Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE EMPAT BELAS
Vroomm....
Vroomm...
Vroomm...
Garis awal kembali disiapkan.. Siena menggeber kuat motor nya sampai asap knalpot mengepul keluar. Suara sorakan semakin terdengar riuh.
Dena dan Rani segera mendekat, dan berdiri disamping Siena.
"Na, jangan nekat. Kamu sudah janji tidak ikut balapan lagi". Ujar Rani mengingatkan Siena akan janji gadis itu
Siena membuka kaca helm nya, menoleh menatap Dena dan Rani bergantian.
"Ini yang terakhir kali nya, aku janji". Ucap Siena
"Na, jangan bandel deh. Kalau kamu kenapa-kenapa gimana?" Kali ini Dena yang angkat suara. Ia benar-benar khawatir dengan aksi liar sahabatnya itu.
Terakhir kali saat Siena ikut balapan memang gadis itu tapi berujung diangkut ke kantor polisi karena terkena razia dan saat itu juga Siena juga mengalami kecelakaan kecil karena fokus nya tiba-tiba menurun.
Dan, kali ini gadis itu kembali turun ke arena. Padahal Dena dan Rani sudah memperingatkan pada Siena tidak bertingkah, tapi siapa yang tidak mengenal sifat keras kepala dan ngeyel nya?
Apapun yang Siena inginkan harus terkabulkan. Begitulah slogan seorang Siena Hartmann.
Siena tersenyum tipis dibalik helm full face nya. Tangannya terangkat menepuk pelan lengan Dena.
"Kalian jangan khawatir, aku pasti akan baik-baik saja. Cukup doakan saja aku menang, nanti aku akan traktir kalian makan hm..." ucap Siena seraya menaik turunkan alisnya lalu ia kembali menutup kaca helm nya.
Kemudian, seorang perempuan membawa dua bendera dengan motif kotak-kotak berwarna hitam putih berjalan diarena dan berdiri tepat ditengah lintasan. Matanya mengamati dengan seksama motor-motor yang siap untuk balapan.
"Are you ready?" teriak perempuan itu sambil mengangkat kedua bendera ditangannya itu tinggi-tinggi.
Vromm...
Vromm...
Vromm...
Suara geberan knalpot kembali terdengar, kali ini lebih nyaring dan berisik. Melihat itu, Dena dan Rani segera menjauh menepi. Mereka akan menyaksikan Siena ikut balapan dan terus mendoakan gadis keras kepala itu baik-baik saja.
Satu...
Dua...
Tiga...
Perempuan yang membawa bendera itu menurunkan benderanya dengan cepat, bersamaan dengan itu Siena langsung menarik kuat gas motor nya. Begitu juga dengan beberapa pria yang menjadi pesaingnya.
"Siena hati-hati!!" teriak Dena khawatir ketika melihat Siena semakin melajukan cepat motornya.
Tapi suara teriakan Dena tak bisa didengar oleh Siena karena telinga nya tertutup oleh helm. Setiap insting nya fokus pada lintasan.
Motor-motor yang menjadi pesaing Siena melaju dengan sengit mencoba menyalip. Tapi, dengan cekatan Siena langsung menyeimbangkan motor juga tubuhnya ketika melewati tikungan demi tikungan, menahan gesekan ban dengan aspal.
Dipinggir lintasan, kerumunan remaja bersorak dan bertepuk tangan. Sebagian terdiam takjub melihat betapa liarnya Siena dan pembalap yang lain saat melajukan motornya diarena.
Dena dan Rani yang melihat itu sampai menahan nafas.
"Hati-hati, Na". Gumam Dena pelan, matanya tak lepas memperhatikan Siena.
Satu pembalap mencoba memotong jalur, terlalu dekat dengan Siena. Kakinya terangkat dan langsung menendang jok belakang motor Siena.
Siena yang terkejut pun seketika langsung hilang fokus dan..
Brakkk!!!!
"SIENA!!!!"
Kecelakaan pun tak dapat dielakkan lagi. Motor Siena terlempar ke sisi jalan. Tubuhnya terseret beberapa meter sebelum akhirnya berhenti.
Kerumunan langsung ricuh.
“Berhenti! Berhenti!”
Dena dan Rani bergegas berlari cepat menghampiri Siena.
“Siena!” teriak Rani panik.
