Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31 cinta yang hilang
Suasana pagi yang begitu panas di ruang kelas, seolah menambah gerah suasana hati siapa pun yang ada di dalamnya. Kipas angin di langit-langit berputar lambat, tidak cukup untuk mendinginkan ketegangan yang mulai merayap. Brian sudah datang lebih awal, namun ia tidak duduk di tempat biasanya. Ia berdiri di samping meja Dimas, salah satu teman sekelasnya.
"Dim, gue duduk di kursi Lo ya, dan Lo duduk di kursi gue," ucap Brian kepada Dimas tanpa basa-basi.
Dimas yang sedang merapikan bukunya mengernyit bingung. "Loh, memangnya kenapa Bri. Kok Lo mau pindah?"
Brian melirik sekilas ke arah kursi lamanya di samping tempat duduk Bara, lalu membuang muka dengan cepat. "Gapapa gue engap duduk di sini, udah cepat Lo pindah sini dim," jawab Brian dengan nada yang tidak ingin dibantah.
"Oke deh," sahut Dimas akhirnya, merasa tidak enak untuk bertanya lebih lanjut karena melihat wajah Brian yang begitu tegang.
Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka. Bara dan Aluna pun masuk kelas bareng, membuat pemandangan itu semakin memanaskan hati Brian. Melihat mereka berjalan bersisian membuat luka di hati Brian kembali berdenyut perih.
Aluna yang menyadari Brian sudah ada di sana mencoba memberanikan diri. "Pagi Bri," sapa Luna dengan suara lembut yang sedikit bergetar.
Brian tidak menoleh sepenuhnya. Ia hanya mengangguk senyum kecut, sebuah senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. Aluna tertegun saat melihat tas Brian sudah berada di meja Dimas.
"Brian. kok kamu duduk di kursinya Dimas sih?" tanya Aluna heran.
"Emang kenapa suka-suka aku lah," jawab Brian ketus sambil terus sibuk dengan ponselnya, seolah-olah Aluna adalah gangguan kecil yang tidak penting.
Perubahan sikap Brian yang begitu drastis membuat hati Aluna terasa teriris. Ia mendekat selangkah lagi. "Brian. kamu kenapa sih masih kayak gitu terus?"
"Gak papa, sudah duduk sana, bikin emosi aja," potong Brian tajam. Ia bahkan tidak mau menatap mata Aluna.
Bara yang sejak tadi diam di belakang Aluna akhirnya tidak tahan melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu. Ia melangkah maju, mencoba membela Aluna. "Brian. jangan kasar kenapa sih sama Aluna," tegur Bara dengan suara rendah namun penuh penekanan.
Tapi Brian tidak menjawab. Ia justru kembali memasang earphone-nya, menutup akses bagi suara Bara maupun Aluna. Ia benar-benar telah membangun dinding yang tinggi, membiarkan cinta dan persahabatan yang dulu ia banggakan perlahan menghilang di balik punggungnya yang kini terasa sangat jauh.
Suasana kelas yang sudah panas menjadi semakin menyesakkan saat Bu Ratna, guru Bahasa Indonesia, masuk dan mengetuk meja dengan penggaris kayu. Ia menatap seluruh kelas dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung.
"Anak-anak, hari ini kita akan membuat analisis drama. Tugas ini harus dikerjakan berkelompok. Ibu sudah membagi kalian berdasarkan urutan tempat duduk yang lama agar adil," ujar Bu Ratna tegas.
Seketika, jantung Aluna berdegup kencang. Bara terdiam, sementara Brian mendengus kasar. Ia baru saja pindah kursi ke meja Dimas, namun aturan Bu Ratna memaksanya kembali berurusan dengan Aluna dan Bara, yang baru saja ia hindari.
"Bu, saya sudah pindah duduk di depan. Bisa saya satu kelompok dengan Dimas saja?" tanya Brian, suaranya terdengar menantang di tengah keheningan kelas.
