*merried for revenge
bukan ajang perlombaan ini hanya sekedar balas dendam , balas dendam antar saudara yang tak kunjung padam.
liyan menatap nanar HP yang baru saja di banting hingga berserakan di lantai. emosi nya memuncak dan tak terkendali karena sang kekasih meninggalkan liyan demi memilih bertunangan dengan musuh bebuyutannya.
"5 tahun kita pacaran kau malah memilih laki laki sialan itu karena dia di pewaris. " umpat nya tertahan di antara rahang yang sudah mengeras
"brengsek!! "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
...
...
Puing Obsesi Chelin
"Aaaaaaaaaakh...!!!"
Pekikan histeris bercampur tangis pecah, menggema di seluruh sudut ruangan mewah yang seharusnya tampak elegan itu. Kamar yang menjadi saksi bisu kemewahan hidup Chelin kini berubah menjadi zona perang. Benda-benda mahal yang ada di sana tidak lagi memiliki harga di mata pemiliknya; semuanya menjadi pelampiasan emosi yang meledak-ledak. Skincare bermerek yang tertata rapi di atas dressing table kini berhamburan, menjadi korban amukan yang tak terkendali.
"Kenapa... kenapa harus begini?! Hhh..." Tangisnya terdengar sangat pilu, menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.
"Kalian jahat... aku sakit... aku menderita di sini!" ucapnya sambil memukul-mukul dadanya sendiri, berusaha meredam sesak yang seolah ingin meledakkan paru-parunya.
"Kalian jahat, Ge!! Tega-teganya kamu bicara begitu sama aku!"
Chelin masih terus meracau dalam isak tangis yang menyesakkan. Pertemuannya dengan Leon di Kenjiro Resto tadi benar-benar menghancurkan sisa-sisa harapannya. Hatinya dilanda rasa kecewa yang luar biasa pahit. Bukan pertemuan penuh intimidasi seperti itu yang dia inginkan. Dalam ingatan Chelin, Leon adalah sosok pria yang sangat lembut, manis, dan selalu memanjakannya. Tapi apa yang dia temui tadi? Leon telah menjelma menjadi sosok asing yang dingin, tidak tersentuh, dan penuh ancaman. Kemana perginya Leon yang dulu selalu memberikan perhatian tulus padanya? Mengapa yang tersisa hanya tatapan tajam yang menusuk?
Kamar yang tadinya bersih dan tertata sempurna menyerupai galeri seni itu sekarang acak-acakan tak berbentuk. Tisu berserakan di mana-mana seperti salju kotor. Bau minyak wangi dari berbagai botol yang pecah bercampur menjadi satu, menciptakan aroma menyengat yang menyesakkan indra penciuman. Bedak, lipstik, dan alat makeup lainnya hancur berceceran di lantai yang kini basah akibat tumpahan cairan skincare yang botolnya pecah berkeping-keping.
Sangat menyedihkan. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi model cantik asal Shanghai ini. Meskipun kariernya cemerlang dan kehidupan pribadinya tak pernah terendus media, kenyataan di balik pintu kamar ini jauh di luar ekspektasi netizen. Tidak ada yang menyangka bahwa model papan atas dari keluarga kaya raya ini adalah jiwa yang gagal total dalam urusan percintaan.
Namun, di balik kerapuhannya, tersimpan sisi gelap yang mengerikan. Obsesinya membuat Chelin merasa berhak melakukan apa pun sesuka hatinya. Dia sangat membenci perempuan mana pun yang berani menyukai Liyan, apalagi jika perempuan itu ternyata juga dicintai oleh laki-laki tersebut. Baginya, itu adalah penghinaan yang tak termaafkan.
Tangisnya perlahan mulai mereda, menyisakan napas yang tersenggal-senggal. Chelin mendongak, menatap pigura besar yang tergantung di dinding kamarnya. Di sana, terpampang wajah pria yang selama ini menjadi pusat semestanya—Liyan. Hatinya kembali terasa remuk saat membayangkan pria di foto itu kini telah resmi dimiliki oleh wanita lain. Hancur, bukan? Ketika kamu hanya pernah mencintai satu orang seumur hidupmu, namun dipatahkan begitu saja oleh kenyataan yang sangat kejam.