Siena meringis, tangannya mencoba bergerak pelan. Beruntung helm full face nya masih terpasang sempurna dikepala, bisa melindungi nya dari benturan.
"Sshhh..." ringis Siena berusaha bangun, tapi sialnya kepalanya terasa berputar-putar dan berdenging.
Melihat kecelakaan itu, pria yang sedari tadi mengawasi dari dalam mobil seketika langsung turun dan berlari cepat mendekat.
"Tuan". Teriak sang asisten, ia juga langsung bergegas menyusul.
.
.
"Na, kamu baik-baik saja?" tanya Rani berlutut disamping Siena dan mencoba membantu gadis itu.
Begitu juga dengan Dena. Ia juga dengan sigap langsung membantu.
"Kan tadi aku sudah bilang Na. Jangan membuat masalah, kamu nekat ikut balapan". Omel Dena tapi meskipun begitu ia tentu merasa khawatir dengan Siena.
Apalagi, gadis itu hanya diam tak menyahut ucapan Dena maupun Rani. Ia hanya berusaha untuk bangun dan melepas pelan helm nya.
"Kepalaku sakit". Rintih Siena seraya memegangi kepalanya.
"Rani cepat panggil ambulans". Pinta Dena dan langsung diangguki oleh Rani.
Ia segera membuka tas selempang nya dan mengeluarkan ponsel nya. Namun, baru saja Rani hendak menelpon ambulans tiba-tiba seorang pria berperawakan tinggi datang dan langsung berlutut begitu saja dihadapan Siena.
Tanpa pikir panjang, pria itu langsung mengangkat tubuh ramping Siena, menggendongnya ala bridal style. Tepat, saat itu juga kesadaran Siena menghilang. Namun, ia masih sempat melihat wajah pria yang menggendongnya meskipun hanya terlihat buram.
Rani dan Dena yang melihat itu seketika terkejut. Tapi, ketika menatap pria yang menggendong Siena, kedua nya langsung terdiam.
"Minggir!" seru pria tersebut dengan suara yang rendah namun penuh penekanan
Sontak semua orang langsung menepi memberikan jalan.
"Den, itu bukannya bodyguard Siena ya?" bisik Rani
"Seperti nya iya Ran. Itu pria yang siang tadi". Balas Dena juga berbisik
"Tapi, kenapa dia ada disini? Dan tau kalo yang kecelakaan itu Siena?" tanya Rani lagi
"Sudahlah Ran, bertanya nya nanti saja. Sekarang ayo kita susul Siena".
Rani mengangguk, "Ayo".
Bergegas kedua nya berjalan cepat menyusul Bastian.
Tapi, langkah kaki mereka mendadak berhenti sejenak ketika melihat mobil mewah yang Bastian kendarai, mata mereka terbelalak terkejut. Dan, yang lebih mengejutkan lagi adalah ketika melihat Darian mengangguk hormat pada Bastian dan menuruti perintah pria itu.
Seketika, banyak pertanyaan berjejalan dikepala Dena dan Rani. Kedua saling menatap penuh tanda tanya.
Apa bodyguard Siena ini termasuk jajaran orang konglomerat? Tapi jika iya kenapa dia memilih menjadi bodyguard? Dan, kenapa Darian terlihat begitu patuh padanya?
“Ran… sejak kapan bodyguard punya mobil seperti itu?” bisik Dena pelan.
Rani menggeleng. “Itu bukan mobil biasa.”
Melihat kedatangan Bastian, Darian dengan sigap sudah membuka pintu belakang mobilnya. Bastian menurunkan Siena dengan hati-hati ke kursi, tangannya menopang kepala gadis itu agar tidak terbentur.
“Ke rumah sakit terdekat,” perintah Bastian
“Baik, Tuan.”
Segera Darian berlari mengitari setengah badan mobil lalu masuk dan duduk dikursi kemudi. Setelah itu, ia mulai menyalakan mesin nya dan perlahan melajukan kendaraan roda empat itu pergi dari arena balap liar.
Melihat mobil Bastian sudah melaju menjauh, tanpa pikir panjang Rani dan Dena segera berlari kearah mobil mereka yang terparkir tak jauh dari sana. Kedua nya segera mengemudikan mobil itu menyusul Bastian.
.
.
.
Haii temen-temen jangan lupa dukungannya yaa... Like, vote dan komen... Terimakasih♥️🫶🏻
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut