NovelToon NovelToon
Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Weny Hida

Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.

Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.

Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rebut Hatinya

Celine menoleh padanya, wajahnya tetap tenang. Bahkan, boleh dibilang begitu tenang menghadapi situasi seperti ini..

“Taruh dulu barang-barang kamu di kamar. Setelah itu cepat keluar ya.”

Amira masih mematung di depan kamar.

Celine menambahkan, nadanya tenang tapi tidak memberi ruang bagi Amira untuk menolak, “Aku perkenalkan kamu sama suamiku.”

Kalimat itu membuat tenggorokan Amira terasa kering. Seolah seluruh tubuhnya tiba-tiba kehilangan terasa dingin.

Amira Ingin minta waktu, tapi yang keluar hanya jawaban pendek, "Iya, Bu.”

Di saat itulah, suara pintu mobil ditutup terdengar jelas dari luar. Langkah kaki mendekat ke teras. Detak jantung Amira langsung tak beraturan.

Setelah itu, dia bergegas masuk ke kamar, menutup pintu. Lalu, bersandar di baliknya. Tangan Amira gemetar. Apalagi, saat mendengar suara pintu depan dibuka.

Suara langkah pria masuk. Suara bariton rendah menyapa dari ruang tamu, “Aku pulang.”

Suara itu cukup hangat, tenang, dan entah kenapa terasa tidak asing. Amira memejamkan mata, dadanya bergetar.

Dia menarik napas panjang, lalu mendorong dirinya berdiri tegak. Ini sudah jalannya.

Setelah meletakkan barang-barangnya Amira merapikan dressnya, mengusap telapak tangannya yang berkeringat ke sisi pakaian. Lalu membuka pintu kamar.

Langkahnya terasa berat saat berjalan menyusuri koridor, menuju ruang tamu. Menuju pria yang sebentar lagi harus menjadi suaminya.

Begitu dia sampai di ambang ruang tamu, Amira melihat seorang laki-laki duduk santai di sofa.

Kemejanya digulung sampai siku, satu tangan memegang ponsel, satu tangan lagi bertumpu di sandaran, dan jantung Amira seketika seperti berhenti berdetak.

Dia, laki-laki yang bertabrakan dengannya di toko jus. Tubuh Amira membeku.

Pikirannya berputar liar.

"Apakah … itu Dirga?" batinnya dalam hati.

Di saat Amira masih terpaku, Celine menoleh.

“Amira, sini.”

Suara itu membuat Amira tersadar dari lamunnnya. Meskipun suasana itu terasa begitu canggung, Amira memaksa kakinya bergerak.

Laki-laki itu, akhirnya mengangkat wajahnya dari ponsel. Tatapan mereka bertemu, dan Amira benar-benar yakin, mereka pernah bertemu satu bulan yang lalu.

Celine tersenyum santai, lalu berkata, “Dirga, ini Amira, asisten baruku.”

Kata asisten menggantung di udara. Dirga berdiri perlahan, tatapannya masih terkunci pada Amira. Lalu dia mengulurkan tangan.

“Amira?”

Amira menelan ludah.

“Iya perkenalkan saya Amira, asisten baru Bu Celine,” jawabnya pelan.

Jantungnya berdetak keras. Tangan mereka akhirnya bersentuhan, dan seketika membuat jantung Amira makin tidak terkendali.

"Jadi, laki-laki itu Dirga?" batin Amira dalam hati.

Dirga menarik tangannya pelan, matanya masih menyelidik. Lalu dia menoleh pada Celine, sorot matanya penuh tanda tanya.

“Nggak biasanya kamu bawa asisten sampai ke rumah?”

Nada suara Dirga terdengar santai, tapi jelas ada rasa penasaran di dalamnya. Celine tidak terlihat gugup sedikit pun.

Dia menyandarkan tubuhnya dengan santai, menyilangkan kaki, lalu menjawab, “Aku lagi banyak kerjaan.”

Dirga mengangkat alis tipis.

Celine melanjutkan, “Apalagi aku lagi revisi proposal kerja sama aku sama Cambridge. Jadi aku butuh asisten yang bisa bantu aku 24 jam.”

Dirga terdiam beberapa detik. Matanya kembali menoleh ke Amira, mengamati dari rambut yang sudah ditata rapi, dress yang jelas bukan pilihan Amira sendiri. Sampai ekspresi gugup yang berusaha Amira sembunyikan.

“24 jam?” ulang Dirga pelan.

