NovelToon NovelToon
Bu CEO Korban Makcomblang

Bu CEO Korban Makcomblang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Berondong / Cinta Beda Dunia / Wanita Karir / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Dafsa Ramadan (30 tahun), ASN biasa aja yang siangnya sibuk urusan negara dan sorenya membuka lapak biro jodoh di Blok M. Tangannya “dingin” soal jodoh. Banyak testimoni pasangan yang ia jodohkan nyaris selalu berhasil.

Sampai satu anomali bernama Arcila Astoria (31 tahun) datang.

Seorang CEO perempuan yang cerdas, tajam, cepat bosan, dan mengalami emosi malfungsi minta dicarikan jodoh. Arcila terpaksa kesana karena Ayahnya mengancam akan menjodohkannya sama duda anak lima kalau sampai tahun ini belum menikah.

Dafsa mulai bekerja. Memasangkan dengan banyak kandidat unggulan, tapi semua pria yang ditawarkan ke Arcila gagal total. Bukan karena mereka nggak layak, tapi karena Arcila emang dari awal nggak pernah benar-benar niat cari jodoh.

Untuk pertama kalinya Dafsa merasa ini mustahil. Dan tanpa disadari malah dia sendiri yang mulai terjebak perasaan absurd itu.

Cover Ilustrasi by ig pixysoul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

"Saksinya sudah ada, kamu mau mengelak lagi, Dafsa?" tanya Sri, lebih ke menyindir anak sulungnya.

Dafsa udah lemes, nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Tadinya dia mau ngamuk sama Diva, yang bisa-bisanya bilang emang bener Arcila itu pacarnya. Tapi Dafsa beneran udah capek, jadi dia diem aja.

"Jangan mentang-mentang selama ini Arcila nurut sama kamu, kamu jadi semena-mena sama dia. Jangan coba-coba mainin perasaan perempuan, Dafsa. Kamu punya adik perempuan. Inget omongan Ibu!" Di depan Arcila dan Diva, Sri memberikan ceramah panjang lebar yang secara gamblang dikhususkan untuk Dafsa.

Diva juga diem lagi, ngerasa sedikit bodoh kenapa mulutnya malah bilang iya, seakan dia ada di pihak Arcila. Tapi ... kayaknya Diva punya rencana. Terus dia senyum-senyum sendiri, satu hal yang bikin Dafsa tambah kesel.

"Sekarang kamu anter Arcila pulang," titah Sri usai memberikan segelas air hangat untuk Arcila.

"Dia punya mobil, Bu," kata Dafsa, kali ini menolak dengan halus.

"Ya terus apa hubungannya? Dia ke sini naik angkutan umum, nggak bawa mobil. Semuanya demi kamu!"

Dafsa melongo. Wah, ini juga bagian dari kebohongan Arcila, kah? Semenjak dia disudutkan begini, Dafsa jadi sulit bedain mana yang bener sama mana yang cuma bohongan. Kepalanya hampir nggak bisa berpikir jernih.

"Aku pulang sendiri aja, Bu, Mas Dafsa masih marah." Arcila beraksi lagi. Dia seka air matanya dengan tissue yang diberikan Diva.

"Jangan pulang sendiri, Nak, ini sudah malam. Nggak apa-apa kamu diantar Dafsa. Nanti kalau dia macam-macam, kamu tinggal lapor sama Ibu."

Arcila makin besar kepala. Dalam waktu singkat, dia berhasil jadi kesayangan Sri. Dengan begini, Arcila yakin dia udah menang, dan Dafsa kalah telak. Cowok itu nggak bisa ngapa-ngapain selain keluar dari rumah terus nyalain motornya.

"Ayo, Nak, nggak apa-apa," ujar Sri menjamin keamanan Arcila.

Semula Arcila tetap duduk. Dia nggak boleh langsung berdiri terus nunjukin muka kesenengan. Dia harus bisa bikin Sri selalu ada di pihaknya. Arcila mengeluarkan jurus andalan, yaitu menatap Sri pake mata bulatnya.

"Ibu yang menjamin keamanan kamu. Di perjalanan nanti, Dafsa nggak akan berani bentak-bentak kamu. Percayakan sama Ibu, Dafsa itu paling nurut sama Ibu."

