"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelesaian (1)
Rumah Raline
Malamnya...
Suasana di ruang tamu hening selama beberapa saat, sejak kehadiran Bu Esta dan Kaisar ke rumah itu.
Mereka duduk di ruang tamu, dalam posisi saling berhadap-hadapan. Sehingga dapat melihat dengan jelas wajah satu sama lain.
Pak Umar duduk dengan Bu Dinar.
Bu Dinar terlihat lebih sering menunduk, sikap yang selalu ia ambil untuk mengusir kecanggungan atau rasa gugup. Sementara Pak Umar, wajahnya berpaling ke arah lain seolah enggan bertatap mata dengan Kaisar dan ibunya.
Di seberang mereka, Kaisar dan Bu Esta duduk di kursi yang sama. Di mana Bu Esta terlihat tetap tenang, dan Kaisar yang merasa gugup karena berhadapan lagi dengan Pak Umar setelah insiden kemarin malam.
Tak ada yang membuka suara.
Jam dinding berdetak pelan, terdengar jelas di tengah keheningan yang terasa menekan dada. Detik demi detik berlalu begitu lambat, seolah sengaja memperpanjang ketegangan di ruangan yang tidak terlalu luas itu.
Kaisar menelan ludahnya sendiri. Tenggorokannya terasa kering. Tatapannya sempat jatuh ke lantai, lalu tanpa sadar melirik sekilas ke arah Pak Umar.
Namun pria itu masih sama. Wajahnya tegas. Rahangnya mengeras. Tatapannya menjauh, seolah kehadiran Kaisar di sana adalah sesuatu yang bahkan enggan ia akui.
Kaisar kembali menunduk.
Rasa bersalah itu kembali menekan dadanya. Lebih berat dari sebelumnya.
Di sampingnya, Bu Esta duduk dengan punggung tegak. Kedua tangannya terlipat rapi di atas pangkuan. Wajahnya tenang, meskipun jauh di dalam hatinya, ia tahu pertemuan ini bukanlah hal yang mudah.
Bu Dinar melirik sekilas ke arah suaminya, seolah menunggu pria itu mengatakan sesuatu. Namun Pak Umar tetap diam.
Tak lama, Raline muncul dengan membawa nampan. Di atasnya terdapat sebuah teko berisi air putih dan empat buah gelas bening.
Ia meletakkannya di atas meja, menyuguhi tamunya seadanya.
Ketika sadar akan suasana yang seharusnya hangat antara tuan rumah dan tamu, ia pun akhirnya buka suara untuk mencairkan suasana.
"Silakan diminum, Tante," ucapnya sopan. "Maaf, di sini cuma ada air putih."
Bu Esta menatapnya sekilas, lalu mengangguk. "Terima kasih. Tidak usah repot-repot."
Raline mengangguk sopan.
Kemudian ia duduk di kursi lainnya, diantara mereka.
Suasana kembali hening, terasa menegangkan karena sikap semua orang malam ini, walaupun tak ada pertengkaran apapun.
Raline dan Kaisar saling tatap sesaat. Tapi mereka juga tak berbicara apapun, dan malah kembali saling menunduk setelahnya.
Hingga pada akhirnya, Bu Esta menarik napas pelan. Membuka mulutnya untuk memulai pembicaraan.
"Bapak, Ibu..." panggilnya, memecah keheningan yang sejak tadi membelenggu ruangan.
"Kedatangan kami kemari bukan untuk mencari masalah dengan keluarga ini," lanjutnya. "Kedatangan kami adalah dengan niat yang baik. Dan semoga bisa tersampaikan dengan baik, tanpa ada huru hara seperti sebelumnya."
Pak Umar tidak langsung menjawab. Ia hanya mengalihkan pandangannya perlahan, menatap Bu Esta dengan ekspresi datar. Tak ada senyum. Tak ada sambutan hangat kepada seorang tamu. Hanya tatapan dingin yang sulit diartikan.
"Maafkan atas kejadian semalam di rumah kami," kata Bu Esta lagi. "Itu benar-benar sesuatu yang tidak pernah saya duga akan terjadi. Dan saya... sudah memberikan pelajaran kepada anak saya dengan tangan saya sendiri setelah Anda."
Pak Umar spontan menatap Kaisar yang menunduk, lalu kembali beralih menatap Bu Esta.
"Jadi, sebenarnya apa yang kalian inginkan?" tanyanya, akhirnya. Suaranya datar, seolah tidak terlalu berharap akan terjadi hal baik malam ini.
