Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Arthur baru saja tiba di sekolahnya dengan raut wajah yang sedikit lesu. Hari itu terasa berat, dan pikiran tentang kejadian tadi di rumah membuatnya kehilangan banyak tenaga. Namun, saat dia memasuki halaman sekolah, seluruh perhatiannya seketika teralihkan.
Di tengah halaman, terlihat Seyra sedang berdiri dengan percaya diri, dikelilingi oleh semua murid yang bersorak meriah. Dengan gerakan lincah, dia melakukan freestyle menggunakan motor sport miliknya.
Sorakan nama Seyra menggema, menciptakan suasana yang penuh energi. "Seyra! Seyra!" teriakan itu membuatnya tertegun sejenak.
Arthur menggelengkan kepala, senyum tak bisa di tahan lagi olehnya. "Baru setengah hari nggak ketemu, dan dia sudah membuat heboh sekolah," pikirnya sambil menatap gadis itu.
Meskipun merasa lelah, ada rasa geli yang mengalir dalam dirinya melihat Seyra bersinar seperti itu. Dia begitu bebas, seakan tidak memiliki beban hidup sama sekali.
Sambil melangkah lebih dekat, Arthur merasa hatinya menghangat. Momen itu mengingatkannya, bahwa di tengah rutinitas yang membosankan, selalu ada keajaiban yang bisa di temukan. Terutama saat melihat orang yang dia sukai sedang tertawa riang.
Namun saat dia hendak mendekat ke arah kerumunan, tiba-tiba seseorang menabraknya dari belakang yang membuat tubuh Arthur maju satu langkah.
"Aduh, maaf... maaf, gue nggak sengaja." Kata orang tersebut.
Arthur menoleh, dia melihat sosok Elsa sedang mengumpulkan buku-buku yang terjatuh akibat tabrakan tadi. "Lain kali jalan pake mata." Ujar Arthur dingin.
Elsa mendongak dia tampak terkejut melihat reaksi Arthur yang sangat tidak bersahabat. "Ah, iya. Gue beneran minta maaf," ujarnya lirih.
Bukannya membantu, Arthur justru bergegas pergi menuju kerumunan dan membiarkan Elsa terbengong-bengong seorang diri.
"Sialan, kenapa sikapnya kayak gitu?" gumam Elsa.
Arthur berdiri di antara para murid, tatapannya terkunci pada Seyra. Begitu gadis itu selesai menunjukan keahliannya, dan memarkirkan motornya Arthur segera menghampiri gadis itu.
"Sayang." Sapa Arthur hangat.
Seyra menoleh, rambut acak-acakan dan keringat nampak jelas di kening gadis itu. "Tumben baru datang, Ar?"
Arthur mengangguk, dia mendekat dan merapikan rambut gadis itu yang berantakan. Dia tanpa ada rasa jijik menyeka keringat di kening Seyra menggunakan telapak tangannya.
"Seneng banget nyari sensasi, biar apa hm?" terdengar nada tak suka dalam ucapan Arthur.
"Biar lo cemburu." Jawab Seyra asal.
Arthur terkekeh. "Tanpa lo lakuin itu, gue udah cemburu kali."
"Bohong juga ada batasnya," sahut Seyra acuh.
Dia sibuk mencepol rambutnya, jelas saja Seyra tak percaya jika Arthur cemburu karena dia masih percaya kalau Arthur tidak mencintainya sedikit pun. Hubungan mereka hanya sebatas rasa iba, tak lebih dari itu. Namun saat Seyra hampir selesai mengikat rambutnya Arthur segera menarik ikat rambut itu dari tangan Seyra sampai membuat rambut panjangnya kembali jatuh tergerai.
"Nggak usah di iket, lo sengaja mau godain banyak cowok?" tanya Arthur jengkel.
"Apaan sih? gue gerah, Ar. Panas banget nih."
Bukannya memberikan ikat rambut itu, Arthur justru menarik Seyra menuju UKS. Mengabaikan teriakan rekan-rekannya yang meminta dia berhenti.
"Loh, ngapain lo bawa gue ke UKS?" Seyra bertanya heran.
