‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️
Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.
Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.
Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.
Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.
Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut
ANTI DAO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembah Kematian 1
Kabut di Lembah Kematian tidak berwarna putih atau abu-abu. Kabut di sini berwarna merah karat, berbau seperti tembaga tua yang direndam cuka.
Rombongan ekspedisi gabungan tiga keluarga—Lu, Qin, dan Lei—bergerak maju dalam formasi tempur. Jumlah mereka sekitar tiga ratus orang. Namun, baru satu jam melangkah masuk, keheningan hutan yang menindas mulai merenggut kewarasan mereka.
Tekanan atmosfer di sini setara dengan berada di kedalaman laut. Kultivator di bawah Ranah Pembentukan Qi Tahap 8 sudah mulai mimisan, pembuluh darah kapiler mereka pecah menahan bobot udara yang bercampur dengan aura kematian purba.
"Waspada!" teriak Lei Zuan, tombak petirnya memercikkan listrik untuk menerangi jalan yang remang. "Ada pergerakan di bawah tanah!"
KRESEK... WUUUSH.
Bukan angin. Itu suara pergerakan massal daging dan tulang.
Dari balik bayang-bayang pohon merah raksasa, ratusan pasang mata menyala.
Mereka bukan binatang buas biasa. Mereka adalah Binatang Darah (Blood Beasts). Makhluk yang telah bermutasi karena meminum air dari Mata Air Yin selama beberapa generasi.
Serigala Darah (Blood Wolves) setinggi kuda poni dengan kulit tanpa bulu yang terus mengeluarkan lendir merah.
Gagak Darah Iblis (Demon Blood Crows) yang paruhnya bergerigi seperti gergaji mesin.
Dan monster-monster Chimera aneh—gabungan tubuh beruang dengan kepala ular—yang merupakan hasil evolusi yang bertahan hidup.
Semuanya berada di Puncak Ranah Jiwa. Beberapa pemimpin kawanan bahkan memancarkan aura Setengah Langkah Ranah Roh.
"SERANGAN!"
Perang pecah seketika.
Gelombang monster itu menabrak barisan depan kultivator seperti tsunami daging.
"Tahan formasi!" teriak Qin Chen, mengibaskan kipasnya. Angin tajam memotong leher tiga serigala sekaligus.
Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Barisan pertahanan Keluarga Lu goyah. Seorang tetua (Ranah Jiwa) ditarik keluar dari barisan oleh seekor Chimera, lalu dicabik-cabik hidup-hidup. Jeritannya tenggelam dalam auman monster.
Lu Zhuxin, sang jenius kebanggaan Keluarga Lu, terbang melayang di atas pasukannya. Jubah ungunya bersinar terang. Dia memegang pedang giok pusaka.
"Mati!" teriak Lu Zhuxin.
Dia melepaskan Teknik Pedang Teratai Ungu. Kelopak bunga energi meledak, menghantam seekor Chimera Beruang-Ular (Setengah Langkah Ranah Roh).
BOOM!
Chimera itu terpental, kulit dadanya robek. Tapi ia tidak mati. Lendir merah dari tubuhnya dengan cepat merajut luka itu kembali. Monster itu mengaum marah, melompat tinggi mencoba menggigit kaki Lu Zhuxin. Lu Zhuxin harus bermanuver menghindar dengan panik, wajahnya tegang. Dia butuh tiga serangan susulan penuh tenaga—membakar hampir 15% cadangan Qi-nya—untuk akhirnya memenggal kepala monster itu hingga benar-benar mati.
"Hah... hah..." Lu Zhuxin terengah. Membunuh satu monster level ini ternyata sangat menguras tenaga karena regenerasi mereka yang gila.
Sementara itu, di garis depan yang paling brutal, Lu Daimeng berdiri terpisah dari kelompok utama.
Dia tidak menggunakan senjata di tangannya. Dia menggunakan punggungnya.
SREET... KLANG!
Sayap logam hitam yang terbuat dari Pedang Jiwa Surgawi membentang lebar di punggungnya. Namun, Lu Daimeng tidak terbang.
Dia memejamkan mata. Singularitas Psikis di otaknya berputar keras, mengirimkan gelombang perintah mental ke logam cair yang menyatu dengan saraf tulang belakangnya.
"Pecah," perintahnya.
Sayap hitam itu bergetar, lalu meledak.
