NovelToon NovelToon
Meminjam Ibu Sehari

Meminjam Ibu Sehari

Status: tamat
Genre:Janda / Duda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:33.5k
Nilai: 5
Nama Author: ririn rira

Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.

"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang baru?

Jehan meraih tangan Sebria, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan seluruh keyakinan yang ia miliki. Di bawah pendar rembulan yang lembut, ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang selama ini ia simpan rapat-rapat.

"Aku sudah melewati banyak malam dengan memikirkan bagaimana cara mengatakannya," ucapnya dengan nada yang bergetar namun penuh ketulusan. "Tapi berdiri di sini bersamamu, aku sadar bahwa tidak ada waktu yang lebih tepat selain sekarang. Aku tidak butuh dunia yang sempurna, aku hanya butuh kamu di sampingku untuk menghadapi dunia itu."

Sebria tertegun, matanya mulai berkaca-kaca bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa lega yang luar biasa. Ketakutan yang sempat membayangi pikirannya perlahan luruh, digantikan oleh kehangatan yang menjalar hingga ke dada.

"Aku juga," Bisik nya pelan, sebuah senyuman tulus merekah di bibirnya. "Sejauh apa pun kita melangkah, pastikan tujuannya selalu sama."

Mereka berdiri diam sejenak, membiarkan angin malam menjadi saksi atas janji yang tidak lagi terucap sebagai tanya, melainkan sebuah jawaban mutlak. Malam yang dingin itu berakhir dengan pelukan hangat, sebuah simbol bahwa pencarian mereka telah usai di titik yang sama.

...----------------...

Setiap sudut rumah terasa lebih terang bagi Byan. Bocah laki-laki itu tidak bisa berhenti bersenandung kecil sambil menyusun balok mainannya.

Jehan sudah menceritakan kalau Sebria akan jadi ibu putra nya. Setelah pulang dari kantor, ia memantapkan diri untuk memberitahu Byan kalau nanti Sebria bisa di bawa pulang.

"Pa, nanti Tante Bria pakai baju warna apa?" Tanya Byan berulang kali dengan mata berbinar. Baginya, Sebria bukan sekadar calon ibu baru, melainkan teman bercerita yang selalu punya waktu untuk mendengarkan kisahnya tentang koleksi mainan dan sekolah.

Ada kehangatan yang berbeda sejak Sebria hadir. Rumah yang biasanya hanya berisi tawa laki-laki antara ia dan ayahnya, kini mulai dihiasi aroma masakan enak dan tawa renyah yang menenangkan selain dari Bi Merry dan asisten rumah tangga. Rumah suram itu kini memiliki jantung.

Saat Jehan mengacak rambutnya sambil tersenyum lebar, Byan tahu kebahagiaan mereka kini akan lengkap. Ia tidak sabar menunggu saat Sebria resmi tinggal bersama mereka, mengubah kata 'tante' menjadi 'Mama' dalam doa-doa malamnya.

"Sudah malam, tidur sana."

"Iya, pa..."

Lampu kamar sudah padam, tapi senyum di wajah Byan masih benderang. Ia menarik selimutnya hingga ke dagu, merasakan tekstur kain yang sejuk menyentuh kulitnya.

Dunia luar mulai hening, hanya menyisakan suara jangkrik dan detak jam dinding yang teratur. Byan memejamkan mata, tak ada beban, tak ada cemas hanya ada rasa hangat yang menjalar di dada saat ia perlahan tenggelam ke dalam pelukan mimpi, siap melanjutkan petualangan hebatnya di sana.

...----------------...

Keona berdiri di depan dinding kaca dari lantai dua sembilan ruang kantornya, membelakangi sosok yang tengah duduk di sofa. Bagi dunia, pria itu adalah calon pengantin pria yang sempurna—mapan, santun, dan penuh perhatian. Namun bagi Keona, pria itu tetaplah orang yang pernah memadamkan binar di mata kakaknya beberapa tahun lalu.

Masa lalu bukan sekadar cerita yang bisa dihapus dengan kata maaf. Ia masih ingat malam-malam saat Sebria menangis dalam diam, mencoba mengumpulkan serpihan harga diri yang hancur setelah perpisahan mereka dulu. Sekarang, pria itu kembali, membawa cincin dan kata-kata manis yang terdengar seperti gema kosong di telinganya.

Keona hanya memberikan jawaban satu kata dan tatapan tajam yang tak luntur. Baginya, restu bukan tentang seberapa keras seseorang mengetuk pintu, tapi tentang membuktikan bahwa ia tidak akan menjadi alasan kakaknya menangis untuk kedua kalinya. Selama keraguan itu masih ada, lampu hijau itu akan tetap terkunci rapat.

"Saya serius, Keo."

Keona memutar tumitnya sambil menghela nafas. "Apa jaminannya anda tidak melukai kakak saya lagi? Kakak saya, wanita yang mungkin tidak bisa memberikan anda sesuatu."

