Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.
Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terdesak
Alvaro tetap berdiri di sisi jalan, tepat di depan kafe, dengan kamera menggantung di leher dan jaket hitam yang tidak dia lepas sejak siang. Dia terpaku pada pintu kaca kafe yang terus dibuka dan ditutup, tetapi pikirannya melayang ke arah lain.
Dan satu orang menjadi pusat dari semua pikiran kacau itu.
AURELLIA.
“Apa yang salah sama gue? ” gumamnya sambil menggaruk leher. “Baru ketemu, udah kayak orang bego gini. ”
Beberapa hari yang lalu, dia keluar dari kafe dengan langkah yang tak teratur. Malu, kikuk, dan tersenyum sendiri seperti orang yang baru saja mengungkapkan perasaan. Pandangan Aurellia ketika sadar diperhatikan masih terbayang jelas di benak Alvaro. Bukan tatapan yang canggung. Lebih ke bingung… namun lembut.
Alvaro melirik jam di ponselnya.
16.42
“Masih ada waktu,” katanya perlahan.
Dia melangkah mendekati pintu kafe. Satu langkah. Dua langkah.
Berhenti.
“Anjing, masuk aja napa. ”
Tangannya hampir mencapai gagang pintu ketika ponselnya bergetar keras di saku jaket.
Nama yang muncul membuat alisnya terangkat.
Rafi — Editor
Alvaro mendengus pelan, lalu mengangkat telepon. “Ada apa, Fi? ”
“Var, lo di mana? ”
“Di depan kafe. ”
“Pas banget. ”
“Pas apaan lo? ” Alvaro langsung merasa curiga.
“Klien wedding minggu depan minta teaser dimajukan. Mereka mau preview malam ini. ”
Alvaro menutup matanya. “Seriusan malam ini? ”
“Iya. Kita kurang satu sequence. Lo harus ambil tambahan. ”
Alvaro kembali melihat kafe. Pintu kaca terbuka, dan Aurellia keluar sejenak untuk memberikan pesanan kepada pelanggan di luar. Rambutnya diikat setengah, beberapa helai terjatuh ke pipinya.
Dadanya terasa aneh.
“Var? ” suara Rafi memanggil lagi.
“Iya,” jawab Alvaro berat. “Kirim alamatnya. ”
“Fix? ”
“Fix. ”
Telepon terputus.
Alvaro masih berdiri di tempatnya. Lama sekali. Sampai pintu kafe tertutup kembali dan Aurellia tak terlihat lagi.
“Besok,” katanya pelan. “Gue bakal kesini lagi besok. ”
Tetapi bahkan telinganya sendiri meragukan kalimat itu.
Lokasi syuting tidak jauh dari pusat kota, tetapi perjalanannya terasa sangat lama. Alvaro mengemudikan motor sambil sesekali mengetuk-ngetuk setir.
“Gue biasanya nggak kayak gini,” gumamnya. “Biasanya juga bodo amat. ”
Setelah sampai di taman kecil, dia langsung mulai bekerja. Tripod dibuka, lensa diganti, pengaturan kamera disiapkan. Semua gerakannya terasa otomatis, sudah terlatih.
Namun perhatiannya tidak fokus.
Setiap jeda, pikirannya kembali ke kafe.
Ke senyum itu.
“Fokus, Var,” katanya sambil menepuk pipinya sendiri. “Kerja dulu. ”
Malam tiba saat Alvaro sampai di kosannya.
Bangunan dua lantai, cat dinding yang pudar, lorong sempit, dan lampu neon yang kadang berkedip. Tempatnya sederhana, tetapi cukup untuk dia hidup dan bekerja.
Alvaro memarkir motor dan naik ke lantai dua.
“Var! ” teriak seseorang.
Alvaro menoleh. Doni, teman kos dari kamar sebelah, duduk bersantai sambil bermain game.
“Baru pulang lo? ” tanya Doni.
“Iya. ”
“Langka. Biasanya lo pulang tengah malam. ”
“Kerjaan mendadak. ”
Doni melirik kamera. “Ah, pantes. ”
Alvaro masuk ke kamarnya. Ruangan kecil dengan kasur, meja lipat, laptop, dan kamera yang selalu siap digunakan. Jaketnya dijatuhkan. Laptop dinyalakan.
Mulai edit lagi.
Sekitar pukul sepuluh malam, Alvaro bersandar di kursi. Matanya terasa perih.
Ponselnya bergetar.
Doni: Makan belum? Gue pesen mie.
Alvaro: Gue nitip. 2 yaa.
Doni: anjaaaay abis ngapain lo sampe pesen 2 mie
Alvaro: biasalah butuh asupan tenaga abis kerja keras HAHAHA.
Dia menutup ponsel, lalu melamun lagi.
Aurellia lagi.
Cara dia berdiri. Cara dia berbicara. Cara dia membuat Alvaro lupa pada ritme hidupnya sendiri.
“Ini nggak sehat,” katanya pelan. “Baru aja kenal. Kok bisa-bisanya gue sampai ngelamun kayak gini anjir”
Di kafe, Aurellia sedang membersihkan meja. Suasana kafe mulai sepi.
“Rasanya capek banget,” ujarnya pelan.
Andin, teman kerja Aurellia, tiba sambil membawa dua gelas air.
“Minum aja dulu. ”
“Makasih ya Din. ”
Andin tersenyum lebar.
“Eh, fotografer cowok itu nggak balik lagi ya? ”
Aurellia hampir tersedak mendengarnya.
“Hah? Siapa yang kamu maksud? ”
“Yang bikin kamu keliatan canggung. ”
“Loh, apa sih,” Aurellia membelokkan wajahnya.
“Keliatan jelas banget, Lia. ”
Aurellia terdiam.
“Dia… aneh. ”
“Aneh kenapa? ”
“Kayak ngerasa gugup. Tapi nggak bikin aku ilfeel. ”
Andin mengangguk dengan makna yang dalam.
“Ohhh.... gitu. ”
Aurellia melirik ke arah pintu kafe.
“Entahlah. ”
Pada pukul sebelas malam, Alvaro akhirnya mengirimkan file kepada Rafi.
23.07 — File terkirim
Dia berbaring di tempat tidurnya, lampu masih menyala.
“Kenapa jadi gini,” katanya pelan.
Biasanya, pulang ke kos terasa biasa. Sekarang, ada perasaan hampa.
Di sisi lain, Aurellia tiba di rumah saat kegelapan sudah menyelimuti langit. Kontrakan kecil itu sunyi, hanya terdengar suara lembut dari kipas angin yang berputar di ruang tengah. Dia melepas sepatu, meletakkan tasnya di kursi, lalu berdiri sejenak tanpa melakukan apa pun. Badannya merasa lelah, tetapi pikirannya justru aktif.
Biasanya, setelah pulang kerja, dia langsung mandi, makan, dan kemudian berbaring sambil menggunakan ponsel sampai tertidur. Malam ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang aneh yang ikut menemaninya di dalam rumah.
Tanpa berpikir lama, Aurellia menyadari apa yang menjadi penyebab itu.
Alvaro.
“Kenapa sih aku mikirin dia,” bisiknya sambil melangkah ke kamar.
Dia menyalakan lampu, duduk di tepi tempat tidur, lalu melepaskan ikat rambutnya. Rambutnya tergerai menutupi bahu, sedikit tidak teratur. Aurellia melihat wajahnya di cermin kecil yang tergantung di dinding.
“Laki-laki biasa aja,” ujarnya pada cermin. “Datang sekali, terus ya udah. ”
Namun, pernyataan itu terasa tidak berarti.
Pikirannya kembali ke sore tadi. Ke pintu kafe yang secara tak sadar dia tatap berulang kali. Ke setiap bunyi bel pintu yang membuat jantungnya berdebar, berharap—atau malah takut melihat sosok yang sama masuk lagi dengan kamera di tangan dan ekspresi sedikit kikuk.
Namun sampai kafe tutup, Alvaro tak kunjung muncul.
“Jarang-jarang,” ucap Aurellia pelan.
Dia berdiri dan pergi ke dapur kecil untuk mengambil minum. Tangannya terhenti sejenak ketika bayangan Alvaro terlintas lagi di benaknya. Cara dia berdiri yang terlihat canggung. Cara matanya cepat-cepat menghindar ketika tertangkap sedang memandang. Cara tawanya yang sepertinya tidak disengaja.
Aurellia menghela napas panjang.
“Kenapa aku jadi perhatiin hal-hal kayak gitu, ya? ”
Dia duduk di kursi makan, menatap meja kosong di depannya. Kata-kata Andin di kafe siang itu kembali berkumandang di telinganya.
‘Keliatan, Lia. ’
Aurellia mendengus pelan.
“Keliatan apanya…”
Dia bangkit dan masuk ke kamar mandi, mandi lebih lama dari biasanya. Air dingin mengalir di kepalanya, tetapi tidak cukup untuk mengusir pikirannya. Bahkan meski terdengar suara air, nama itu masih terngiang.
Alvaro.
Setelah mandi, Aurellia berbaring di tempat tidur sambil menatap atap. Ponselnya ada di samping, tetapi dia tidak menyentuhnya. Dia hanya memeluk bantal sambil memiringkan badannya.
“Dia kenapa ya nggak balik ke kafe? ” gumamnya dengan suara hampir tak terdengar.
Mungkin dia sibuk.
Mungkin hanya mampir sekali.
Mungkin dia yang berlebihan berharap.
Aurellia menutup matanya sejenak, lalu membukanya lagi dengan rasa tidak nyaman. Ada sedikit kekecewaan yang tidak ingin dia akui. Bukan kekecewaan besar, hanya… sedikit gangguan yang mengganggu di dada.
“Seharusnya aku bersikap biasa aja,” katanya pelan. “Seharusnya. ”
Tapi nyatanya, malam itu terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Aurellia memiringkan badannya, melirik jendela yang tertutup tirai tipis. Cahaya lampu jalan di luar membentuk bayangan samar di dinding kamar. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
“Sekiranya dia datang lagi, ya syukur,” ujarnya, berusaha meyakinkan diri sendiri. “Kalo nggak… ya udah. ”
Namun, sebelum akhirnya terlelap, satu pikiran muncul jelas di benaknya.
Besok.
Entah mengapa, Aurellia berharap—dalam hati—bahwa besok, pintu kafe itu akan terbuka lagi dan sosok yang hari ini tidak muncul, akan berdiri di sana seolah tidak pernah absen.
Dan harapan kecil itu, tanpa disadari, membuatnya tersenyum tipis sebelum akhirnya terlelap.
Di pagi berikutnya, alarm kos berbunyi keras.
Alvaro terbangun dengan kepala berat, namun pikirannya jelas mengenai satu hal.
Kafe.
Dia duduk di tepi tempat tidur, menatap kameranya.
“Niat gue kemarin terhambat,” ujarnya pelan. “Tapi nggak buat hari ini. ”
Alvaro berdiri, mengambil jaketnya, dan keluar dari kamar kos dengan perasaan tertekan.
Bukan karena pekerjaan.
Tapi karena kehadiran seseorang yang tanpa disadari telah menjadi berarti.
Hanya tinggal memutuskan fokus yang mana.