Logam itu tidak hancur, melainkan terbagi menjadi delapan bagian yang terpisah. Delapan bilah pedang hitam melayang di udara, mengelilingi tubuh Lu Daimeng seperti halo pertahanan.
Ini bukan Pedang Terbang yang dikendalikan Qi. Ini adalah Telekinesis Logam Cair yang dikendalikan oleh kekuatan otak murni dan Dark Null.
Lima ekor Chimera Beruang-Ular—level yang sama dengan yang dilawan Lu Zhuxin—mengepungnya. Mata mereka merah menyala, mencium bau darah naga yang samar dari tubuh Lu Daimeng.
Lu Daimeng membuka matanya. Tiga pupilnya memindai ancaman. Otot-ototnya menegang. Jika dia terkena pukulan telak dari lima monster ini sekaligus, bahkan tulang baja miliknya akan patah. Dia tidak bisa meremehkan mereka. Kapasitas energinya hanya setara Ranah Jiwa Tahap 6, dia tidak punya Qi, dark null terbatas untuk menahan serangan karena lebih berfokus ke penyerangan.
"Mulai."
Kelima monster itu menerjang serentak dari sudut berbeda.
Lu Daimeng tidak menggunakan kekuatan mentah. Dia menggunakan presisi.
Delapan pedang hitamnya bergerak melesat. Dua pedang menyilang di depannya, menahan gigitan kepala ular dari Chimera pertama. KLANG! Bobot serangan monster itu membuat Lu Daimeng terdorong mundur setengah langkah, tanah di bawah sepatunya retak.
Mereka kuat, batin Lu Daimeng. Jangan adu kekuatan. Potong engselnya.
Saat Chimera kedua mencoba menerkam punggungnya, Lu Daimeng merunduk ekstrem, membiarkan monster itu melayang di atasnya. Di saat yang sama, tiga pedangnya melesat ke atas, melakukan Teknik Pedang Delapan Mata Angin.
Slaash!
Ketiga pedang itu menembus perut Chimera yang melayang itu. Tapi bukan sekadar menusuk. Ujung pedang Lu Daimeng dilapisi oleh Dark Null.
Saat daging monster itu terpotong, luka itu menghitam. Lendir regenerasi monster itu mendesis dan menguap saat bersentuhan dengan ketiadaan. Luka itu tidak bisa menutup.
Monster itu jatuh dengan usus terburai, melolong kesakitan.
Lu Daimeng tidak berhenti bergerak. Pertarungan ini menuntut konsentrasi mental yang luar biasa. Keringat dingin mulai bermunculan di dahinya saat dia mengendalikan delapan pedang secara bersamaan sambil menghindari sabetan cakar beruang.
Dia meluncur ke samping, menggunakan Aura Naga untuk menekan mental salah satu Chimera selama sepersekian detik. Keterkejutan monster itu memberi Lu Daimeng celah. Dua pedangnya melesat, memotong tendon kaki belakang monster itu.
Krak! Monster itu jatuh berlutut.
Lu Daimeng melompat, menghindari semburan asam dari Chimera lain. Di udara, dia memfokuskan empat pedang menjadi satu formasi bor, menghujamkannya langsung ke tengkorak Chimera yang sedang berlutut itu.
JLEB! Mati satu.
Di kejauhan, para kultivator Keluarga Lei dan Qin yang sedang berlindung di balik formasi, menatap pertarungan itu dengan napas tertahan.
Seorang Tetua Keluarga Qin, yang memiliki kemampuan sensor energi, menyipitkan matanya, menatap Lu Daimeng dengan bingung.
"Tuan Muda Qin..." bisik Tetua itu pada Qin Chen. "Ini gila, dia tidak menggunakan Qi sama sekali?"
"Apa maksudmu?" tanya Qin Chen sambil membelah seekor serigala dengan kipasnya.
"Lihat saja, Energi yang dipancarkan Lu Daimeng... Volume dan tekanannya... Itu hanya setara Ranah Jiwa Tahap 6," kata Tetua itu, suaranya penuh ketidakpercayaan. "Tapi jika hanya ranah jiwa mustahil bisa mengeluarkan teknik mental tanpa kebocoran Qi sedikitpun! Kecuali?"
Qin Chen menoleh, mengamati gaya bertarung Lu Daimeng dengan saksama.
