Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam tanpa kata
Tak!
"Ku taruh di sini."
Suara rendah pemuda itu, membuat si gadis terkesiap. Ia sudah sadar sejak beberapa waktu lalu, namun tubuhnya masih terasa berat. Tepat pada bagian paha kanannya berdenyut pelan. Tatapan si gadis mengikuti setiap gerakan pemuda tersebut tanpa berkedip sedikitpun, sampai ketika sebuah mangkuk kayu diletakkan di atas meja kecil di samping ranjang.
"Makanlah."
Gadis itu tidak langsung menyentuhnya, ia hanya terdiam menunggu. Sementara itu, si pemuda mulai mundur beberapa langkah, seolah paham bahwa jarak adalah satu-satunya hal yang akan membuatnya tetap berada di ruangan itu tanpa ditolak.
"Aku tidak akan memaksa," katanya, "tapi.. kau perlu makan, jika ingin cepat pulih."
Tatapan gadis itu mulai turun ke mangkuk. Uap tipis tampak mengepul, membawa aroma sedap yang kuat. Seperti wangi rempah serta kaldu daging yang direbus lama. Tidak ada aroma yang aneh atau pun aroma logam di udara.
Ia mulai mengambil sendok dengan gerakan yang tenang, tapi matanya tetap mengawasi pemuda itu. Setiap suapan, penuh dengan antisipasi. Pemuda itu tidak mendekat, ia hanya duduk di kursi kayu sudut ruangan, menunggu dalam diam.
"Namaku Ethan, Ethan Hale," katanya memecah keheningan yang menekan, "dan ini rumahku."
Gadis itu berhenti menyuap, ia mengangkat pandangannya perlahan, menatap wajah si pemuda dengan sorot mata yang dingin dan tajam.Tatapan yang seolah terbiasa membaca ekspresi wajah lawan bicaranya. Namun ia tidak menjawab, dan melanjutkan kembali mengunyah makanan.
Pemuda yang menyebut dirinya Ethan itu tidak terlihat tersinggung. Ia hanya mengangguk kecil, seolah memang tidak mengharapkan balasan.
"Jika perlu sesuatu kau bisa memanggilku, tapi untuk beberapa jam ke depan, aku akan sangat sibuk."
Ethan mulai beranjak, kemudian berjalan menuju pintu kecil di sisi rumah, lalu menghilang di baliknya. Gadis itu menunggu beberapa detik setelah suara langkah kaki Ethan menjauh. Baru setelahnya ia menghela napas.
...----------------...
Hari-hari berikutnya terasa berjalan lambat. Gadis itu tidak pernah benar-benar sendirian, tapi juga tidak pernah merasa ditemani sepenuhnya. Ethan memang sering berada di rumah, tapi lebih sering lagi pergi sejak pagi. Ia membawa keranjang anyam berisi botol-botol kecil dan ikatan tanaman kering, lalu kembali lagi ketika matahari mulai condong ke arah barat.
Gadis itu memperhatikan semuanya, termasuk ruang kerja kecil di balik sekat kayu dekat dengan ruang kamar yang beberapa hari ini ditinggalinya.
Tuk Tuk Tuk!
Hingga pada suatu sore, ketika suara lesung dan alu terdengar, gadis itu bangkit perlahan dari atas ranjang. Paha kanannya masih terasa sakit, tapi cukup kuat untuk menopang tubuh beberapa langkah ke depan. Ia berdiri di balik pintu yang setengah terbuka.
Ethan duduk membelakangi dirinya, menumbuk akar-akar kering dengan gerakan ritmis. Tepat di atas meja kayu, terlihat botol-botol kecil berjajar rapi, masing-masing diberi tanda sederhana. Tidak ada senjata, maupun alat-alat yang mencurigakan.
Ia melihat ruas jemari tangan pemuda itu. Tampak sedikit menebal. Begitu pun dengan otot lengan si pemuda yang terlihat menonjol, ketika mendapat tekanan. Namun gerakan tangannya cukup terampil dan hati-hati. Seperti sudah terbiasa melakukan hal tersebut.