Bu Esta mencoba bersikap seramah mungkin, agar orang tua Raline mau berbicara dengannya.
"Jelas untuk menyelesaikan apa yang belum benar-benar selesai, Pak," jawabnya. "Lebih tepatnya, tentang tanggung jawab Kaisar terhadap putri Anda, Raline. Yang sempat menimbulkan kekacauan diantara kita."
Kata-kata itu membuat rahang Pak Umar mengeras. Ia mngingat kembali kejadian kemarin malam yang membuat kemarahannya tak terkendali.
Ia kembali menatap Kaisar. Tatapannya tajam, dan seolah siap menerkam kapan saja jika pemuda itu mengatakan sesuatu yang salah.
Kaisar menegang di tempat duduknya. Kepalanya semakin menunduk.
Ia tahu, mungkin malam ini akan menjadi malam yang panjang, serta lebih mencekam daripada sebelumnya.
Tapi ia tetap harus ada di tempatnya, menghadapi putusan final untuk masalahnya.
Pak Umar akhirnya membuka suara, suaranya rendah, namun mengandung tekanan yang jelas.
"Bertanggung jawab?" tanyanya pelan.
"Pertanggungjawaban seperti apa yang Anda maksud? Apakah Anda akan meminta putri saya untuk menggugurkan kandungannya juga?"
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak diucapkan dengan nada tinggi. Tidak pula dengan bentakan.
Namun justru itulah yang membuatnya terasa lebih menekan.
Bu Esta menggeleng. "Sama sekali tidak, Pak," jawabnya.
"Saya tidak pernah berpikir untuk melenyapkan janin yang dikandung putri Anda. Sebab, saya tahu itu sebuah dosa besar yang akan ikut saya tanggung."
"Lalu?"
Bu Esta kini beralih menatap Raline yang diam menunduk.
Ia lalu bertanya. "Berapa Minggu usia kandunganmu?"
Raline mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap wanita yang penampilannya elegan itu.
Tapi sebelum ia menjawab pertanyaan Bu Esta, Pak Umar menjawabnya lebih dulu. "Kurang lebih enam Minggu. Itu kata bidan yang memeriksa dan memberitahu kami pertama kali tentang kehamilannya."
Raline kembali menunduk mendengar jawaban ayahnya. Merasa jawaban itu justru menghantam dirinya keras-keras.
Bu Esta mangut-mangut kecil mendengar jawaban Pak Umar.
Tapi ia tetap menatap Raline seolah ingin berbicara langsung pada gadis itu.
"Kenapa kamu tidak mau aborsi saat Kaisar memintanya?" tanyanya. "Jangan berpikir buruk. Saya hanya ingin dengar jawaban kamu."
Raline menelan ludah kasar, begitu juga dengan Kaisar yang tak bisa tenang sebagai orang yang dimaksud ibunya.
"Saya gak mau, Tante," jawab Raline pelan tapi tegas. "Saya gak mau menambah dosa. Saya sudah melakukan dosa besar dengan Kai. Jadi saya gak mau menambah dosa lagi dengan membunuh darah daging saya sendiri."
Bu Esta terlihat puas mendengar jawaban Raline. Ia beralih menatap putranya.
"Apa kamu tidak pernah berpikir sejauh itu sebelum memutuskan?"
Kaisar menggeleng pelan, tidak berani menatap siapapun saat ini.
Bu Esta menghela napas panjang. Baru sadar kalau anaknya ternyata bukan tipe pria yang mau berpikir ribuan kali sebelum bertindak.
Ia merasa sangat malu saat ini. Bahkan merasa lebih malu daripada malam itu.
"Maaf atas permintaan Kai yang tidak manusiawi itu," ucapnya. "Mungkin dia hanya bisa memikirkan hal itu sebagai jalan keluar karena pikirannya sedang kacau. Saya yakin, dia sebenarnya tidak sejahat itu."
Pak Umar menyahut, "Tapi, jika saja anak saya tidak menolak. Sudah jelas itu akan terjadi. Dan dia benar-benar jahat, bukan?"
"Saya tidak bilang anak saya baik," timpal Bu Esta tegas. "Tapi saya yakin Kai juga tidak berniat membunuh darah dagingnya jika keadaan tidak seburuk saat ini."
Hening.
Ucapan Bu Esta barusan masih menggantung di udara, menyisakan perasaan yang sulit dijelaskan bagi semua orang di ruangan itu.
