Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.
Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"
Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.
"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."
Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.
Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.
Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api di Alun-Alun dan Napas yang Tercekat
Pagi belum sepenuhnya terbit ketika teriakan pertama pecah dari alun-alun kota. Shen Yi terbangun karena suara kayu gerbang utama yang didobrak. Dia langsung lompat dari tempat tidur, Lian'er sudah berdiri di jendela dengan wajah tegang.
“Mereka datang,” kata Lian'er cepat. “Kerumunan besar. Obor menyala. Mereka teriak ‘Buka gerbang! Tabib gunung bawa kutukan!’”
Shen Yi mengenakan jubah luar dengan cepat. “Raden Arya sudah umumkan karantina. Mereka seharusnya takut, bukan berani serang.”
Lian'er menggeleng. “Ketakutan membuat orang berani salah. Cepat. Aula timur—pasien kita di sana.”
Mereka berlari menyusuri koridor kediaman bupati. Di luar sudah terdengar benturan dan teriakan. Tentara berjaga di gerbang dalam, tapi kerumunan di luar semakin besar—ratusan orang, pedagang, buruh, ibu-ibu membawa anak, semuanya berteriak marah.
“Tabib gunung! Keluar! Kau bawa penyakit ini!”
“Gerbang dibuka! Anakku sakit karena kalian!”
Shen Yi dan Lian'er sampai di aula timur. Dua puluh pasien sudah terjaga, beberapa mencoba bangun karena suara gaduh. Lian'er langsung memerintahkan murid sekte yang ikut mengawal untuk kunci pintu aula.
“Jangan biarkan siapa pun masuk,” katanya tegas. “Lindungi pasien dulu.”
Raden Arya muncul di pintu aula, wajahnya pucat, jubah tidurnya masih kusut. Di belakangnya, dua tentara memegang tombak dengan tangan gemetar.
“Mereka… sudah dorong gerbang. Beberapa pejabat bilang ini karena karantina. Mereka tuduh aku tutup kota untuk sembunyikan kematian ayahanda.”
Shen Yi melangkah ke depan. “Yang Mulia, biar aku bicara dengan mereka. Kalau tentara lawan, darah akan tumpah. Biar aku coba tenangkan.”
Raden Arya ragu. “Kau bisa terluka. Atau lebih buruk.”
Shen Yi menatapnya. “Kalau aku tak coba, darah pasti tumpah. Dan itu akan jadi akhir kota ini.”
Lian'er memegang lengan Shen Yi. “Aku ikut.”
Shen Yi menggeleng. “Kau lindungi pasien di sini. Kalau ada yang masuk, kau yang tahan.”
Lian'er ingin protes, tapi melihat mata Shen Yi—tekad yang tak bisa digoyahkan—dia akhirnya mengangguk. “Hati-hati. Kembali padaku.”
Shen Yi berjalan keluar aula, diikuti Raden Arya dan empat tentara. Saat mereka sampai di gerbang dalam, kerumunan sudah mendekat. Gerbang kayu besar mulai retak karena didorong dan dipukul dengan kayu balok.
Shen Yi naik ke tangga kecil di samping gerbang, berdiri di atas pagar agar terlihat oleh semua.
“Rakyat Kabupaten Surakarta!” teriaknya sekuat tenaga. Suaranya menggema di alun-alun yang mulai terang.
Kerumunan sedikit diam. Beberapa mengenali dia sebagai tabib gunung.
“Aku Shen Yi, tabib dari Gunung Qingyun! Aku datang karena Bupati sakit, bukan karena bawa penyakit! Penyakit ini sudah ada sebelum aku tiba—dimulai dari pelayan di kediaman bupati. Ini bukan kutukan dari gunung. Ini penyakit dingin yang menyebar lewat udara dan kontak. Kalau gerbang dibuka sekarang, penyakit ini akan keluar kota, ke desa-desa, ke keluarga kalian!”
Seorang pria dari kerumunan berteriak balik. “Bohong! Anakku sakit setelah kau datang! Kau dan isterimu bawa kutukan!”
Shen Yi menggeleng keras. “Aku rawat anakmu kemarin di gang pasar. Aku lihat bintik hitam di lehernya. Itu sama seperti yang ada di Bupati. Penyakit ini sudah ada sebelum kami tiba. Kalau kalian buka gerbang, kalian bawa penyakit itu ke luar—ke anak-anak kalian yang sehat, ke orang tua kalian, ke tetangga kalian!”
Kerumunan bergumam. Beberapa mulai ragu.
Raden Arya naik ke samping Shen Yi. “Rakyatku! Aku putra Bupati. Ayahanda sakit parah. Tabib Shen dan Nona Lian sudah rawat beliau. Mereka juga rawat anak-anak dan orang tua kalian di aula timur. Karantina ini untuk lindungi kalian, bukan untuk siksa kalian. Makanan dari gudang bupati akan dibagi gratis. Tabib Shen akan rawat siapa pun yang sakit. Tapi kalau gerbang dibuka sekarang… penyakit ini akan bunuh lebih banyak lagi.”
