Xing Shenyuan, pangeran kesembilan Dinasti Bintang Agung, dikhianati oleh saudaranya sendiri. Tulang Surgawi miliknya dicabut, basis kultivasinya dihancurkan, dan dia dibuang ke Makam Leluhur yang terlarang untuk menjadi pelayan nisan seumur hidup. Di tengah keputusasaan, sebuah suara kuno bergema di jiwanya. Dengan sistem "Masuk Log" (Sign-In), setiap inci tanah pemakaman menjadi gudang harta karun ilahi.
"Masuk Log di Makam Kaisar Pertama, hadiah: Tubuh Kekacauan Primordial!"
"Masuk Log di Gundukan Pedang Dewa, hadiah: Niat Pedang Penghancur Cakrawala!"
Sepuluh ribu tahun berlalu dalam sekejap mata. Dunia luar telah berganti zaman, kekaisaran runtuh, dan dewa-dewa baru bermunculan , ketika musuh dari langit mencoba mengusik ketenangan makam leluhur nya, xing shenyuan bangkit dari debu hanya satu jentikan jari untuk meratakan seluruh galaksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8 aliansi pembantai iblis dan gundukan pedang patah
Di puncak tertinggi Gunung Pedang Langit, awan putih berarak melingkari sebuah paviliun terapung yang terbuat dari giok putih murni. Tempat ini adalah Aula Diskusi Surgawi, lokasi paling sakral bagi Sekte Pedang Langit, yang hanya dibuka ketika bencana besar mengancam kelangsungan dunia persilatan.
Tiga sosok duduk mengelilingi meja batu bundar. Aura yang mereka pancarkan begitu kuat hingga udara di sekitar mereka berdistorsi, menciptakan ilusi visual seolah ruang dan waktu sedang bengkok.
Di kursi utama, duduk Jian Wushuang, Master Sekte Pedang Langit. Rambutnya seputih perak, matanya tajam laksana ribuan jarum, dan di punggungnya tergantung Pedang Pemutus Langit, sebuah artefak spiritual tingkat tinggi. Ia berada di Ranah Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul) Tahap Akhir, selangkah lagi menuju transformasi menjadi dewa duniawi.
Di sebelah kanannya, seorang pria bertubuh kekar dengan kulit berwarna tembaga duduk dengan angkuh. Listrik statis berwarna biru terus-menerus memercik dari pori-porinya. Ia adalah Lei Batian, Master Sekte Awan Guntur. Wataknya meledak-ledak, sekeras elemen yang dikuasainya.
Di kursi terakhir, mewakili Balai Pengobatan Surgawi, duduk Tetua Agung Yao Chen. Ia hadir menggantikan Master Sekte yang sedang bertapa, serta Su Yan yang dilaporkan sedang melakukan "investigasi khusus". Wajahnya penuh kerutan licik, aroma tanaman obat yang menyengat menguar dari jubah hijau lumutnya.
"Tetua Feng sudah gila," Jian Wushuang membuka pembicaraan, suaranya dingin tanpa emosi. "Dia terus meracau tentang 'Mata Dewa' dan 'Naga Penjaga'. Jiwanya hancur total. Seorang ahli Jiwa Baru Lahir dihancurkan mentalnya tanpa ada luka fisik sedikit pun. Ini adalah penghinaan bagi sekte kita."
Lei Batian menggebrak meja. Brak! Retakan halus muncul di permukaan giok yang keras itu. "Pasti ada Iblis Kuno yang bangkit di Makam Bintang Agung! Dinasti Bintang Agung sudah lemah. Mereka membiarkan makam leluhur mereka menjadi sarang hantu. Kita harus meratakannya!"
Yao Chen mengelus jenggot putihnya perlahan. Matanya berkilat penuh perhitungan. "Meratakan makam bukanlah perkara sulit, Master Lei. Persoalannya adalah apa yang ada di dalamnya. Jika benar ada warisan kuno atau harta karun tingkat Dewa yang dijaga oleh makhluk buas itu, kita tidak bisa membiarkannya jatuh ke tangan orang lain. Atau lebih buruk... jatuh ke tangan Kekaisaran yang ingin bangkit kembali."
Keheningan menyelimuti ruangan. Ketiga rubah tua ini memiliki agenda masing-masing. Mereka tidak peduli pada keselamatan rakyat atau kehormatan leluhur Xing; mereka hanya peduli pada potensi kekuatan yang bisa mereka rampas.
"Aku mengusulkan pembentukan Aliansi Pembantai Iblis," Jian Wushuang memutuskan. "Sekte Pedang Langit akan mengirimkan sepuluh Tetua Inti Emas dan seratus murid elit. Aku sendiri yang akan memimpin jika situasi memburuk."
