NovelToon NovelToon
Aku, Kamu, Dan Takdir

Aku, Kamu, Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Kisah cinta masa kecil / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Persahabatan / Berbaikan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita Karimah

Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.

Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 Kebenaran?

Kadang Allah menyembunyikan kebenaran, bukan untuk menjauhkan, melainkan agar hati siap menerimanya.

—Aldivano Athariz—

Hari-hari Celine berjalan seperti biasa—terlalu biasa, justru itu yang membuatnya gelisah.

Pagi datang seperti lembaran putih yang dipaksa tetap bersih, padahal ada noda kecil di sudut hati yang tak bisa ia hapus. Ia bangun, bersiap, pergi ke kampus, tersenyum pada orang-orang, mengerjakan tanggung jawabnya, lalu pulang dengan tubuh lelah dan pikiran yang entah kenapa selalu kembali pada satu hal: ketiadaan.

Aldivano.

Bukan karena ia benar-benar pergi. Bukan pula karena mereka bertengkar. Justru karena semuanya terlalu tenang—seperti danau yang permukaannya rata, tapi menyimpan arus di bawahnya.

Biasanya, Aldivano hadir seperti bayangan senja: tak mencolok, tapi selalu ada. Pesannya singkat, panggilannya jarang, tapi kehadirannya terasa seperti pagar yang menjaga jarak aman. Sekarang, pagar itu seperti digeser beberapa langkah ke belakang. Tidak hilang, hanya… menjauh.

Celine menatap layar ponselnya untuk kesekian kali hari itu.

Tidak ada pesan baru.

Ia menghela napas, seperti daun kering yang jatuh perlahan dari dahan—ringan di mata, berat di hati.

“Aneh,” gumamnya pelan. “Kenapa aku nunggu?”

Ia meletakkan ponsel di meja, lalu kembali membuka laptop. Namun huruf-huruf di layar seperti menari tanpa makna. Pikirannya melayang, berputar-putar seperti burung yang kehilangan arah pulang.

Reina yang duduk di sebelahnya melirik sekilas. Tatapan itu tidak lama, tapi cukup tajam untuk menangkap kegelisahan yang disembunyikan Celine di balik wajah tenangnya.

“Kamu nggak fokus,” ujar Reina pelan, suaranya seperti angin yang menyentuh permukaan air.

Celine tersenyum tipis. “Capek aja.”

Reina mengangguk, tapi jelas tak sepenuhnya percaya. Ia memilih diam, seperti seseorang yang tahu kapan harus menunggu waktu yang tepat untuk bicara.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan pola yang sama. Celine mulai merasakan kegelisahan itu tumbuh seperti benang halus yang melilit perlahan, nyaris tak terasa, tapi semakin hari semakin mengikat. Ia merindukan sesuatu yang tak pernah ia akui sebagai kehilangan.

Yang membuatnya semakin bingung adalah: kenapa ia merasa ditinggalkan, padahal ia sendiri yang pernah menjaga jarak?

Di sisi lain kota, Aldivano menjalani hari-harinya dengan ketenangan yang terlihat—namun hanya di permukaan.

Ia bangun sebelum subuh, menunaikan salat dengan khusyuk, lalu duduk lama di atas sajadah. Doanya tidak panjang, tidak bertele-tele, tapi selalu sama—seperti sungai yang mengalir di jalur yang itu-itu saja, namun tak pernah kering.

“Ya Allah,” bisiknya lirih, “jika aku memang diizinkan mencintainya, kuatkan aku untuk menunggu. Jika belum waktunya, jagalah hatinya… meski bukan bersamaku hari ini.”

Ia tahu. Ia selalu tahu.

Bahwa Celine adalah istrinya.

Ikatan itu sah, di hadapan Allah, meski dunia belum mengetahuinya. Meski Celine sendiri belum tahu. Rahasia itu seperti bara api yang ia simpan di telapak tangan—hangat, menyakitkan, tapi tak ingin ia jatuhkan sebelum waktunya tepat.

Aldivano bukan takut pada penolakan. Ia takut pada luka yang datang terlalu cepat. Ia takut kejujuran yang disampaikan tanpa kesiapan justru menjadi badai yang merobohkan ketenangan Celine.

Karena itu ia memilih jarak.

Bukan menjauh karena tidak peduli, melainkan mundur seperti langkah seorang penjaga yang tahu kapan harus memberi ruang agar yang dijaga bisa tumbuh.

Di kantor, Calvin memperhatikan perubahan itu dengan mata yang tak pernah abai.

“Kamu sengaja?” tanya Calvin suatu sore, ketika mereka duduk berhadapan, secangkir kopi di antara keduanya.

Aldivano menatap cairan hitam itu, seperti menatap bayangannya sendiri. “Sengaja.”

“Karena?”

Aldivano tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip garis lurus daripada lengkungan bahagia. “Karena cinta nggak selalu soal mendekat. Kadang, justru soal menahan.”

Calvin terdiam. Ia tahu cerita itu lebih dalam dari yang diucapkan. Ia juga tahu, Aldivano bukan tipe lelaki yang bermain-main dengan perasaan—apalagi dengan perasaan istrinya sendiri.

“Kamu yakin dia baik-baik aja?” tanya Calvin lagi.

Aldivano mengangguk pelan. “Aku doakan tiap hari.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi beratnya seperti gunung yang dipikul sendirian.

Sementara itu, kegelisahan Celine mulai menemukan bentuknya.

