Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.
Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 19 - Tamparan
Steven keluar dari minimarket dengan membawa dua eskrim di tangannya—memakan salah satunya tanpa peduli orang - orang memandangnya.
Bukan karena mereka tahu dia adalah Steven, melainkan karena penampilan acak - acakan Steven, dengan kaosnya yang robek di beberapa bagian dan wajah juga lengannya yang kotor. Orang memandangnya dengan tatapan aneh mungkin berpikir Steven adalah orang gila.
Sementara Steven justru malah tersenyum puas merasa selama ini penyamarannya tidak pernah gagal sama sekali. Kecuali ketika Alexa yang mengacaukannya waktu itu.
"Nih!" Steven menyodorkan satu es krim yang dibelinya pada Alexa.
Alexa yabg tengah duduk di bawah pohon sontak berdiri saking terkejutnya melihat penampilan cowok yang berdiri di hadapannya itu.
"K - kamu ngapain?!" pekik Alexa setelah sadar kalau yang ada di hadapannya adalah Steven.
Steven turut duduk di kursi masih menikmati es krimnya dengan satu tangannya yang belum menekuk karena Alexa belum menerima es krim itu.
Alih - alih segera mengambil es krim itu, Alexa justru diam mematung—setengah menahan tawa.
"Mau nggak ini?" Steven kembali menawarkan.
Alexa pun kembali duduk di samping Steven meski sedikit menjaga jarak dan menerima es krim itu—menikmatinya dengan senang hati.
Dalam beberapa menit pertama, mereka hanya memandang mobil dan orang - orang yang lalu lalang di sekitar mereka tanpa ada yang memulai pembicaraan. Namun tidak ada kecanggungan karena sama - sama fokus dengan es krim mereka.
"Soal Bang Abi, aku minta maaf." Steven membuang stik es krimnya ke dalam tong sampah.
"Kenapa minta maaf?" balas Alexa tanpa menoleh.
"Ya karena dia keterlaluan. Aku akan minta dia minta maaf langsung." Steven mengacungkan jempolnya meyakinkan.
Alexa tersenyum kecil melihat tingkah Steven yang berusaha membela Abi.
"Tidak usah. Lagian, nggak ada yang salah kok. Semua ucapannya benar." Alexa berusaha terbiasa.
"Tapi dia nggak berhak ngomong begitu loh."
"Kalau berita sudah masuk ke media, itu berarti siapa pun berhak membicarakannya, Steven. Itu aturan tidak tertulis."
Steven tampak mengangguk setuju. Karena bagaimana pun, hal sekecil apa pun tentangnya juga selalu diliput media tanpa peduli itu baik ataupun buruk. Dan semua orang jelas membicarakannya tanpa peduli kebenarannya.
Hanya saja, Abi mengatakan itu karena Alexa terlibat dengan Steven—bukan sebagai publik yang menikmati kabar media.
"Tapi, kayaknya kamu tadi marah," cetus Steven asal.
"Nggak ada yang marah kok. Aku cuma... ngerasa sesak setiap ada yang bahas soal ayah." Suara Alexa memelan beradu dengan kendaraan yang lewat di jalan raya.
"Itu dia masalahnya! Bang Abi bikin kamu sesak," pekik Steven menekankan kalimatnya.
Alexa langsung melirik tajam karena suara keras Steven membuat mereka mendapat tatapan dari orang asing.
Seperti kebiasaannya, Steven menyatukan kedua bibirnya menutup rapat - rapat mulutnya setelah merasa mendapatkan teguran dari Alexa walaupun hanya dari tatapan yang setajam silet—seolah siap menyay4t pergelangan tanga Steven.
Lagi, Alexa memandang Steven keheranan karena penampilan buluk Steven.
"Ngomong - ngomong, konsepnya apa sih? Kamu beneran kaya gembel loh," komentar Alexa.
"Penyamaranku nggak pernah gagal 'kan?" Steven menyombongkan diri.
"Nggak gagal sih... tapi nggak berhasil juga. Lagian kenapa kaos kamu jadi sobek - sobek?"
Mungkin, satu - satunya yang membuat orang tutup mata adalah karena wajah cemong Steven kaos gembel yang Steven kenakan. Itu pada dasarnya kaos yang sama yang seharusnya dia gunakan untuk latihan.
