Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Batal menikah
"Van, temenin gue kondangan ke pernikahannya sepupu gue!" Abel memainkan rokok di tangannya sambil menatap penuh harap ke sahabatnya itu.
"Males!" sahut Revan santai.
Eza melengos sambil terkekeh pelan mendengar penolakan penuh sarkas itu.
"Please lah!" bujuk Abel lagi.
"Ogah banget gue dateng ke tempat kayak gitu!" ucap Revan lagi.
"Ini sepupu deket gue, please lah daripada gue digebok bokap nyokap gue!" bujuk Abel lagi.
"Yang digebok elo bukan gue, ngapain gue pusing!" sahut Revan ketus.
Abel mengacak rambutnya kasar, sepanjang usianya hingga sekarang ini Abel juga sama malesnya seperti Revan kalau disuruh mendatangi acara resmi seperti itu.
Cuma persoalannya yang menikah kali ini adalah kakak sepupu perempuannya yang yatim piatu dan ayah Abel di daulat sebagai wali dari sepupunya tersebut.
Abel merasa tak sampai hati kalau dia absen datang pada acara itu, di samping takut kena omelan orang tuanya, Abel juga ingin mengantarkan Amel menuju ke kehidupan barunya.
"Ayolah, waktunya udah mepet nih!" Abel dengan santainya menarik tangan Revan untuk ikut bersamanya.
"Gue absen, gue tunggu warung aja!" Eza melambai melepas kedua temannya itu.
"Lo aja yang temenin!" Revan melepaskan tangannya dengan paksa.
"Ya nggak papa kalau lo yang mau jaga warung!" Dengan santai Eza berkata sambil cengengesan karena dia tahu betul kalau Revan tak akan bisa melayani pelanggan mereka yang akan makan di warung kopi tersebut.
"Bangsad! Ashu kalian!" Dengan kesal Revan menendang kaki kursi yang diduduki Eza hingga membuat pria itu terjungkal dan jatuh ke lantai.
Akhirnya Revan membuntuti langkah Abel dan keduanya berboncengan dengan Revan yang memegang kemudi motornya.
Abel cengengesan di bangku belakang sini, meskipun Revan membawa motornya dengan cara ugal-ugalan.
Mereka hanya membutuhkan waktu lima belas menit sampai ke tempat acara pernikahan tersebut.
Begitu turun dari boncengan, Abel mengatur rambutnya yang berantakan karena memakai helm tadi.
"Untung belum telat!" ucap Abel begitu kakinya masuk ke gedung yang dipakai untuk acara tersebut.
"Duduk sana aja, Van!" Abel menunjuk deretan kursi yang ada tulisan keluarga itu.
Revan pun tanpa banyak cakap mengikuti Abel dan duduk di sebelah Abel sambil memperhatikan sekelilingnya.
Di meja persegi empat itu duduk ayahnya Abel, seorang utusan dari KUA dan seorang pengantin pria.
MC yang memimpin acara tersebut mulai berbicara dan tak lama kemudian pengantin perempuan yang begitu cantik memasuki venue acara.
Revan sempat terpaku karena kagum atas kecantikan kakak sepupu sahabatnya tersebut.
Dengan anggun Amel berjalan menuju ke tempat calon suaminya menunggu.
Amel duduk di samping Doni, utusan kantor urusan agama mulai memeriksa kelengkapan dokumen kedua mempelai.
"Pengantin prianya bernama Doni Priawan dan pengantin wanitanya bernama Amelia Putri ya?" tanya petugas tersebut.
Doni dan Amel membenarkan pertanyaan petugas tersebut.
"Karena Mbak Amelia ini yatim jadi yang akan jadi walinya adalah pamannya ya?" tanya petugas itu lagi.
"Iya, saya adik dari ayahnya Amel!" jawab Tama bapaknya Abel tersebut.
"Baik kalau gitu kita bisa mulai sekarang, Mas Doni siap?" tanya orang itu.
"Siap!" jawab Doni mantap.
Tama mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Doni dengan erat.
"Saudara Doni Priawan..."
"Saya!" sahut Doni.
