"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.
Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Daven melangkah masuk ke dalam mansion keluarga Teldford dengan aura yang sangat berbeda dari biasanya. Jika selama tiga tahun terakhir ia pulang membawa hawa musim dingin yang menusuk, sore ini ia membawa percikan api yang menghangatkan seisi rumah.
Senyum tipis yang tak kunjung luntur menghiasi wajah tegasnya. Bahkan, ia sempat menyapa kepala pelayan dengan nada yang hampir terdengar... riang.
Begitu sampai di kamarnya yang luas, Daven langsung mengunci pintu. Ia melemparkan tasnya ke sembarang arah, lalu merogoh saku jaketnya dengan hati-hati. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil: kunci dengan gantungan kelinci yang telinganya patah.
Daven merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size-nya, mengangkat kunci itu tinggi-tinggi di bawah sinar lampu kamar.
"Kau tidak berubah, Bakpao," gumam Daven sambil tertawa kecil. Tawa yang selama ini terkunci rapat di tenggorokannya kini lepas begitu saja. "Aktingmu boleh kelas Oscar, tapi kuncimu tetap berakhir di tanganku."
Daven berguling di atas kasur, menatap langit-langit dengan binar mata yang kembali hidup. Kehampaan yang selama ini menyiksanya seolah terangkat seketika. Meskipun Cheryl bersikap dingin, meskipun pipinya sudah tirus dan wajahnya seanggun dewi, Daven tahu, dia tahu di balik topeng itu, Cheryl tetaplah gadis ceroboh yang butuh ia jaga.
"Dia bilang aku kekanak-kanakan?" Daven terkekeh sendiri, mengingat bagaimana Cheryl menepis tangannya tadi. "Lihat saja nanti saat kau berdiri mematung di depan pintu apartemen mu dan menyadari kunci ini ada di tanganku. Kita lihat siapa yang akan memohon pada siapa."
Saat makan malam tiba, Nick dan Nadine sudah duduk di meja makan. Mereka berdua langsung menyadari ada yang tidak beres, atau lebih tepatnya, ada yang sangat benar, dengan putra mereka.
Daven makan dengan lahap, sesekali ia bersenandung kecil sambil memotong steaknya. Nickholes melirik Nadine, lalu berdeham keras.
"Daven, ada apa? Apa tim basketmu baru saja menang melawan tim nasional?" tanya Nick dengan nada menyelidik.
Daven mendongak, matanya berkilat jahil. "Tidak, Yah. Lebih dari itu."
"Kau bertemu dengannya, kan?" tebak Nadine dengan senyum lembut yang langsung membuat Daven salah tingkah. "Gadis yang membuatmu jadi pria kulkas selama tiga tahun ini?"
Daven mencoba kembali ke mode dinginnya, tapi gagal total. "Dia ada di NYU, Bu. Dia pindah ke sana. Tapi... dia berubah."
"Berubah bagaimana?" tanya Nick penasaran. "Apa dia jadi makin cantik sampai kau lemas?"
"Dia cantik. Sangat cantik. Dan dia pura-pura tidak mengenalku dengan baik," Daven mendengus, namun ada nada bangga di sana. "Dia berakting jadi wanita anggun yang efisien. Dia bahkan berani menepis tanganku dan menyebutku mengganggu. Dia benar-benar punya taring sekarang."
Nick tertawa terbahak-bahak sampai hampir tersedak. "Bagus! Akhirnya ada yang bisa membuat seorang Teldford mati kutu. Dia pasti belajar banyak di Brooklyn."
"Tapi dia tetap ceroboh," Daven mengeluarkan kunci kelinci dari sakunya dan menaruhnya di atas meja dengan bangga, seolah itu adalah trofi kemenangan. "Dia menjatuhkan ini di kantin. Aku akan membiarkannya sedikit panik sebelum mengembalikannya."
Malam itu, Daven tidak bisa diam. Sifat riwehnya yang dulu sempat mati suri kini bangkit dengan kekuatan sepuluh kali lipat. Ia mulai membuka laptopnya, bukan untuk mengerjakan tugas bisnis, melainkan untuk meriset apartemen di sekitar gedung Fakultas Seni.
"Kalau dia pindah dari Brooklyn, kemungkinan besar dia tinggal di sekitar Greenwich Village," gumam Daven sambil mencatat beberapa alamat apartemen mahasiswa. "Aku harus tahu di mana dia tinggal. Bagaimana kalau dia lupa mengunci pintu? Bagaimana kalau lingkungannya tidak aman?"
Daven mulai sibuk menyiapkan paket darurat di tasnya. Ia mengisi tasnya dengan dua buah pulpen cadangan, pengisi daya ponsel tambahan, hingga payung lipat kecil.
"Dia pasti akan butuh ini semua besok," ucap Daven dengan wajah serius yang sangat kontradiktif dengan senyum di bibirnya.
Ia membayangkan wajah Cheryl besok pagi. Apakah Cheryl akan tetap mencoba bersikap dingin? Ataukah Cheryl akan meledak marah saat tahu kuncinya ada pada Daven? Apapun itu, Daven tidak sabar menantinya.
Bagi Daven, kehampaan itu sudah berakhir. Meskipun Cheryl sedang bermain drama, Daven tidak keberatan menjadi penonton sekaligus sutradaranya. Ia akan mengikuti permainan "Pangeran Es vs Dewi Marmer" ini sampai Cheryl sendiri yang menyerah dan membiarkan pipinya dicubit kembali.
"Selamat tidur, Bakpao. Nikmati malammu tanpa kunci rumah," bisik Daven sebelum mematikan lampu, tidurnya malam itu adalah tidur paling nyenyak yang pernah ia rasakan dalam tiga tahun terakhir.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