"Kecuali dia punya metode asing." Analisis Qin Chen.
Di saat Lu Zhuxin (Ranah Roh Tahap 1) membuang banyak energi untuk menghancurkan monster berkali-kali karena mereka terus beregenerasi, Lu Daimeng melakukan hal sebaliknya. Lu Daimeng terlihat kesulitan menahan pukulan fisik monster itu, dia terus menghindar dan menangkis, tapi setiap serangannya berakibat fatal.
"Kau benar metode energinya sangat aneh dan asing," analisis Qin Chen, matanya berbinar melihat kejeniusan taktis Lu Daimeng. "Lihat luka monster-monster itu. Energi hitam di pedangnya... itu mematikan regenerasi sel. Dia tidak membunuh mereka dengan kekuatan mentah, dia melakukan penolakan energi pada setiap tebasannya. Dan Kapasitas otaknya untuk mengendalikan delapan pedang sangat mengerikan."
Di medan perang, Lu Daimeng sedang menyelesaikan duelnya. Napasnya terengah, lengan kirinya memiliki luka gores akibat cakar beruang yang berhasil menembus pertahanannya.
Tinggal dua Chimera tersisa. Mereka mulai ketakutan melihat pedang-pedang hitam itu.
"Apa yanh kalian lihat!," desis Lu Daimeng, matanya bersinar ungu, aura intimidasinya sangat kuat, membuat dua chimera ite bergetar.
Dia tidak membiarkan mereka lari. Kedelapan pedangnya melesat seperti kawanan lebah besi, mengurung kedua monster itu. Lu Daimeng terbang ke depan, menggunakan pedang-pedangnya sebagai pijakan di udara.
Dia tiba tepat di atas kedua monster itu, mencengkeram dua pedang hitam dengan tangannya sendiri, lalu menukik turun dengan mata Triple Pupil yang masih bersinar kejam.
CRAAAASSH!
Dia memenggal kedua monster itu secara bersamaan. Kepala ular dan kepala beruang menggelinding ke tanah berlumpur.
Pertarungan yang intens. Lima monster mati. Lu Daimeng berdiri dengan dada naik-turun, menahan sedikit rasa pusing di kepalanya akibat memaksakan kendali mental (Anti Dao Psikis) hingga batasnya.
Ini bukan kemenangan mudah yang membuat dia terlihat seperti dewa. Ini adalah kemenangan seorang pemburu jenius yang tahu cara membunuh mangsa yang lebih besar darinya, tanpa kerugian yang besar.
Lu Zhuxin, yang baru saja berhasil membunuh Chimera keduanya, mematung di udara. Dia melihat adiknya berdiri di antara lima bangkai monster yang sama.
"Tidak mungkin..." bisik Lu Zhuxin, harga dirinya retak. "Bagaimana bisa? Auranya... jelas-jelas di bawahku. Bagaimana dia bisa membunuh lebih cepat dariku?!"
Seorang murid elit Keluarga Lei di dekatnya tidak bisa menahan komentarnya.
"Gila...Lu Zhuxin butuh kekuatan besar untuk menghancurkan regenerasi monster itu. Tapi Tuan Muda Daimeng... dia hanya menusuknya sekali, dan monster itu tidak bisa sembuh lagi."
Pertempuran besar itu akhirnya mereda setelah satu jam.
Akhirnya, monster terakhir—seekor Raja Serigala Darah—mati ditombak oleh Lei Zuan dan dihancurkan oleh Qin Chen. Di garis depan lain, Lu Huang (Ranah Roh Tahap 5) berdiri tegak tanpa luka, telah membantai puluhan monster dengan pukulan fisiknya yang luar biasa, membuktikan bahwa tingkat kultivasi mutlak masih menjadi raja di medan perang.
Namun, mata semua orang tertuju pada Lu Daimeng.
Lu Daimeng menarik kembali kedelapan pedangnya. Logam hitam itu mencair, kembali masuk ke dalam punggungnya, menyatuh kembali dengan sel-sel miliknya.
Hampir setengah dari pasukan ekspedisi tewas. Kultivator di bawah Ranah Roh berguguran seperti lalat.
Hanya para elit yang tersisa.
