Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah-olah alam pun ikut berduka atas apa yang akan terjadi di kediaman Mahendra. Hana berdiri di depan cermin besar di kamar tamu, menatap pantulan dirinya yang terlihat asing.
Matanya masih sedikit sembab, namun ia telah memulas wajahnya dengan riasan yang lebih tegas dari biasanya. Lipstik berwarna merah bata menghiasi bibirnya, memberikan kesan berani yang menutupi kerapuhan hatinya yang baru saja hancur berkeping-keping semalam.
Suara deru mobil mewah yang berhenti di halaman depan membuat jantung Hana berdegup kencang. Ia tahu, detik ini adalah garis awal dari sebuah perlombaan yang tidak pernah ia inginkan, sebuah drama di mana ia dipaksa menjadi penonton di rumahnya sendiri.
Hana melangkah keluar ke balkon lantai dua. Di bawah sana, Arlan sudah berdiri di samping pintu mobil, membukakannya dengan gerakan yang sangat sopan, sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak ia lakukan untuk Hana. Dari dalam mobil, keluarlah seorang wanita dengan gaun putih gading yang tampak sangat elegan. Maura.
Maura turun dengan senyum kemenangan yang tersirat di sudut bibirnya. Ia hanya membawa koper kecil, sementara beberapa asisten rumah tangga diperintahkan Arlan untuk mengangkut barang-barang Maura yang lain ke dalam rumah. Arlan tampak begitu sigap, seolah wanita di depannya adalah porselen rapuh yang harus dijaga.
"Hana, turunlah!" teriak Arlan dari bawah. Suaranya terdengar tidak sabar, namun ada nada antusiasme yang menyakitkan di telinga Hana.
Hana menarik napas dalam, mengembuskannya perlahan untuk mengusir sesak di dada, lalu turun menuruni tangga kayu jati itu dengan langkah yang anggun namun berat. Di ruang tamu, Ibu Mira sudah menunggu dengan tangan terbuka, menyambut Maura seolah-olah ia adalah menantu yang selama ini ia idam-idamkan, sementara Hana hanyalah bayangan yang mengganggu pemandangan.
"Selamat datang di rumahmu, Maura," ujar Ibu Mira sambil memeluk wanita itu erat. "Mulai hari ini, rumah ini akan terasa lebih hidup. Ibu sudah lama menantikan momen ini."
Hana sampai di lantai bawah. Maura segera melepaskan pelukan Ibu Mira dan berjalan menuju Hana. Ia mengulurkan tangan, sebuah cincin emas murni melingkar di jari manisnya, cincin yang modelnya hampir serupa dengan milik Hana, namun tampak jauh lebih berkilau karena masih baru.
"Halo, Mbak Hana. Mohon bimbingannya, ya. Aku masih harus banyak belajar menjadi istri yang baik untuk Mas Arlan," ucap Maura dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut, namun tatapan matanya menyimpan duri.
Hana menatap tangan itu selama beberapa detik sebelum akhirnya menyambutnya dengan dingin. "Selamat datang, Maura. Semoga kau bisa betah di sini."
Arlan mendekat, tanpa ragu merangkul bahu Maura di depan mata Hana. "Maura akan menempati kamar utama di lantai dua, Hana. Kamar yang dulu kita tempati."
Kalimat itu bagai petir di siang bolong bagi Hana. "Apa? Tapi Mas, kamar itu adalah kamar kita. Semua barangku, obat-obatanku, dan kenangan kita ada di sana selama lima tahun!"
"Hana, jangan egois!" potong Ibu Mira dengan cepat. "Kamar itu adalah yang paling besar dan memiliki sirkulasi udara terbaik. Maura sedang dalam masa persiapan kehamilan. Dia butuh kenyamanan maksimal agar tidak stres. Kamu kan sudah pindah ke kamar tamu, jadi tidak ada masalah kan?"
Arlan menghindari tatapan mata Hana yang mulai berkaca-kaca. "Barang-barangmu sudah dipindahkan oleh Bi Ijah ke kamar bawah tadi pagi, Hana. Aku pikir kau tidak keberatan demi kelancaran program Maura."
Hana mengepalkan tangannya di balik lipatan gaunnya. Rasanya seperti diusir dari istananya sendiri secara perlahan namun pasti. Maura menatap Hana dengan kilat mata yang seolah berkata, 'Tempat ini sekarang milikku'.
