Setelah hidup lontang-lantung selama separuh hidupnya, Denzel Bastian mengacaukan kehidupannya dengan tangan sendiri. Dia kehilangan istri dan ketiga anak kembar untuk selamanya. Hingga saat berada dalam lautan api, istri yang sudah bercerai bertahun-tahun dengannya tanpa ragu menerjang masuk ke kobaran api untuk mati bersamanya.
Denzel pun sadar, ternyata istrinya begitu mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Bab 9 Bertani Dan Menjual
Stroberi
Begitu Fiona pergi bekerja, Denzel pun mulai memikirkan bagaimana cara menghasilkan uang untuk menghidupi keluarganya.
Denzel berjongkok dan mengambil ranting kering dari halaman. Dia mengambar sambil merenung di tanah yang basah.
Denzel memang terlahir kembali, tapi dia harus mengakui bahwa dirinya sendiri sangat bodoh di kehidupan sebelumnya sehingga sama sekali tidak memperhatikan peluang bisnis yang ada di masa lalu.
Apalagi, internet maupun real estat komersial sudah stabil di zaman sekarang. Meskipun Denzel terlahir kembali, dia juga tidak memiliki
Keunggulan apa pun.
Oleh karena itu, kalau Denzel ingin menghasilkan uang dengan cara yang cepat dan berisiko rendah, tidak ada yang lebih cepat daripada menghasilkan uang dengan menjual barang yang ditanam di ruang angkasa.
Tidak ada orang lain yang bisa menanam stroberi dengan kualitas seperti itu di seluruh Negara Regaland.
Biayanya rendah dan hasil yang dia dapatkan tinggi. Selain itu, siklusnya tidak akan berlangsung lama.
Denzel berjongkok di halaman dan merenung sejenak, dia akhirnya membuat keputusan. Langkah pertama yang ingin dia lakukan untuk menghasilkan uang setelah terlahir kembali adalah menanam stroberi dan kemudian menjualnya.
Namun, tidak ada banyak orang yang
Menanam stroberi di Unifia karena masalah iklim. Jadi, mungkin akan sedikit sulit untuk mencari bibit stroberi.
Namun, mungkin ada satu atau dua toko tanaman yang menjual benih stroberi.
Begitu memikirkan hal itu, Denzel langsung berdiri dan mengulurkan tangannya untuk merogoh sakunya. Namun, tidak ada sesuatu di dalam sakunya.
Bahkan, ponsel yang dimiliki oleh semua orang saat ini pun sudah dia jual ke toko ponsel bekas minggu lalu, untuk ditukar menjadi uang.
Adapun semua uang hasil penjualan ponsel itu sudah dia habiskan di tempat perjudian kemarin.
Begitu memikirkan hal itu, Denzel merasa sedikit menyesal. Dia juga menyesal karena tidak mengambil uang
Yang diberikan oleh Fiona siang tadi.
Sekarang Fiona sudah pergi bekerja, Denzel tidak mungkin pergi ke pabrik untuk meminta uang padanya.
Tepat saat ini, suara mesin motor yang familier tiba-tiba melaju datang dari kejauhan. Kemudian, motor itu tiba-tiba berhenti di luar pintu dan membunyikan klakson sebanyak dua kali.
Dengan cepat, suara pria yang familier itu terdengar dari luar pintu.
"Kak Denzel, apakah kamu ada di rumah?"
Denzel sedikit tertegun ketika mendengar suara yang familier itu.
Ingatan dari dua kehidupan sontak menyatu. Wajah tersenyum yang tercela seketika muncul di benaknya.
Sosok itu bukan orang lain, melainkan teman yang dia kenal di meja
Perjudian setelah kembali ke pedesaan, Arvin Susanto.
Saat pertama kali bertemu, mereka berdua pun menjadi akrab karena memiliki identitas yang sama, yaitu sebagai putra yang suka menghambur-hamburkan uang keluarganya. Sejak itu, Arvin diam-diam mengendarai sepeda motornya untuk mencari Denzel setiap kali ayahnya yang merupakan sekretaris desa keluar. Kemudian, mereka berdua akan pergi ke kasino di kota untuk bersenang-senang.
Saat ini, Denzel sedang pusing karena dirinya sendiri tidak punya uang. Begitu mendengar suara Arvin, alisnya yang berkerut erat pun segera meregang. Dia berjalan menuju pintu halaman sembari menyapa, "Kamu sudah datang, ya?"
Denzel berjalan ke luar pintu, dia melihat Arvin yang berambut kuning itu sedang mengendarai sepeda motor
Fazhio merah.
Sepeda motor bermerek itu sangatlah mahal. Namun, Arvin meminta ayahnya membeli motor seperti itu untuknya dengan alasan bahwa dirinya akan pergi ke kota untuk mengantar penumpang.
Saat itu, mereka sepertinya membeli sepeda motor itu dengan harga sebesar dua puluhan juta.
Begitu mendapatkan sepeda motor itu, Arvin memang keluar untuk menerima beberapa pesanan. Namun, setelah mengalami kecelakaan beberapa kali, ayahnya pun memintanya untuk tinggal di rumah dan mencari pekerjaan lain, jangan pergi membawa sepeda motor lagi.
Sekarang, tugas utamanya adalah mengendarai sepeda motor dan membawa Denzel pergi ke kota untuk berjudi setiap hari.
Sebelumnya, Denzel tidak merasakan apa pun ketika melihat rambut kuning serta pakaian dan celana ketat di tubuh Arvin. Namun, setelah melihatnya sekarang, bocah yang berpenampilan seperti itu sangat tidak enak dipandang.
Saat ini, Arvin mengira bahwa dirinya sendiri sangat keren dan tampan di mata Denzel. Dia mengangkat tangan untuk menyapa Denzel sembari berkata, "Kak Denzel, ayo naik. Hari ini ada sebuah pertandingan di kota. Itu adalah pertandingan uno yang paling mahir kamu mainkan. Kita harus mendapatkan kembali semua uang yang kita telah kita habiskan karena kalah di bulan ini!"
Tidak mudah baginya untuk dan datang dan membawa Denzel setelah ayahnya keluar.
Bagaimanapun, Denzel sangat mahir dalam memainkan uno. Namun, sebagian besar orang di kota dan desa
Tidak bisa bermain uno. Saat itu, jarang sekali ada orang yang kembali dari luar negeri, jadi dia harus membawa Denzel pergi ke kasino untuk mendapatkan uang!
Denzel berjalan ke sebelah sepeda motor Arvin, dia mengangkat kaki dan naik ke sepeda motor sembari berkata, "Aku tidak punya uang, apakah kamu membawa uang?"
Biasanya, begitu mendengar Denzel mengatakan bahwa dia tidak punya uang, Arvin pasti akan bersikeras mengatakan bahwa dirinya sendiri juga tidak punya uang.
Namun, Arvin masih berharap bahwa Denzel bisa memenangkan uang bersamanya, jadi dia berkata pada Denzel dengan ekspresi setia, "Aku bawa enam puluh ribu, nanti aku akan meminjamkan tiga puluh ribu kepadamu."
"Pinjam apaan? Kamu belum mengembalikan seratus ribu yang aku pinjamkan untukmu setelah menjual ponsel kemarin,"
ujar Denzel dengan nada sedikit tidak senang.
Senyuman di wajah Arvin membeku. "Kak, ingatanmu cukup bagus..."
Arvin mengira bahwa Denzel sudah lupa karena kemarin sedang mabuk.
Denzel duduk tegak di sepeda motor itu lalu melanjutkan perkataannya,
"Kalau begitu, kembalikan semua uang di sakumu padaku hari ini."
"Kalau begitu, aku tidak punya uang lagi. Bagaimana aku bisa berjudi nanti?" Arvin ingin menangis, tetapi tidak bisa meneteskan air mata.
Denzel mengulurkan tangan untuk memukul lengan Arvin. "Judi apaan?
Bawa aku ke kota dulu. Empat puluh ribu yang tidak kamu kembalikan kepadaku, anggap saja itu sebagai ongkos untuk perjalanan pulang pergi."
Arvin menoleh dan melihat Denzel dengan bingung. "Buat apa pergi ke kota? Apakah ada pertandingan di sana?"
"Kalau ada pertandingan di sana, aku tidak mungkin hanya melihat Kak Denzel berjudi. Aku akan mengembalikan uang sebanyak empat puluh ribu, sisakan dua puluh ribu agar aku bisa berjudi. Kemudian aku akan mengantarmu ke kota secara gratis. Anggap saja itu adalah bunga dari utangku, bagaimana?" Arvin berdiskusi dengan Denzel dengan wajah penuh kenakalan.
Arvin juga menyesal karena memberi tahu Denzel bahwa dirinya punya uang.
Tentu saja, Arvin juga tahu
Temperamen Denzel yang suka marah.
Apalagi Denzel lebih tinggi darinya. Bahkan sekalipun Denzel tidak pernah berkelahi dengannya, Arvin bisa merasakan semacam penindasan. Jadi, dia juga sangat takut pada Denzel.
Selain itu, Arvin memang berutang pada Denzel. Jadi, Arvin tidak berani untuk tidak membayarnya, dia hanya bisa berdiskusi dengan Denzel.
Namun, setelah mendengar kata-kata Arvin, Denzel langsung mendesaknya untuk mengemudi, tanpa berpikir panjang lagi. "Hari ini aku tidak ingin pergi berjudi, aku ingin pergi ke tempat lain."
"Hah? Kamu ingin pergi kemana?"
"Aku ingin pergi ke toko benih dan pertanian di kota."
"Kak Denzel, buat apa kamu pergi ke toko benih?"
"Aku ingin membeli sedikit benih stroberi."
"Hah? Buat apa kamu membelinya?"
Saat menghadapi Arvin yang terus bertanya tanpa henti, Denzel pun perlahan-lahan kehilangan kesabaran. "Aku ingin menanamnya, cepat mengemudi!"
Meskipun Arvin merasa sangat bingung, begitu mendengar desakan dari Denzel, dia pun menyalakan mesin sepeda motor dan terus bertanya, "Kak Denzel, kenapa kamu tiba-tiba ingin menanam stroberi? Apakah kamu ingin menanamnya untuk dimakan?"
Denzel berkata tanpa basa-basi, "Aku ingin menghasilkan uang."
"Hah?" Arvin tiba-tiba tercengang, dia merasa tidak percaya. Arvin melihat ekspresi serius di wajah Denzel melalui kaca spion, dia bertanya dengan nada
Kaget, "Kak Denzel, kamu ingin menanam stroberi untuk menghasilkan uang?"
Sungguh aneh!
Denzel adalah putra yang suka menghambur-hamburkan dan lebih malas dari dirinya. Sekarang Denzel tidak mau pergi berjudi dengannya, tapi malah ingin pergi ke kota untuk membeli benih stroberi agar bisa menanam dan menjualnya?
Selain itu, bisakah stroberi ditanam di desa denga iklim seperti ini?
"Sialan! Kak Denzel, kamu tidak bercanda denganku, 'kan?"
"Canda apaan? Hati-hati bawa sepeda motornya!"