Para tetua Keluarga Lu yang menyerang dan berlindung di dalam formasi melihat Lu Daimeng dengan perasaan campur aduk. Penyesalan merayapi hati mereka seperti racun dingin. Anak yang mereka hina dan sebut sampah itu, meski hanya memiliki energi setara Ranah Jiwa, dengan kepintarannya dia hampir menyaingi ahli Ranah Roh muda.
"Ya Tuhan..." bisik Tetua Ketiga Keluarga Lu, suaranya gemetar. "Jika dia masih ada di keluarga kita... dengan gaya bertarung seperti itu... Keluarga Lu kita setidaknya akan memiliki seorang algojo yang ada di garis depan."
Seorang Tetua Agung Keluarga Qin, pria tua berjanggut putih, berjalan mendekati Qin Chen dan berbisik cukup keras.
"Tuan Muda Qin, anak itu... Lu Daimeng. Meskipun energinya belum mencapai Ranah Roh, kepintarannya menutupi kekurangan ranah dan energi. Dia aset strategis. Dia belum memiliki tunangan, bukan? Cucu perempuanku, baru saja mencapai usia nikah. Dia cantik dan berbakat."
"Saran yang bagus tetua." Ucap Qin Chen tersenyum tipis, lalu menoleh ke Lu Daimeng yang sedang mengambil napas.
"Saudara Lu," panggil Qin Chen. "Tetua kami sangat terkesan. Keluarga Qin bersedia menawarkan posisi Tamu Kehormatan padamu. Dan... jika kau berminat, kami bisa membicarakan perjodohan politik untuk mempererat hubungan."
Tawaran itu bagaikan tamparan keras bagi Keluarga Lu. Wajah Lu Huang merah padam karena hinaan politik ini, sementara Lu Zhuxin menggigit bibirnya dengan kesal.
Lu Daimeng menoleh. Wajahnya datar, masih ada cipratan darah hitam di pipinya. Dia mengusap peluh di dahinya.
"Menikah?" tanya Lu Daimeng.
Dia berjalan mendekati salah satu bangkai Chimera. Dia merobek dadanya, mengambil Inti Darah (Blood Core) yang bersinar merah delima.
"Saat ini aku tidak akan menikah atau mengurusi hal seperti itu. Wanita adalah beban, sifat menyayangi adalah jangkar kelemahan," jawab Lu Daimeng dingin, menolak melihat ke arah faksi Keluarga Lu maupun Qin Yue. "Dan cinta adalah variabel emosional yang tidak diperlukan dalam medan perang. Aku tidak butuh istri. Aku hanya butuh sumber daya untuk fondasiku."
Dia menatap Tetua Qin itu dengan tatapan kosong.
"Jika kau ingin membayarku atas bantuanku menjaga formasi samping kalian, bayar dengan Blood Core. Jangan dengan daging manusia."
Penolakan itu brutal, tanpa basa-basi, dan sangat menghina konsep sosial bangsawan. Tapi bagi Qin Chen yang pragmatis, ini justru menegaskan bahwa Lu Daimeng adalah partner kerja yang sempurna: tidak bisa dibeli dengan wanita, hanya bisa dibeli dengan keuntungan logis.
"Tentu," Qin Chen tertawa halus. "Kami akan siapkan bagianmu. 20% Inti Darah dari sisi kami untuk Saudara Lu."
Sementara itu, Lu Daimeng tidak mempedulikan politik. Dia merasakan getaran aneh dari Jantung Naga di dadanya. Denyutnya semakin cepat.
Semakin dalam mereka masuk ke lembah, semakin kuat resonansinya. Ada sesuatu di ujung Lembah Kematian ini. Sesuatu yang memanggil darah naga di dalam tubuhnya, sesuatu yang lebih kuno dan berbahaya dari Chimera mana pun.
"Istirahat sepuluh menit," kata Lu Huang, secara alami mengambil alih alur pikir mereka karena kelelahannya sendiri. "Kumpulkan intinya. Bau darah ini akan mengundang predator wilayah dalam."
Lu Daimen duduk di atas batu, menyerap energi dari Blood Core dari telapak tangannya untuk memulihkan energinya, sementara para kultivator dari tiga keluarga besar merapikan barisan mereka.
Di Lembah Kematian ini, batas antara jenius dan sampah telah terkubur oleh darah. Yang tersisa hanyalah siapa yang bisa bertahan hidup untuk melihat ujung lembah.
Bersambung...