Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.
Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.
Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan Dinner
"Liztha! Sedang apa kamu di sini?"
Liztha terkejut dan membalikkan badannya. Di belakang, sosok Rayyan tengah berdiri tegak sambil menatapnya tajam. Amarah Liztha pun naik ke ubun-ubun.
"Apa? Kenapa kalau aku ada di sini?" tanyanya dengan nada menantang.
"Kenapa kamu marah? Ada yang bikin kamu kesal?" sindir Rayyan sambil berdecih sinis. Tentu saja itu membuat Liztha semakin naik darah.
"Maksud kamu apa? Mau ngeledekin aku? Yang bikin kesal itu kamu. Jadi laki-laki kok lembek," sindir balik Liztha, tajam.
"Hahaha..." Rayyan terbahak sambil memegangi perutnya. "Siapa yang merem melek di bawah tubuhku dan terus minta tambah?" balas Rayyan frontal, membuat wajah Liztha merah padam.
"Tidak akan lagi! Karena kamu sudah tidak mampu lagi bahagiain aku! Kamu sudah kere, Rayyan!"
"Siapa bilang? Uangku masih banyak."
"Cuih, kalau masih banyak kamu pasti mampu beliin aku barang-barang yang aku mau," ucap Liztha sewot sambil beranjak pergi meninggalkan Rayyan yang masih mematung di tempatnya. Tangannya terkepal kuat, merasa terhina atas sikap dan ucapan wanita itu.
"Tunggu, Liztha! Aku cuma mau menyampaikan pesan Pak Zavian untuk menegur kamu, supaya jangan coba-coba menemui dia di ruangannya dengan alasan apa pun."
Liztha menghentikan langkahnya. Lalu membalikkan tubuhnya dan menatap garang.
"Tidak usah dibahas!" sentaknya. Kemudian kembali meneruskan langkah. Tapi Rayyan cepat-cepat menyusul. Menarik tangan Liztha dan setengah menyeretnya ke arah mobilnya yang terparkir tidak jauh dari situ. Lalu mendorongnya masuk. Tanpa buang waktu, Rayyan segera menyalakan mesin mobil dan langsung tancap gas.
Tiba di apartemen, Rayyan langsung mengempaskan tubuh Liztha ke sofa.
"Rayyan, kamu kasar sekali!"
Liztha mendongak menatap Rayyan penuh amarah. Tapi laki-laki itu tak peduli.
"Kamu pikir aku tidak tahu isi kepalamu? Kamu ingin mencoba merayu Zavian, kan? Sayang, kamu bukan level dia. Sadar dirilah!"
Kesal dengan ucapan Rayyan, Liztha membuka salah satu sepatunya. Dan tanpa ampun langsung melemparkannya ke arah Rayyan yang berdiri tak jauh darinya. Beruntung lelaki itu sigap menghindar, sehingga sepatu Liztha melayang dan membentur dinding.
"Kurang ajar kamu, Rayyan! Beraninya menghina aku! Aku menemui Pak Zavian memang murni untuk menunjukkan hasil kerjaku. Tak ada maksud apa-apa!" teriak Liztha. Wajahnya merah menyala seperti bara api.
"Berhenti bersikap seolah-olah ini soal dedikasi kerja. Kita berdua tahu laporan itu cuma umpan yang sayangnya bahkan nggak dilirik sedikit pun sama dia," suara Rayyan rendah, namun sarat akan ejekan. Lalu ia tertawa sinis.
"Aku tidak peduli apa katamu! Kamu merasa terancam? Atau kamu merasa tidak cukup kompeten sebagai laki-laki? Sudahlah, mulai sekarang lupakan aku! Kita jalan sendiri-sendiri."
Rayyan maju selangkah, menatap langsung ke manik mata Liztha dengan aura yang menindas.
"Dengar aku, Liztha! Kamu itu sedang menjatuhkan harga dirimu di kaki orang yang jelas-jelas menganggapmu tidak ada. Selera Zavian itu bukan sekelas kamu!"