Oh, baiklah. Sekarang Arcila mengangguk, berjalan ke luar rumah dianter Sri. Diva nggak ikut. Entah ngapain perempuan yang satu itu di dalam rumah.

Dafsa udah siap di atas motor, pake helm tapi wajahnya datar aja. Siapa, sih, yang nggak marah kalau difitnah habis-habisan, terus orang yang ngefitnah itu dapet dukungan dari semua keluarganya? Dafsa marah banget. Rasanya udah pengen ngamuk. Tapi di sisi lain, sekali lagi Dafsa beneran capek. Nganterin Arcila pulang adalah satu-satunya cara supaya si sumber masalah cepet enyah.

"Pake, ini punya Diva." Dafsa ngasih helm Diva ke Arcila.

Arcila bengong. Mungkin hampir lima detik. Pertama, dia nggak pernah naik motor. Kedua, dia ragu pake barang bekas orang.

"Kenapa? Nggak pernah naik motor?" ejek Dafsa tepat sasaran. Dia ketawa pelan, tapi terang-terangan nunjukin ekspresi puas.

"Jangan fitnah begitu, Mas. Mas 'kan yang selalu anter jemput aku waktu kita masih backstreet," balas Arcila, punya seribu macam cara buat bikin Dafsa kalah lagi.

"Antar Arcila sampai selamat ke rumahnya, Daf, jangan pernah bikin dia nangis lagi, atau nurunin dia di tengah jalan. Kalau itu sampai terjadi, pintu rumah ini tidak akan terbuka lagi buat kamu."

Ancaman itu serius, bukan cuma isepan jempol belaka. Dafsa tahu karena ibunya nggak pernah omong kosong soal janji.

"Aman, Bu, aku antar Arcila sampai ke istananya yang megah."

Sri cuma geleng-geleng kepala. Dia terus mantau sampai akhirnya Arcila naik ke atas motor, duduk di belakang Dafsa. Arcila kelihatan kikuk, tapi dia nggak boleh setengah-setengah dalam sandiwaranya. Kedua tangan Arcila melingkar di pinggang Dafsa, meluk cowok itu seakan emang bener mereka ada hubungan.

Dafsa jelas kaget. Tapi di depan Sri, dia nggak bisa ngapa-ngapain. Motor yang dibawa Dafsa akhirnya jalan. Arcila tetap di posisi semula. Barulah saat tiba di jalan besar, Arcila menjauh. Dia refleks mukul pundak Dafsa.

"Aw!" keluh lelaki itu. Setelah difitnah, dia juga dipukul. Bukannya ini udah berlebihan banget, ya?

"Kita berhenti di depan minimarket," kata Arcila, kembali ke suara datarnya.

"Mau apa? Bukannya Bu Arcila mau diantar sampai rumah?"

"Dengar saja apa kata saya!"

Dafsa berdecak. Sungguh hebat perempuan di belakangnya ini. Dia bisa akting dengan sangat sempurna, terus balik lagi setelan awalnya.

Dafsa mikirnya Arcila nggak mau lama-lama dibonceng pake motornya. Jadi dia iyain aja belok ke minimarket, nurunin Arcila di sana.

"Mas Dafsa juga harus turun," titah Arcila teratur, memberikan helm yang hanya dikenakan kurang dari lima menit.

"Saya nggak mau," tolak Dafsa hendak melajukan lagi motornya.

"Mau saya telfon Ibu?" ancam Arcila, beneran nunjukin nomor telfon Sri.

Sama kayak tadi, Dafsa pasrah. Bodohnya dia nggak bawa ponsel, ketinggalan di meja ruang tamu karena tadi dia pergi gitu aja buat nyalain motor.

"Saya harus apa?" tanya Dafsa memarkirkan motornya di minimarket.

"Ikut saya." Arcila berjalan lebih dulu menuju mobilnya, yang ternyata diparkir di sebelah motornya Dafsa.

Itu bukan mobil Lamborghini, tapi Porche warna kuning. Dafsa ketawa getir. Pantes aja dia nggak curiga, orang Arcila ganti mobil.

Akhirnya Dafsa masuk. Sensasi baru dirasakan Dafsa. Cuma sama Arcila dia bisa ngerasain naik mobil mahal. Kemarin Lamborghini, sekarang Porche. Kalau besok apa, ya? Apa jangan-jangan langsung helikopter pribadi?

