NovelToon NovelToon
Mantu Koplak Menjadi Penguasa

Mantu Koplak Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia
Popularitas:964
Nilai: 5
Nama Author: richard ariadi

Tanda tangani ini, dan semua hutangmu dianggap lunas," ucap Minghua Zhang sambil melemparkan kontrak pernikahan ke atas meja yang penuh puntung rokok. Chen Song menatap angka di kertas itu, lalu menatap wajah dingin Luna di pojok ruangan. Baginya, ini bukan pernikahan, ini adalah tiket keluar dari neraka—yang tanpa ia sadari, justru akan membawanya ke neraka jenis baru.

Chen Song adalah seorang pria dari kelas menengah ke bawah yang memiliki kecanduan judi yang parah. Dalam sebuah permainan berisiko tinggi di kasino bawah tanah, ia kehilangan segalanya. Ternyata, lawan mainnya adalah seorang kolektor hutang kejam yang bekerja untuk relasi bisnis keluarga Zhang. Chen Song berhutang dalam jumlah yang mustahil ia bayar miliaran yuan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richard ariadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

es dan api menyatu

Pintu gerbang Kawah Abadi terbuka dengan suara gemuruh yang dahsyat, menyemburkan uap panas yang langsung dinetralkan oleh hawa es Chen Song. Sementara Chen Song dan Luna Zhang melesat masuk ke dalam inti makam, trio klan Oe berbalik untuk menghadapi sisa-sisan pasukan Garda Api yang mulai berdatangan.

Meskipun suasananya genting, cara bertarung tiga bersaudara ini tetap jauh dari kata serius.

Pasukan Garda Api maju dengan perisai laser mereka. Oe Lu Tung berdiri di tengah, Oe Shan Tung di kiri, dan Oe Asu di kanan.

Oe Lu Tung: "Shan Tung! Pakai jurus Perisai Lemak Ilahi! Biarkan perutmu yang bicara!"

Oe Shan Tung (Membusungkan perutnya yang buncit hingga baju taktisnya robek) "Siap, Bos! Rasakan kenyalan keadilan!"

Dung! Dung! Dung! Peluru laser yang ditembakkan pasukan penjaga memantul saat mengenai perut Shan Tung yang bergetar hebat. Bukannya hancur, peluru itu malah memantul balik ke arah para penjaga karena efek elastisitas perutnya yang dilapis tenaga dalam.

Pasukan Penjaga"Apa-apaan ini?! Peluru kita memantul karena lemak?!"

Oe Asu (Muncul dari balik punggung Shan Tung sambil membawa botol saus) "Bukan cuma memantul, kawan! Ini juga licin!"

Asu menyemprotkan minyak goreng dan saus tiram ke lantai koridor. Pasukan Garda Api yang sedang lari menyerbu langsung terpeleset, berguling-guling seperti pin bowling yang jatuh.

Hakim Zhor (Bangkit dengan muka penuh saus tiram) "Kalian... kalian adalah kultivator paling tidak sopan yang pernah aku temui! Mana martabat bela diri kalian?!"

Oe Lu Tung (Sambil menggaruk ketiak dengan gagang kapak) "Martabat? Makan tuh martabat! Kami ini pejuang kemerdekaan, bukan peserta lomba tata krama. Asu, mereka kelihatan lapar, kasih mereka 'kue'!"

Oe Asu "Siap!"

Asu melemparkan bola-bola kecil berwarna hitam. Pasukan penjaga langsung menutup mata, mengira itu granat asap. Ternyata, bola itu meledak dan mengeluarkan ribuan Kutu Loncat yang sudah diberi energi Qi.

Hakim Kora (Sistem robotiknya korsleting karena kutu masuk ke sela-sela kabel) "Error! Gatal terdeteksi di area sirkuit... Bagaimana mungkin robot merasa gatal?! TIDAK!!! JANGAN DI SANA!" (Mulai menari-nari karena sistem motoriknya kacau).

Oe Shan Tung "Bos, mereka mulai menumpuk di sana. Boleh aku pakai jurus Naga Menggulung Karpet?".

Oe Lu Tung "Lakukan, Biarkan mereka tahu rasa lantai Ghudik!"

Shan Tung berbaring di lantai, lalu berguling dengan kecepatan tinggi seperti ban truk raksasa. Pasukan penjaga yang sudah licin karena saus tiram langsung terlindas dan "tergulung" bersama Shan Tung ke ujung lorong.

Oe Asu "Wah, mogoknya keren juga! Mirip adegan film aksi, tapi versi komedi putar!"

Sambil terus bercanda, ketiganya akhirnya berhasil menutup pintu gerbang luar dan menguncinya dengan cara mengelas pintu itu menggunakan... Kapak Api Lu Tung dan Jempol Panas Shan Tung.

