, Nadia sempat berpikir pria itu tidak memiliki celah. Seolah ia diciptakan tanpa rasa takut, tanpa empati. Namun kenyataan ini mematahkan anggapan itu. Arya, dengan segala kekuasaannya, tetaplah manusia yang pernah terluka.
Nadia memejamkan mata, menghembuskan napas berat. Ada rasa aneh yang menyelinap campuran antara kemenangan kecil dan kelelahan mendalam. Ia menurunkan ponselnya, lalu pandangannya jatuh pada cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin itu berkilau samar di bawah cahaya lampu kamar yang redup. Ia mengangkat tangannya, menatap benda kecil itu seolah baru menyadari keberadaannya.
“Aku sudah menikah,” katanya pelan, hampir seperti bertanya pada dirinya sendiri. Kata-kata itu terasa asing di lidahnya. Ia tertawa kecil tanpa humor, lalu berbicara lagi, seolah ada sosok lain di ruangan itu sosok ibunya. “Bu, aku sudah menikah.”
Suara hujan di luar seakan menjadi latar bagi monolog batinnya. Wajahnya berubah kesal, matanya memanas. “Ayah pergi,” lanjutnya, nadanya bergetar. “Dan karena itu, semua ini harus terjadi. Pernikahan ini harus terjadi.” Tangannya mengepal, kukunya menekan telapak tangan. “Apa salahku, Bu? Apa salahku sampai harus mengalami semua ini?”
Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban. Nadia tertawa pahit. Benarkah ia menikah dengan pria kejam dan kaya raya itu? Jika diceritakan pada orang lain, kisahnya mungkin terdengar seperti dongeng gadis biasa menikah dengan pria berkuasa. Namun realitasnya jauh dari kata indah. Nadia merasa dirinya tidak pantas, tidak siap, dan tidak menginginkan semua ini.
Ia beranjak menuju ranjang kecil di sudut kamar. Kasurnya sederhana, seprai polos tanpa motif. Nadia menjatuhkan tubuhnya di sana, menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal. Aroma deterjen yang akrab menyambutnya, namun tidak mampu menenangkan pikirannya. Rentetan kejadian beberapa hari terakhir kembali terlintas pernikahan yang dipaksakan, tatapan dingin Arya, kata-kata tajam yang melukai harga dirinya. Semua itu menekan dadanya hingga napasnya terasa sesak.
Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah. Bahunya bergetar, isakannya teredam oleh bantal. Nadia menangis, bukan hanya karena sakit hati, tetapi juga karena rasa kehilangan akan hidup yang pernah ia rencanakan. Tangis itu mengalir begitu saja, tanpa usaha untuk dihentikan.
---
Di tempat lain, jauh dari kamar kos sempit itu, Arya berada di ruang kerjanya yang luas. Lampu-lampu kristal menerangi ruangan dengan cahaya dingin. Emosi yang menggelegak di dadanya membuat semua kemewahan itu terasa tidak berarti. Arya membanting benda-benda di sekitarnya sebuah vas pecah berkeping-keping, dokumen berserakan di lantai. Napasnya tersengal, rahangnya mengeras.
“Enam bulan?” teriaknya frustasi. Kata-kata Nadia terngiang di kepalanya, menusuk seperti duri. Ia mengacak rambutnya sendiri, berjalan mondar-mandir tanpa tujuan. “Jangan harap kau bisa meninggalkanku,” gumamnya dengan suara rendah namun penuh amarah. “Tidak seperti dia.”
Kebencian terhadap ibunya kembali membuncah, bercampur dengan rasa rindu yang selalu ia tolak untuk diakui. Wanita itu pergi tanpa pamit, meninggalkannya pada usia tujuh tahun usia yang kini menjadi luka terbuka dalam hidupnya. Arya membenci ibunya karena pergi, tetapi di sudut hatinya, ia masih anak kecil yang menunggu di depan pintu, berharap ibunya kembali.
Teriakan frustasi kembali menggema, kali ini lebih pelan, lebih patah. Ia menunduk, telapak tangannya menekan meja kerja yang kokoh. Untuk sesaat, Arya merasa hampa.
Ketukan di pintu memecah kesunyian. Rio masuk dengan langkah hati-hati, melaporkan bahwa Nadia sudah pulang ke kosnya dengan selamat. Arya menoleh sekilas, wajahnya kembali dingin. “Aku tidak peduli,” katanya singkat. Rio mengangguk, bersiap pergi.
Namun langkahnya terhenti ketika Arya memanggilnya lagi. Ada jeda singkat, lalu perintah yang tidak terduga keluar dari mulut Arya. “Antar aku ke kos Nadia.”
Rio terdiam, terkejut. Ia menjelaskan bahwa Melia sudah diminta untuk mengawasi Nadia. Tatapan Arya langsung mengeras, menusuk. “Aku bilang antar aku,” ulangnya, tidak memberi ruang untuk bantahan.
Rio menelan ludah, mengangguk patuh. Ia tahu, ketika Arya sudah memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa mengubahnya.
---
Hujan masih turun deras ketika mobil Arya melaju menembus jalanan malam. Lampu-lampu kota memantul di aspal basah, menciptakan kilau yang menyilaukan. Di dalam mobil, suasana hening. Arya menatap lurus ke depan, pikirannya penuh dengan bayangan Nadia—tatapan matanya, kata-katanya tentang kebebasan, tentang pergi.
Sementara itu, di kamar kosnya, Nadia akhirnya tertidur dengan mata sembab, tanpa tahu bahwa pria yang ingin ia jauhi sedang dalam perjalanan menuju dirinya. Hujan terus mengguyur, seolah menjadi saksi dua hati yang sama-sama terluka, berjalan menuju arah yang belum mereka pahami sepenuhnya.