Pikiran Dafsa makin ngawur. Itu karena siapa? Jawabannya udah jelas, karena Arcila yang banyak akalnya.

"Di belakang ada baju yang harus Mas Dafsa pakai nanti Minggu."

"Saya belum setuju."

"Harus setuju. Tidak ada opsi kalau bekerja dengan saya."

"Siapa yang mau kerja sama Ibu?" Dafsa natap sinis.

"Mas Dafsa," jawab Arcila, tak memedulikan wajah Dafsa. Dengan sebelah tangan, ia mengambil tiga paper bag. Isinya beberapa kaos dan kemeja. Celana juga ada. Dafsa tinggal pilih mana yang dia suka.

"Bu—"

"Mas Dafsa udah punya pacar?" Arcila memotong dengan tanya.

"Nggak ada."

"Ya udah, apalagi yang bikin Mas Dafsa berat kerja sama saya? Saya bisa maklum kalau Mas Dafsa udah ada pacar, tapi ini 'kan nggak ada." Arcila sungguh pandai dalam berkata-kata.

"Jangan gampang puas, Mas. Uang 200 juta itu nggak ada apa-apanya kalau dibawa ke dunia bisnis."

Perkataan Arcila tidak salah sama sekali. Yang jadi masalahnya di sini, sejak awal Dafsa nggak suka sama cara Arcila. Perempuan itu tukang maksa, atau sebutlah sangat otoriter. Dafsa bisa mati berdiri kalau ngobrol lama-lama sama Arcila.

"Kakek saya minta jam delapan hari Minggu, kita udah ada di rumahnya."

"Saya belum setuju."

"Ya udah, terserah. Tapi jangan larang saya datang lagi ke rumah Ibu."

"Ibu?" Dafsa tertawa pelan. Semudah itu Arcila manggil Sri dengan sebutan ibu.

"Saya bisa lho, Mas, pura-pura hamil di depan Ibu supaya kita bisa langsung dinikahin," ucap Arcila, pelan tapi berhasil bikin Dafsa waspada.

"Bu—"

"Apa aja bakal saya lakuin." Arcila sama sekali nggak capek motong omongan Dafsa.

"Di sini saya bisa menjamin dua hal. Pertama, hidup Mas Dafsa sekeluarga akan semakin baik kalau kita kerja sama. Tapi keadaan akan berubah pesat, andai Mas Dafsa tetap keras kepala nolak kerja sama dari saya."

Menjamin apanya? Arcila cuma manfaatin kesempatan buat bikin Dafsa ngangguk. Aduh, Dafsa buntu. Nggak punya cara buat kabur dari si perempuan gila ini.

"Pokoknya saya tunggu kedatangan Mas Dafsa. Dan besok kita harus ketemu lagi."

"Ketemu lagi?" tanya Dafsa horor.

"Iya. Kita harus bikin planning sebelum Mas Dafsa ketemu kakek saya untuk kali kedua. Sekarang Mas Dafsa turun, saya mau pulang."

Waduh, apalagi ini?

Setelah dipaksa nganterin pulang, dipaksa buat berhenti terus pindah ke mobilnya, sekarang Dafsa juga dipaksa turun?

Perempuan ini bikin Dafsa merinding!

"Ayo, turun, Mas, katanya nggak mau lama-lama sama saya?" Arcila mengingatkan datar, kembali ke sifat aslinya.

Dafsa cuma buang napas pendek, terus turun dari mobil mewah Arcila. Baru mundur kurang dari satu meter, mobil itu pergi gitu aja. Dafsa garuk-garuk kepala. Sekarang gimana caranya pulang? Dafsa nggak bawa ponsel. Dia merogoh saku. Cuma ada yang lima ribu, kayaknya kembalian beli kopi waktu jam istirahat di kecamatan.

"Pake angkot juga bisa," kata Dafsa, seakan bilang dia tetap bisa pulang tanpa perlu jalan kaki.

Dafsa nyebrang, nunggu angkot di bawah pohon jambu. Nggak lama angkot dateng. Dafsa naik, kikuk waktu harus dempet-dempetan sama penumpang lain. Terus dia turun di minimarket. Untungnya perjalanan nggak lama, cuma tiga menit. Tapi tetep aja, Dafsa kesel setengah mati.