Seketika, wajah Chelin berubah datar. Tatapannya yang tadi sayu mendadak mendingin. Rasa tidak ikhlas di hatinya mulai membara, menggantikan kesedihan dengan kobaran dendam. Ia berpaling dari pigura itu, merangkak di atas kasur untuk mengambil ponselnya yang tadi dilempar sembarangan.
Jemarinya mulai menari-nari dengan lincah di atas layar ponsel, mengetikkan instruksi dengan penuh kebencian yang tertahan. Ia mengirimkan sebuah foto dan beberapa pesan singkat kepada seseorang yang selama ini menjadi "kaki tangannya".
Chelin: T
olong cari tahu semua tentang orang ini. Jangan sampai ada yang terlewat sedikit pun. (Mengirimkan sebuah foto)
Setelah menekan tombol send, Chelin menyeringai tipis. Jika Leon melarangnya mengganggu, maka dia akan melakukannya dengan cara yang lebih halus, atau mungkin... jauh lebih menyakitkan.
...----------------...
Aku nggak peduli!" jawab Adeline dingin. Suaranya datar, tanpa emosi, memotong kalimat Leon yang baru saja ingin menjelaskan alasan kepulangannya yang larut malam.
"Maaf ya, aku tadi nggak ngabarin dulu. Kerjaan numpuk banget, belum lagi ada meeting mendadak bareng klien," ucap Leon lagi, mencoba meluluhkan kekakuan istrinya. Namun, Adeline tetap bergeming. Ia membuang muka, seolah keberadaan Leon di kamar itu hanyalah angin lalu.
Leon hanya bisa pasrah dan menarik napas dalam. Dadanya terasa sesak menghadapi Adeline yang sekarang menjadi begitu keras kepala. Dulu, Adeline adalah perempuan yang sangat manis. Meski pernikahan mereka berawal dari perjodohan dan motif balas dendam Leon kepada Liyan, Adeline selalu menyambutnya dengan hangat. Dulu Leon terlalu cuek, bahkan cenderung dingin pada istrinya. Sekarang, keadaan justru berbalik seratus delapan puluh derajat. Leon mati-matian berusaha sabar dan ingin memulai semuanya dari awal, namun benteng yang dibangun Adeline tampak terlalu tinggi untuk ditembus.
Leon sadar, luka dan kekecewaan yang ia tanam di hati Adeline sudah terlalu dalam. Luluh dalam semalam adalah kemustahilan.
Di bawah guyuran shower, Leon membiarkan air dingin membasahi tubuhnya. Ia berharap rasa dingin itu bisa membekukan pikiran-pikiran kacau yang terus berputar di otaknya. Masalah datang bertubi-tubi, pundaknya terasa semakin berat. Semenjak Liyan menikah dengan Zheya—perempuan yang dulu sangat dicintai Leon—hidupnya yang tenang berubah menjadi badai penuh penyesalan.
“Apakah ini karma?” pikirnya pedih. Tapi di sisi lain, ia melihat Zheya jauh lebih bahagia sekarang. Mungkin ini memang takdir terbaik bagi mereka, meski harus dibayar dengan kehancuran batinnya sendiri.
Suasana hati yang kacau ini menyeret ingatannya kembali ke malam terkutuk beberapa tahun silam.
Flashback
Malam itu di sebuah vila mewah, Leon melangkah menuju kamar Chelin. Ia ingin mengajak adik angkatnya itu mencari makan karena perutnya sudah mulai keroncongan.
Tok.. tok..
"Chel... Chelin?" panggilnya sambil mengetuk pintu kayu jati itu. Tak ada jawaban. "Chelin, kamu di mana? Chel?"
Pintu terbuka, namun bukan wajah Chelin yang muncul, melainkan Maura. "Ada apa, Kak?"
"Chelin ada, Maura?" tanya Leon.
"Chelin tadi keluar, Kak. Nanti kalau dia sudah kembali, aku kabari ya," jawab Maura sopan yang dibalas anggukan oleh Leon.
