Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Pagi itu Lydia melajukan mobilnya seperti biasa. Mobil Audi A4 yang ia beli dari hasil kerja kerasnya selama bekerja di Adhivara Grup.
Di usianya yang belum genap 28 tahun, ia sudah menjadi sekretaris pribadi CEO perusahaan besar dan disegani oleh karyawan lain.
Ketika memasuki gedung besar Adhivara Grup, beberapa karyawan menyapanya, entah berupa ucapan selamat pagi atau sekadar senyuman ramah saat mereka berpapasan.
Semua berjalan seperti biasa, sampai ia memasuki ruang kerjanya, lalu terdengar kalimat yang tidak pernah ia sangka akan menyambutnya pagi ini.
"Lydia Claire, mulai hari ini kamu tidak perlu datang lagi ke kantor," ucap laki-laki di dalam ruangannya sambil menyentuh papan nama di meja kerjanya.
Langkah Lydia spontan terhenti sebelum benar-benar masuk ke dalam ruangannya. Tangannya masih memegang knop pintu, sementara pikirannya mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar.
"Maaf?" tanyanya, ragu dengan yang didengar telinganya.
"Kamu dipecat! Apa masih kurang jelas?" tanya laki-laki di hadapan Lydia.
Mata Lydia seketika melebar. Ia tidak mengerti mengapa dirinya tiba-tiba dipecat. Laki-laki di depannya bukan bosnya, tapi memang memiliki hak memecat karyawan.
Laki-laki itu, Rico Arion Wijaya, salah satu keturunan keluarga Adhivara. Ia bisa dengan mudah memecat karyawan karena statusnya sebagai pewaris.
"T-tapi...."
"Saya sudah mengemas barang-barang kamu, silakan kamu pergi dari perusahan ini," ucap Arion tanpa menjelaskan alasan mengapa Lydia tiba-tiba dipecat.
“Saya tidak mengerti kenapa saya dipecat. Apa saya melakukan kesalahan?” tanya Liora, menolak pergi tanpa penjelasan yang masuk akal.
Ia perlu tahu alasan apa yang membuatnya harus dipecat. Ia selalu berusaha melakukan tugasnya dengan baik tanpa kesalahan sekecil apa pun itu. Bagaimana bisa sekarang ia dipecat begitu saja?
"Kamu sudah menyakiti adik saya," ucap Arion, menatap Lydia tajam.
Lydia semakin tidak mengerti. Ia bahkan tidak pernah berinteraksi langsung dengan adik Arion, tapi laki-laki itu memberikan tatapan seakan ia sudah melakukan kejahatan terhadap adiknya.
"Saya tidak mengerti maksud Anda," ucap Lydia jujur. Ia sama sekali tidak mengerti maksud perkataan Arion.
"Tidak mengerti kamu bilang?" suara Arion meninggi.
Karyawan yang kebetulan berada di sekitar sana mendekati ruangan Lydia. Mereka penasaran dengan yang terjadi di ruangan itu. Lydia yang sadar langsung menutup pintu ruangannya dari dalam. Ia tidak ingin obrolannya dengan keponakan bosnya menjadi bahan gosip nanti.
Tindakan kecil itu membuat Arion mendecih. Ketidaksukaan tampak jelas di wajahnya saat memandang wajah Lydia.
"Tolong pelankan suara Anda. Saya tidak ingin membuat karyawan lain di sini salah paham, dan saya memang benar-benar tidak mengerti maksud Anda," kata Lydia berusaha tetap tenang dan sopan.
Bagaimanapun, ia bekerja di perusahaan keluarga Arion. Ia tidak bisa bersikap kurang ajar, meskipun ia sendiri belum mengerti apa pun sekarang.
"Sudahlah, kamu tidak usah pura-pura bodoh. Saya tahu kamu hanya terlalu malu mengakui bahwa kamu sudah menjadi orang ketiga dalam hubungan adik saya," ucap Arion dingin sambil berjalan menghampiri Lydia.
"Apa maksud Anda?" tanya Lydia masih belum mengerti.
Ia saja tidak tahu siapa yang berhubungan dengan adik Arion, bagaimana bisa ia menjadi orang ketiga?
"Kamu berhubungan dengan Marvin, pacar adik saya!" teriak Arion di depan wajah Lydia.
Emosinya tidak bisa ditahan karena menganggap Lydia hanya sedang berpura-pura bodoh di depannya. Ia yakin Lydia mengerti maksudnya.
Lydia membeku mendengarnya. Bukan karena mengakui dirinya sebagai orang ketiga, tapi karena tidak menyangka bahwa itulah alasan dirinya dipecat.
