Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.
Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.
Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.
Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SITUASI YANG AGAK SULIT DICERNA
Anela akhirnya selesai berpakaian. Ia memilih outfit paling “aman” dari tasnya—blouse polos dan rok kerja yang sopan. Seolah-olah dengan tampilan itu, semalam bisa dianggap cuma… mimpi yang terlalu realistis.
Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi.
Sofa tempat mereka sempat tertawa dan saling sindir.
Meja dengan sarapan yang belum sempat ia sentuh.
Dan kamar yang masih sedikit berantakan.
“Oke. Itu nyata,” gumamnya pelan.
Ia menarik napas panjang lalu keluar cepat-cepat. Makin lama di sana, makin sulit rasanya memisahkan dirinya dari versi Anela yang semalam—yang berani, panas, dan tidak terlalu banyak mikir.
Di dalam taksi, ia menatap ponselnya.
Tidak ada pesan baru.
Ia mendengus pelan.
Kenapa sih kamu nungguin?
Bukannya tadi mau santai aja?
Ia menyandarkan kepala ke jendela. Tapi jauh di dalam, ia tahu ini bukan sekadar pelampiasan. Ada obrolan yang tulus. Ada cara Rico menatapnya seperti ia benar-benar menarik, bukan cuma cantik.
Dan justru itu yang bikin ribet.
Begitu sampai di apartemennya sendiri, pintu dibuka pengasuh Ziyo.
“Pagi, Bu. Ziyo lagi nonton kartun.”
Anela tersenyum sedikit canggung. “Makasih ya udah jagain.”
Belum sempat ia melepas sepatu, suara kecil itu terdengar.
“Mamaaa!”
Ziyo berlari kecil menghampirinya.
Anela langsung berlutut dan memeluknya erat. Terlalu erat mungkin.
Ia mencium rambutnya, pipinya, seperti memastikan dunianya masih utuh.
“Kangen Mama?” tanyanya lembut.
“Iyaaa. Mama lama banget.”
Anela tersenyum tipis. “Maaf ya. Mama cuma… kerja.”
Ia menggendong Ziyo. Dalam pelukan itu, rasa bersalahnya muncul lagi.
Tapi ada satu hal yang jujur ia akui pada dirinya sendiri.
Ia tidak menyesal sepenuhnya.
Dan itu bikin tambah bingung.
Siang menjelang. Setelah memastikan Ziyo makan dan tenang, Anela masuk ke kamar. Ia duduk di tepi ranjangnya sendiri—ranjang yang sudah lima tahun cuma miliknya.
Ia menatap dirinya di cermin.
Ada sesuatu yang beda.
Bukan di wajahnya.
Tapi di matanya.
Semalam ia bukan cuma ibu.
Bukan cuma sales mobil.
Ia perempuan yang diinginkan. Disentuh dengan perlahan. Dipandang seperti sesuatu yang berharga dan… menggoda.
Dan perasaan itu masih tersisa seperti bara kecil di dalam dadanya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar.
Jantungnya langsung melonjak terlalu dramatis untuk sekadar notifikasi.
Nama itu muncul.
Rico.
Ia menelan ludah sebelum membuka pesan.
Pagi.
Kamu sudah sampai rumah?
Aku kepikiran kamu dari tadi latihan.
Anela tak bisa menahan senyum kecil.
Latihan. Jadi memang benar dia pergi bukan kabur.
Ia mengetik.
Menghapus.
Mengetik lagi.
Menghapus lagi.
“Kenapa sih jadi grogi gini…” gumamnya.
Akhirnya ia kirim:
Sudah.
Makasih buat semalam… dan sarapannya.
Balasan datang cepat.
Jangan bikin itu terdengar kayak kesalahan ya.
Aku nggak anggap itu cuma “semalam”.
Jantung Anela berdegup lebih cepat.
Oke. Itu bukan pesan basa-basi.
Ia menggigit bibir bawahnya pelan, mengingat bagaimana pria itu menatapnya tadi malam—intens, tapi tetap lembut. Cara ia membuatnya tertawa dulu sebelum membuatnya kehilangan kendali.
Sebuah pesan lagi masuk.
Aku pengen ketemu kamu lagi.
Bukan cuma buat pertempuran panas di ruang tamu yang bikin aku telat latihan.
Anela tersedak napas kecil. “Ya ampun…”
Pipinya memanas. Tubuhnya merespons memori itu tanpa izin.
Ia mengetik pelan:
Kamu pede banget ya.
Balasan cepat.
Biasanya nggak.
Tapi sama kamu… aku nggak mau pura-pura santai.
Anela terdiam lama menatap layar.
Ini bisa jadi rumit.
Rico bukan pria biasa. Hidupnya terang, penuh sorotan.
Sedangkan ia? Hidupnya sederhana. Ada Ziyo. Ada rutinitas. Ada batas yang harus ia jaga.
Tapi untuk pertama kalinya setelah lima tahun, ia merasa ada sesuatu yang bergerak lagi di dalam dirinya. Bukan cuma rasa bersalah.
Tapi harapan.
Dan sedikit api kecil yang belum padam sejak semalam.
Ia menghela napas pelan.
Lari?
Atau maju satu langkah saja?
Jarinya akhirnya bergerak lagi di atas layar.
Kita lihat nanti.
Tergantung kamu bisa bikin aku tertawa lagi atau nggak.
Beberapa detik hening.
Lalu balasan masuk.
Challenge accepted.
Anela menatap layar itu lama.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia tersenyum bukan karena harus kuat.
Tapi karena ia benar-benar ingin.