Terobsesi Kamu Season 2
Demi bakti pada orang tua, Vira merelakan waktunya Jakarta-Bandung merawat sang ayah.
Namun, tanpa disadari, jarak yang ia tempuh justru menciptakan celah lebar di rumah tangganya sendiri. Ia perlahan kehilangan pijakan sebagai pendamping suami dan sosok ibu sambung bagi putri mereka.
Celah itu tak dibiarkan kosong. Hadirnya seorang tutor muda—Cintya yang begitu akrab dengan sang putri membawa badai hasutan yang mengguncang pondasi pernikahannya.
Ketika pengkhianatan mulai membayangi dan kenyamanan rumahnya mulai direbut, Vira tidak membiarkan kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh mereka yang berniat menghancurkan.
"Kau terobsesi ingin memiliki suamiku?" Vira menatap tajam wanita muda yang menjadi tutor putrinya.
"Aku akan merebutnya dan menggantikan posisimu secepatnya, Vira," balas Cintya dengan seringai dingin.
Akankah Vira dan William mampu bertahan dalam menjalani pernikahan yang mulai terkoyak karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Gila
"Vira, tunggu! Vira!"
William terus memanggil sembari melangkah lebar menyusul istrinya. Begitu pintu kamar tertutup rapat, menyisakan mereka berdua dalam kesunyian yang mencekam, pertahanan Vira benar-benar runtuh.
"Aku capek, Liam! Anakmu, kakakmu, bahkan mamamu ... semuanya membuat hatiku sesak!" jerit Vira. Suaranya pecah, bergema di antara dinding kamar yang seolah ikut menghimpit napasnya.
William segera mendekat, merengkuh tubuh Vira ke dalam pelukannya. Ia mendekapnya erat, berusaha menyalurkan kehangatan untuk memadamkan amarah yang membuncah di dada istrinya. Dada William sendiri naik-turun, ikut terbakar emosi melihat kekacauan yang belum pernah terjadi di rumahnya sebelumnya. Baginya, melihat semua wanita yang ia sayangi saling menyerang adalah mimpi buruk yang nyata.
Dekapan itu perlahan meluluhkan amarah Vira, mengubahnya menjadi isak tangis yang memilukan. Pertahanan hati yang semula ia bangun dengan teguh demi menjalankan peran sebagai ibu sambung, kini terasa rapuh tak bersisa. Ia merasa tak lagi sanggup menanggung beban itu.
"Aku lelah ... Liam. Aku benar-benar lelah," gumam Vira parau. Ia memukul lembut dada suaminya dengan kepalan tangan yang terasa dingin—sebuah campuran antara rasa takut dan amarah yang masih bergejolak di dalam diri.
"Iya, Sayang. Aku mengerti. Aku tahu ini sulit," bisik William lembut, sembari mendaratkan kecupan-kecupan penenang di puncak kepala istrinya. "Maafkan keluargaku ... aku akan bicara tegas pada mereka nanti. Aku tidak akan membiarkan ini terulang lagi."
William mempererat pelukannya, seolah ingin menyembunyikan Vira dari kekacauan. Namun, jauh di lubuk hatinya, William sendiri pun tengah mencari kekuatan. Ia butuh pegangan untuk menghadapi jaring-jaring kerumitan yang ditenun oleh para wanita di hidupnya, yang kini membuat kepalanya terasa nyaris pecah.
Di dalam kamar yang sunyi itu, sepasang suami istri tersebut hanya bisa saling bersandar, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasan untuk menyelesaikan kemelut yang menjerat mereka.
"Aku harus ke kantor dulu. Siang nanti biar aku yang menjemput Chika, aku akan mengajaknya bicara baik-baik, oke?" William melonggarkan pelukannya, memberikan sedikit jarak lalu meraih jemari istrinya untuk dikecup dengan lembut.
Vira hanya mengangguk pelan. Ia mengusap sisa air mata yang masih menyisakan jejak lembap di pipinya, lalu menatap manik mata suaminya dalam-dalam. Ia bisa melihat rahang William yang mengeras. Vira berjinjit kecil, mendaratkan ciuman hangat di pipi sang suami sebagai bentuk dukungan.
"Nanti sore aku ingin menemui orang tuaku, Sayang. Kau mengizinkanku, kan?" tanya Vira pelan.
William kembali melingkarkan tangannya di leher Vira, mengangguk setuju sebelum mengecup kening istrinya singkat.
"Mungkin aku tidak bisa mengantarmu karena ada beberapa pekerjaan penting yang mendesak. Kau pergi diantar Pak Ojan, ya?"
Vira mengangguk, tangannya bergerak mengusap rahang suaminya. "Terima kasih, Sayang. Maafkan aku karena belum bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak."
William mengembuskan napas panjang, mencoba membuang sesak di dadanya. "Kita jalani ini berdua, Vira. Sampaikan salamku untuk Ayah dan Ibu. Jika merasa terlalu lelah, menginaplah di sana dan pulang besok saja. Jangan dipaksakan," pesannya. Ia melepaskan tangannya perlahan, lalu menyambar tas kerja yang tergeletak di atas nakas.
