Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sop buah
Matahari siang merayap masuk melalui jendela kaca, membiaskan cahaya di antara kelopak mawar dan lili yang segar. Di pojok toko, di balik meja kayu tua yang masih beraroma tanah basah, Sebria meluruskan punggungnya sejenak. Akhirnya, waktu istirahat yang dinanti tiba.
Ia menarik semangkuk sop buah dingin ke hadapannya. Potongan buah naga yang merah pekat, melon hijau yang renyah, dan butiran kelapa muda berenang dalam kuah susu yang manis dan dingin. Saat sendok pertama mendarat di lidahnya. Sebuah ledakan kesegaran di tengah teriknya cuaca, ia memejamkan mata, menikmati kesunyian toko yang hanya diiringi musik jazz.
Ting !
Lonceng di atas pintu berdenting pelan. Sebria tersentak kecil, hampir menjatuhkan potongan stroberinya. Ia menoleh dan mendapati Byan terengah-engah. Keringat menetes dari ujung rambutnya yang lurus. Pipi putihnya agak kemerahan disengat matahari.
Anak itu tidak langsung bicara. Matanya yang bulat justru terpaku pada mangkuk sop buah di tangan Sebria lalu beralih ke deretan bunga matahari di sudut ruangan dengan binar penuh harap.
"Kamu belum di jemput?"
Byan mengangguk. Sambil memperhatikan bunga matahari yang kuning cerah. "Tante, aku boleh beli ini satu tangkai saja."
Sebria tersenyum. "Ambil saja tidak usah di beli. Khusus buat kamu gratis." Ia meletak mangkok sop buah ke atas meja.
Byan tersenyum senang lalu melangkah kecil menghampiri Sebria. Iris mata nya tertuju pada mangkok sop buah. Nampak segar dan menggiurkan. "Tante, ini es apa?"
"Kamu belum pernah lihat ini." Sebria terkejut padahal sop buah sering diminati anak seusia Byan. "Ini sop buah. Rasanya segar dan manis banyak buah juga di dalam nya. Kamu nggak pernah makan ini?"
Byan mengangguk. "Papa tidak membolehkan aku jajan sembarangan."
"Ha..." Sebria ternganga. "Ini tidak sembarang bahan-bahan nya jelas. "Jadi kamu tidak bisa mencicipi ini."
Sorot mata Byan meredup. Ada keinginan mencoba di raut wajahnya. "Aku mau tante." Ucapnya pelan nyaris berbisik.
"Yakin, tidak dimarah papa kamu?"
Byan mengangguk lalu duduk di depan Sebria. Ia berbinar melihat Sebria mengambil sendok baru.
"Jangan terlalu banyak."
Byan mengangguk. Lalu menyendok sop buah itu. Rasanya nyaman dan segar bagaimana bisa ia tidak tahu ada es senyaman itu.
...----------------...
Jehan memijit pelipisnya. Sudah satu jam Byan merengek ingin dibelikan es buah. Sebagai gantinya ia memberikan setangkai bunga matahari yang di dapatnya dari toko Sebria.
"Pa, ayo !"
Jehan menarik nafas panjang. Putranya ini memilih tidak pulang ke rumah tapi malah menemuinya di kantor. Beruntungnya hari ini Jehan tidak ada jadwal keluar.
"Papa pesan saja ya kamu tunggu disini." Jehan memberikan keputusan. Ia tidak menyangka jika Byan tahu dengan sop buah dan sudah memakannya di toko bunga. Sekarang anaknya itu merengek ingin memakannya lagi karena tadi di kasih sedikit oleh Sebria.
"Tapi es buahnya sama kaya di tempat tante bunga, 'kan?"
"Papa tidak tahu karena banyak yang jual sop buah."
"Tunggu, aku telpon tante bunga." Byan mengambil kartu nama yang sengaja di ambilnya dari atas meja Sebria. Jari-jarinya menekan angkat pada telpon atas meja kerja ayahnya. "Tante ini aku." Sahutnya langsung ketika suara Sebria sudah terdengar. "Dimana beli sop buahnya." Byan bertanya penuh semangat. "Terimakasih tante." Anak itu menutup telpon.
