Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis suci
Pagi itu udara di ruang teh terasa lebih kaku dari biasanya. Sinar matahari jatuh miring melewati jendela tinggi, menerangi porselen putih dan uap tipis dari cangkir-cangkir yang belum tersentuh. Elenna berdiri tidak jauh dari pintu, membawa keranjang kecil berisi bunga yang baru saja ia pilih dari taman. Ia tidak berniat masuk. Hanya lewat.
Namun, namanya dipanggil.
“Elenna,” ujar Marquess tanpa menoleh.
Ia berhenti.
“Masuklah.”
Elenna berjalan mendekat, langkahnya tenang seperti biasa. Di meja bundar itu duduk Marquess, Lilith dengan gaun pagi berwarna gading, Alberto di sisi kanan, dan Louis yang bersandar santai dengan ekspresi yang sulit ditebak. Kael tidak ada.
Marquess meletakkan cangkirnya dengan hati-hati. “Festival Gadis Suci akan dilaksanakan tiga hari lagi. Perwakilan keluarga harus diumumkan hari ini.”
Elenna sudah tahu arah pembicaraan itu bahkan sebelum kalimat berikutnya keluar.
“Aku memutuskan Lilith yang akan mewakili keluarga Marquess.”
Sunyi. Tidak ada kejutan di wajah Elenna. Tidak ada protes. Hanya napas yang sedikit lebih dalam sebelum ia menunduk.
“Keputusan yang tepat, ayah,” katanya pelan.
Lilith menoleh padanya dengan senyum lembut yang terlalu sempurna. “Adik… kau tidak kecewa?”
Pertanyaan itu terdengar seperti perhatian, tetapi terasa seperti ujian.
Elenna mengangkat wajahnya. Senyum tipis terbentuk, terlatih, rapi. “Kenapa aku harus kecewa?” jawabnya ringan. “Kakak adalah satu-satunya yang pantas untuk posisi itu.”
Alberto memperhatikan ekspresi Elenna beberapa detik lebih lama dari yang lain. Louis hanya mengangkat alisnya tipis.
Lilith tertawa kecil, merendah dengan anggun. “Aku masih merasa kurang. Festival itu tidak hanya soal tampil di altar dan menerima air suci. Semua keluarga bangsawan akan hadir. Gaun yang dikenakan harus sederhana, tetapi tetap elegan. Tidak boleh berlebihan, tetapi tidak boleh tampak murahan.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Elenna lagi.
“Aku dengar kau cukup pandai memilih kain dan bunga. Maukah kau membantuku?”
Itu terdengar seperti permintaan.
Tetapi semua orang di meja tahu itu bukan benar-benar pilihan.
Elenna merasakan sesuatu di dadanya bergerak pelan. Bukan marah. Bukan sedih yang baru. Hanya rasa yang sudah terlalu sering datang hingga hampir terasa biasa.
“Tentu,” jawabnya tenang. “Aku akan membantu semampuku.”
Alberto langsung menyela, nadanya hangat. “Kalau begitu aku juga bisa ikut membantu. Aku mengenal beberapa penjahit terbaik di ibu kota. Kita bisa—”
“Kurasa itu tidak perlu.”
Louis memotong dengan suara ringan, tetapi terdengar cukup jelas.
Semua mata beralih padanya.
“Festival Gadis Suci,” lanjut Louis santai, “adalah urusan para gadis. Akan terasa aneh jika terlalu banyak pria ikut campur dalam pemilihan gaun dan hiasan kepala.”
Alberto menegang sedikit. “Aku hanya ingin membantu.”
“Tentu,” balas Louis dengan senyum tipis. “Tapi terkadang membantu berarti tahu kapan harus mundur.”
Udara di antara mereka mengeras.
Marquess akhirnya angkat bicara. “Cukup.”
Nada suaranya tidak tinggi, tetapi mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
“Kalian semua akan membantu Lilith selama persiapan festival, tetapi Elenna yang menjadi pendamping Lilith."
Ia berhenti, lalu menambahkan dengan lebih tegas, “Kau akan memastikan semua kebutuhannya terpenuhi. Gaun, aksesoris, bahkan detail kecil yang mungkin terlewat.”
Kata mendampingi terdengar indah.
Namun, maknanya jelas.
Melayani.
Elenna menunduk. “Baik, Ayah.”
Tidak ada yang bertanya apakah ia bersedia
Tidak ada yang bertanya apakah ia punya urusan lain
Seolah keberadaannya memang hanya untuk melengkapi keputusan yang sudah dibuat.