Seorang wanita di depan kerumunan berteriak. “Anakku sudah mati malam tadi! Karena kalian tutup kota, tak bisa bawa dia ke tabib lain!”
Kerumunan mulai bergolak lagi. Beberapa melempar batu kecil ke arah gerbang.
Shen Yi mengangkat tangan. “Aku tahu kalian marah. Aku tahu kalian takut. Aku juga takut. Istriku di dalam aula itu sedang rawat pasien. Kalau penyakit ini keluar, dia bisa sakit. Aku bisa sakit. Tapi kalau kita buka gerbang sekarang, kita bunuh lebih banyak orang. Biarkan kami coba sembuhkan. Beri kami waktu tiga hari lagi. Kalau tak ada kemajuan, kalian boleh tuntut aku. Tapi sekarang… tolong pulang. Lindungi keluarga kalian.”
Kerumunan diam perlahan. Beberapa mulai mundur. Tapi ketua pedagang yang kemarin protes muncul di depan, suaranya lantang.
“Kau janji tiga hari? Kalau tak sembuh, kau yang tanggung jawab! Dan kalau ada yang mati di karantina, darahnya di tanganmu!”
Shen Yi menatapnya langsung. “Aku janji. Tiga hari. Aku akan rawat sebanyak mungkin. Kalau gagal… aku yang tanggung jawab.”
Kerumunan mulai bubar pelan. Batu-batu berhenti dilempar. Tentara menurunkan tombak, tapi tetap waspada.
Raden Arya memandang Shen Yi dengan mata penuh rasa hormat dan beban baru. “Terima kasih… kau selamatkan situasi ini. Tapi tiga hari… itu waktu yang sangat singkat.”
Shen Yi mengangguk. “Aku tahu. Tapi itu waktu yang kita punya.”
Mereka kembali ke aula timur. Pasien bertambah jadi tiga puluh dua orang malam itu. Lian'er sudah kelelahan, tapi tetap oles ramuan dan beri minum penghangat. Shen Yi mulai akupunktur lagi, jarum demi jarum, titik demi titik.
Tapi saat tengah malam, seorang anak perempuan kecil di sudut aula tiba-tiba berhenti bernapas. Lian'er berlari ke sana, mencoba CPR, tapi sudah terlambat.
Shen Yi berlutut di samping anak itu. “Dia… sudah tak bisa diselamatkan.”
Ibu anak itu menangis tersedu. “Anakku… karena kalian tutup kota… dia tak bisa ke tabib lain…”
Lian'er memeluk ibu itu, air mata jatuh. “Maaf… kami coba sekuat tenaga.”
Shen Yi bangkit, wajahnya tegang. “Ini baru awal. Kalau tak temukan sumbernya besok… tiga hari tak cukup.”
Raden Arya masuk ke aula saat itu, wajahnya pucat. “Tabib… ada kabar buruk. Paman ayahanda mengumpulkan massa di luar gerbang. Mereka bilang kalau karantina dilanjutkan, mereka akan serang kediaman bupati. Mereka tuduh aku sengaja biarkan ayahanda mati untuk ambil jabatan.”
Shen Yi menatapnya. “Yang Mulia… apa kau masih ragu?”
Raden Arya menunduk. “Aku… takut. Kalau aku kalah, kota ini jatuh ke tangan paman. Dia tak akan karantina. Dia akan biarkan wabah menyebar demi untung dari obat palsu.”
Lian'er bangkit. “Kalau kau menyerah sekarang, wabah ini akan bunuh ribuan. Kau punya pilihan: takut kehilangan jabatan, atau takut kehilangan rakyat. Pilih sekarang.”
Raden Arya diam lama. Lalu dia mengangkat kepala. “Aku pilih rakyat. Besok aku umumkan karantina diperpanjang sampai penyakit hilang. Aku akan perintahkan tentara jaga ketat. Dan aku… akan bantu kalian cari sumber penyakit ini.”
Shen Yi mengangguk. “Terima kasih. Besok pagi kita mulai penyelidikan. Kita periksa sumur, sungai, pasar—semua yang bisa jadi sumber.”
Malam itu, aula timur penuh suara batuk dan isak. Shen Yi dan Lian'er tak tidur. Mereka rawat pasien demi pasien, jarum demi jarum, ramuan demi ramuan.
Di luar, kota mulai gelisah. Obor masih menyala di alun-alun. Kerumunan tak bubar sepenuhnya.
Dan di dalam tubuh beberapa pasien, bintik hitam terus menyebar pelan—seperti jam yang berdetak menuju akhir.
Shen Yi memandang Lian'er di tengah aula. “Kita harus temukan sumbernya besok. Kalau tidak… tiga hari tak cukup.”
Lian'er mengangguk. “Kita akan temukan. Bersama.”
Tapi di luar, suara teriakan mulai terdengar lagi. “Buka gerbang! Tabib gunung pembawa maut!”
Karantina berlanjut. Tapi keraguan Raden Arya, ketakutan rakyat, dan penyakit yang tak bernama itu… semakin mendekat ke titik puncak.