“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sore menjelang magrib. Cahaya matahari mulai menguning, masuk dari celah tirai dan menciptakan bayangan panjang di lantai kamar rawat.
Fatimah dan Hanan masih setia duduk di sana. Sejak siang tadi, mereka tak benar-benar pergi. Bergantian ke musala rumah sakit, membeli minum sebentar, lalu kembali lagi.
Kayla masih tertidur. Sesekali keningnya berkerut halus, seperti sedang bermimpi. Hanan duduk lebih dekat dari sebelumnya. Tangannya terlipat, tapi pandangannya tak pernah jauh dari wajah Kayla.
Cklek.
Pintu ruangan itu terbuka perlahan. “Assalamualaikum.”
Suara itu terdengar tua, serak, tapi penuh getaran emosi.
“Walaikumsalam,” jawab Hanan dan Fatimah bersamaan, refleks langsung berdiri.
Seorang wanita tua berjalan perlahan masuk dengan tongkat kayu di tangannya. Tubuhnya kecil dan sedikit membungkuk. Kerudungnya sederhana, wajahnya dipenuhi garis usia.
Namun sorot matanya tajam… dan penuh cemas. Di belakangnya, seorang laki-laki dewasa dengan kemeja rapi berjalan hati-hati, seolah siap menangkap wanita itu jika tersandung.
“Astaghfirullah… nduk…” suara wanita tua itu pecah saat melihat Kayla terbaring lemah di atas brankar.
Ia melangkah mendekat, tongkatnya berbunyi pelan di lantai. Tangannya yang bergetar menyentuh ujung selimut Kayla.
“Eyang kan sudah bilang kamu di rumah Eyang aja… gak usah balik ke Jakarta… kenapa kamu ngeyel…” tangisnya pecah tak tertahan.
Air matanya jatuh di pipi yang sudah keriput. Hanan dan Fatimah saling berpandangan. Ada rasa haru yang tiba-tiba memenuhi ruangan.
“Ibu… sudah. Biarkan Kayla istirahat dulu,” ucap laki-laki itu lembut, memegang bahu wanita tua tersebut dengan hati-hati.
Ia kemudian menoleh ke arah Hanan dan Fatimah.
“Maaf… kalian siapa?” tanyanya sopan namun penuh kehati-hatian.
“Saya Hanan, Mas,” jawab Hanan tenang. “Dan ini adik saya, Fatimah.”
Laki-laki itu mengangguk pelan.
“Ah iya. Saya Arman. Om-nya Kayla,” katanya memperkenalkan diri. “Dan ini neneknya.”
Hanan dan Fatimah langsung menunduk hormat.
“Ya Allah, gusti. kasihan sekali cucu Eyang…” gumam nenek Kayla lagi, mengusap pelan rambut Kayla yang terurai di bantal.
Arman lalu memandang Fatimah dengan ekspresi yang berubah menjadi lebih lembut. “Tunggu, Fatimah… saya merasa pernah mendengar nama itu, " gumam arman pelan.
"Bukan nya kamu yang menolong Kayla waktu itu? Kamu teman Kayla kan?”
Fatimah langsung menunduk sopan.
“Iya, Om. Saya yang telepon dulu itu,” jawabnya pelan.
Arman mengangguk, matanya berkaca-kaca, " Alhamdulillah, terimakasih ya. lagi lagi kamu menolong keponakan saya,"
“Kamu kenal dia?” bisik Hanan pelan pada Fatimah.
Fatimah mengangguk kecil.
“Waktu Mas bawa Mbak Kayla ke pondok,” bisiknya menjelaskan. “Mbak Kayla telepon Om-nya, dan buat mastiin kalau Mbak Kayla tidur sama cewek… makanya Fatim ikut ngomong.”
Hanan mengangguk paham. Ia baru menyadari, di balik kerasnya Kayla selama ini, ternyata masih ada satu tempat yang ia percayai rumah eyangnya.
“Sekali lagi, terima kasih ya,” ucap Arman tulus. “Saya tidak tahu bagaimana jika tidak ada kalian.”
“Insyaallah itu memang sudah kewajiban kita, Om.” Jawab Fatimah terus menunduk, menghindari pandangan dengan lawan jenis.
“Terima kasih ya, Nduk… le,” ucap Eyang Narti terisak. Suaranya serak, penuh tangis yang sejak tadi ia tahan. “Kayla beruntung karena di pertemukan dengan teman teman baik, seperti kalian."
Tangannya menggenggam tangan Hanan dan Kayla bersamaan, seolah menyatukan keduanya dalam satu ikatan rasa syukur. Hanan tersentak halus. Ia tidak terbiasa diperlakukan seperti itu. Apalagi oleh seorang nenek yang sedang menahan kehilangan.
“Eyang… jangan begitu,” ucapnya pelan, menunduk hormat. “Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan.”
Namun Eyang Narti menggeleng perlahan. Air matanya jatuh lagi.
