NovelToon NovelToon
Shen Yu Jalan Melawan Langit

Shen Yu Jalan Melawan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.

Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Lompatan Buta

Surga Pertama - Aula Menelan Kalpa.

Susunan pemindah dimensi purba itu menderu. Pualam hitam yang menjadi dasarnya memancarkan cahaya perak yang sangat menyilaukan, beresonansi dengan sisa-sisa Dao Waktu di udara.

"Masuk ke dalam formasi! Jangan ada yang melepaskan aliran Qi kalian atau kalian akan digiling oleh badai ruang!" perintah Shen Yu mutlak.

Tiga ratus kultivator fana bergegas melangkah ke atas diagram formasi raksasa tersebut, berdiri rapat saling bahu-membahu. Di tengah mereka, Shen Yu berdiri tegap, sebelah tangannya menggenggam erat tangan Lin Xue. Mata kirinya yang kini bercincin perak berputar pelan, menstabilkan retakan-retakan kecil yang muncul di udara akibat usia formasi yang terlalu tua.

BLAAAAAAAR!

Pilar cahaya perak meledak menembus atap aula, merobek tabir dimensi Surga Pertama secara paksa. Dalam sekejap mata, seluruh aula menjadi kosong, hanya menyisakan Bai Ku yang terkapar di kejauhan, menatap kepergian sang tiran dengan pandangan kosong.

Celah Dimensi Ruang dan Waktu.

Melintasi alam di Tiga Puluh Tiga Surga bukanlah perjalanan yang damai. Terowongan ruang purba itu penuh dengan pusaran badai dimensi yang bisa mengoyak tubuh ahli Dewa Fana menjadi kabut darah.

Setiap kali badai dimensi mencoba menembus pelindung cahaya perak mereka, Shen Yu mengangkat tangan kirinya. Ketiadaan melahap badai ruang tersebut, sementara Dao Waktu memutarbalikkan robekan dimensi sebelum menyentuh pasukannya.

Namun, susunan purba ini sudah terlalu rusak. Tiba-tiba, ujung terowongan dimensi itu hancur, menciptakan daya hisap yang tidak masuk akal.

"Bersiap untuk benturan!" raung Shen Yu, menarik Lin Xue ke dalam pelukannya dan melepaskan jubah pelindung Malam Tanpa Bintang untuk menyelimuti seluruh pasukannya.

Surga Kedua - Hutan Duri Besi Hitam.

Tabir udara di atas sebuah hutan pekat robek dengan kasar. Dari dalam celah gelap itu, ratusan sosok terlempar keluar, menghantam tanah yang kerasnya menyerupai baja tempaan.

BUM! BUM! BUM!

Tiga ratus kultivator fana jatuh bergelimpangan. Begitu tubuh mereka menyentuh tanah, pemandangan mengerikan terjadi. Puluhan dari mereka langsung memuntahkan darah segar, lutut mereka hancur, dan tubuh mereka menempel ke tanah seolah-olah ditindih oleh puluhan gunung.

"Ugh... A-Apa ini?!" rintih kultivator fana itu, mencoba menopang tubuhnya dengan kedua tangan, namun tulang lengannya berderit keras. Pembuluh darah di matanya pecah.

Bukan hanya dia, seluruh pasukan fana yang sebelumnya bisa membelah sungai dan menghancurkan gunung di alam bawah kini lumpuh, bernapas dengan sangat dangkal dan cepat.

Hukum alam di tempat ini... puluhan kali lipat lebih berat, lebih padat, dan lebih mematikan daripada Surga Pertama!

Di tengah kekacauan itu, Shen Yu mendarat dengan kedua kakinya menancap sedalam setengah jengkal ke dalam tanah keras berlapis lumut hitam. Jubahnya berkibar pelan. Bahunya sedikit turun akibat tekanan luar biasa yang menekan tubuh fana-nya, namun matanya tetap tajam dan punggungnya tetap tegak.

Di sebelahnya, Lin Xue memegang pedang teratainya sebagai penopang. Wajah gadis itu memucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia harus mengerahkan seluruh sisa Qi di Dantian-nya hanya untuk berdiri.

"Guru... tempat ini..." Lin Xue terengah-engah, melihat ke sekeliling.

Pohon-pohon di hutan ini tidak memiliki daun, melainkan ranting-ranting yang menyerupai tombak besi bergerigi tajam. Hawa Dao di udara sangat liar dan memotong kulit seperti pisau tak kasat mata.

"Kita telah menyeberang," kata Shen Yu datar, matanya menyapu pepohonan logam di sekitar mereka. "Ini bukan lagi tempat pembuangan. Kepadatan ruang ini, hukum alam yang mencoba meremukkan tulang kita... kita berada di Surga Kedua."

Shen Yu berjalan menghampiri pasukannya yang masih mengerang kesakitan di tanah. Ia tidak mengulurkan tangan untuk membantu mereka berdiri. Sang tiran hanya menatap mereka dengan dingin.

"Di Surga Pertama, ranah Dewa Fana Tahap Awal cukup untuk membuat kalian menjadi budak tambang. Di Surga Kedua, ranah itu bahkan tidak cukup untuk membuat kalian bernapas," suara Shen Yu menggema, tidak mengandung belas kasihan. "Duduk bersila! Putar meridian kalian! Paksa Dantian kalian beradaptasi dengan hukum udara di tempat ini, atau biarkan paru-paru kalian hancur dari dalam!"

Mendengar perintah mutlak itu, Mo Han dan sisa kultivator lainnya menggertakkan gigi mereka hingga berdarah. Dengan sisa-sisa tekad yang menolak mati konyol, mereka memaksa tubuh mereka untuk duduk dalam posisi teratai, menyerap Qi liar Surga Kedua yang terasa seperti menelan kepingan kaca.