Byan memberitahu dimana Sebria membeli sop buahnya. Jehan berhenti sejenak dari pekerjaannya lalu menghubungi Delia sekretarisnya untuk memesan sop buah.
...----------------...
Setiap sore, denting lonceng di pintu Toko bunga Adree menandai kedatangan yang paling dinanti. Seorang anak laki-laki dengan seragam sekolah yang sedikit berantakan dan tas punggung yang tampak terlalu berat untuk bahu kecilnya.
Bagi sang pemilik toko, wanita yang jemarinya selalu beraroma rosemary dan tanah basah, kehadiran Byan adalah jeda manis di tengah rutinitas merangkai bunga mawar dan memangkas duri. Anak itu tidak pernah datang untuk membeli. Ia biasanya hanya duduk di kursi kayu pojok ruangan, di antara deretan pot lavender yang menenangkan, sambil menceritakan ujian matematikanya yang sulit atau kucing liar yang ia temui di jalan.
Sebria mendengarkan sambil terus bekerja, sesekali menyelipkan setangkai bunga matahari kecil ke kantong tas si anak sebagai hadiah keberanian karena telah melewati hari sekolah yang panjang.
Hari-hari mereka mengalir sederhana namun penuh warna. Sebria memberikan kehangatan lewat sapaan dan Byan memberikan keceriaan lewat cerita-cerita polosnya. Di toko bunga yang sunyi itu, mereka menemukan persahabatan yang mekar tanpa perlu banyak kata, layaknya benih yang tumbuh subur karena perhatian yang tulus.
...----------------...
Rintik hujan menerpa kaca jendela lantai tiga puluh. Lampu pendar menerangi meja dengan sebuah berkas terbuka menemaninya. Sementara pemiliknya berdiri tegak menghadap pantulan hujan yang tidak memburamkan kaca terbukti pemandangan dibawah sana terlihat menarik meski waktu sudah menunjuk pukul sebelas malam.
Akhir-akhir ini seolah tidak biasa. Ada sesuatu yang mengganjal namun belum dapat di terka. Apa itu? Suara helaan nafas mengisi kesunyian terasa cukup menenangkan. Jehan tidak menyangka sampai ke titik ini yang awalnya perusahaannya kecil menengah telah berkembang pesat bahkan sejajar dengan Laura grub.
Sop buah ...
Jehan membawa langkahnya ke depan kulkas mini. Ia baru teringat ada sop buah yang tidak habis dimakan Byan siang tadi. Tangan nya tergerak membuka pintu kulkas lalu mengambil mangkok sop buah yang masih banyak buahnya. Meski dingin tapi Jehan ingin mencicipi nya.
Tidak terlalu manis tapi segar. Buahnya manis dan matang sempurna. Kuahnya sedikit cair karena es batunya. Rasa dingin itu menjalar dari tenggorokannya sampai ke dada.
"Apa kabar kamu, Bria?"
Gumamnya pelan menatap kosong mangkok sop buah. Ingatannya mengambang saat masih di bangku kuliah. Sebria kerap kali mengajaknya memakan es buah.
"Ck, apa yang aku pikirkan. Kamu pasti sudah bahagia sekarang."
Jehan melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjuk pukul dua belas malam. Hujan masih belum reda tapi Jehan harus pulang.
...----------------...
Byan tertunduk melihat pintu toko Sebria tertutup rapat. Bahkan tirainya tidak terangkat. Padahal pagi sekali anak itu sudah bersemangat ingin menceritakan tentang hari kemarin.
"Kenapa Nak?" Bi Merry ikut turun dari mobil karena melihat anak majikannya mematung di depan toko.
"Tante bunga belum datang?"
"Sepertinya begitu, ya sudah nak Byan ke sekolah dulu ya nanti siang ke sini lagi setelah pulang sekolah."
Byan mengangguk lesu tidak bersemangat. Kakinya melangkah kecil dan pelan menuju mobil. Wajah ceria nya seketika berubah murung.
"Nanti siang tante bunga sudah buka, kan?"
"Iya mungkin tante bunga ada kesibukan lain pagi ini." Bujuk bi Merry.
Byan mengangguk sambil menurunkan kakinya ke tanah.