Celine tersenyum tipis. “Iya, biar fokus. Kamu tahu sendiri kan, aku kalau kerja bisa nggak kenal waktu.”

Dirga tidak langsung menjawab. Dia hanya mengangguk pelan, seolah paham jika istrinya gila ke kerja.

Amira berdiri di sana seperti patung. Dia merasa seperti sedang berdiri di tengah permainan yang aturannya tidak ia pahami.

Celine menoleh ke Amira.

“Kamu bisa bantu aku kan, Mir?” tanya Celine, seolah ingin meyakinkan Dirga, jika keberadaannya di sana, memang benar-benar untuk membantu Celine.

Amira tersentak.

“Iya, Bu.”

Dirga menatap reaksi itu. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis, dan berkata,

“Saya rasa, kita pernah ketemu."

Udara di ruangan langsung terasa lebih berat. Amira menegang.

Celine menoleh cepat. “Hah?”

Dirga tetap menatap Amira.

“Di toko jus, aku yang nabrak kamu sampai jus yang kamu beli jatuh."

Jantung Amira seakan berhenti berdetak, Celine menoleh ke Amira, alisnya sedikit terangkat.

“Oh ya?” tanyanya.

Amira memaksa tersenyum kecil.

“Iya, nggak sengaja ketemu. Saya malah udah lupa.”

Dirga tersenyum tipis.

“Dunia memang kecil ya. Kita nggak sengaja pernah ketemu, sekarang kamu jadi asisten istri aku.”

Amira tersenyum canggung.

“Iya, benar-benar kebetulan."

Celine menatap keduanya bergantian, lalu berdiri.

“Ya sudah Amira, kamu masuk dulu ke kamar. Istirahat ya.”

Amira seperti mendapat izin untuk melarikan diri mendengar perkataan Celine.

“Iya, Bu.”

Dia berbalik, melangkah cepat ke arah kamar yang sudah berisi barang-barangnya. Namun, entah mengapa, punggungnya terasa panas, seolah tatapan Dirga masih menempel di sana.

Begitu pintu kamar tertutup, Amira bersandar di baliknya, sembari memejamkan mata, dan menghembuskan napas panjang yang sejak tadi dia tahan.

Dada Amira naik turun cepat, tangannya gemetar. Dia berjalan pelan ke tengah kamar, lalu duduk di tepi ranjang.

Pikirannya berputar pada sosok Dirga. Kini, Amira sudah tahu wajahnya, dan sialnya dialah pria di toko jus.

Amira menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia benar-benar tak menyangka. Laki-laki yang menyita perhatiannya sejak pertemuan pertama yang sempat membuat jantungnya berdebar aneh, ternyata adalah suami wanita yang meminta dirinya untuk menggantikan posisi itu.

Ironis, dan terlalu rumit untuk dipahami. Entah Amira harus bahagia, atau sedih.

Amira berjalan pelan, lalu berbaring perlahan di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang asing.

“Kenapa harus dia? Jika saja Dirga bukan pria itu, mungkin semua ini akan terasa lebih mudah. Tapi sekarang?"

Amira menghembuskan napas panjang, karena saat ini, dia tidak hanya harus menahan rasa bersalah. Namun, juga harus menahan sesuatu yang lebih sulit, yaitu perasaan yang sudah terlanjur muncul. Bahkan sebelum dia tahu siapa sebenarnya pria itu.

Akan tetapi, satu sisi hatinya juga berbisik, "Amira, jika Celine yang memintamu untuk menjadi istri suaminya, kenapa kau tidak rebut saja sekalian hatinya?"

1
falea sezi
siap siap. gigit jari lu celine. saumi. di. kasih ke madu siap2 gigit jari. lu
Airene Roseanne
yp
falea sezi
honeymoon ma amira aja Dirga biar cpet dapetin bayi tp awas lu nyakitin amira
falea sezi
awas aja klo. suami. mu oleng km. ngamuk dih
falea sezi
bini kayak celine di cerai aja aneh bgt malah fokus krja g fokus suami jangan jangan dia mandul
falea sezi
celine egois lu g mau layanin suami malah nyalahin Amira istri. tolol ya elu ini nanti suami lebih cinta istri muda kapok deh lu gigit jari
falea sezi
kasian amat amira
Susi Ermayana
kamu waras celine..?
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..
Aniza
lanjut thooor,klo lebih mntingin karir tuk apa kmu nikah celin?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!