When Gods Grow Bored berlatar di sebuah benua kuno "Nirenva" yang dilanda perang tanpa akhir, tempat kerajaan-kerajaan saling membantai atas nama para dewa yang pernah turun dan meminjamkan kekuatan mereka kepada umat manusia. Di dunia di mana nilai hidup diukur dari restu ilahi, Kai Jhoven: seorang anak tanpa berkah dan tanpa asal-usul tumbuh sebagai sosok terbuang, dipaksa bertahan di tengah kekacauan yang tidak pernah ia pilih. Ketika sebuah kekuatan asing akhirnya menjamah dirinya, Kai Jhoven terseret ke dalam pusaran konflik yang jauh lebih besar dari perang antar manusia: intrik ilahi, kekuasaan yang dipinjam, dan kebenaran kelam di balik mukjizat yang disembah dunia. Dalam perjalanan dari medan perang hingga jantung kekuasaan, takdir, kepercayaan, dan kemanusiaan diuji; sementara langit yang selama ini dipuja perlahan mulai retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jhoven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HEIAN WAR V.II (1)
...... Given Rhaos & Kai Jhoven in their 20s ......
Ruangan pribadi Giovanni dipenuhi tekanan yang berat. Didalamnya terdapat, Vergil, Melissa, Giovanni, Cassandra, Raamez, Kai, dan Given.
Melissa mulai menjelaskan maksud kehadiran mereka, dan alasan ingin membawa Kai beserta Given kepada Nolan Constantine.
"Serius? Melissa ! Apakah benar?? Savior Vladmir mulai melakukan pergerakan kembali? Setelah 2 tahun berdiam diri?" Tanya Kai dengan perasaan bercampur aduk.
"Ya.. Dan yang memimpin ekspansi Vladmir adalah.. Orang yang mungkin sudah kamu kenal Kai.. Komandan Besar.. Aizen Vitalii."
Kai terdiam, tubuhnya membeku. Seolah luka lama yang datang dan kembali menusuknya.
"Dan..? Jika tebakanku benar maka, Pihak Kerajaan memerintahkan Unit Komandan Besar Nolan untuk menghentikannya kali ini..?" Tanya Given menebak.
"Benar, bocah. Nolan beserta seluruh pasukan kami yang akan turun langsung untuk menghentikan ekspansi Vladmir." Balas Vergil.
"I-itu berarti.. Bukankah ini akan menjadi peperangan dataran Heian part 2 ? Setelah sebelumnya 2 tahun lalu, Komandan Besar Senno dikalahkan?" Lanjut Raamez.
"Ya.. Ini akan menjadi perang yang lebih besar dari sebelumnya. Kami juga berasumsi bahwa mereka tidak hanya datang membawa Aizen tetapi juga Virendra." Lanjut Vergil.
Giovanni menegang. "Virendra Honza.. Anak dari Narendra Honza, Salah satu Komandan Besar Kerajaan Vladmir saat perang Dolorosa."
"Hoo.. Kau tau banyak juga soal sejarah ya Pak Gio." Ucap Vergil.
"Tentu saja. Ayahku dulu mantan Savior yang bertarung dalam perang Dolorossa dibawah Komandan Besar Garo Jhoven. Ia terbunuh olehnya.. Narendra Honza."
"Wah.. Ini jadi semakin menarik." Balas Vergil tersenyum.
"Tunggu. Jika musuh membawa 2 Komandan Besarnya, maka kita juga harus minimal membawa 2 juga bukan? Siapa Komandan Besar yang akan membantu kita?" Tanya Given penasaran.
"0.. "
Semuanya tampak gelisah.
"Oi, apa maksudmu 0 , tuan penutup mata !? Tidak mungkin kan kita melawan 2 Komandan Besar musuh hanya dengan pasukan Tuan Nolan??" Teriak Kai.
"Tidak tidak.. Aku serius. Saat ini Kerajaan Solarius juga mulai melakukan pergerakannya. Mereka mengirim 5 Komandan Besarnya sekaligus untuk menyerang Khanox." Lanjut Vergil.
"HAHHH?!! 2 Kerajaan secara bersamaan menyerang?! Bagaimana mungkin ?!" Teriak Raamez.