"Sekte Awan Guntur akan mengirimkan Unit Halilintar Hitam," sahut Lei Batian menyeringai. "Kami akan membakar habis kabut beracun itu."
"Balai Pengobatan Surgawi akan menyediakan logistik," tambah Yao Chen. "Saintess Su Yan baru saja mengirim pesan. Dia berhasil mendapatkan peta sebagian wilayah luar makam dan sedang memurnikan pil penawar racun khusus. Dengan bantuannya, pasukan kita bisa masuk tanpa takut pada miasma."
Kesepakatan tercapai. Di atas kertas, ini adalah operasi pembersihan kejahatan. Pada kenyataannya, ini adalah invasi perampokan makam terbesar dalam seribu tahun terakhir.
Mereka tidak tahu bahwa setiap kata yang mereka ucapkan, setiap rencana yang mereka susun, sedang diawasi dari jauh oleh sepasang mata yang melampaui ruang fisik.
Jauh di dalam kompleks Makam Bintang Agung, Xing Shenyuan menarik kembali kesadaran spiritualnya. Ia baru saja menggunakan teknik Proyeksi Jiwa Seribu Mil, sebuah kemampuan turunan dari Sutra Hati Kaisar Naga.
"Aliansi Pembantai Iblis?" Shenyuan terkekeh pelan. Ia berdiri di tepi tebing curam yang menghadap ke sebuah kawah raksasa. "Nama yang bagus untuk sekumpulan pencuri."
Di bawah tebing itu, di dasar kawah yang gelap, ribuan pedang tua menancap di tanah. Beberapa sudah berkarat, beberapa patah, namun semuanya memancarkan aura pembunuhan (Killing Intent) yang sangat pekat. Tempat ini dikenal sebagai Gundukan Pedang Patah, tempat pembuangan senjata para jenderal yang gugur dalam perang penyatuan benua sepuluh ribu tahun lalu.
Di tengah lautan pedang itu, sesosok tubuh mungil sedang bertarung mati-matian.
Lin Xiaoyue, dengan pakaian yang sudah sobek di sana-sini, bergerak lincah menghindari serangan roh pedang. Roh-roh ini berwujud asap kelabu yang memegang senjata, menyerang apa pun yang memiliki hawa kehidupan.
"Gunakan apimu, Xiaoyue! Jangan hanya menghindar!" suara Shenyuan menggema ke seluruh kawah, diperkuat oleh Qi-nya.
"Baik, Guru!" teriak Xiaoyue.
Napas gadis itu memburu. Bahunya terluka goresan pedang, darah segar menetes. Rasa sakit itu nyata, kematian mengintai di setiap sudut. Shenyuan tidak memberinya perlakuan khusus. Jika dia ingin menjadi murid dari Dewa Bintang, dia harus bisa bertahan di neraka.
Xiaoyue memejamkan mata sejenak, mengabaikan rasa perih di kulitnya. Ia memanggil sensasi panas di sumsum tulangnya.
Bwuosh!
Api biru meledak dari tubuhnya. Sayap feniks transparan membentang di punggungnya. Kali ini, apinya lebih terkontrol, lebih padat. Ia tidak menyerang roh pedang itu secara fisik, melainkan membakar niat jahat yang mengendalikan mereka.
Roh pedang yang terkena api biru itu menjerit melengking sebelum lenyap menjadi asap putih murni.
"Bagus," puji Shenyuan dari atas tebing. "Api Feniks Biru bukan untuk menghancurkan materi, tapi untuk menyucikan jiwa. Teruslah membakar sampai kau mencapai pusat gundukan."
Shenyuan mengalihkan pandangannya pada sistem di benaknya. Lokasi ini memenuhi syarat.
[Ding! Lokasi terdeteksi: Gundukan Pedang Patah. Tempat peristirahatan sepuluh ribu senjata. Apakah Anda ingin Masuk Log?]
"Masuk Log."
[Ding! Masuk Log berhasil. Hadiah Tingkat Dewa diperoleh: "Hati Pedang Tanpa Cela" (Bakalan Dao) dan "Formasi Eksekusi Dewa Pedang" (Cetak Biru Formasi).]
Sebuah sensasi tajam menusuk dada Shenyuan, namun itu bukan rasa sakit, melainkan pencerahan. Di dalam Dantian-nya, di samping Inti Kekacauan, kini melayang sebuah pedang kecil transparan seukuran jarum.
Ini adalah Hati Pedang.
Kultivator pedang di seluruh dunia menghabiskan ratusan tahun untuk memahami Maksud Pedang (Sword Intent). Hati Pedang adalah tingkatan di atas itu; di mana pengguna tidak lagi membutuhkan pedang fisik. Rumput, ranting, bahkan udara itu sendiri bisa menjadi pedang di tangannya.