Oe Lu Tung (Bernapas terengah-engah tapi masih nyengir) "Nah, aman. Sekarang bocah Song itu punya waktu buat ngobrol sama kakek moyangnya yang pemarah itu."

Oe Asu: "Bos, kalau mereka keluar dan kita masih di sini, apa kita minta bayaran tambahan?"

Oe Lu Tung "Jelas! Minimal traktir kita sate naga di pasar malam Ghudik. Tapi... tunggu, kenapa pantatku terasa panas?"

Oe Shan Tung "Maaf Bos, tadi jempol panas saya salah sasaran pas lagi ngelas..."

Oe Lu Tung "SHAN TUNNGGG!!! BERHENTI MEMBAKAR BOSMU SENDIRI!"

Sementara di luar terdengar suara teriakan dan kekonyolan klan Oe, di dalam makam, Chen Song dan Luna Zhang disambut oleh keheningan yang mencekam. Di depan mereka, berdiri sebuah peti mati yang melayang di atas kawah lava cair. Itulah tempat peristirahatan Bara Song.

Suara Berat dari Dalam Lava "Siapa yang berani membawa hawa dingin Mei Song ke dalam tungku apiku? Apakah itu kau, keturunan yang lemah?"

Suasana di dalam inti makam sangat kontras dengan keributan konyol yang terjadi di luar. Di sini, udara begitu padat oleh energi panas sehingga setiap tarikan napas terasa seperti menelan bara api. Luna Zhang berdiri terpaku, bibirnya terkatung rapat bukan karena takut, melainkan karena tekanan aura dewa yang begitu besar hingga membuatnya sulit untuk sekadar bersuara.

Di tengah kawah lava yang bergejolak, sesosok bayangan raksasa perlahan terbentuk dari api hitam. Itulah manifestasi roh Leluhur Bara Song.

Bayangan api itu memiliki mata yang bersinar merah membara, menatap tajam ke arah Chen Song yang berdiri di tepi jembatan batu yang mulai retak.

Bara Song

(Suaranya berat, bergema seperti dentuman gunung meletus)

"Darah murni... namun membawa hawa dingin yang menjijikkan dari Mei Song. Siapa kau, bocah? Berani-beraninya kau menginjakkan kaki di persemayaman apiku dengan membawa es di tubuhmu?"

Chen Song

(Menghujamkan pedang esnya ke lantai batu untuk menahan panas, matanya tetap tenang)

"Aku adalah Chen Song. Keturunan yang kau sebut lemah, namun satu-satunya harapan tersisa untuk membersihkan nama klan kita. Aku datang bukan untuk menantangmu, Leluhur, tapi untuk mengambil kembali apa yang telah dicuri oleh negara ini dan dikhianati oleh keturunanmu yang lain."

Bara Song

"Dicuri? Hmph! Aku membiarkan mereka mengambil sedikit apiku karena keturunanmu di atas sana terlalu pengecut untuk melindunginya. Mereka menjual esensiku demi teknologi sampah! Dan sekarang kau... kau membawa seorang wanita dari klan luar ke tempat suci ini?"

Chen Song melirik Luna Zhang sejenak. Luna tetap diam, namun matanya memancarkan keteguhan yang membuat Bara Song mendengus.

Bara Song

"Wanita itu... dia memiliki Teratai Es Ungu. Langka. Tapi di sini, dia hanya akan menjadi uap dalam hitungan detik jika aku menghendakinya. Katakan padaku, bocah, kenapa aku harus menyerahkan esensi 'Matahari Hitam' kepadamu?"

Chen Song

"Karena jika tidak, api ini akan padam selamanya di tangan orang-orang yang hanya menganggapmu sebagai baterai. Aku akan menyatukan es Mei Song dan apimu. Aku akan menjadi badai yang menghancurkan para kultivator iblis yang menyerang dunia sekuler dan dunia praktisi membungkam kejahatan 1000 tahun ini."

Meskipun Luna hanya terdiam, ia secara diam-diam melepaskan energi esnya melalui telapak kakinya ke arah Chen Song. Ia tidak membantu bertarung, melainkan menjadi "pendingin" bagi meridian Chen Song agar suaminya tidak meledak saat berhadapan langsung dengan suhu ekstrim Bara Song.

Bara Song

(Melihat aliran energi Luna)

"Hahaha! Kerjasama yang menarik. Dia rela membekukan jiwanya sendiri demi menjaga jantungmu tetap berdetak di hadapanku. Baiklah, Chen Song! Jika kau menginginkan kekuatanku, masuklah ke dalam kawah ini! Buktikan bahwa darah Song-mu tidak akan menguap!"