"Mungkin saja.. Jika mereka bersekutu.. Solarius dan Vladmir ingin segera memusnahkan Khanox. Tapi kenapa? Kenapa tiba-tiba??" Tanya Given.
"Itulah yang sedang kami cari tahu.. Sangat mendadak sekali." Balas Melissa.
"Lalu siapa saat ini yang akan menghadapi pasukan 5 Komandan Besar Solarius? Dilihat dari jumlah Komandan Besar juga.. kita sedang kalah dengan mereka bukan? Berhubung kursi nemesis ke-6 masih kosong.." Tanya Cassandra.
"Siapa lagi yang akan pergi.. Jelas Nemesis 1-4 yang akan menghadapi Solarius. Mereka berniat menahannya dipegunungan Eldar. Membangun benteng yang tak terkalahkan diatasnya." Balas Melissa.
"Mount Eldar.. Wilayah pegunungan di selatan Khanox, benteng alami yang mampu menahan gempuran musuh selama ratusan tahun. Apakah kali ini benteng itu masih mampu menahan gempuran kekuatan 5 Komandan Besar Solarius? Kita tidak bisa meremehkan para Komandan mereka.. Informasinya sangat sedikit, namun Komandan Besar mereka yang paling terkenal adalah.. Arthur Pendragon. Komandan berdarah dingin, kekuatannya unik. Voice.. Ketika di berpidato didepan pasukannya, seluruh unit itu ajan mendapat buff segala aspek sebesar 150%. Selain ini, pasukan musuh yang mendengar suaranya akan kehilangan semangat bertarung.
Sebagai gambaran begini..
Ketika Arthur berpidato akan ada 2 efek :
-Bagi Pasukannya : Buff 150%
-Bagi Pasukan musuh : Penghapusan moral dan minat bertarung hingga hampir mencapai 0%.
Jadi Dia nyaris selalu menang dalam pertempuran, karena pasukannya lebih unggul secara atribut, moral dibanding musuh yang telah ketakutan.
Efek ini disebut 'Fear'."
Raamez menjelaskan situasi di Selatan.
"Wow.. Kamu tau banyak juga ya bang Raamez.. Tapi ini curang sih.. Buff Tim dan Fear pada musuh disaat bersamaan? Kekuatannya jelas sangat cocok digunakan untuk memimpin pasukan dalam jumlah besar.." Lanjut Kai berkeringat.
Vergil menyeringai.
"Heh.. Apa yang kalian takutkan.. Disisi kami juga ada Dia.. Nemesis no.1.. Sang Penghancur Berkah."
"A-Apa maksudnya itu...?" Tanya Kai kembali.
"Nemesis no.1, Sang Penghancur Berkah.. Komandan Besar.. Owen Bastianich." Gumam Given.
"Seperti julukannya. Berkahnya mampu menghapus efek berkah lainnya. Tidak permanen, tapi siapapun yang berdiri dihadapan Owen seperti sedang berdiri tanpa senjata." Balas Raamez
"Gila.. Dia seperti tidak terkalahkan dong.. Emangnya ada Dewa yang memiliki kekuatan seperti itu?" Tanya Kai penasaran.
"Dewa Khae’Thuun.. Dewa yang dipuji seluruh Khanox." Balas Vergil.
Semuanya tercengang, tidak menyangka bahwa ada manusia yang dipilih sang Dewa Primordial untuk diwarisi berkahnya.
"Jadi pada akhirnya, kalian ingin mengajak Kai dan Given dalam perang didataran heian ya? Aku tidak punya hak untuk menghentikan, semua tergantung pada keputusan kalian sendiri.. Kai, Given." Ucap Giovanni.
"Tentu saja aku akan ikut. Sudah 2 tahun sejak kejadian di Mooire.. Aku akan membalaskan dendam Pak Tua Garo !"
"Bagus, lalu bagaimana denganmu Ven?" Tanya Giovanni kembali.
"Ya, aku akan ikut. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengukur kemampuanku sudah sejauh apa."
Vergil mulai bergerak, "Kalau begitu ayo. Ini adalah perpisahan kalian dengan Rusville. Karena perang ini akan memakan waktu setidaknya setahun. Lalu setelah perang selesai, kalian akan mendaftar akademi Hishan bukan?"