"Dengan Hati Pedang ini, aku bisa mengendalikan seluruh senjata di gundukan ini," pikir Shenyuan. Ia menatap ke arah pasukan roh pedang di bawah. "Dan dengan Formasi Eksekusi Dewa Pedang... aku sudah menyiapkan kuburan yang indah untuk Jian Wushuang dan teman-temannya."
Tiga hari kemudian.
Matahari tertutup awan hitam yang dibawa oleh kedatangan ratusan kapal terbang. Bendera tiga sekte besar berkibar angkuh di langit. Suara genderang perang ditabuh, menggetarkan tanah makam yang sunyi.
Unit pembuka jalan dari Sekte Awan Guntur mendarat lebih dulu. Mereka adalah pria-pria kekar yang membawa palu godam.
"Hancurkan gerbangnya!" teriak pemimpin unit itu.
Puluhan petir menyambar, menghantam gerbang batu kuno Makam Bintang Agung.
Duaaar!
Gerbang yang telah berdiri ribuan tahun itu runtuh, debu beterbangan ke mana-mana. Para kultivator bersorak sorai, merasa kemenangan sudah di depan mata. Mereka tidak menyadari bahwa runtuhnya gerbang itu bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa "tuan rumah" telah membukakan pintu.
Dari balik debu, tidak ada pasukan yang menyambut mereka. Hanya jalan setapak panjang yang diapit oleh hutan pinus yang tertutup kabut tebal.
"Maju! Siapa pun yang menemukan kepala Pangeran Xing Shenyuan akan mendapatkan hadiah seribu batu roh tingkat tinggi!" seru Tetua dari Sekte Pedang Langit.
Ratusan kultivator berbondong-bondong masuk, mata mereka merah karena keserakahan. Di barisan tengah, Su Yan berjalan bersama para tetua lainnya. Wajahnya tampak tenang, namun hatinya bergetar hebat. Ia tahu, jalan setapak ini bukanlah jalan menuju harta karun, melainkan lidah dari mulut binatang buas yang sedang menganga.
Saat pasukan mencapai pertengahan Hutan Pinus, kabut tiba-tiba berubah warna menjadi merah muda.
"Tahan napas! Ini racun!" teriak seorang ahli pengobatan.
Su Yan melangkah maju, mengeluarkan sebuah botol giok. "Jangan panik. Ini hanya kabut halusinasi tingkat rendah. Minumlah pil yang sudah kubagikan."
Para kultivator segera menelan pil pemberian Su Yan. Benar saja, pikiran mereka kembali jernih. Mereka memuji kehebatan Balai Pengobatan Surgawi.
Namun, Su Yan tersenyum pahit dalam hati. Pil itu memang menetralkan racun halusinasi, tetapi pil itu juga mengandung Serbuk Pelacak Jiwa. Dengan meminum pil itu, posisi setiap kultivator kini bersinar terang di peta mental Xing Shenyuan. Mereka telah secara sukarela menandai diri mereka sebagai target.
"Terus maju!" perintah Lei Batian yang tidak sabar.
Pasukan bergerak lebih dalam, melewati Hutan Pinus dan akhirnya tiba di sebuah area terbuka yang luas. Di sana, pemandangan yang aneh menyambut mereka.
Ribuan patung prajurit terakota berdiri berbaris rapi, menghadap ke arah para penyusup. Patung-patung itu memegang tombak batu dan perisai usang. Di tengah-tengah pasukan patung itu, duduk seorang pemuda di atas sebuah batu besar, sedang menimang-nimang seekor burung kecil berwarna biru api.
Itu adalah Xing Shenyuan dan wujud roh dari garis darah Xiaoyue.
"Berhenti!" Jian Wushuang mengangkat tangannya. Ia menatap pemuda itu dengan tatapan merendahkan. "Jadi, kau adalah pangeran sampah itu? Di mana ahli yang melindungimu? Suruh dia keluar! Jangan bersembunyi di balik punggung seorang cacat!"
Shenyuan mendongak perlahan. Matanya yang hitam pekat menatap ribuan musuh di hadapannya tanpa rasa takut sedikit pun.
"Ahli?" Shenyuan tersenyum miring. "Kalian salah paham. Di sini tidak ada ahli. Yang ada hanya aku, seorang penjaga kuburan yang sedang kesal karena kalian merusak pintu depanku."
"Banyak bicara!" Lei Batian tidak sabar. "Mati kau!"
Lei Batian meluncurkan bola petir raksasa dari tangannya. Serangan itu setara dengan kekuatan penuh Ranah Inti Emas Tahap Akhir, cukup untuk menghancurkan bukit kecil.
Bola petir itu melesat ke arah Shenyuan. Para murid sekte bersorak, menantikan tubuh pangeran itu meledak menjadi daging cincang.
Shenyuan tidak bergerak. Ia hanya menjentikkan jarinya.