Ia tidak pernah menjadi orang ketiga dalam hubungan siapa pun, justru ia yang sering diselingkuhi selama ini, karena sebenarnya Marvin adalah tunangannya.
"Ternyata kamu memang tidak bisa berubah," batinnya tidak menyangka Marvin kembali selingkuh darinya.
Ia sudah mencoba percaya dan memberi Marvin kesempatan untuk berubah, tapi ternyata laki-laki itu masih belum berubah dan bahkan berhubungan dengan keponakan bosnya.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan? Menjelaskan bahwa aku tunangan Marvin dan Airinlah selingkuhan? Tapi apa Arion akan percaya?"
Lydia bergulat dengan pikirannya, tanpa berniat menyangkal tuduhan Arion. Dunia tidak adil untuk orang sepertinya, fakta apa pun yang keluar dari mulutnya pasti tidak akan mudah diterima oleh mereka yang berkuasa.
"Tidak akan ada orang yang akan percaya sekalipun kamu mengatakan yang sebenarnya, Lydia. Jadi anggap saja kalau kamu memang selingkuhan," ucapnya dalam hati.
Tanpa sadar air matanya menetes. Ia hanya anak yatim piatu, tanpa kerabat dekat, dan bahkan neneknya tidak menginginkan kehadirannya. Tidak ada tempat yang bisa dijadikan sandaran selain dirinya sendiri.
Arion tersentak melihat Lydia menangis. Seumur hidupnya, baru kali ini ia membuat seorang perempuan meneteskan air mata. Namun, hati nuraninya yang sempat tersentuh itu segera ia tepis. Ia menganggap air mata Lydia sebagai pembalasan atas apa yang terjadi pada Airin.
"Kenapa menangis? Saya bicara fakta. Kamu selingkuhan Marvin," ucap Arion, seakan tidak peduli dengan air mata Lydia.
Lydia langsung menghapus air mata yang berada di pipinya, lalu menatap Arion tepat di matanya. Dalam hati, ia ingin memaki laki-laki itu karena sudah menyebutnya selingkuhan tanpa mencari tahu fakta sebenarnya.
Arion bisa merasakan emosi yang berusaha Lydia pendam. Matanya mengerjap pelan. Baru kali ini ia bertatapan dengan perempuan selain ibu dan adik perempuannya, dan tatapan Lydia padanya berbeda dari tatapan yang biasa ia terima.
"Anda hanya bicara fakta?" tanya Lydia. Senyuman terukir di bibirnya, namun Arion tidak bisa menebak arti senyuman itu.
"Baik, saya terima keputusan Anda memecat saya," lanjutnya, tanpa menunggu Arion menjawab pertanyaannya. Ia kemudian melangkah melewati laki-laki itu dan mengambil barang-barangnya di meja kerjanya.
Setelah hampir lima tahun bekerja di Adhivara Grup, sekarang ia dipecat hanya karena alasan yang tidak masuk di akal sehatnya. Ia korban, tapi ia juga yang disalahkan dan mengalami semua ini.
"Tidak apa-apa, Lydia. Dipecat dari sini bukan akhir dari segalanya. Kamu masih bisa melanjutkan hidup dengan tabunganmu dan mencari pekerjaan lain," batinnya, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Memang tidak adil, tapi keadilan tidak pernah benar-benar ada untuk orang sepertinya. Apalagi yang dihadapinya sekarang adalah orang kaya yang berkuasa.
Hati nurani Arion kembali tersentuh melihat kesedihan di wajah Lydia. Ia tahu Lydia sudah lama bekerja di perusahaan keluarganya, perempuan itu sudah hampir lima tahun bekerja sebagai sekretaris pamannya.
Namun, Arion tidak bisa memaafkan Lydia begitu saja hanya karena Lydia karyawan lama di perusahaan keluarga. Lagipula, yang Lydia dapatkan sekarang adalah buah dari kesalahannya sendiri.
"Ternyata kamu di sini, kak? Paman pikir kamu menunggu di ruangan paman," suara itu menginterupsi Lydia dan Arion yang sibuk dengan hati dan pikiran mereka masing-masing.
Lydia menoleh ke arah pintu, bosnya berdiri di sana dengan raut wajah bingung. Ia bisa menebak bahwa bosnya itu tidak tahu apa-apa sekarang.
"Pak Calvin satu-satunya harapan agar aku bisa tetap bekerja di sini, tapi apa Pak Calvin akan ada di pihakku sementara Arion keponakan kesayangannya?"