"Tunggu!" Suara seorang perempuan dari depan pintu masuk sana mengintrupsi jalannya acara.
Semua mata menatap penuh minat kepada perempuan yang berjalan tergesa menghampiri meja akad tersebut.
"Pernikahan ini harus dibatalkan!" teriak perempuan itu membuat semuanya tercengang.
"Nit, lo apa-apaan sih?!" bentak Doni marah.
"Lo harus tanggung jawab sama kehamilan gue, Don!" teriak Nita marah.
"Maksud lo apa sih?!" bentak Doni tak suka.
Asri dan Sigit yang merupakan orang tua Doni pun mendekati anaknya.
"Don, ini ada apa sih? Kok dia minta tanggung jawab ke kamu?" tanya Asri panik.
"Nggak tahu, Ma!" Doni mengedikkan bahunya santai.
"Pa, cepet panggil sekurity!" perintah Asri kepada suaminya.
"Tunggu, kalian harus lihat ini!" Nita memutar rekaman adegan tak senonohnya bersama Doni waktu itu dan sengaja Nita rekam sebagai bukti bahwa omongannya itu memang benar adanya.
Tak hanya Asri dan Sigit yang menonton adegan itu tapi Tama dan Wening istrinya Tama pun melihat adegan dewasa antara Nita dan Doni.
Wening dan Asri sama-sama lemas dan lunglai. Mereka tak kuasa menahan rasa shocknya terhadap apa yang terjadi.
Sementara Amel menatap kekacauan di depannya dengan linglung, dia masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Ini adalah rekayasa, saya nggak merasa melakukan hal itu!" Doni berusaha mengelak, dia tak akan mau bertanggung jawab atas tuduhan Nita itu.
Mereka melakukan hal itu atas dasar suka sama suka, dan keadaan Nita saat mereka melakukan hal itu pertama kalinya juga sudah tidak suci lagi.
"Ini beneran kamu, Don!" Nita kembali memutar adegan dewasa mereka di waktu lainnya lagi.
Amel lemas, dia mulai gemetar dan meneteskan air matanya, di acara.sakral itu ada seorang perempuan yang meminta pertanggung jawaban calon suaminya.
Sasi mendekat mencoba menenangkan Amel yang mulai tersedu dan semakin panik.
Tama menghela nafas panjang sekedar untuk melepaskan rasa marahnya atas perlakuan Doni terhadap Amel.
"Pak Sigit, Bu Asri lebih baik kita bicarakan hal ini di ruangan lain, saya nggak mau masalah ini jadi konsumsi orang lain." Akhirnya Tama menyadari bahwa drama yang sedang terjadi saat itu telah menjadi tontonan dan bisik-bisik orang yang hadir.
Mereka memutuskan untuk mendiskusikan hal itu di tempat lain, semata demi untuk menjaga nama kedua belah pihak.
Akhirnya semua orang masuk ke salah satu ruangan dan di tempat itulah Doni dan Nita beradu argumentasi atas semua kekacauan itu.
"Jujur saya nggak ridho kalau keponakan saya diperlakukan seperti ini!" Tama menggeleng pelan saat mendengar Doni dan kedua orang tuanya ngotot melanjutkan acara pernikahan itu.
Bagi Tama yang sudah menganggap Amel seperti anak kandungnya sendiri itu merasa bahwa lebih baik batal menikah daripada tetap melanjutkan pernikahan itu dan nantinya ada duri dalam daging yang membuat Amel menderita nanti.
"Saya mau tetap melanjutkan pernikahan ini!" Doni bersikeras.
"Saya nggak setuju!" Nita menolak tegas keputusan itu.
"Lebih baik kita mendengar pendapat Amel!" Wening memberi usulan karena dari tadi Amel hanya membisu sambil terus mengusap air mata yang terus membanjiri pipinya.
Semua orang menatap Amel menunggu pendapatnya. Doni dan orang tuanya berharap Amel tetap ingin melanjutkan pernikahan itu, sementara Tama, Wening dan Nita berharap agar Amel mundur dan tak melanjutkan pernikahan itu.
"Saya...um, saya..." Amel gugup dan mulai menenangkan debaran jantungnya yang menggila.