"Aku tadi minjam gunting sama penjual kopi buat ngerobek kaosku," jelas Steven jujur.
"Terus, sekarang ngapain di sini?"
"Mau bicara sama kamu."
"Kamu 'kan latihan."
"Aku udah keluar dari NOVA." Kepala Steven langsung menunduk.
Bukan karena merasa kecewa atau menyesal. Dia hanya berpikir apa reaksi orang tuanya saat tahu kalau Steven keluar dari NOVA tanpa kejelasan dan bicara begitu saja di hadapan semua orang.
Tak ada suara yang keluar dari mulut Alexa setelah pernyataan Steven barusan.
Ketika Steven menoleh, Alexa sedang memandangnya dengan stik es krim di tangannya dan mulut yang terbuka lebar. Reaksinya cukup aneh karena Steven tidak pernah tahu kalau Alexa adalah orang yang ekspresif.
"Kamu syok?" celetuk Steven.
"Kok bisa kamu keluar - keluar begitu saja?" Alexa menggeser pantatnya agar duduk tepat di sampingm Steven meminta penjelasan.
"Aku dan Bang Abi selalu berantem. Aku capek. Jadi aku udahin aja."
"Tapi kamu vokalisnya loh."
"Memang. Dan Fire Corp nggak akan bingung mencari vokalis baru."
Steven mengatakan semuanya dengan begitu entengnya seolah hanya karena dia bilang ingin keluar, maka itu langsung sah secara resmi Steven keluar dari NOVA.
Padahal jika ditelaah lebih dalam, Steven kemungkinan sedang melanggar kontrak kerjanya.
"Kamu pikir semudah itu?" bisik Alexa.
Steven cukup terhibur melihat ekspresi wajah Alexa yang tampak seperti sedang berusaha memberitahunya konsekuensi keluar dari NOVA.
"Lalu memangnya kamu pikir aku nggak baca kontraknya sebelum tanda tangan?" Steven membalas.
"Bukan 'gitu. Tapi... bukannya—"
Alexa tak melanjutkan ucapannya ketika melihat seorang wanita mengenakan masker dan kacamata—bersama dengan pria yang memakai seba hitam di belakang wanita paruh baya itu.
Steven yang masih menunggu Alexa melanjutkan ucapannya, seketika mendongak untuk melihat apa yang Alexa liat di belakangnya.
Wanita itu langsung menarik merah baju Steven dan...
PLAK!
Suara tamparan yang mendarat di pipi kiri Steven begitu nyaring membuat wajah Steven terhempas ke kanan.
Beberapa saat, dia tampak syok dan tak bereaksi sama sekali sampai akhirnya kepalanya bergerak untuk melihat wanita yang menamparnya itu.
"Mama..." gumamnya pelan.
"Kita pulang sekarang!" ucap wanita itu, menurunkan kacamata hitam yang dikenakannya sedikit—memandang Steven dengan wajah garang.
Steven menoleh pada Alexa yang masih diam di tempat tak berkedip saat memperhatikan mamanya. Mungkin, Alexa juga cukup syok dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Karena melihat Steven ditampar di depan umum.
Atau mungkin, karena Alexa baru tahu bahwa Steven adalah putra dari aktris terkenal, Cassandra Ivy.
"Mama bilang, pulang sekarang!" Wanita itu menarik tangan Steven.
Masalahnya, Steven cukup ragu meninggalkan Alexa yang masih menatap lurus—matanya tidak mengikuti ke mana perginya Steven dengan ibunya.
Tiba - tiba, Alexa memegangi perutnya dan satu tangan lainnya memegang mulutnya seolah menahan diri agar tidak muntah. Dengan cepat, dia berlari ke arah selokan.
"Sebentar, Ma." Steven menepis tangan ibunya pelan dan menghampiri Alexa.
"Kamu nggak papa?" tanya Steven khawatir.
"Steven kamu..." Wanita tua itu memandang putranya tak percaya.
Mengerti apa yang dipikirkan mamanya, Steven langsung berdiri tegak sambil menggelengkan kepalanya seolah menyanggah pikiran ibunya tentang dirinya.
"Dia—"
"Mama nggak mau dengar apa pun di sini! Itu memalukan, Steven!" [ ]