Pak Umar menatap lurus ke depan, rahangnya masih mengeras. Bu Dinar meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan, cemas dengan arah pembicaraan ini. Sementara Raline kembali menunduk, menahan sesak yang sejak tadi tak kunjung reda.
Bu Esta menarik napas panjang.
Ia tahu, semakin lama pembicaraan ini berputar di tempat, semakin berat pula suasana yang harus ditanggung semua orang.
"Baik," ucapnya akhirnya, suaranya tetap tenang namun kini terdengar lebih tegas.
"Kita langsung saja ke intinya daripada membuat suasana semakin tidak nyaman."
Ia berhenti sejenak, memastikan semua perhatian tertuju padanya.
"Kedatangan kami ke sini utamanya untuk bertanggung jawab, bukan untuk memperpanjang masalah. Jadi, saya harap kita tidak berdebat terlalu banyak karena bisa menimbulkan lebih banyak masalah."
Pak Umar menyipitkan matanya tipis. Ia tidak memotong. Memberi kesempatan wanita itu menyelesaikan maksudnya.
Bu Esta lalu mengalihkan pandangannya pada Raline.
Tatapannya turun perlahan… menuju perut gadis itu yang masih rata. Namun semua orang di ruangan itu tahu, ada kehidupan baru yang sedang tumbuh di sana.
"Baiklah," lanjutnya.
"Kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu…"
Suaranya terdengar tegas. Tidak tinggi, namun cukup tajam untuk membuat Raline menegang di tempat duduknya.
"Kai akan menikahi kamu, tapi…"
Kalimat itu terjeda.
Raline spontan mengangkat wajahnya. Bu Dinar ikut menoleh cepat. Bahkan Pak Umar yang sejak tadi berusaha menahan diri pun kini menatap lurus ke arah Bu Esta.
Kaisar sendiri menoleh cepat ke arah ibunya, menunggu wanita itu melanjutkan kalimatnya. Ia tak tahu, apakah pembahasan ini akan sesuai rencana atau tidak.
Bu Esta melanjutkan, tanpa mengubah ekspresinya.
"Setelah anak itu lahir," katanya datar,
"saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain."
Dunia Raline seolah berhenti berputar.
Jantungnya terasa jatuh ke dasar dada.
"Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu," lanjut Bu Esta, masih dengan nada yang sama.
"Dan Kai… dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
Sunyi.
Lebih sunyi dari sebelumnya.
Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bernapas dengan lega.
Raline membeku di tempatnya. Tangannya perlahan mengepal di atas pangkuan. Napasnya terasa tercekat.
Pak Umar menatap tajam Bu Esta. Wajahnya yang tadi sudah keras, kini berubah jauh lebih gelap.
Sementara Kaisar…
Ia hanya bisa menatap ibunya dengan perasaan yang sulit diartikan.
Ia benar-benar tidak tahu… apakah ia harus merasa lega, atau justru semakin hancur, karena jelas ini akan menimbulkan perasaan tidak senang pada keluarga Raline.
BRAKKK!!!
Suara keras menggema di ruang tamu itu ketika tangan Pak Umar menghantam meja dengan keras. Gelas-gelas di atasnya bergetar, air di dalamnya bergoyang, menciptakan riak-riak kecil.
Ia berdiri tiba-tiba.
Wajahnya memerah. Rahangnya mengeras. Dadanya naik turun menahan amarah yang sejak tadi ia bendung.
"Maksud Anda apa?!" bentaknya, suaranya bergetar oleh emosi.
"Apa Anda menganggap anak saya sebagai mesin pembuat anak yang kemudian dibuang begitu saja setelah melahirkan?!"
Raline tersentak. Bahunya ikut bergetar. Bu Dinar refleks memegang lengan suaminya, mencoba menenangkan, meskipun ia sendiri gemetar.
Namun Pak Umar tidak bisa diam.
Di hadapannya, Bu Esta tetap duduk tegak. Wajahnya masih tenang, meskipun jelas suasana telah berubah drastis.
"Saya hanya memberikan solusi," jawab Bu Esta, suaranya tetap terkendali.
"Agar anak-anak kita tetap bisa melanjutkan hidup mereka tanpa harus mengurus anak. Sebab, masa depan mereka masih panjang. Tidak harus stuck dalam pernikahan di usia muda."
Ia menatap lurus ke arah Pak Umar, tanpa gentar.
"Saya yakin, anak Anda juga tidak siap menjadi seorang ibu di usianya saat ini. Bukankah lebih baik anak itu diberikan kepada orang lain yang siap merawatnya?"
