"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.
Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Hari persalinan itu tiba lebih cepat dari dugaan, di sebuah rumah sakit eksklusif dengan pemandangan pegunungan Alpen yang diselimuti kabut tipis.
Ketegangan memenuhi udara, namun bagi Nickholes Teldford, dunia seolah berhenti berputar saat ia melihat Nadine mulai berjuang di atas ranjang persalinan.
Nick tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Nadine. Wajahnya yang biasanya gagah kini tampak pucat, bahkan lebih pucat dari Nadine. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Setiap kali Nadine merintih kesakitan karena kontraksi, Nick ikut memejamkan mata dan menggertakkan gigi, seolah ia bisa memindahkan rasa sakit itu ke tubuhnya sendiri.
"Ayo, Sayang... kau pasti bisa. Tarik napas... buang," bisik Nick dengan suara yang bergetar hebat.
Nadine mencengkeram tangan Nick begitu kuat hingga buku jari Nick memutih. "Nick... ini... sakit sekali! Aku bersumpah tidak akan mau melakukannya lagi!" teriak Nadine di sela napasnya yang memburu.
Melihat istrinya kesakitan, Nick yang biasanya tangguh mulai berkaca-kaca. Air mata benar-benar jatuh di pipinya. Ia menangis bukan karena takut, tapi karena merasa sangat tidak berdaya melihat perjuangan luar biasa Nadine.
"Maafkan aku, Nadine... Maafkan aku sudah membuatmu sesakit ini," isak Nick dengan tulus. "Aku bersumpah, setelah ini aku saja yang hamil kalau bisa. Aku akan bicara pada dokter, apakah ada teknologi untuk memindahkan rahim ke perutku."
Nadine, di tengah rasa sakitnya, sempat melirik Nick dengan tatapan tajam. "Jangan konyol, Nickholes! Mana bisa pria hamil!"
Dokter kemudian memberikan instruksi untuk mengejan. Suasana menjadi sangat intens. Nick, yang panik melihat Nadine begitu kepayahan, mulai mengoceh untuk mengalihkan rasa takutnya sendiri, dan berharap bisa menghibur Nadine.
"Sayang, ingat... anggap saja kau sedang melakukan push-up terakhir di menit terakhir pertandingan final!" seru Nick dengan semangat seperti pelatih football. "Bayi kita hampir sampai di garis touchdown! Ayo, dorong sedikit lagi!"
Nadine terengah-engah, keringat membasahi wajahnya. "Aku... bukan... pemain bola, Nick!"
Nick kemudian mendekatkan wajahnya ke perut Nadine yang sedang berkontraksi, lalu berbisik dengan nada yang sangat konyol, "Hey, Nak! Ayah di sini! Keluar sekarang atau Ayah akan potong uang jajanmu selama sepuluh tahun ke depan! Jangan bikin Ibu susah, atau nanti kalau kau sudah keluar, kau harus memijat kaki Ibu setiap hari sebagai ganti rugi!"
Nadine, yang tadinya ingin berteriak kesakitan, justru meledak dalam tawa kecil di sela usahanya mengejan. "Kau... benar-benar... ayah yang gila, Nick!"
"Aku serius!" balas Nick sambil menghapus air matanya yang terus mengalir. "Dan dengar, kalau kau keluar sekarang dan mirip denganku, Ayah akan membelikan mu motor mainan paling cepat. Tapi kalau kau mirip Ibu, Ayah akan belikan perpustakaan pribadi! Jadi cepatlah keluar!"
Tepat setelah dorongan terakhir yang luar biasa, suara tangisan bayi yang melengking memecah ketegangan di ruangan itu. Seorang bayi laki-laki yang tampan dan sehat telah lahir ke dunia.
Seketika itu juga, Nickholes Teldford luruh. Ia berlutut di samping ranjang Nadine, menenggelamkan wajahnya di lengan Nadine, dan menangis sesenggukan seperti anak kecil. Ini bukan lagi Nick sang bintang kampus yang sombong; ini adalah seorang pria yang baru saja menyaksikan mukjizat terbesar dalam hidupnya.
Dokter meletakkan bayi itu di atas dada Nadine untuk proses skin-to-skin. Nick mendongak, matanya merah dan sembab, menatap malaikat kecil yang kulitnya masih kemerahan itu.
"Dia... dia sangat cantik, Nadine," bisik Nick dengan suara serak. "Dan lihat hidungnya, hidungnya persis sepertimu. Syukurlah dia tidak mengambil hidungku yang sering kena bola ini."
Nadine tersenyum lemah, membelai kepala bayi mereka dengan tangan gemetar. "Dia tampan, Nick. Dia mirip denganmu."
Nick mengecup kening Nadine dengan sangat lama dan penuh pemujaan. "Terima kasih, Nadine. Terima kasih sudah berjuang hidup dan mati untuk putra kita. Aku bersumpah, mulai detik ini, hidupku adalah milik kalian berdua. Aku tidak akan pernah membiarkan air mata kesedihan jatuh lagi di matamu."
Ia kemudian menatap bayi mereka dan berbisik konyol lagi, "Selamat datang di tim, Jagoan. Maaf ya kalau Ayah tadi sempat mengancam soal uang jajan. Itu hanya taktik agar kau cepat keluar. Sekarang, tugas pertamamu adalah jangan menangis terlalu keras malam ini, karena Ibumu butuh istirahat untuk memarahiku besok pagi."
Nadine tertawa lemah, air mata bahagia mengalir di sudut matanya. Di kamar rumah sakit yang tenang itu, di tengah pegunungan Swiss, luka masa lalu mereka benar-benar sembuh. Kehadiran nyawa kecil itu menjadi pengikat yang takkan pernah bisa dilepaskan lagi, membuktikan bahwa cinta yang paling hancur sekalipun bisa melahirkan keajaiban yang paling indah.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