Pukul 19.30 malam. Leon berjalan menyusuri taman vila, dan tanpa sengaja, matanya menangkap dua sosok yang sangat ia kenali di bawah keremangan lampu taman. Itu Chelin dan Liyan. Rasa penasaran yang tinggi membuat Leon mendekat secara diam-diam, bersembunyi di balik pohon rindang yang berjarak sekitar enam meter dari mereka.
Di sana, di depan mata Leon, Chelin menyatakan perasaannya pada Liyan. Bukannya Leon tidak tahu kalau Chelin sudah lama menyukai Liyan, tapi tetap saja, melihatnya secara langsung membuat dadanya sesak. Cemburu itu ada, membakar hatinya, namun ia tetap menghargai Liyan sebagai sosok penting dalam hidupnya.
Namun, Liyan menolak Chelin mentah-mentah. Liyan mengaku menyukai wanita lain. Chelin hancur, ia menangis terisak dan memeluk Liyan, meluapkan seluruh emosinya.
"Maafkan Gege, Chelin. Gege sudah menganggapmu sebagai adik kecil kami," ucap Liyan kala itu sambil berusaha melepaskan pelukan Chelin.
"Jadi Gege tidak menyayangiku sebagai wanita?" tanya Chelin pilu.
"Gege menyayangimu sebagai adik..." jawab Liyan tegas, lalu berbalik pergi meninggalkan Chelin sendirian di kegelapan taman.
Chelin menangis sejadi-jadinya, menepuk dadanya berkali-kali seolah itu bisa mengurangi rasa sakitnya. Saat Leon hendak menghampiri untuk menenangkan, Chelin mendadak berlari menuju ke arah tebing karang di tepi laut. Khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk, Leon mengikutinya dalam diam.
Namun, langkah Leon membeku saat melihat Chelin menemui Gaby di tepi karang. Kedua gadis itu tampak berdebat hebat. Angin laut yang kencang menyamarkan suara mereka, tapi ekspresi Chelin terlihat sangat mengerikan karena amarah. Sebelum Leon sempat bertindak, pemandangan horor terjadi di depan matanya: Chelin mendorong Gaby ke laut lepas, lalu berlari pergi begitu saja dari sana.
Leon panik luar biasa. Ia berlari ke tepi karang, mencoba mencari sosok Gaby di tengah deburan ombak yang ganas, namun nihil. Pikirannya kacau. Ia tak menyangka wanita yang selama ini ia cintai sanggup melakukan hal sekeji itu.
Leon segera menuju pos keamanan untuk meminta pertolongan. Suasana mendadak ramai, petugas mulai melakukan pencarian ke area pantai. Bibir Leon kelu, ia tidak sanggup bersuara, apalagi saat melihat Liyan datang dalam keadaan kusut dan hancur.
Diam-diam, Leon menyalahkan dirinya sendiri atas hilangnya Gaby. Andai saja aku lebih cepat menghampiri Chelin, kejadian ini tidak akan pernah terjadi.
Di tengah pencarian Gaby, Maura datang membawa kabar baru yang mengejutkan: Chelin menghilang. Malam itu juga, mereka mencari Chelin. Hingga seorang saksi mengatakan melihat Chelin melompat dari karang yang sama. Mereka menemukan sepucuk surat pendek; Chelin ingin mengakhiri hidupnya.
Siapa yang patut disalahkan? Hati Leon yang hancur dan emosi yang tak terkontrol membuatnya melampiaskan semua kemarahan pada Liyan. Ia memuntahkan kata-kata kasar, menghajar Liyan habis-habisan tanpa ampun. Malam itu menjadi saksi perkelahian yang memutus hubungan persaudaraan mereka.
Sejak saat itu, setiap kali rasa bersalah menghantui Leon, rasa bencinya pada Liyan justru semakin dalam. Ia memilih untuk diam dan menyimpan rahasia kelam itu sendirian. Dialah satu-satunya orang yang tahu cerita sebenarnya tentang kematian Gaby. Namun, mulutnya bungkam—entah karena rasa sayang yang terlalu dalam sehingga ia ingin melindungi nama baik Chelin, atau karena hatinya sudah terlalu hancur dengan kabar bahwa Chelin juga ikut meninggal dunia.
Leon memilih untuk mengubur ingatan itu dalam-dalam, meskipun setiap harinya, rahasia itu perlahan-lahan menggerogoti jiwanya.