Dia tidak sakit, untuk apa dia di bawa ke sana?
Setibanya di UKS, Arthur mengajak Seyra menuju salah satu brankar dan mendudukkan gadis itu di sana tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan yang tadi. Tanpa permisi Arthur merebahkan kepalanya di pangkuan gadis itu, pemuda itu menarik pinggang Seyra mendekat hingga hembusan napas Arthur mengenai kulit perut gadis itu.
"Lo kenapa? Sakit?" Seyra merasa bingung dengan tingkah Arthur yang seperti itu, dia menyentuh kening Arthur untuk memastikan dia demam atau tidak.
Namun, suhu tubuhnya sangat normal artinya Arthur tidak demam. "Lo sakit apa, Ar?"
"Nggak tau." Jawab Arthur sekenanya.
Seyra memukul pelan kepala pemuda itu, "Kalo nggak sakit, ngapain lo ngajak gue ke UKS? Atau lo lagi sakit hati?"
"Kangen."
Mendengar itu Seyra langsung menjambak rambut Arthur kasar. Dia memaksa pemuda itu menatapnya, "Minggir, gue mau pergi. Gue masih gerah, bisa-bisanya lo ngajak gue ke sini cuma karena kangen?"
"Nggak boleh, gue lagi sakit beneran, Sey." Lirih Arthur lemah.
Seyra menarik napas kasar, dia melepas cengkeraman di rambut Arthur. "Dimana yang sakit?"
Dengan polos Arthur menyentuh bagian dadanya, "Di sini."
"Lo jantungan?"
"Bukan, lo mau gue punya penyakit mematikan?" protes Arthur kesal. Pacarnya itu memang tidak peka.
Seyra cengengesan, dia menggaruk tengkuknya yang gatal. "Gue nggak mau lo mati, Ar. Tapi lo harus berhenti berlagak kayak anak kecil."
Tersenyum tipis, Arthur semakin mengeratkan pelukannya di perut Seyra. "Tapi gue suka, jadi perhatian lo sama gue makin banyak."
Seyra menggelengkan kepala, meskipun senyumnya tak bisa disembunyikan. "Lo memang aneh, Ar. Kenapa sih lo selalu bikin situasi jadi nggak nyaman?"
"Karena gue suka lo yang kayak gini. Wajah lo yang kesal itu lucu," jawab Arthur merapatkan tubuhnya lebih dekat.
"Dasar gila," gumam Seyra, meski tak di pungkiri hatinya berdebar. Dia tidak tahu Arthur hanya bercanda atau tidak, tapi perasaannya mulai bergejolak aneh setiap dekat dengan pemuda itu.
'Gawat kalau gue mulai suka sama nih cowok.' Batin Seyra.
Arthur dengan cepat menarik lengan Seyra dan meletakkannya di kepalanya, "Elus, Sey."
Dengan malas Seyra menuruti permintaan pemuda itu, keheningan di UKS membuat suasana menjadi tenang hanya suara detak jam yang terdengar jelas di telinga mereka.
"Tadi lo bilang lagi sakit, emang sakit apa?" tanya Seyra. Dia masih penasaran dengan sakit yang Arthur alami.
Helaan napas panjang terdengar, Arthur memejamkan mata sejenak lalu menjawab. "Gue juga nggak tahu, cuma rasanya sesak aja di bagian dada gue."
"Lo asma?"
Seketika Arthur membuka kedua matanya dan menatap horor ke arah Seyra. "Dari tadi lo ngomongnya nakutin, Sey."
"Abisnya gue bukan dokter, mana paham gue sama hal begituan."
Hening.
Tidak ada yang bersuara di antara mereka, hingga Arthur kembali memecah keheningan yang ada. "Lo pernah di bandingin, Sey?"
Pertanyaan itu terlontar begitu saja, entah mengapa Arthur mulai merasa bergantung dengan Seyra. Selama ini dia tak pernah menceritakan masalah keluarganya ada siapa pun, bahkan pada teman-temannya tapi entah sejak kapan Arthur mulai merasa nyaman dekat dengan gadis itu.