"Sebria tidak perlu memberikan apa pun pada saya, dia cukup menerima tidak perlu memberi. Saya tidak menjanjikan apa-apa tapi akan saya usahakan apa pun itu untuk Sebria." Jehan menatap yakin tanpa intimidasi. Kini ia merasakan bagaimana rasa nya dulu Sebria bertahan didalam hubungan mereka tanpa restu orang tua nya.

"Jujur saja seandainya Kakak saya ingin memulai kehidupan baru saya setuju tapi kalau memulai dengan orang yang lama. Saya ragu." Keona menatap dalam tanpa berkedip.

Jehan berdiri memberikan Keona waktu berpikir. Tapi pria beranak satu itu tidak akan tinggal diam. Apa pun akan ia usahakan untuk Sebria.

Matahari mulai condong ke barat, membiaskan cahaya jingga yang hangat di atas aspal kota. Jehan mengemudikan kendaraannya dengan tenang, membelah kemacetan sore yang mulai merayap. Di radio, instrumen jazz mengalun rendah, bersaing lembut dengan suara klakson dan desis angin di jendela.

Sesampainya di sudut jalan yang ia tuju, sebuah toko bunga kecil dengan kanopi hijau menyambutnya. Jehan memarkirkan kendaraannya, menarik napas panjang, dan turun. Aroma mawar, lili, dan tanah basah langsung menyergap indranya begitu pintu kaca terbuka dengan denting lonceng yang akrab.

"Sudah mau pulang?"

"Hm, tumben pulang cepat." Sebria sambil beberes bersiap untuk tutup.

"Habis mampir ke kantor Keona."

Pergerakan Sebria terhenti lalu beralih berdiri dihadapan Jehan yang duduk di kursi. "Ada apa?"

Jehan tersenyum tapi sinar matanya memancarkan kelelahan. "Aku datang membahas tentang kita tapi dia masih ragu, aku paham pemikirannya seandainya posisi di balik mungkin aku juga melakukan hal yang sama."

Sebria mendaratkan tubuhnya di kursi. Duduk sejajar saling berhadapan. "Aku coba bicara sama dia nanti di rumah."

Jehan mengangguk. "Kalau Keona dan Mama kamu setuju. Kita langsung menikah tidak perlu ada acara lamaran resmi. Tidak ada yang mendampingi aku juga." Ucapnya getir tersenyum tipis. Sekarang Jehan tahu rasanya tidak memiliki keluarga.

"Iya aku paham, nanti aku bicara sama mama dan Keona."

...----------------...

Lampu gantung di tengah ruangan sengaja diredupkan, menyisakan pendar kuning temaram yang hanya menyentuh sudut-sudut sofa kulit.

Di luar, suara rintik hujan menghantam kaca jendela secara ritmis, namun di dalam sini, keheningan justru terasa lebih bising.

Hanya ada suara detak jam dinding yang seolah sengaja melambat, menghitung setiap detik yang berlalu tanpa kata-kata.

Empat cangkir teh di atas meja kayu sudah berhenti mengepul, membiarkan uapnya hilang ditelan udara malam yang dingin.

Tidak ada televisi yang menyala. Tidak ada dering ponsel. Di ruang keluarga ini, suasana terasa begitu padat oleh sesuatu yang tidak terucap. Sebuah percakapan yang tertahan di ujung lidah, menunggu momen yang tepat untuk memecah sunyi yang mencekam.

Sebria meletakkan cangkir tehnya yang sudah dingin ke meja dengan denting pelan yang terasa memekakkan telinga di ruang yang senyap itu. Ia menarik napas panjang, matanya menatap lurus ke arah bingkai foto keluarga di dinding. "Aku ingin bicara serius sama papa, mama dan Keo." Ujarnya sambil menarik nafas panjang. "Kalian pasti sudah mengenal Byan dan Jehan. Mereka orang dari masalalu aku. Yang datang lagi. Disini Jehan sekali lagi membawaku ke dalam hubungan yang serius. Sejujurnya aku tidak mengerti perasaan ku seperti apa, tapi yang jelas aku merasa, aku ingin memulai lagi awal yang baru sama Jehan dan Byan."

"Papa bukan orang baik, Nak. Papa juga salah satu pelaku yang menyakiti mu mungkin lebih dalam dan besar dari apa yang pernah Jehan lakukan. Tapi papa juga tidak ingin kamu terluka lagi dengan orang yang sama terlebih ada bukti hidup dari kesalahannya itu. Disini papa ingin kamu bahagia kalau jalan yang kamu pilih kali ini bisa buat kamu bahagia papa setuju."

Sebria mengangguk. "Jika terjadi lagi maka ini yang terakhir, Pa..."

"Mama juga sepemikiran sama papa kamu, tapi apa bila kamu terluka lagi. Maka pulanglah, ini tempat kamu." Sambung Ibu Sandrina. "Mama ingin menebus apa yang hilang dari kamu, Nak. Kamu bahagia, maka mama senang."

