NovelToon NovelToon
Melihatmu Dalam Kabut

Melihatmu Dalam Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Romantis
Popularitas:337
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: FREKUENSI YANG HILANG DI TEPI PANTAI

Mesin mobil menderu pelan saat Elara meninggalkan batas kota Manchester. Di belakangnya, lampu-lampu industri mulai memudar, digantikan oleh kegelapan jalanan antar kota yang hanya diterangi oleh sorot lampu depan mobilnya. Hujan yang tadinya hanya rintik halus kini berubah menjadi tirai air yang berat, membasahi aspal hingga tampak seperti sungai hitam yang mengalir tanpa ujung. Di kursi penumpang, kaset portable pemberian Jamie seolah-olah berdenyut, sebuah jantung mekanis yang menyimpan rahasia tentang seorang pria yang mencoba melampaui batas suara.

Elara meraih kaset itu. Dengan satu tangan tetap pada kemudi, ia memasukkan earphone ke telinganya dan menekan tombol *play*. Ia tidak ingin mendengarnya lewat speaker mobil; ia ingin suara itu ada di dalam kepalanya, mengalir langsung ke pusat sarafnya.

Suara pertama yang muncul adalah deru angin. Bukan angin jalan tol, melainkan suara angin laut yang ganas, menghantam mikrofon hingga menciptakan suara gesekan yang kasar.

"Entropi," suara Arlo muncul, lebih jernih namun terdengar sangat jauh, seolah ia sedang berbicara dari dasar sumur. "Semua orang takut pada entropi, El. Mereka takut pada kehancuran, pada memori yang memudar, pada kaset yang pitanya kusut. Tapi bagiku, entropi adalah satu-satunya kejujuran yang tersisa. Di dalam kebisingan itulah, kebenaran bersembunyi."

Elara mengernyit. Arlo selalu memiliki kecenderungan filosofis yang eksentrik, tapi ini terdengar berbeda. Ini terdengar seperti seseorang yang sudah melepaskan pegangannya pada dunia fisik.

"Aku sedang berada di Mercusuar St. Jude," lanjut Arlo dalam rekaman itu. "Tempat ini sudah mati sejak tahun 1970-an, tapi suaranya... suaranya masih hidup. El, kau tahu tidak bahwa setiap bangunan menyimpan gema dari semua suara yang pernah terjadi di dalamnya? Jika kita memiliki alat yang cukup sensitif, kita bisa mendengar percakapan orang-orang yang sudah lama terkubur. Aku sedang mencoba membangun alat itu. Aku menyebutnya 'The Ghost Tuner'."

Elara tertawa getir di tengah isak tangisnya yang tertahan. *The Ghost Tuner*. Arlo benar-benar telah kehilangan akal sehatnya. Namun, ada bagian dari dirinya yang tidak bisa menolak untuk percaya. Bukankah ia sendiri baru saja mendengar suaranya sendiri di dalam lagu yang tidak pernah ia rekam? Jika Arlo bisa melakukan itu, apa lagi yang bisa dilakukan pria itu dengan kegilaannya?

"Lagu 'About You' yang kau dengar," suara Arlo di kaset itu tiba-tiba melambat, menjadi lebih berat. "Itu bukan sekadar lagu. Itu adalah kunci frekuensi. Aku menggunakan vokalmu sebagai 'carrier signal'. Kau adalah jangkar pribadiku, El. Tanpa suaramu, aku akan hanyut dalam kebisingan ini dan tidak pernah bisa kembali. Aku pergi ke mercusuar ini karena di sini, gangguan dari gelombang radio kota tidak ada. Di sini, aku bisa mendengar *dirimu* dengan jelas."

Mobil Elara berguncang saat ia melewati jalanan pesisir yang tidak rata. Di kejauhan, ia mulai melihat garis pantai Lancashire yang kasar. Mercusuar St. Jude terletak di sebuah tanjung terpencil yang hanya bisa diakses saat air laut surut. Ia melihat jam di dasbor; pukul dua pagi. Menurut jadwal pasang surut yang sempat ia cek di ponselnya tadi, ia hanya punya waktu tiga jam sebelum jalan setapak menuju mercusuar tertutup air.

"Kenapa kau melakukan ini, Arlo?" Elara berteriak pada kekosongan di dalam mobilnya, seolah Arlo bisa mendengarnya melalui kaset itu. "Kenapa tidak meneleponku saja? Kenapa harus melalui semua sandiwara frekuensi ini?"

Seolah menjawab pertanyaannya, rekaman itu mengeluarkan suara denting piano yang sumbang. "Karena jika aku meneleponmu, kau akan menggunakan logikamu. Kau akan memberitahuku untuk minum obat, untuk menemui terapis, untuk menjadi 'normal'. Tapi aku tidak butuh normal, El. Aku butuh abadi. Dan di dalam lagu ini, kita abadi. Di dalam distorsi ini, kita tidak pernah menua, kita tidak pernah bertengkar, dan kau... kau tidak pernah naik ke kereta itu."

Kata-kata itu menghantam Elara lebih keras daripada badai di luar. Ia menyadari bahwa Arlo tidak sedang menderita kehilangan; Arlo sedang menolak kehilangan dengan cara menciptakan realitas alternatif di dalam musiknya. Arlo telah membangun penjara emas dari suara, dan ia baru saja mengundang Elara untuk masuk ke dalamnya.

Elara memarkir mobilnya di ujung jalan aspal. Di depannya membentang jalan setapak berlumpur dan berbatu yang membelah pantai menuju sebuah bangunan silinder putih yang tampak seperti hantu di tengah kegelapan: Mercusuar St. Jude.

Lampu mercusuar itu sudah lama mati, namun Elara melihat ada sesuatu yang aneh. Di bagian puncak mercusuar, ada kerlip cahaya biru yang tidak alami. Cahaya itu berdenyut seirama dengan tempo lagu yang masih terngiang di kepalanya. *Ba-bum. Ba-bum.* Seperti detak jantung elektrik.

Ia keluar dari mobil, membawa senter dan pemutar kaset itu. Angin laut langsung menerjangnya, membawa aroma garam dan pembusukan. Ia mulai berjalan menyeberangi jalan setapak yang basah. Setiap langkahnya terasa berat, lumpur mengisap sepatunya seolah-olah bumi sendiri mencoba menahannya untuk tidak mendekat.

"Do you think I have forgotten?"

Ia mulai menyanyi kecil, bukan karena ingin, tapi karena melodi itu seolah-olah sudah mengambil alih pita suaranya. Ia merasa seperti ditarik oleh benang tak kasat mata menuju puncak bangunan itu.

Saat ia sampai di depan pintu kayu mercusuar yang berat, ia menemukan sesuatu yang membuatnya membeku. Di daun pintu itu, ada sebuah simbol yang digambar dengan kapur putih. Simbol yang sama dengan yang ia lihat di atap gedung di Manchester: rasi bintang Orion dan Cassiopeia. Namun di tengahnya, ada sebuah tambahan: sebuah garis gelombang frekuensi yang membelah kedua rasi bintang tersebut.

Elara mendorong pintu itu. Tidak ada suara engsel yang berderit, yang ada hanyalah suara dengungan listrik yang sangat kuat hingga membuat rambut-rambut halus di lengannya berdiri.

Ruangan di lantai dasar mercusuar itu penuh dengan peralatan elektronik kuno. Monitor-monitor tabung yang menampilkan garis-garis hijau yang bergetar, gulungan pita magnetik yang berputar lambat, dan tumpukan buku catatan yang halamannya berserakan di lantai. Di tengah ruangan, ada sebuah mikrofon yang berdiri tegak, menghadap ke arah laut.

Elara mengambil salah satu buku catatan yang terbuka. Di dalamnya, ada sketsa wajahnya yang digambar berkali-kali, namun setiap wajah tertutup oleh garis-garis matematika dan grafik gelombang suara. Di bagian bawah halaman, ada tulisan tangan Arlo yang sangat besar, ditekan dengan sangat kuat hingga kertasnya hampir robek:

*KITA BUKAN MANUSIA. KITA ADALAH RESONANSI. JIKA AKU BISA MENEMUKAN NADA YANG TEPAT, AKU BISA MEMUTAR BALIK WAKTU.*

Elara menjatuhkan buku itu. Ia merasa ngeri. Ini bukan lagi tentang musik indie atau nostalgia romantis. Ini adalah manifestasi dari kegilaan murni yang didorong oleh duka yang tak terobati. Arlo telah mengubah mercusuar ini menjadi sebuah mesin waktu yang cacat.

Tiba-tiba, suara dari speaker di ruangan itu—speaker besar yang tampak seperti buatan sendiri—meledak dengan suara vokal Elara yang sangat keras.

*"I miss you on the train..."*

Suara itu bergema di dinding silinder mercusuar, memantul ke atas dan ke bawah, menciptakan efek spiral suara yang memusingkan. Elara menutup telinganya, tapi suara itu seolah masuk melalui pori-porinya.

"Arlo! Berhenti!" teriaknya.

Dari tangga melingkar di atasnya, terdengar suara langkah kaki. Bukan satu orang, tapi terdengar seperti banyak orang yang melangkah bersamaan. Elara mengarahkan senternya ke atas.

Di sana, di bayang-bayang tangga, ia melihat ujung jaket denim.

"Kau datang tepat waktu, El," suara itu bukan berasal dari speaker, tapi juga tidak terdengar sepenuhnya manusiawi. Suara itu memiliki *reverb* alami, seolah-olah pria yang berbicara itu sendiri adalah sebuah ruang gema. "Lagunya hampir selesai. Kita hanya butuh satu nada terakhir. Nada yang asli. Bukan rekaman."

Arlo muncul dari kegelapan. Ia tampak sepuluh tahun lebih tua, namun matanya tetap sama—mata yang selalu mencari sesuatu yang tidak ada. Di tangannya, ia memegang sebuah kabel gitar yang ujungnya terbuka, memercikkan bunga api kecil ke lantai.

"Ayo, El," bisik Arlo, sambil mengulurkan tangan yang kurus dan pucat. "Bernyanyilah bersamaku. Mari kita selesaikan lagu ini, dan kita akan kembali ke malam di atap itu. Selamanya."

Elara menatap pria di hadapannya. Ini adalah pria yang ia cintai, namun sekaligus orang asing yang paling menakutkan yang pernah ia temui.

1
Fadhil Asyraf
makasih kak
PanggilsajaKanjengRatu
Keren banget🔥
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!