Bara Song membuka lengannya, dan lava di bawah mereka terbelah, memperlihatkan sebuah kristal hitam yang berdenyut dengan energi api yang murni.

Bara Song

"Ambil esensiku, atau mati menjadi abu! Dan untuk istrimu... jika kau gagal, dia akan menjadi persembahan abadi di makam ini!"

Chen Song

(Menatap Luna singkat, lalu melompat menuju lava tanpa ragu)

"Tunggu aku, Luna."

Di dalam jantung kawah, hukum alam seolah dipaksa tunduk. Chen Song kini berada di tengah-tengah bentrokan ekstrem: tangan kanannya menggenggam kristal Matahari Hitam yang membara, sementara tangan kirinya masih memegang pedang Es Iblis Mei Song.

Terjadilah fenomena langka yang disebut "Resonansi Pemutus Langit".

Lava merah pekat dari kawah Bara Song mencoba melahap tubuh Chen Song, namun uap ungu dingin dari energi Luna Zhang membungkus kulitnya seperti baju zirah transparan.

Sisi Kanan Api hitam menjalar ke lengan Chen Song, membakar kain bajunya hingga menjadi abu, memperlihatkan urat-urat nadi yang menyala merah.

Sisi Kiri Es biru tua membeku hingga ke leher, mencoba menstabilkan suhu jantungnya agar tidak meledak.

Bara Song

(Tertawa menggelegar di tengah pusaran api)

"Menarik! Kau mencoba menjinakkan dua naga yang saling membenci? Es Mei Song yang angkuh dan Apiku yang liar? Kau akan terbelah menjadi dua, bocah!"

Luna Zhang, yang sedari tadi terdiam, kini mulai gemetar. Wajahnya sepucat salju. Ia menyadari bahwa jika ia melemah sedikit saja, Chen Song akan hangus. Namun jika ia terlalu kuat, energi esnya akan menolak kekuatan Bara Song dan membuat suaminya gagal mendapatkan warisan tersebut.

Luna Zhang

(Berbisik dengan suara bergetar, berbicara pada dirinya sendiri)

"Jangan melawan apinya... ikuti alirannya. Song, jadilah wadahnya, bukan penentangnya. Aku akan menjadi penyeimbangmu..."

Chen Song

(Mengerang kesakitan, suaranya parau)

"Arghhh! Tubuhku... rasanya seperti ditarik oleh dua matahari yang berbeda arah! Leluhur! Jika kau ingin darah murni, ambillah! Tapi jika kau ingin pemimpin, tunduklah padaku!"

Tekanan di dalam makam mencapai puncaknya. Kristal Matahari Hitam mulai bergetar hebat. Energi api mencoba merangsek masuk ke meridian Chen Song, namun energi es Mei Song melakukan perlawanan brutal (Counter-attack).

Bara Song

"Kau terlalu serakah, Chen Song! Kau ingin keduanya? Es dan Api tidak bisa bersatu dalam satu raga fana!"

Chen Song

"Aku bukan raga fana... Aku adalah pewaris 30 Makam! LUNA! SEKARANG!"

Luna Zhang memahami kode itu. Ia tidak lagi mengirimkan es dingin, melainkan mengubah energinya menjadi Uap Es Ungu—sebuah katalis yang memungkinkan dua energi berlawanan untuk "berjabat tangan".

Blar! Sebuah ledakan energi berwarna abu-abu (perpaduan hitam dan putih) menyapu seluruh ruangan makam.

Pipa-pipa penyedot milik pemerintah Ghudik yang menempel di dinding makam seketika hancur dan meleleh.

Trio Oe di luar pintu sampai terpental karena gelombang kejut yang keluar dari celah pintu.

Oe Lu Tung (Sambil memegangi topinya) "Waduh! Si bocah itu lagi masak apa di dalam? Bau rambut terbakar campur aroma kulkas rusak!"

Saat asap mereda, Chen Song berdiri di atas lava yang kini membeku menjadi kristal obsidian. Matanya unik mata kanan berwarna merah membara dengan pupil hitam, sementara mata kiri berwarna biru safir dengan pupil putih.

Bara Song

(Sosok apinya mengecil, menunjukkan rasa hormat untuk pertama kalinya)

"Kau... kau benar-benar melakukannya. Kau menciptakan 'Keseimbangan Kekacauan'. Mei Song pasti akan sangat kesal melihat esnya bersanding dengan apiku."

Chen Song

(Menatap tangannya yang kini dipenuhi tato segel api dan es)

"Leluhur... terima kasih. Sekarang, Ghudik Sarenteng akan tahu apa artinya mencuri dari keluarga Song."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!