Sebelum masuk ke ruangan tadi, memang sempat terjadi perbincangan di depan ruang perawatan. Dokter yang menangani Kayla menjelaskan kondisi psikisnya yang terguncang. Seorang polisi juga berdiri di sana, mencatat keterangan singkat.
Dari sanalah Eyang Narti dan Arman tahu segalanya. Bahwa Kayla ditemukan dalam keadaan lemah. Bahwa yang pertama kali menolong adalah seorang pemuda bernama Hanan.
Bahwa adiknya, Fatimah, yang menghubungi keluarga dan memastikan semuanya aman.
Marah, tentu saja. eyang narti sangat marah pada putra nya, yakni ayah kandung Kayla.
Laki laki itu tidak pernah belajar dari kesalahan. Selalu mementingkan ego daripada anaknya.
padahal Kayla anak perempuan, tapi selalu dipaksa kuat oleh keadaan.
Sebenarnya, eyang narti sangat menentang perceraian orang tua Kayla. Tapi semua itu percuma karena bukan hanya dari ayah Kayla saja yang ingin bercerai melainkan ibu Kayla juga menginginkan hal itu
Makanya, karena kesal, kecewa dan marah. eyang narti memilih memutuskan hubungan dengan anaknya sendiri. Dia tidak pernah menanyakan kabar atau menemui ayah Kayla.
bahkan saat ayah Kayla ke rumah eyang narti, wanita tua itu akan memilih mengurung diri di dalam kamar sampai tamunya pulang.
Eyang Narti mengusap tangan cucunya dengan lembut.
“Dari kecil Kayla itu keras, le,” katanya lirih, seolah mulai membuka lembar cerita yang lama ia simpan. “Tapi hatinya lembut. Cuma sering dipendam sendiri semua sedihnya.”
Hanan diam. Ia mendengarkan dengan saksama.
“Sejak orang tuanya sibuk dengan urusan masing-masing… Kayla lebih banyak di rumah Eyang,” lanjut wanita tua itu. “Eyang sudah berulang Kali membujuk dia agar tinggal di kampung saja, tapi dia menolak.’’
Suara Eyang kembali pecah. Arman segera mendekat, memegang pundak ibunya.
“Ibu, jangan menyalahkan diri sendiri.”
“Tapi ibu yang izinkan dia pergi Man…” bisiknya lemah.
Hanan menatap wajah Kayla. Kini ia mulai melihat gadis itu bukan hanya sebagai sosok yang kuat dan sering menantang takdir. Ia melihatnya sebagai cucu yang dirindukan. Anak yang dipertahankan.
Dan entah mengapa, hatinya kembali terasa sesak.
“Eyang,” ucap Hanan pelan namun mantap. “Kayla kuat. Insyaallah dia bisa melewati ini.”
Eyang Narti menoleh padanya. Tatapannya menilai, menelusuri wajah Hanan dengan saksama. Ada sesuatu dalam sorot mata pemuda itu ketulusan yang tidak dibuat-buat.
“Apakah kamu sudah menikah, Le?” tanya Eyang Narti tiba-tiba.
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tenang, tapi langsung membuat udara di ruangan terasa berbeda. Membuat Hanan sedikit terkejut.
“Saya—”
“Belum, Eyang!” sahut Fatimah cepat sebelum kakaknya sempat menyelesaikan kalimat. “Mas Hanan masih jomblo. Dia masih sendiri!”
Suara Fatimah terdengar polos, bahkan sedikit bersemangat. Hanan langsung menoleh tajam ke arah adiknya.
“Fatim,” desisnya pelan, peringatan jelas terdengar dalam nada suaranya.
Fatimah hanya menyengir kecil tanpa rasa bersalah. Arman yang berdiri tak jauh dari mereka sampai mengulum senyum tipis, menahan geli di tengah suasana yang sebenarnya serius.
Eyang Narti tersenyum. Senyum yang lembut, namun penuh arti.
“Le…” ucapnya pelan, kembali memandang Hanan dengan sorot mata yang dalam. “Cucu Eyang cantik kan.”
Hanan tercekat. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat.
“Walaupun dia slengean… dan bar-bar kalau kata orang zaman sekarang,” lanjut Eyang dengan nada setengah bercanda namun sarat makna. “Tapi Eyang yakin, dia anak yang baik.”
Tangannya kembali mengusap punggung tangan Kayla dengan lembut. “Hatinya sangat lembut… hanya saja tertutup takdir yang memaksanya selalu kuat.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali hening. Hanan menatap Kayla. Ia teringat bagaimana gadis itu selalu memasang wajah keras.
Cara bicaranya yang tajam. Tatapannya yang seolah menantang dunia.
Namun di balik itu semua, ia juga pernah melihat sisi lain Kayla yang gemetar saat merasa sendirian. Kayla yang menangis diam-diam. Kayla yang sebenarnya hanya ingin dipeluk, tapi terlalu terbiasa berdiri sendiri.
Eyang Narti menghela napas berat. Nafas yang mengandung usia panjang dan pengalaman hidup.
“Le…” panggilnya lagi. Hanan menoleh hormat. “Maukah kamu menikahi cucu Eyang?”