"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Misteri di Tepian Danau Batur
Hening seketika mencekam Desa Trunyan. Hanya suara desis angin yang bergesek dengan daun pohon Taru Menyan yang rimbun. Alana berdiri kaku, jantungnya serasa mau melompat keluar melihat Mochi—kucing orennya yang biasanya hanya peduli pada ikan asin—kini duduk manis di depan kaki wanita misterius itu sambil mendengkur keras.
"Mochi! Sini! Jangan mau deket-deket sama orang halu itu!" teriak Alana, mencoba menutupi rasa ngerinya dengan gaya "julid" andalannya. "Mbak... eh, Tante... eh, siapa pun Anda, tolong ya titik merah di jidat suami saya itu diilangin dulu. Mas Arkan itu baru sembuh dari luka kemarin, jangan ditambahin lubang baru di kepala!"
Wanita itu menurunkan senapannya sedikit, namun matanya tetap tajam menatap Arkan. "Dia punya mata kakeknya. Dingin dan selalu menghitung untung rugi."
Arkan menarik napas panjang, mencoba menguasai keadaan meskipun keringat dingin membasahi punggungnya. "Kalau Anda benar ibu Alana, Anda tidak akan menodongkan senjata pada menantu Anda sendiri. Siapa Anda sebenarnya?"
Wanita itu melangkah maju ke arah cahaya remang-remang obor yang dibawa si orang tua desa. Wajahnya memang luar biasa mirip dengan Alana, namun ada guratan kelelahan dan ketegasan yang hanya didapat dari pelarian selama dua puluh tahun.
"Namaku adalah Larasati. Dan aku adalah alasan kenapa Kakekmu berubah menjadi iblis yang gila kontrol," ucap wanita itu pelan. Ia menatap Alana dengan tatapan yang sulit diartikan—kerinduan yang bercampur dengan rasa bersalah yang dalam.
"Tunggu, tunggu!" Alana menyela sambil mengangkat kedua tangannya. "Tadi Tante bilang aku bukan anak rahasia itu? Terus aku anak siapa? Terus siapa anak yang bisa hancurin silsilah Arkananta itu? Jangan bilang kalau itu Mochi! Mas, kalau kucing aku ternyata ahli waris triliunan, aku bakal pingsan di sini juga!"
Larasati tersenyum tipis, senyum yang sangat mirip dengan Alana saat sedang merencanakan sesuatu yang usil. "Bukan kucing itu, Alana. Mochi hanyalah pemandu. Dia sudah dilatih sejak kecil oleh orang-orangku untuk menjagamu. Kenapa kamu pikir kucing jalanan bisa sesetia itu padamu?"
Arkan mengerutkan kening. "Jadi sejak Alana di panti asuhan, Anda sudah mengawasinya?"
"Setiap detik," jawab Larasati. "Anak rahasia yang dimaksud... adalah seseorang yang tumbuh besar bersama Arkan. Seseorang yang Kakekmu pikir adalah saingannya, padahal dia adalah darah dagingnya sendiri yang lahir dari rahimku."
Alana terbelalak. "Maksud Tante... Bayu?"
Larasati mengangguk perlahan. "Kakekmu mencintaiku dulu, tapi cintanya adalah obsesi. Saat aku melarikan diri darinya karena tahu betapa busuk bisnisnya, aku sedang mengandung Bayu. Kakekmu mengira aku menggugurkan kandungan itu. Itulah sebabnya dia begitu membenci Bayu saat Bayu muncul ke permukaan—karena Bayu adalah pengingat akan kegagalannya memilikiku."
"Lalu aku?" tanya Alana dengan suara bergetar. "Kalau Bayu anak Kakek dan Tante... aku anak siapa?"
Larasati mendekati Alana, tangannya yang gemetar terangkat untuk menyentuh pipi Alana. Kali ini, Alana tidak menghindar. Tangan itu terasa hangat, sangat familiar, seperti memori yang terkubur sangat dalam di bawah sadarnya.
"Kamu adalah putri kandung Malik. Sahabatku, pria yang mengorbankan segalanya untuk melindungiku," bisik Larasati. "Saat aku harus menghilang, aku menitipkanmu pada Malik. Tapi Sofia mengetahui keberadaanmu. Malik terpaksa menyembunyikanmu di panti asuhan dan memalsukan kematiannya sendiri agar kalian berdua aman."
Alana terdiam. Kepalanya pusing. Jadi, dia benar-benar anak Malik. Tapi Bayu adalah saudara tiri Arkan sekaligus anak kandung dari wanita yang kini ada di depannya.
"Mas... ini silsilah keluarga kalian kok ribet banget sih? Ngalahin benang layangan kusut!" celetuk Alana sambil memegang kepalanya yang nyut-nyutan.
"Lalu kenapa Anda muncul sekarang?" tanya Arkan ketat. "Setelah semua kekacauan ini terjadi? Setelah Bayu dipenjara?"
"Karena 'The Board' tidak akan berhenti hanya karena Hendra tertangkap," suara Larasati mendadak menjadi sangat serius. "Hendra hanyalah pelaksana. Pemilik saham terbesar 'The Board' yang sebenarnya... adalah seseorang yang kalian anggap sudah mati di sel penjara."
Tiba-tiba, suara deru helikopter kembali terdengar, namun kali ini suaranya jauh lebih banyak. Bukan dari satu arah, tapi mengepung seluruh kaldera Danau Batur. Cahaya lampu sorot raksasa menyapu permukaan danau, membuat airnya berkilauan perak yang mengerikan.
"Mereka datang," ucap si pria tua desa dengan nada pasrah.
"Siapa?!" teriak Alana panik.
"Para pembersih," jawab Larasati. Ia menarik Alana dan Arkan menuju sebuah gua kecil di balik pohon besar. "Dengar, di dalam kotak besi yang kalian buka tadi, ada sebuah kunci fisik yang tidak bisa diduplikasi secara digital. Kunci itu membuka sebuah brankas kuno di Swiss yang berisi bukti bahwa seluruh kekayaan Arkananta Group sebenarnya adalah milik yayasan kemanusiaan yang didirikan oleh Ibu Arkan, sebelum kakeknya membelokkan semuanya."
"Mas Arkan," Alana menoleh ke arah suaminya. "Kayanya harta Mas beneran bakal ludes nih kalau kita selamat."
Arkan tersenyum tipis, ia menggandeng tangan Alana erat. "Biarkan saja. Aku lebih suka hidup miskin tapi tenang sama kamu daripada jadi miliarder yang tiap malam diteror bom."
"Dih, sok romantis! Nanti kalau nggak bisa beli martabak jangan nangis ya!" balas Alana.
Pertempuran pecah di dermaga. Para penduduk desa Trunyan yang tampak tenang ternyata adalah pelindung terlatih. Mereka mulai membalas serangan dari orang-orang bersenjata yang turun dari perahu-perahu motor cepat.
"Arkan, bawa Alana lewat jalur setapak di belakang gua ini!" perintah Larasati sambil menyiapkan senjatanya. "Jalur itu tembus ke hutan di balik gunung. Ada mobil yang sudah menunggu."
"Tante ikut kami!" ajak Alana.
"Tidak, Lana. Aku harus menyelesaikan urusanku dengan mereka di sini. Pergilah! Jaga kunci itu!"
Alana ditarik oleh Arkan masuk ke dalam lorong gua yang gelap dan sempit. Mochi berlari paling depan, matanya yang bersinar dalam kegelapan menjadi pemandu mereka. Suara tembakan dan ledakan di luar perlahan menjauh, namun ketegangan justru semakin meningkat.
Setelah merangkak selama hampir lima belas menit, mereka keluar di sebuah lereng bukit yang curam. Di bawah sana, terlihat sebuah mobil jeep tua dengan mesin yang sudah menyala. Namun, di samping mobil itu, berdiri seseorang yang membuat Alana hampir jatuh pingsan untuk kesekian kalinya.
Pria itu memakai seragam tahanan yang sudah kotor, tangannya memegang sebuah alat pemicu ledakan.
"Bayu?!" teriak Alana. "Kok bisa?! Kamu kan di penjara?!"
Bayu tersenyum, wajahnya tampak sangat tirus dan matanya cekung. "Penjara itu cuma bangunan, Lana. Dan keluarga Arkananta punya kunci untuk setiap pintu di dunia ini. Kakek mengirimku ke sini... untuk menjemput ibuku. Dan sepertinya, aku mendapatkan bonus dua tikus kecil."
Arkan memasang badan di depan Alana. "Bayu, hentikan! Larasati ada di bawah! Dia ibumu! Dia berusaha melindungimu!"
"Melindungiku?!" Bayu tertawa histeris. "Dia meninggalkanku! Dia membiarkanku tumbuh menjadi monster sementara dia bersembunyi di desa bau mayat ini!"
Bayu menekan tombol di pemicunya. Bum!
Jalur setapak yang baru saja dilewati Alana dan Arkan meledak, menutup jalan kembali ke gua. Tanah berguncang hebat. Alana terjatuh, namun ia tetap memeluk tas berisi buku harian ibunya.
"Sekarang," Bayu melangkah mendekat dengan pisau terhunus. "Berikan kuncinya, atau kita semua akan mati di lereng gunung ini bersama-sama."
Tiba-tiba, dari arah semak-semak, sebuah peluru bius melesat dan mengenai leher Bayu. Pria itu terhuyung dan jatuh pingsan. Arkan dan Alana menoleh ke arah asal peluru.
Seorang wanita cantik dengan pakaian serba hitam—sekretaris Arkan, Maya—berdiri di sana dengan pistol bius di tangannya. Namun, senyumnya bukan senyum ramah yang biasa Alana lihat di kantor.
"Maaf Tuan Arkan, Nyonya Alana... Saya rasa kalian terlalu lambat memahami permainan ini," ucap Maya dingin. "Saya bukan sekretaris Anda, Arkan. Saya adalah pemilik saham 'The Board' yang sebenarnya. Dan sekarang, saya ingin kunci itu."
Alana menatap Maya dengan tatapan tak percaya. "Maya?! Wah, Mas Arkan! Mas beneran payah dalam milih karyawan ya! Semuanya pengkhianat!" teriak Alana di tengah keputusasaan.