Kata-kata itu justru semakin menyulut api kemarahan.
"Tapi apa yang Anda katakan itu sangat merendahkan anak saya!" bentak Pak Umar lagi.
"Dia dinikahi hanya untuk menggugurkan tanggung jawab anak Anda, tanpa pernah Anda berpikir akan seperti apa masa depan anak saya setelahnya!"
Raline menunduk semakin dalam. Air matanya mulai menggenang, meskipun ia berusaha menahannya.
"Jika Anda berpikir masa depan mereka masih panjang, Anda salah besar! Masa depan anak saya bahkan sudah hancur sejak putra Anda merenggut kesuciannya!" tambah Pak Umar dengan sorot mata menyala-nyala.
Bu Esta menarik napas pelan.
"Saya tahu ini terdengar egois," katanya jujur.
"Tapi saya juga tidak bisa melepaskan Kaisar sepenuhnya menjadi suami dari anak Anda."
Ia menoleh sekilas ke arah putranya.
"Kaisar satu-satunya harapan saya dalam hidup ini. Dia harus melanjutkan hidup, menggapai cita-citanya, dan menjadi apa yang saya harapkan. Saya tidak bisa merelakan dia berumah tangga selamanya, dan meninggalkan saya sendirian untuk saat ini."
Kaisar membeku. Meski sudah mendengar ini sebelumnya, tapi entah mengapa dadanya terasa sesak mendengar itu keluar dari mulut ibunya.
Ia merasa keluarganya saat ini sangatlah jahat kepada keluarga Raline.
"Kalau begitu lebih baik tidak usah ada pernikahan saja!" balas Pak Umar tanpa ragu.
"Itu jauh lebih baik daripada anak saya direndahkan seperti ini!"
Suasana menjadi semakin panas.
Namun Bu Esta tidak kehilangan kendali.
"Terserah bagaimana Anda menilai niat saya," ucapnya.
"Tapi perlu Anda tahu… jika Kai tidak menikahinya, maka siapapun akan tahu bahwa anak Anda hamil di luar nikah."
Kalimat itu jatuh seperti palu.
"Dan anak itu akan lahir tanpa ayah. Anda pikir orang tidak akan pernah tahu kebenarannya?"
Pak Umar terdiam sesaat.
Bukan karena setuju. Tapi karena kenyataan itu… tidak sepenuhnya bisa ia bantah.
"Anggap saja kita sama-sama menyelamatkan nama baik dan mental anak-anak kita dari jahatnya omongan orang," lanjut Bu Esta.
"Soal mereka harus berpisah… meski mereka terus bersatu pun, itu belum tentu akan menciptakan rumah tangga yang bahagia."
Ia menatap bergantian ke arah Raline dan Kaisar.
"Karena pernikahan mereka didasari keterpaksaan akan keadaan."
"Apa Anda pikir mereka bisa membangun hubungan yang normal dalam pernikahan itu? Bukankah mereka bisa menderita jika terus melanjutkan hubungan yang dipaksakan, apalagi harus merawat seorang anak di usia mereka saat ini?"
Sunyi kembali.
Tak ada yang menjawab. Udara terasa semakin berat.
Dan di tengah semua itu… Raline duduk membeku. Air matanya mengalir begitu saja, jatuh ke pangkuannya.
Ia benar-benar merasa… dirinya bukan lagi seorang manusia yang memiliki pilihan.
Air mata itu jatuh tanpa suara. Menetes satu per satu, membasahi punggung tangannya yang masih mengepal di atas pangkuan. Raline tidak berani mengangkat wajahnya. Ia takut… jika ia melihat siapa pun di ruangan ini, hatinya akan benar-benar runtuh.
Bu Dinar yang duduk di samping suaminya mulai menangis pelan. Ia menutup mulutnya sendiri, berusaha meredam isak yang ingin keluar.
Pak Umar masih berdiri. Dadanya naik turun. Tatapannya tajam ke arah Bu Esta, penuh luka dan kemarahan yang bercampur menjadi satu.
Sementara Kaisar…
Ia tidak sanggup lagi menatap Raline. Pandangan gadis itu yang kosong, air matanya yang jatuh tanpa bisa ditahan… semuanya terasa seperti pisau yang menusuk dadanya berulang kali.
Ia tahu. Semua ini terjadi karena dirinya.
Semua penderitaan ini… berawal dari kesalahannya.
Bersambung...
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya