Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Untuk Bernapas
Hujan turun sejak pagi, tipis tapi konsisten, seperti dunia sedang bernapas pelan. Senja berdiri di depan jendela kamarnya, memandangi tetesan air yang meluncur di kaca. Sudah tiga hari sejak percakapannya dengan Kay di halte, dan dua hari sejak ia bicara jujur pada ibunya.
Tidak ada perubahan besar yang terjadi. Hidupnya tidak tiba-tiba terasa ringan. Kepalanya masih sering penuh. Tapi ada satu hal yang berbeda: sekarang ia tahu bahwa perasaan itu ada. Dan ia tidak lagi berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja.
Ia mengambil jaket abu-abu, lalu keluar rumah. Hari ini ia memutuskan ke kampus, bukan karena tuntutan tugas, tapi karena ia ingin. Bukan ingin belajar, bukan ingin bertemu siapa pun. Ia hanya ingin berada di tempat yang biasanya ia hindari saat merasa lelah.
Di perjalanan, ponselnya bergetar. Pesan dari Kay.
“Kalau kamu ke kampus hari ini, aku di perpustakaan lantai tiga.”
Senja menatap layar sebentar, lalu membalas singkat.
“Aku ke sana.”
Perpustakaan tidak ramai. Suasana tenang, suara langkah kaki dan halaman buku seperti bergema lembut. Kay duduk di sudut dekat jendela, dengan laptop terbuka dan dua gelas kopi di meja.
“Kamu hafal kebiasaan aku,” kata Senja sambil duduk.
Kay tersenyum kecil. “Kamu selalu datang ke tempat sepi kalau lagi mikir.”
Senja tidak membantah. Ia mengambil gelas kopi, menyesap sedikit. Hangat.
Mereka tidak langsung bicara. Hanya duduk, menatap hujan di luar jendela. Untuk pertama kalinya, keheningan tidak terasa canggung.
“Aku ngomong sama ibuku,” kata Senja akhirnya.
Kay menoleh. “Tentang?”
“Tentang aku. Tentang rasa kosong itu.” Senja menarik napas. “Aku kira bakal jadi dramatis. Tapi ternyata… biasa aja. Tenang.”
Kay tersenyum tipis. “Kadang yang kita takutin bukan reaksinya, tapi keberanian buat mulai.”
Senja mengangguk. “Aku masih capek. Masih sering ngerasa stuck. Tapi sekarang aku nggak ngerasa sendirian banget.”
Kay tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Senja, lalu berkata pelan, “Aku nggak bisa janji bikin kamu sembuh. Tapi aku bisa janji buat tetap ada.”
Kalimat itu sederhana. Tidak romantis berlebihan. Tapi entah kenapa, Senja merasa dadanya sedikit lebih longgar.
Siang itu, Senja mengikuti satu kelas. Ia duduk di barisan belakang, mencatat seadanya. Bukan karena ia sangat fokus, tapi karena ia ingin mencoba hadir. Bukan sebagai versi dirinya yang sempurna, tapi sebagai dirinya yang lelah dan belum selesai.
Saat dosen menjelaskan, pikirannya sempat melayang. Ia teringat Nara.
Sudah lama mereka tidak benar-benar bicara. Hubungan mereka seperti jeda panjang yang tidak pernah diberi nama. Bukan bertengkar, bukan berpisah, hanya… diam.
Setelah kelas, Senja memberanikan diri mengirim pesan.
“Nar, kamu lagi di mana?”
Balasan datang beberapa menit kemudian.
“Di taman belakang fakultas. Kenapa?”
Senja menatap layar lama sebelum menjawab.
“Aku mau ketemu. Kalau kamu nggak keberatan.”
Mereka duduk di bangku kayu yang basah karena hujan. Nara tampak sama seperti biasa—tenang, dengan mata yang selalu terlihat seolah menyimpan banyak hal.
“Kamu jarang ngabarin,” kata Nara.
“Iya. Maaf.” Senja menunduk. “Aku lagi nggak bagus sama diriku sendiri.”
Nara terdiam. “Kamu nggak pernah cerita.”
“Aku bahkan nggak tau harus mulai dari mana.” Senja tersenyum pahit. “Aku takut jadi beban.”
Nara menghela napas. “Kamu tau nggak yang bikin aku capek? Bukan cerita kamu. Tapi jarak kamu.”
Kalimat itu menusuk, tapi jujur.
“Aku nggak minta kamu selalu kuat,” lanjut Nara. “Aku cuma pengen kamu nyata.”
Senja menatap Nara. Untuk pertama kalinya, ia tidak membela diri. Tidak mencari alasan. Ia hanya berkata, “Aku lagi belajar itu.”
Nara tersenyum kecil. “Belajar jadi nyata?”
“Belajar berhenti kabur.”
Hujan mulai reda. Langit masih abu-abu, tapi tidak lagi gelap.
Sore harinya, Senja berjalan pulang sendirian. Di trotoar, ia melihat pantulan dirinya di genangan air. Wajah yang sama, mata yang sama, tapi ekspresi yang sedikit berbeda. Lebih lelah, tapi juga lebih jujur.
Di kamarnya, ia membuka buku catatan lama. Halaman pertama penuh tulisan mimpi-mimpi yang pernah ia buat: ingin lulus tepat waktu, ingin kerja di kota besar, ingin hidup tenang.
Ia tersenyum tipis. “Aku masih mau semua itu,” gumamnya. “Aku cuma lagi lupa jalannya.”
Ia menulis di halaman baru:
“Aku tidak harus berlari. Hari ini, berdiri saja sudah cukup. Bernapas saja sudah termasuk maju.”
Malam datang tanpa banyak suara. Tidak ada adegan besar. Tidak ada pencerahan dramatis. Hanya Senja yang berbaring di kasur, menatap langit-langit, merasa pikirannya masih penuh, tapi tidak lagi sesak.
Untuk pertama kalinya setelah lama, ia tidak merasa perlu melarikan diri dari dirinya sendiri.
Ia belum sembuh. Ia belum selesai. Tapi sekarang ia punya satu hal yang tidak ia miliki sebelumnya:
Ruang.
Ruang untuk bernapas.
Ruang untuk jujur.
Ruang untuk menjadi manusia, tanpa harus kuat setiap waktu.
Dan mungkin, itu adalah awal yang paling nyata yang pernah ia miliki.