Keduanya pun melangkah keluar kamar untuk sarapan singkat, sembari Vira melanjutkan tugasnya menyuapi Anggi yang sempat tertunda akibat keributan tadi.
Di meja makan, suara denting sendok dan tawa kecil Anggi akhirnya membuat rumah kembali tenang.
.
.
Siang itu, matahari terasa begitu terik, selaras dengan gejolak emosi yang berkecamuk di dada William. Saat jam makan siang tiba, ia memutuskan untuk menjemput putri sulungnya langsung ke sekolah. Namun, sesampainya di sana, Chika tidak ditemukan. William mencoba menghubungi ponsel putrinya berkali-kali, namun panggilannya selalu ditolak.
"Di mana anak itu?!" geram William, jemarinya mencengkeram kemudi dengan erat.
Tak punya pilihan lain, William membuka aplikasi pelacak lokasi ponsel Chika. Titik GPS menunjukkan bahwa putrinya berada di sebuah kafe tak jauh dari sekolah. Tanpa membuang waktu, ia memacu mobilnya ke sana. "Apa dia sedang bersama Monic?" batinnya penuh curiga.
Namun, pemandangan yang menyambutnya di sudut kafe jauh lebih buruk. Di sana, Chika sedang duduk bersenda gurau dengan Cyntia—wanita yang menjadi sumber keretakan di rumahnya.
Tanpa peringatan, William menyambar lengan Chika hingga tawa gadis itu membeku seketika. "Pulang," ucap William dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Chika tersentak, lalu menyentak tangannya hingga terlepas. "Aku lagi belajar, Pa! Papa nggak izinin aku belajar di rumah, ya sudah aku belajar di sini sama Miss Cyntia!" protes Chika dengan nada tinggi.
Sementara itu, Cyntia hanya duduk tenang sembari bersedekap, menatap William dengan sorot mata yang sulit diartikan—seolah sedang menikmati kekacauan yang ia ciptakan.
"Tidak, Chika. Nanti Papa dan Mama cari tutor baru untukmu!" William menutup paksa laptop putrinya dan hendak membawanya pergi.
"Nggak mau, Pa! Papa kenapa sih?!" teriak Chika. Suaranya yang melengking membuat para pengunjung kafe mulai menoleh ke arah mereka.
William mendengkus kesal, rahangnya mengeras. Tanpa banyak bicara, ia menyampirkan tas sekolah Chika di bahu kanan, lalu dengan satu gerakan kuat, ia menggendong paksa putri sulungnya itu di bawah ketiak kirinya. Chika meronta, memukul-mukul punggung ayahnya, namun William tidak peduli. Dengan langkah lebar, ia menyeret Chika keluar dan memaksanya masuk ke dalam mobil.
Cyntia mengejar mereka. Saat pintu mobil hampir tertutup, ia menahan daun pintu hingga jemarinya nyaris terjepit. "William, kau sudah gila! Kasihan Chika!" seru Cyntia. Ia nekat menerobos masuk dan langsung memeluk Chika yang kini menangis tersedu-sedu.
"Keluar dari mobilku!" bentak William dengan mata terbelalak.
"Kau menyakitinya, William. Chika tidak tahu apa-apa, jangan libatkan dia dalam masalah kita!" tukas Cyntia dengan nada membela diri.
"Masalah kita?" William mengernyit jijik. "Yang punya masalah itu kamu, Cyntia! Bukan aku! Untuk apa kau terus mengganggu hidupku?!"
Cyntia bersikap seolah tuli. Ia justru mengusap lembut pipi Chika yang basah oleh air mata. "Sayang, kau tidak apa-apa?" bisiknya sok manis. Chika hanya bisa membenamkan wajah di dada Cyntia dengan isakan yang tersisa.
"Keluar, Cyntia!" pekik William. Ia keluar dari mobil, memutari moncong kendaraan, lalu menarik paksa tangan Cyntia yang mendekap putrinya.
"Apa salahnya aku menyayangi Chika? Dulu kau tidak sekasar ini, William! William yang kukenal sangat menyayangi putrinya!" rintih Cyntia saat pergelangan tangannya dicengkeram kuat oleh William.
"Aku masih orang yang sama, dan aku masih sangat menyayangi putriku. Karena itu, aku menjauhkannya darimu yang terus meracuni pikirannya dan merusak ketenangan keluarga kami!" Dengan satu sentakan kasar, William menyeret Cyntia hingga wanita itu jatuh terduduk di tanah.
Kerumunan orang di sekitar kafe mulai berbisik-bisik menyaksikan pertengkaran hebat di parkiran itu. Namun, di tengah rasa sakit dan malunya, Cyntia justru mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"William ... izinkan aku jadi istri keduamu."
Sebuah permintaan gila yang meluncur dari bibir Cyntia hingga membuat kedua mata William membulat sempurna.
Bersambung...
🤣🤣semuanya aja lah
mulai bsk dicatat tiap bln-nya will spy bs jaga, sblm 'dapat' minta jatah dl🤭