"Arcila Astoria harus ganti rugi!" cetusnya menyimpan dendam.

Motor Dafsa ninggalin minimarket, balik ke rumah. Dia nggak bilang apa-apa sama Ibu yang sekarang lagi ngaji kayak biasa. Dafsa cuma ngambil ponsel, masuk ke kamar Diva, terus natap adik semata wayangnya itu pake muka marah.

"Kamu mau jual Mas ke perempuan itu, Div?" tuduh Dafsa.

"Hah? Nggak, Mas, jangan ngomong yang aneh-aneh begitu, ah!" sangkal Diva setengah kaget, sekaligus takut lihat muka Dafsa yang kayaknya nggak tahan mau nelen orang.

"Terus kenapa kamu bilang Mas sama Arcila ada hubungan?"

"Tadi itu ... aku kebawa suasana, Mas. Aku nggak tau kenapa tiba-tiba aja ngerasa kasian sama Mbak Arcila."

Jawaban macam apa itu?

Dafsa lempar tiga paper bag di tangannya ke kasur Diva. "Sekarang gimana? Mas terjebak sama perempuan gila itu!" ucapnya menahan suara.

"Ya ... gimana ya, Mas?" Diva juga bingung. "Mas turutin aja deh apa maunya Mbak Arcila. Kalau jadi pacar pura-pura nggak susah, kan?"

"Nggak susah apanya, Div? Kamu nggak tau aja gimana repotnya ngadepin Arcila sama keluarganya!"

"Jangan ngeluh begitu, Mas, ini semua demi masa depan Mas sendiri. Yakin deh, kerja sama bareng Bu Arcila adalah jalan buat Kios Makcomblang Dafsa."

Tuh, kan! Tadi aja Diva bilang cuma baper, tapi sekarang apa buktinya? Kayaknya emang bener, Diva mau jual kakaknya sendiri ke perempuan gila macam Arcila.

Dafsa hampir aja meledak, kalau nggak denger notifikasi ponselnya. Ada pesan masuk.

[Malam, Mas Dafsa. Besok pagi jemput saya di rumah, ya. Saya tunggu kedatangannya.]

Tarik napas, keluarkan pelan-pelan. Dafsa pengen banget telfon Arcila, terus bilang kalau besok dia nggak bakalan ada di Indonesia. Dafsa bakalan pindah ke Zimbabwe!

1
yuma
ngakak bangettt anjirr, lgian cuci motor cma pke kolorrr mna wrna kuning🤣🤣
yuma
udahlah daf, klau itu udh jd keputusan arcila. toh gak ada ruginya bagi km
Wulandaey
aihh cila walaupun kesel masi belain kang mas dafsa
Wulandaey
yeu andra suka ikut campur deh🤣 dah nyingkir lah cila sukanya ama mas dafsaa
Nurani Putri
mungkin ini alasan dy di cerai sma istri nya trdahulu kali ya rempong
Nurani Putri
ayoo daf tinggal blg maaf susah btul
ainnuriyati
hahahaa maluu nya sampe ke kolor kolor tu🤣
ainnuriyati
cila bgitu jg krn kepepet daf aslinya ma bener itu
brilliani
ah, tipe cowo rempongg ama sok ngatur ya
brilliani
🤣🤣 dafsa mulai jilat ludah sendiri
Hardy Greez
dicariin cilaa 🤭 papa mertua jg nanyanya ke dafsa yaa
yuma
kasian udah pedeee bgtt🤣🤣
yuma
akhirnya ada hilal cemburu wkwkw
yuma
awass nyesel dafsa🤭
yuma
njrr trnyta udh di jodohin dri orokkkk, cma bda nasib aja
yuma
njrrr smpe di kirain teronggg, aduhhh pusing jga dgn arcilaaa
Caramel
tapii dafsa udh mulai pedulii Ihkk, kecarian jga dia gaada arcila
Caramel
gak espekk bgtt dudanya msh muda, tapi gacor bgtt udh pnya anak 5
Caramel
hmmm yukkk dafsa buka hati, Terima aja cegil itu
Caramel
gak bisa berkata-kata lgi dengan kelakuan gila arcila😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!