"Pernah, bisa di bilang sering."
"Apa yang lo lakuin saat itu?" Arthur mendongak menatap wajah Seyra yang kebetulan sedang menatapnya. "Apa lo merasa sakit hati?"
Seyra terdiam sejenak. Tangannya masih bergerak pelan mengusap rambut Arthur, tetapi tatapannya berubah kosong, seolah sedang menembus dinding putih UKS dan melihat sesuatu yang jauh di belakang sana.
"Sakit?" dia mengulang pelan. "Awalnya iya."
Arthur tidak menyela. Untuk pertama kalinya dia tidak bercanda.
"Gue sering dibandingin sama kakak gue. Katanya dia lebih kalem, lebih pinter, lebih gampang dibanggain. Sedangkan gue..." Seyra terkekeh kecil tanpa humor. "Katanya gue cuma bisa bikin masalah di mana-mana."
Arthur merasakan sesuatu mengganjal di tenggorokannya.
"Terus?" tanyanya lirih.
"Terus gue capek ngerasa sakit hati." Bahu Seyra terangkat ringan. "Jadi gue berhenti peduli. Kalau orang mau bandingin, ya silakan. Gue nggak bisa maksa mereka ngeliat gue kayak yang gue mau."
Arthur menatap wajah gadis itu lebih lama. Selama ini Seyra selalu terlihat galak, berisik, seolah tidak pernah tersentuh apa pun. Tapi sekarang, ada retakan kecil yang dia lihat.
"Lo bohong."
Alis Seyra terangkat. "Maksud lo?"
"Lo bilang lo berhenti peduli. Tapi kalau bener nggak peduli, lo nggak bakal inget detailnya." Arthur menelan ludah. "Lo cuma pura-pura kuat."
Tangan Seyra berhenti mengusap rambut Arthur. "Sok tau."
"Gue juga sering dibandingin," ucap Arthur tiba-tiba.
Kini giliran Seyra yang menunduk menatapnya.
"Sama siapa?" tanyanya lebih pelan.
"Sama saudara tiri gue," Arthur tersenyum miris. "Papa nggak pernah puas lihat prestasi yang gue miliki, dan gue selalu di anggap gagal."
"Lo punya saudara tiri? Siapa?" tanya Seyra. Dia tak ingat jika Arthur memiliki saudara tiri, karena dalam novelnya tidak tertulis jelas.
"Ada, dia beda sekolah sama gue."
"Jadi itu alasannya lo jadi badboy sekolah?" Seyra menyeringai tipis.
"Bukan badboy. Cuma capek jadi orang yang bukan gue." Arthur menatap langit-langit ruangan. "Kadang rasanya sesak. Bukan sakit fisik, tapi kayak... dada gue ditekan. Kayak gue nggak pernah cukup buat mereka."
Seyra memalingkan wajahnya cepat-cepat. "Manusia emang nggak pernah merasa cukup, kan? Jadi jangan terlalu di pikirin."
"Sekarang jawab pertanyaan gue tadi," desak Arthur pelan. "Kalau dibandingin, apa lo masih sakit hati sekarang?"
Seyra menggigit bibir bawahnya. Untuk beberapa detik, dia tidak menjawab.
"Lumayan," akunya akhirnya. "Kadang kalau lagi sendirian, gue mikir, apa gue memang segagal itu sampai selalu kalah dibandingin?"
Arthur langsung bangkit setengah duduk, membuat jarak mereka semakin dekat.
"Lo nggak gagal."
"Lo tahu dari mana?" tantang Seyra, meski suaranya tak lagi setajam biasanya. "Lo aja punya perasaan kayak gitu."
"Ya, gue nggak munafik." Arthur menatapnya dalam. "Tapi lo tetap jadi diri lo, meskipun semua orang minta lo berubah."
Seyra terdiam. Untuk pertama kalinya, kata-kata Arthur tidak terdengar seperti rayuan murahan.
"Arthur," panggilnya pelan.
"Hm?"
"Jangan kebiasaan bergantung sama gue." Seyra tersenyum tipis. "Karena lo bisa aja kecewa."