Lilith tersenyum puas, tetapi menutupinya dengan nada manis. “Aku benar-benar beruntung memiliki adik sepertimu.”
Kalimat itu terdengar seperti pujian.
Entah kenapa, rasanya lebih seperti penegasan posisi.
Lilith baru saja berdiri ketika Louis ikut bangkit dari kursinya. Gerakannya santai, tetapi penuh kesadaran akan dirinya sendiri.
“Jika boleh jujur,” katanya ringan sambil menatap Lilith dengan tatapan yang terlalu fokus untuk disebut biasa, “aku rasa tidak ada yang perlu kau khawatirkan.”
Lilith berhenti sejenak. “Tentang apa?”
“Festival itu,” jawab Louis. “Kau akan menjadi gadis paling cantik di altar. Bahkan tanpa gaun istimewa pun, perhatian akan tetap tertuju padamu.”
Kata-kata itu diucapkan tanpa ragu. Bukan sekadar basa-basi sopan seorang tamu. Ada keyakinan di dalamnya.
Lilith tersenyum, pipinya merona tipis seperti seorang gadis yang tersipu karena pujian tulus. “Tuan Louis terlalu melebih-lebihkan.”
“Aku jarang melebih-lebihkan,” balasnya tenang.
Alberto yang sejak tadi berdiri di sisi meja menggeser langkahnya sedikit. Ekspresinya tetap ramah, tetapi ada ketegangan samar di rahangnya.
“Lilith memang cantik dari sananya,” ujarnya, nadanya hangat namun lebih tegas. “Tanpa perlu dibandingkan dengan siapa pun.”
Louis menoleh pelan. Senyum tipisnya tidak hilang. “Aku tidak sedang membandingkan.”
“Tapi terdengar seperti itu,” jawab Alberto.
Sunyi tipis turun di antara mereka. Bukan pertengkaran. Belum. Hanya gesekan kecil yang terasa.
Marquess tidak ikut campur. Ia hanya memperhatikan sebentar, lalu berjalan lebih dulu keluar ruangan seolah urusan itu terlalu kecil untuk dibahas.
Lilith tertawa kecil untuk mencairkan suasana. “Kalian ini. Seolah aku tidak bisa berdiri sendiri tanpa diperdebatkan.”
Namun, jelas Ia menikmati perhatian itu.
Elenna berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Keranjang bunga masih berada dalam genggamannya. Uap teh yang tersisa memudar perlahan di udara.
Di dinding dekat jendela, permukaan kaca memantulkan bayangan seluruh ruangan. Lilith berdiri di tengah, cahaya matahari jatuh tepat di rambutnya. Gaun gadingnya tampak semakin cerah. Di satu sisi ada Louis dengan postur tegak dan tatapan percaya diri. Di sisi lain Alberto, lebih hangat, lebih terbuka, tetapi tetap berdiri cukup dekat.
Dan sedikit di belakang mereka, ada dirinya.
Elenna melihat pantulan dirinya yang terlihat samar-samar. Gaunnya lebih sederhana, rambutnya ditata rapi, tetapi tanpa hiasan. Luka tipis di wajahnya tidak sepenuhnya tertutup cahaya. Ia memperhatikan bayangan itu lebih lama dari yang seharusnya.
Di dalam pantulan kaca, jarak di antara mereka terlihat jelas.
Lilith berada di tengah-tengah, sedangkan dirinya di tepi.
“Ayo, Adik,” suara Lilith memanggil, lembut “Kita punya banyak yang harus dipersiapkan.”
Elenna mengalihkan pandangannya dari kaca. Senyum tipis kembali terpasang di wajahnya.
“Ya, Kak.”
Ia melangkah maju. Bukan untuk berdiri sejajar, melainkan otomatis mengambil posisi setengah langkah di belakang Lilith.
Louis memperhatikan sekilas, mungkin menyadari jarak itu. Mungkin juga tidak.
Alberto sempat menatap Elenna sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya menarik napas pelan dan mengikuti langkah mereka.
Saat pintu ruang teh tertutup, cahaya matahari tetap menyinari meja kosong.
Dan di koridor panjang itu, langkah mereka terdengar berirama. Lilith berjalan di depan dengan ringan, sedangkan Louis dan Alberto berjalan di masing-masing kedua sisinya.
Dan Elenna, tepat di belakang mereka, berjalan tanpa suara, membawa keranjang bunga yang harum, seperti bayangan yang bahkan tidak perlu diperkenalkan.