"Tapi kakak tahu, 'kan? Dia pria yang pernah membuat kakak sakit hati. Aku saksi hidup bagaimana kakak hancur sendirian. Aku tidak mau itu terjadi." Keona berucap tegas. "Seandainya kakak ingin memulai awal yang baru kenapa tidak dengan orang baru juga?"

Sebria menarik nafas panjang sambil menatap redup adiknya. "Kakak mengerti maksud kamu, Keo." Ucapnya lalu menarik gelas dari atas meja. Menghirup teh sejenak lalu meletakan kembali. "Jehan memang pernah menyakiti kakak tapi kakak sudah berdamai dengan semua itu, disini bukan hanya tentang Jehan tapi juga ada Byan. Memulai dengan yang baru, kakak harus mengenalnya lagi. Apa dia bisa menerima kakak dengan baik? Walau pun hasil pemeriksaan kakak semua baik tapi fakta nya selama tiga tahun bersama Deric. Kakak belum pernah hamil. Orang baru, apa dia bisa menerima kekurangan itu? Kalau bersama Jehan, kakak sudah mengenalnya lebih dari siapa pun. Sudah ada Byan di antara kami. Dan kakak cukup memperlakukan dia dengan baik serta menyayangi anak itu."

1
Ayuwidia
Dari sinopnya udah nyesek 🥺
Human
kisah yang menarik,Sebria tokoh wanita yang hebat dan tangguh,mentalnya kuat banget menghadapi segala cobaan
Ririn Rira: terimakasih kak mampir di buku baru lagi ya...
total 1 replies
Joey Joey
sebenarnya kamu tidak pgen pisah tapi karena keadaan and kamu tidak mau melibatkan terlalu jauh maka dengan kepahitan kamu melepaskan nya
Lisa
Wah udh ending nih..ceritanya bagus banget Kak..akhirnya Bria bahagia bersama keluarga kecilnya..
Lisa: Sama² Kak..oke Kak..
total 2 replies
Lisa
Ternyt Deric yg bermasalah..dia tdk mau mangakuinya..y sudahlah lebih baik mereka berpisah & Bria menemukan kebahagiaannya.
Ayuwidia
Benar, Bria nggak perlu tahu kehancuran sang mantan suami yg diakibatkan oleh keegoannya sendiri. Kelak, semoga Deric juga temukan bahagia bersama wanita yg bisa menerima dia apa adanya.

Makasih, Kakak Ririn, sudah menuliskan kisah yg indah ini. Tep semangat berkarya 🥰
Ayuwidia: sama2, Kak Ririn 🥰
total 2 replies
Ayuwidia
Alhamdulillah, akhirnya kebahagiaan mendekap erat Sebria setelah luka yang dialaminya bertubi-tubi 🥰
Indhira Sinta
bagus ceritanya,lain daripada yg lain
Ayuwidia
Harusnya, kamu dulu jujur saja, Ric. Banyak jalan yg bisa ditempuh untuk memiliki keturunan. Tapi ya sudahlah, semua dah terlanjur. Makasih sudah membebaskan Bria, sehingga dia bisa bebas dan sekarang bahagia dengan kehidupan barunya.
Lisa
Selamat y utk Bria & Jehan..sehat² y Bria sampai HPL nya nanti..
Ayuwidia
Lagi-lagi ikut bahagia sekaligus terbaru, luka yg dulu menganga sekarang terobati sempurna. Selamat buat kalian, Jehan--Bria 🥰
Ayuwidia: ralat: terharu, keyboardnya kerasukan Kak 😄
total 1 replies
Lisa
Koq cepat Kak..udh mau ending 🤭
Ririn Rira: iya kak buku meminjam ibu sehari emang di targetkan bab nya pendek
total 1 replies
Ayuwidia
Loh, kok cepet banget, Kak?
Ayuwidia: Rama-Hawa jg cuma dikit bab nya, Kak. Buat mengisi ramadan aja kaya' nya 😅
total 2 replies
Lisa
Syukurlah Byan udh ga ngerasa takut lg..bahagia selalu y utk kalian bertiga
Ririn Rira: terimakasih kak🥰
total 1 replies
Dewi Eka
menarik
Ayuwidia
Semoga kelak jika Mama Bi punya dedek bayi, Byan bisa menerima dan nggak cemburu 😉
Ririn Rira: Byan tetap jadi prioritas mama B 😄
total 1 replies
Lili Inggrid
banyak banyak up ..cerita bagus banget😊
Lisa
Ya Byan jgn dengerin kata² yg g baik itu..Mama B sangat menyayangimu.
Ayuwidia
Mama B itu tulus mencintai kamu, Byan. Jadi, meski kelak mama B punya baby, cintanya nggak pudar
Ayuwidia
Waduh, kalimat yg memprovokasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!