"Aku tidak peduli seberapa rendah itu bagi kamu, Ray!" sentak Liztha. "Paling tidak aku mencoba mendapatkan apa yang aku mau. Bukan seperti kamu, yang cuma bisa menciut seperti tisu yang kena air jika dimarahi Bapakmu."
Rayyan mencengkeram lengan Liztha, giginya saling menekan kuat hingga menimbulkan bunyi "kriut" yang terdengar horor di telinga Liztha.
"Dengar, aku tak akan segan-segan menyakitimu jika hal ini masih terus kamu lakukan," desisnya. Dengan kasar Rayyan mengempaskan tangan Liztha yang meringis kesakitan. Sebelum berbalik dan keluar, sekali lagi ia melayangkan tatapan penuh intimidasi.
***
Sore itu sepulang dari kampus, Ayra mendapati sebuah kotak tergeletak di atas meja teras. Di atas tutup kotak yang diikat pita satin warna marun itu, tertera tulisan dengan tinta emas yang ditujukan untuk dirinya:
To: Kinayra Calista.
Dengan hati penuh tanya, Ayra meraih kotak itu dan membawanya masuk ke rumah. Baru saja ia duduk, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Nama Zavian tertera di layar.
"Halo..."
"Ayra, kamu sudah menerima kirimanku?"
"Maksud Mas, kotak hitam dengan pita satin warna marun?"
"Iya. Kalau begitu cobalah! Saya yakin gaun itu akan pas di tubuhmu."
"Gaun? Tapi untuk apa?"
"Kita kan sudah janjian, nanti malam saya akan mengajakmu makan malam. Masih ingat, kan?"
Ayra mengangguk. Namun sadar, Zavian tak bisa melihatnya. Ia pun segera mengiyakan.
"Saya juga akan mengirim MUA ke rumahmu."
"MUA? Untuk apa? Kita cuma akan makan malam biasa, kan?"
"Sudahlah, jangan banyak protes! Nanti kamu akan tahu sendiri."
Sambungan telepon pun terputus. Ayra masih termenung menatap kotak hitam di pangkuannya. Perlahan tangannya mengurai pita satin itu dan membuka tutup kotak. Di dalamnya terdapat kertas tisu khusus pembungkus pakaian. Saat jemari Ayra menyingkap kertas itu, matanya seketika membulat penuh kekaguman.
Di dalamnya ada sebuah gaun berwarna midnight blue yang terbuat dari bahan sutra premium yang jatuh dengan sempurna. Saat disentuh, kainnya terasa sedingin es namun selembut kulit. Gaun itu memiliki model off-shoulder dengan detail payet kristal kecil di bagian pinggang yang berkilau lembut saat terpapar cahaya lampu ruang tamu, layaknya taburan bintang di langit malam.
Ayra mengangkat gaun itu dengan hati-hati. Bagian bawahnya memiliki potongan A-line dengan belahan tinggi yang elegan, memberikan kesan berkelas tanpa terlihat berlebihan. Tidak ada label harga, namun dari tekstur kain dan jahitan tangan yang begitu rapi, Ayra tahu bahwa gaun ini bukan berasal dari butik sembarangan. Ini adalah karya desainer kelas atas yang harganya mungkin setara dengan biaya kuliahnya selama beberapa semester.
Di dasar kotak, Ayra juga menemukan sebuah kotak kecil berisi kalung mutiara simpel dengan pengait emas putih, yang seolah melengkapi kemewahan gaun tersebut. Zavian benar-benar tidak main-main dengan ucapannya. Ini bukan sekadar makan malam biasa.
Ayra membawa kotak itu ke kamarnya dengan langkah ragu. Ia meletakkan kotak itu di atas meja riasnya, lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Tidak mungkin langsung mencoba gaun mahal itu dengan tubuh penuh bekas keringat dan debu jalanan yang menempel.
Setelah merasa bersih dan bau tubuhnya berganti dengan harum sabun beraroma vanilla, Ayra kembali membuka kotak itu dan meraih gaun di dalamnya.