Benar.. Perang besar ini tidak mungkin selesai dengan cepat.. Kalau begitu, ini akhirnya ya.. Perpisahan dengan teman-teman.. Bang Raamez, Pak Gio, Cassandra.. Lalu.. Bella dan.. Ingrid..
Giovanni berdiri mendekati Kai yang sedang merenung.
*Plak! Ia menepuk pundak anak muda itu.
"Hayo.. Apa yang kamu pikirkan Kai ? Ini mimpimu kan? Sejak awal kau datang ke Serikat, kau berniat mengumpulkan uang untuk bisa menuju Ibu Kota dan menjadi Savior.. Lantas apa yang membuatmu meragu sekarang? Ayo, pergilah ! Kami tidak akan kemana-mana, kembalilah saat kau sudah menjadi Savior terhebat ya!"
Kata-kata Pak Gio benar, itu kenyatannya. Namun.. semua kenangan yang telah mereka lalui dalam 2 tahun ini.. Canda tawa dikereta kuda saat perjalanan misi, makan bersama dikantin serikat, tangisan kegagalan, senyuman keberhasilan..
Semuanya begitu berarti bagiku
Kai memeluk Pak Gio dan menangis, ia berterima kasih atas segala jasa yang telah ia berikan.
Begitu pula dengan Given, pada akhirnya mereka berpamitan pada seluruh rekan Hunter Rusville, tangisan tidak dapat ditahan.
"Kaiii !!"
Ingrid berlari dari kejauhan, wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca.
*Hug!
Ia melompat dan memeluk tubuh Kai dengan erat.
"Kamu akan meninggalkanku lagi.."
"Maaf.. Ingrid.. Aku tidak-"
Ingrid mencium pipi Kai tanpa aba-aba. Membuat Kai tersipu malu.
"Jagalah dirimu baik-baik, Kai.. Jangan suka memaksakan lagi ya.. Aku gaada disana buat ingetin kamu.. J-jadi.. Jadi k-kamu harus bisa.. Mengerti batasanmu sendiri.. Yaa.." Ucap Ingrid lirih, menangis.
Kai memeluk Ingrid lebih erat. "Aku akan menjaga diri dengan baik.. Terima kasih buat segalanya Ingrid.. Tangisanmu buatku kala itu.. Benar-benar menyentuh hatiku.. Aku tidak akan pernah melupakanmu.."
Ditengah suasana itu, "KAAIII !!"
Bella melompat dan memeluk punggung Kai.
"Ingrid Curangg! Kenapa kamu duluan yang memeluk Kai ?! Aku juga mauu! Gantian dong."
"Wooow pelan-pelan Bella.. Sini biar aku peluk kauu, bocil nakal !"
*Hugg!
Kai mengangkat Bella dan memeluknya.
"Kai juga curang.. Kenapa kamu bisa jadi sebesar ini sih.. P-padahal dulu tinggi kita sama.. umurku juga lebih tua setahun darimu tau! Aku bukann bocil nakall ! Humph" Pipi Bella ikutan memerah.
"Hehe, bocilnya ngambek.. Makasih ya Bella.. Kamu juga penyelamat hidupku. Jika tidak ada buff mu dulu, aku sudah mati sekarang.. Aku juga akan selalu mengingat jasamu Bella. Jaga dirimu baik-baik ya!"
Mata Bella berkaca-kaca dan akhirnya menangis.
"HUAA!! KAMU GABOLE PERGI KAII , POKOKNYA GABOLEHH!" ucapnya merengek sambil memukul mukul Kai dengan tangan kecilnya.
"Yosh.. sudah sudah, ayo biarkan Kai pergi Bella.." Raamez mengambil Bella dari Kai.
"GAMAUU GAMAU! POKOKNYA KAMU HARUS KEMBALI LAGI LOH YAA, AKU AKAN MENUNGGUU ! KAII !"
"WKAKAKA! AKU AKAN KEMBALI ! Kami berangkat dulu yaa, Pak Gio, Cassandra, Bang Raamez, Bella, Ingrid dan teman-teman semua ! Jaga diri kalian baik-baik !"
Kai bersama Given pergi menaiki kereta kuda milik Vergil dan Melissa. Kepergian 2 pilar Rusville, dengan seribu kenangan yang ditinggalnya.
"Sepertinya Serikat akan menjadi sepi ya.."
"Ya.. Semuanya akan terasa berbeda mulai sekarang."