"Tidak ada pindah-pindah kelompok, Brian. Kembali ke kelompok asalmu. Bara, Aluna, dan Brian. Titik," jawab Bu Ratna tanpa bisa dibantah.
Dengan malas dan wajah yang sangat keruh, Brian menyeret kursinya kembali ke arah meja Bara dan Aluna. Suara gesekan kaki kursi dengan lantai semen kelas terdengar seperti jeritan yang memilukan. Brian duduk di sana, namun ia memutar kursinya sedikit menyamping, tidak mau berhadapan langsung dengan dua orang itu.
"Brian, ini soal pembagian peran di naskahnya..." Aluna memulai dengan suara hati-hati, tangannya menyodorkan secarik kertas.
Brian menyambar kertas itu tanpa melihat Aluna. "Gue bagian nulis laporannya aja. Kalian berdua terserah mau peran jadi apa, nggak peduli gue."
"Bri, kita harus diskusi. Ini tugas kelompok, nilainya buat bareng-bareng," sahut Bara mencoba mencairkan suasana.
Brian menatap Bara dengan tatapan yang sangat dingin. "Nilai bareng-bareng? Sejak kapan lo peduli soal 'bareng-bareng', Bar? Bukannya lo lebih suka main di belakang?"
Kalimat itu seperti tamparan keras bagi Bara. Kelas yang tadinya berisik mendadak sunyi karena teman-teman di sekitar mereka mulai menyadari ada ketegangan hebat.
"Brian, jangan bawa masalah pribadi ke sini. Kasihan Aluna, dia cuma mau ngerjain tugas," bisik Bara, mencoba meredam amarahnya.
"Oh, sekarang lo jadi pahlawan buat Aluna? Baguslah. Terusin aja sandiwara kalian," sindir Brian. Ia lalu meraih pulpen dan menulis di kertas itu dengan kasar hingga kertasnya hampir robek.
Aluna hanya bisa menunduk, matanya mulai memanas. Ia menyadari bahwa berada di satu kelompok yang sama bukan justru memperbaiki keadaan, melainkan hanya memperjelas bahwa cinta yang dulu menyatukan mereka kini telah benar-benar hilang, digantikan oleh rasa benci dan kecurigaan yang tebal.
Aluna menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian tidak beraturan. Ia menatap tumpukan kertas di depan mereka, lalu beralih menatap Brian yang wajahnya masih sedingin es. Ia tahu, jika mereka terus seperti ini, tugas dari Bu Ratna tidak akan pernah selesai, dan suasana kelas akan semakin canggung bagi semua orang.
Dengan suara yang sengaja dilembutkan meski bergetar, Aluna mencoba memecah kekakuan itu sekali lagi.
"Brian, aku mohon kita fokus kerjakan tugas dari Bu Ratna dulu. Masalah pribadi bisa kita selesaikan di luar sekolah," ujar Aluna sambil menatap mata Brian, memohon sedikit saja pengertian.
Brian menghentikan gerakan pulpennya. Ia tidak langsung menjawab, melainkan hanya menatap kosong ke arah naskah drama di depannya. Ada jeda panjang yang menyesakkan sebelum akhirnya ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kasar.
"Terserah Lo aja, gue capek terus bersandiwara," sahut Brian pendek.
Kalimat itu meluncur begitu dingin, seolah-olah setiap interaksi di antara mereka selama ini hanyalah sebuah beban berat yang ingin segera ia lepas. Brian membuang muka, menatap ke arah jendela kelas, membiarkan Aluna dan Bara terdiam seribu bahasa.
Bara yang mendengar itu hanya bisa mengepalkan tangan di bawah meja. Ia ingin menyahut, ingin membela bahwa tidak semua yang mereka lalui adalah sandiwara, namun ia sadar bahwa kata-kata tidak akan berguna bagi seseorang yang hatinya sudah tertutup rapat.
Bersambung.........
Jangan lupa like dan kasih rating lima ya kak 😁 🙏 🙏 🙏 ♥️