Perlahan ia mengenakan gaun pemberian Zavian. Begitu kain sutra itu menyentuh kulitnya, Ayra tak kuasa menahan napas. Ukurannya sangat pas, seolah-olah sang desainer memang mengambil ukuran langsung dari tubuhnya.
Ia berdiri di depan cermin panjang di sudut kamar. Sosok yang terpantul di sana hampir tidak ia kenali. Gaun midnight blue itu membalut lekuk tubuhnya yang menonjolkan kesan feminin yang kuat. Bagian bahunya yang terbuka mengekspos garis lehernya yang jenjang, sementara warna gelap gaun itu membuat kulit Ayra tampak terlihat lebih cerah, hampir seperti porselen.
Ayra berputar pelan, memperhatikan bagaimana bagian bawah gaun itu melambai mengikuti gerakannya. Ada kepercayaan diri yang tiba-tiba muncul, namun di sisi lain, dadanya berdegup kencang karena cemas.
"Makan malam seperti apa yang sebenarnya direncanakan Mas Zavian?" bisiknya pada diri sendiri.
Belum sempat ia mengagumi penampilannya lebih lama, suara ketukan pintu depan terdengar. Cepat-cepat Ayra melepaskan kembali gaunnya. Tapi tanpa mengurangi kehati-hatiannya. Lalu meraih baju rumahnya.
Setelah itu Ayra bergegas ke ruang tamu dan membuka pintu. Di depan pintu, berdiri seorang wanita dengan dandanan modis, didampingi seorang asisten yang menenteng koper kosmetik besar.
"Selamat sore, Mbak Kinayra? Saya dan tim MUA yang diperintahkan Pak Zavian untuk datang merias Mbak."
Ayra mengangguk.
"Silakan masuk," ucapnya, sedikit canggung.
Sang Mua dan asistennya pun masuk. Dan Ayra memintanya menunggu di ruang tamu. Sementara ia akan menunaikan kewajibannya dulu sebagai seorang muslim, karena waktu kedatangan mereka bertepatan dengan suara azan magrib di mesjid dekat rumahnya.
Setelah selesai, barulah ia mengajak mereka masuk ke dalam kamarnya.
Tanpa membuang waktu, sang MUA segera menyiapkan peralatannya. Ia meminta Ayra duduk di depan meja rias.
Ayra pun hanya bisa pasrah saat kuas-kuas lembut mulai menari di wajahnya. Rambutnya yang tadi basah dikeringkan dan ditata menjadi sanggul modern yang sedikit longgar membentuk messy bun yang elegan, menyisakan beberapa helai rambut di sisi wajah untuk mempertegas garis rahangnya.
Setelah hampir satu jam, sang MUA tersenyum puas.
"Selesai. Mbak Kinayra, silakan lihat hasilnya."
lanjut min ceritanya
Tak terasa buku ini sudah hampir mencapai 20 bab. Terimakasih othor haturkan untuk para readers, semoga kedepannya novel ini akan lebih seru dan lebih diterima oleh penyuka cerita drama rumah tangga. Dan juga lebih banyak komen serta like 🙏
Yuk follow akun othor untuk bisa mengikuti cerita-cerita berikutnya yang akan launching dan tentu dengan cerita yang lebih seru lagi.
Hanya karena alasan dijodohkan, Rayyan berhak berlaku semena-mena pada istrinya dan terang-terangan lebih memilih cinta lamanya?
Disakiti, diinjak-injak harga dirinya dan dibuang seolah Ayra adalah barang yang tidak berharga, membuat batin Ayra terguncang dan harus kehilangan bayinya.
Lalu apakah Ayra akan tahan dalam kubangan ketidak adilan yang dia terima?
Tentu saja tidak!
Tak akan ada yang tahan dalam satu hubungan toxic. Di balik kelembutannya, bagaimana Ayra bangkit dan melawan ketidak adilan yang ia terima?
Temukan jawabannya hanya di, "Aku Menyerah!"