Ia mulai gelisah pada hal-hal kecil. Terkejut saat ponselnya bergetar meski hanya notifikasi biasa. Menoleh refleks setiap kali melihat motor yang mirip milik Aldivano. Jantungnya berdetak lebih cepat saat mendengar namanya disebut—seperti lonceng kecil yang berbunyi tanpa alasan jelas.

Suatu malam, Celine duduk di balkon kamarnya. Langit tampak luas, bertabur bintang seperti butiran doa yang digantungkan Allah di atas sana. Angin malam menyentuh wajahnya lembut, seperti tangan yang menenangkan.

“Kenapa aku jadi begini?” bisiknya pada diri sendiri.

Ia mengingat kembali jarak yang ia buat. Cara ia menahan diri. Cara ia menganggap semuanya aman selama tetap berada di batas. Namun kini, batas itu seperti dinding kaca—ia bisa melihat ke seberang, tapi tak bisa menyentuh.

Hatinya terasa seperti rumah dengan pintu yang tertutup rapat, tapi jendelanya terbuka lebar—membiarkan angin rindu masuk tanpa izin.

Celine menunduk, menekan dadanya pelan.

Detak itu… berbeda.

Bukan sekadar gugup. Bukan sekadar nyaman. Ada sesuatu yang lebih dalam, seperti arus laut yang menarik kaki tanpa aba-aba.

“Ini nggak benar,” katanya pelan. “Aku nggak boleh…”

Namun kalimat itu menggantung, seperti awan yang lupa menurunkan hujan.

Di waktu yang hampir bersamaan, Aldivano kembali duduk di atas sajadah. Malam itu doanya sedikit berbeda. Ada getar yang tak biasa di suaranya.

“Ya Allah,” ucapnya, “aku tahu Engkau Maha Mengetahui. Jika jarak ini membuatnya resah, kuatkan aku untuk tetap sabar. Jangan biarkan cintaku menjadi sebab kegelisahannya.”

Ia menunduk lama. Air mata jatuh tanpa suara, seperti embun yang memilih hilang sebelum pagi.

“Aku hanya ingin jujur di waktu yang Engkau ridai,” lanjutnya. “Bukan sekarang, jika sekarang belum Kau izinkan.”

Doa itu tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Tidak pada Calvin. Tidak pada siapa pun di keluarganya. Ia simpan seperti surat yang hanya Allah yang membacanya.

Hari demi hari, kegelisahan Celine semakin nyata.

Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri, pada doa-doanya, pada langit yang ia tatap setiap malam. Mengapa jarak itu terasa seperti kehilangan? Mengapa ketenangan yang dulu ia jaga kini terasa kosong?

Suatu sore, Reina akhirnya angkat suara.

“Kamu ngerasa ada yang berubah, kan?” tanyanya pelan.

Celine menatap sahabatnya. Tatapan itu seperti cermin yang memantulkan kegelisahan tanpa filter. Ia ingin menyangkal, tapi lidahnya kelu.

“Sedikit,” jawabnya akhirnya.

Reina tersenyum lembut. “Kadang, perasaan itu kayak air. Kalau ditahan terus, dia cari celah sendiri.”

Celine terdiam. Kalimat itu seperti simile yang tepat menggambarkan hatinya—air yang mencari jalan, meski dinding dibuat setinggi apa pun.

Di suatu malam yang tenang, Aldivano menerima pesan dari Calvin.

Dia mulai gelisah.

Aldivano membaca pesan itu lama. Jarinya mengetuk layar, lalu berhenti. Ia menutup mata sejenak.

“Ya Allah,” bisiknya, “apakah ini tandanya?”

Ia membuka ponsel, menatap nama Celine yang tertera jelas. Jarinya bergerak, lalu berhenti. Ia tahu, satu pesan saja bisa mengubah segalanya. Namun ia juga tahu, kejujuran tanpa kesiapan adalah pisau bermata dua.

Ia meletakkan ponsel.

Belum.

Belum malam ini.

Belum sebelum ia yakin, bukan hanya hatinya yang siap—tapi hati Celine juga.

Di kamar yang berbeda, di langit yang sama, Celine menatap ponselnya dengan dada berdebar. Ada keinginan kuat untuk menghubungi Aldivano. Bukan untuk menuntut. Hanya untuk memastikan: apakah ia masih ada di jarak yang sama?

Ponselnya bergetar.

Satu notifikasi masuk.

Nama yang sama.

Aldivano…

Celine menahan napas.

Namun layar hanya menampilkan satu hal:

Aldivano is typing…

Detik berlalu.

Tulisan itu menghilang.

Tidak ada pesan masuk.

Celine menatap layar itu lama, jantungnya berdetak seperti genderang yang dipukul terlalu keras. Ia tersenyum kecil, antara lega dan kecewa.

“Kenapa kita sama-sama diam?” bisiknya.

Di tempat lain, Aldivano menatap layar yang kosong. Senyum tipis terbit di wajahnya—bukan bahagia, tapi yakin.

Karena ia tahu,

ketika dua hati sama-sama menahan,

sesuatu yang besar sedang menunggu untuk lahir.

Dan malam itu berakhir dengan satu pertanyaan yang menggantung di udara,

seperti bulan yang setengah terang:

Jika kejujuran akhirnya tiba,

siapa yang lebih siap—hati yang menunggu,

atau hati yang baru berani mengakui?

1
Nita
Aku terlalu takut untuk mendekat..dan aku terlalu takut untuk menjauh...karena ak jgu Diam-diam mencintaimu..
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...
Nita Karimah: wahhh... siapa nih??
total 1 replies
Ai_Li
Saya mampir kak
Ai_Li: Mampir juga ya kak🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!