~~
Malam pertamanya dengan kehadiran Maura adalah neraka yang nyata. Ruang makan yang biasanya sunyi kini penuh dengan tawa Maura.
Wanita itu sangat pintar mengambil hati Arlan, bercerita tentang pencapaiannya di kantor dan proyek-proyek besar yang ia tangani. Arlan mendengarkan dengan tatapan memuja, sesuatu yang sudah lama hilang dari tatapannya untuk Hana.
"Mas, besok bukankah jadwalku untuk kontrol rutin ke dokter kandungan?" suara Hana memecah tawa mereka, mencoba mengingatkan Arlan akan eksistensinya.
Arlan terdiam sejenak, tampak terganggu. "Ah, aku lupa. Tapi kontrolmu kan hanya rutin biasa. Bisakah kau pergi sendiri menggunakan taksi? Aku harus menemani Maura karena ini konsultasi pertamanya sebagai istriku. Ibu bilang dokter ini sangat ahli untuk kesuburan."
"Taksi?" Hana tertawa getir. "Lima tahun kau selalu menemaniku tanpa absen, Mas. Dan sekarang kau memintaku pergi sendiri di saat aku paling membutuhkan dukunganmu?"
"Hana, jangan mulai!" Ibu Mira menyela tajam. "Maura adalah prioritas sekarang. Dia yang akan membawa ahli waris. Kamu sudah diberi kesempatan lima tahun dan gagal. Biarkan Arlan fokus pada yang bisa memberikan hasil nyata!"
Hana berdiri, meninggalkan meja makan tanpa menyelesaikan makanannya. Ia masuk ke kamar tamunya yang sempit, mengunci pintu, dan ambruk di atas tempat tidur. Ia menangis tanpa suara, membenamkan wajahnya di bantal agar isaknya tidak terdengar sampai ke kamar utama yang kini ditempati Arlan dan Maura.
Saat ia sedang berada di titik terendah, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk. Itu adalah Adrian Gavriel.
"Kadang, untuk melihat cahaya, kita harus berani berjalan menjauh dari kegelapan yang pura-pura hangat. Jangan biarkan dirimu layu di tempat yang tidak menghargai akarmu."
Hana tertegun. Kata-kata itu seolah menamparnya agar bangkit.
Keesokan harinya, setelah Arlan, Maura, dan Ibu Mira pergi, Hana memutuskan untuk menemui Adrian di Kafe Serenity. Di sana, Adrian memberikan sebuah map cokelat yang mengubah cara pandang Hana selamanya.
"Ini adalah profil Maura, Hana. Dia bukan sekadar wanita pilihan ibumu. Dia punya agenda tersembunyi untuk menguasai Mahendra Group. Dia ambisius dan licik," ujar Adrian tegas. "Berhenti memohon cinta pada Arlan. Bekerjalah denganku. Aku tahu kau lulusan akuntansi terbaik. Gunakan otakmu untuk membalas mereka, bukan air matamu."
Sore harinya, saat Hana kembali ke rumah, ia disambut oleh sandiwara Maura. Maura mengadu pada Arlan bahwa ia merasa sakit perut karena stres melihat Hana keluyuran.
"Hana! Kau dari mana saja?" bentak Arlan saat Hana baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu. "Maura butuh teman dan kau malah keluyuran! Jangan karena kau cemburu, kau jadi tega membahayakan kesehatan calon anakku!"
Hana hanya menatap Arlan dengan tatapan kosong. Rasa sakit itu kini telah berubah menjadi mati rasa.
"Mulai sekarang, Mas," ucap Hana pelan sambil berhenti di tangga. "Lakukan apa pun yang kau mau. Rawatlah istrimu yang hebat itu. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Tapi ingat, setiap pilihan ada harganya."
Hana berlalu, masuk ke kamarnya dan membuka map dari Adrian. Ia melihat data-data kecurangan yang mulai dilakukan Maura di perusahaan Arlan. Hana tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung arti bahwa ia tidak akan lagi menjadi cadangan yang diam.
"Jika kau ingin anak, Mas, aku akan memberimu 'anak' yang berupa kehancuran bisnismu sendiri melalui tangan wanita pilihanmu," bisik Hana di tengah kesunyian kamar tamunya.
...----------------...
**Next Episode**....
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.