Ting!
Tiba-tiba, salah satu patung terakota di barisan depan bergerak. Patung itu mengangkat perisai batunya dengan kecepatan kilat.
Boomb!
Bola petir itu menghantam perisai batu. Ledakan dahsyat terjadi, asap membumbung tinggi.
Ketika asap menghilang, semua orang terbelalak.
Patung terakota itu masih berdiri tegak, tidak ada goresan sedikit pun di perisainya. Dan di belakangnya, Shenyuan masih duduk santai, bahkan tidak ada sehelai rambut pun yang berantakan.
"Apa?!" Lei Batian melotot tak percaya. "Bagaimana mungkin patung batu biasa bisa menahan Petir Ilahi-ku?!"
Shenyuan berdiri perlahan. Ia merentangkan kedua tangannya seolah sedang menyambut tamu agung.
"Kalian datang mencari harta, bukan? Kalian datang mencari warisan? Baiklah. Sebagai tuan rumah yang baik, aku akan memperkenalkannya pada kalian."
Mata Shenyuan bersinar dengan cahaya keemasan.
"Bangkitlah, Legiun Penjaga Abadi."
Krak... Krak... Krak...
Suara batu pecah terdengar serempak. Ribuan patung terakota itu mulai bergerak. Debu batu rontok dari tubuh mereka, mengungkapkan rune-rune ungu yang menyala di balik kulit batu mereka. Mata patung-patung itu menyala merah, memancarkan aura kematian yang dingin.
Ini bukan patung biasa. Ini adalah mayat para prajurit kuno yang telah diawetkan dengan teknik Boneka Mayat, yang kini dikendalikan oleh Inti Kekacauan milik Shenyuan. Setiap patung memiliki kekuatan fisik setara dengan kultivator Ranah Pembentukan Pondasi Puncak, dan beberapa kapten patung setara dengan Inti Emas.
"Serang!" perintah Shenyuan datar.
Ribuan patung itu menerjang maju seperti gelombang pasang. Tanah bergetar hebat.
"Formasi! Bentuk formasi pertahanan!" teriak Jian Wushuang panik. Ia tidak menyangka akan menghadapi pasukan golem sebanyak ini.
Pertempuran pecah seketika. Jeritan kesakitan mulai terdengar. Para kultivator sekte yang sombong kini harus berhadapan dengan lawan yang tidak merasakan sakit, tidak memiliki rasa takut, dan tidak bisa mati (lagi).
Di tengah kekacauan itu, Shenyuan melompat turun dari batunya. Ia tidak berniat hanya menonton. Ia ingin menguji Hati Pedang barunya.
Ia berjalan santai di tengah medan perang. Seorang murid elit Sekte Pedang Langit melihatnya dan mencoba menyerang dari belakang.
"Mati kau, Pangeran!"
Murid itu menebaskan pedangnya.
Shenyuan tidak menoleh. Ia hanya menggerakkan niatnya.
Clang!
Pedang di tangan murid itu tiba-tiba berhenti di udara, bergetar hebat seolah sedang ketakutan. Kemudian, pedang itu terlepas dari genggaman tuannya, berbalik arah, dan melayang di samping Shenyuan.
"Pedangmu menolak untuk membunuh rajanya," bisik Shenyuan.
Murid itu ternganga. "Apa... apa yang kau lakukan pada pedangku?"
Dalam sekejap, ratusan pedang milik para murid Sekte Pedang Langit di sekitar area itu bergetar. Mereka terlepas dari tangan pemiliknya, terbang ke udara, dan berkumpul di belakang Shenyuan, membentuk sayap raksasa yang terbuat dari bilah baja.
Shenyuan berdiri di tengah medan perang, dikelilingi oleh ribuan pedang musuh yang kini tunduk padanya. Ia terlihat seperti Dewa Perang yang turun ke dunia fana.
Jian Wushuang, yang sedang sibuk menghancurkan patung terakota, menoleh dan melihat pemandangan itu. Wajahnya memucat. Sebagai ahli pedang, ia merasakan sesuatu yang membuatnya ingin berlutut.
"Itu... itu Hati Pedang?!" seru Jian Wushuang dengan suara tercekat. "Mustahil! Bahkan leluhur sekte kami belum mencapai tahap itu! Siapa kau sebenarnya?!"
Shenyuan menatap Jian Wushuang dari kejauhan. Tangannya terangkat, menunjuk lurus ke arah Master Sekte itu.
"Namaku Xing Shenyuan," suaranya bergema di seluruh lembah, menembus kebisingan perang. "Dan kalian baru saja memasuki makam kalian sendiri."
Ia menurunkan tangannya.
Wuuusss!
Ratusan pedang itu melesat maju bagaikan hujan meteor besi, mengincar para pemimpin sekte.