"Hufttt.."
Ethan berhenti menumbuk sejenak sembari menghela napas. Lalu menuang bubuk hasil tumbukan ke dalam botol. Gadis itu mundur perlahan sebelum ketahuan. Entah mengapa, ia mulai tertarik melihat kegiatan si pemuda yang telah menyelamatkan nyawanya.
...----------------...
Malam berikutnya, Ethan pulang lebih lambat dari biasanya. Namun ia membawa sesuatu selain keranjang ramuan, sebuah bungkusan kain.
"Aku membelinya di pasar," katanya canggung sembari meletakkan bungkusan kain tersebut di atas meja, "sepertinya ukuran pakaianku terlalu besar untukmu."
Gadis itu menatap bungkusan yang Ethan letakkan di atas meja kecil samping ranjang tidur. Namun ia tidak langsung menyentuhnya.
"Pakailah, semoga ukurannya pas."
Ethan berbalik, hendak melangkah keluar kamar, seolah memberi ruang. Tapi gadis itu sudah lebih dulu meraih serta membuka bungkusan kain itu. Tampak beberapa setel pakaian sederhana, serta pakaian dalam yang baru. Tidak terlihat mahal dan tidak pula mencolok.
"Terima kasih" ujar si gadis lirih.
Sebuah kalimat singkat yang membuat Ethan menoleh lalu tersenyum tipis. Malam itu, mereka makan malam seperti biasanya, tanpa ada sedikitpun perbincangan.
...----------------...
Hingga pada hari berikutnya, Ethan sudah pergi pagi-pagi sekali. Gadis itu duduk di kursi dekat jendela, mengamati jalan setapak yang menelan sosok pemuda itu sedikit demi sedikit. Pikirannya menghitung kemungkinan jika luka di pahanya mulai membaik, ia bisa kembali berjalan normal. Sungguh ia ingin pergi secepatnya dari rumah tersebut. Lalu kembali ke markas dan bertemu dengan rekan-rekannya. Walaupun resiko besar tetap akan menyulitkan.
Akan tetapi, situasinya tentu sangat belum memungkinkan. Memang lukanya sudah mulai menutup. Namun masih terasa sakit jika terlalu mendapat tekanan saat berjalan.
"Ughhh!"
Suara gadis itu terdengar tertahan, ketika ia mulai sedikit demi sedikit berjalan keluar rumah melalui beberapa anak tangga. Kini di hadapannya terlihat halaman yang tak begitu luas, namun banyak ditumbuhi aneka macam tanaman dengan berbagai macam warna dan bentuk yang berbeda, seperti sengaja dibudidayakan. Sejenak si gadis tertegun, mengamati beberapa macam dedaunan warna-warni yang diikat pita berwarna hitam pada setiap pokok batangnya.
Hingga ketika Ethan pulang sore itu, ia mendapati si gadis sedang duduk sembari menyeka keringat, setelah hampir seharian ini, berlatih berjalan di luar rumah. Cahaya senja sore itu, menyentuh rambut hitam panjangnya.
"Bagaimana lukamu?," tanya Ethan.
Si gadis pun menoleh, "Membaik," jawabnya singkat.
Ethan hanya mengangguk sembari membereskan barang bawaannya ke dalam rumah. Hampir seharian bekerja, membuatnya ingin segera membersihkan diri.
Kabut malam pun mulai turun perlahan, api kecil menyala di perapian sederhana. Seakan membuat suasana dalam rumah kayu itu menjadi kian menghangat.
"Namaku Serra Lune."
Ethan yang duduk tak jauh dari posisi si gadis, menoleh dengan cepat dan jelas tidak menyangka. Namun pemuda berambut sebahu itu tidak ingin bertanya lebih jauh, juga tidak meminta penjelasan.
"Senang bertemu denganmu.. Serra," katanya pelan.
Untuk pertama kalinya, sejak beberapa hari ia berada di rumah itu, gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Serra Lune, mulai bisa sedikit mempercayai pemuda bernama Ethan tersebut.