Lin Xue perlahan memulihkan ritme napasnya. Ia memancarkan Dao Kehidupan tipis untuk membantu meredakan luka dalam pasukannya, memastikan tidak ada yang mati karena tekanan adaptasi.

Shen Yu menutup matanya sejenak, membiarkan Jantung Iblis-nya memompa darah lebih cepat. Dewa Fana Tahap Menengah-nya secara perlahan menyesuaikan diri. Ketiadaan di dalam tubuhnya mulai menelan tekanan ruang Surga Kedua, menjadikan beban itu sebagai nutrisi untuk memperkuat tulang, otot, dan meridiannya.

Hanya dalam waktu lima belas tarikan napas, Shen Yu membuka matanya kembali. Ia telah sepenuhnya beradaptasi. Di matanya, hutan baja mematikan ini tidak lebih dari sekadar taman bermain baru.

SRAAAAAK!

Suara gesekan keras memecah keheningan hutan. Dari balik rimbunan duri besi, bayangan-bayangan besar bergerak mengepung mereka.

Mata Lin Xue menyipit. "Guru, kita didatangi tamu."

Tiga ekor makhluk buas melompat keluar dari bayang-bayang pepohonan. Bentuk mereka menyerupai macan kumbang raksasa, namun kulit mereka terbuat dari lempengan baja hitam yang berkarat, dan taring mereka memancarkan racun ungu yang melelehkan tanah di bawahnya.

Monster kosmik asli Surga Kedua. Dan yang lebih mengerikan, aura dari ketiga binatang buas itu setara dengan kultivator Dewa Fana Tahap Menengah! Di Surga Pertama, monster sekuat ini bisa memimpin sebuah faksi. Di sini, mereka hanyalah predator liar di pinggiran hutan.

Hewan buas itu menggeram, menatap ke arah tiga ratus kultivator fana yang sedang bermeditasi. Di mata monster-monster itu, pasukan Shen Yu adalah tumpukan daging segar yang sangat empuk dan tak berdaya.

Salah satu macan baja itu melesat maju dengan kecepatan yang merobek udara, rahangnya terbuka lebar mengarah ke leher Mo Han yang sedang menutup mata.

Lin Xue mengangkat pedangnya, bersiap untuk menangkis.

Namun, sebelum Lin Xue melangkah, bayangan hitam sudah memotong jalurnya.

Shen Yu menghilang dari tempatnya. Ia tidak menggunakan senjata. Ia muncul tepat di jalur terjangan macan baja raksasa itu, mencondongkan tubuhnya ke depan.

Saat rahang monster itu hampir menutup di kepalanya, tangan kanan Shen Yu melesat ke atas, meninju langsung ke rahang bawah binatang buas tersebut.

CRASH! BOOOOM!

Bukan suara tulang patah, melainkan suara ledakan baja yang remuk redam. Tinju Shen Yu, yang dilapisi kepadatan Ketiadaan, menghancurkan rahang monster tingkat Dewa Fana Tahap Menengah itu hingga tembus ke tulang tengkoraknya.

Monster raksasa itu terlempar ke udara dengan kepala setengah hancur, menabrak pohon duri besi sebelum akhirnya terkapar tak bernyawa, darah hitam membasahi lumut.

Dua macan baja lainnya menghentikan langkah mereka secara tiba-tiba. Insting predator mereka menjeritkan ancaman absolut dari pemuda berambut putih tersebut.

Shen Yu mengibaskan darah hitam dari punggung tangannya. Matanya yang hitam legam dan perak menatap tajam ke arah dua monster yang tersisa.

"Di dunia fana maupun di surga mana pun," bisik Shen Yu, menyeringai dengan kekejaman yang murni. "Akulah yang berada di puncak rantai makanan."

Shen Yu mengambil satu langkah ke depan, auranya meledak. Dua monster baja itu melolong ketakutan, membalikkan badan, dan lari terbirit-birit menghilang ke dalam kedalaman hutan berduri.

Menyaksikan kejadian itu, Lin Xue tersenyum tipis, menyarungkan pedangnya kembali. Di manapun mereka berada, tirannya tidak akan pernah berubah.

"Pasukan membutuhkan waktu satu jam penuh untuk bisa bergerak tanpa meremukkan organ mereka sendiri, Guru," lapor Lin Xue, menatap Mo Han yang masih berkeringat dingin. "Kita tidak bisa bertahan lama di hutan liar ini tanpa diketahui faksi lokal."

"Aku tahu," jawab Shen Yu. Matanya menatap ke arah utara, melampaui puncak-puncak pohon besi. "Ada fluktuasi Qi yang teratur dari arah sana. Sebuah pemukiman, atau benteng."

Shen Yu berjalan ke mayat macan baja itu, merobek dadanya dengan tangan kosong, dan mengeluarkan Inti Binatang berukuran kepalan tangan yang memancarkan aura logam kental.

"Kita butuh tempat berpijak, informasi, dan sumber daya Surga Kedua," kata Shen Yu sambil melemparkan Inti Binatang itu-itu ke udara dan menangkapnya. Ia menoleh pada Lin Xue. "Kita akan berkunjung ke pemukiman itu. Jika mereka menerima kita sebagai tamu, kita berdagang. Jika mereka sombong..."

1
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka...
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Bambang Widono
👍👍🙏🙏🙏🙏💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏
Bambang Widono
mantab lanjut Thor 👍👍💯💯💯💯👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
aleena
semua karyamu pasti bagus bagus
💪💪💪
Sang_Imajinasi: terimakasih 🙏
total 1 replies
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!