NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Duniahiburan / Selingkuh / Dendam Kesumat / PSK / Playboy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan Neraka

Kesadaran manusia sering kali lumpuh di bawah tekanan rasa sakit yang melampaui batas. Bagi Bimo, nasihat Pak Broto tentang "penebusan dosa melalui jalan tobat yang panjang" terdengar seperti nyanyian kosong yang tidak akan mampu menghentikan ulat-ulat yang kini mulai terasa menggigit saraf matanya. Pilihan yang diberikan Mbah Suro melalui perantara batin Pak Broto telah meracuni logika Bimo.

Di satu sisi, ada pilihan untuk mengebiri diri sendiri, yang bagi Bimo adalah kematian sebelum ajal. Di sisi lain, ada syarat yang menjijikkan: bersenggama dengan tujuh mayat perawan.

Bimo berdiri di persimpangan jalan kecamatan. Matahari mulai tenggelam, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti ulat-ulat raksasa di atas aspal. Ia bergumam sendiri dengan suara serak, "Aku harus sembuh. Kalau aku sembuh, aku bisa kerja lagi. Aku bisa cari Ratih dan minta maaf dalam keadaan bersih. Aku tidak bisa minta maaf kalau aku jadi bangkai. Tuhan pasti tahu niatku baik..."

Ini adalah pembenaran paling fatal yang pernah dibuat oleh Bimo. Ia memilih jalan yang paling gelap, dengan dalih ingin kembali ke jalan yang terang. Ia memilih untuk memuaskan tuntutan iblis demi mendapatkan kembali hidup normalnya.

Pencarian di Desa Terpencil

Bimo mulai berjalan meninggalkan kecamatan, masuk lebih dalam ke arah pedesaan yang masih kental dengan adat dan tradisi penguburan tradisional. Ia mencari tempat di mana kematian bukan sekadar statistik, melainkan ritual yang melibatkan tenaga manusia. Ia butuh akses langsung ke jenazah-jenazah baru tanpa dicurigai.

Setelah berjalan kaki selama hampir satu malam, ia sampai di Desa Karang Anyar, sebuah desa yang dikelilingi oleh perbukitan jati dan pemakaman umum yang luas di puncaknya. Di sana, ia mendengar kabar bahwa desa itu sedang kekurangan tenaga Modin atau pembantu pengubur jenazah karena petugas lamanya sudah terlalu tua dan sakit-sakitan.

Bimo merapikan pakaiannya sebisanya. Ia membasuh wajahnya di pancuran sawah, mencoba menyembunyikan bintik-bintik hitam di kulitnya dengan debu tanah agar tampak seperti kotoran biasa. Bau busuk tubuhnya ia samarkan dengan menggosokkan daun-daun liar yang aromanya tajam ke sekujur kulitnya.

Ia mendatangi rumah Pak Haji Mansur, sesepuh sekaligus pengurus jenazah di desa tersebut.

Muslihat Sang Predator

"Pak Haji, saya Bimo. Saya perantau yang kehilangan arah," ucap Bimo dengan nada suara yang dibuat selembut dan seputus asa mungkin. Air mata buaya mulai menggenang di matanya.

Pak Haji Mansur, seorang pria tua yang memiliki hati sangat bersih namun kurang waspada terhadap tipu daya manusia, menatap Bimo dengan iba. "Apa yang membawamu ke desa terpencil ini, Nak?"

Bimo bersujud di kaki Pak Haji. "Saya penuh dosa, Pak. Di kota saya adalah orang jahat. Saya terkena penyakit ini sebagai azab. Sekarang saya ingin bertaubat. Saya ingin menghabiskan sisa hidup saya dengan mengabdi pada orang mati, menguburkan jenazah mereka dengan tangan saya sendiri sebagai bentuk pembersihan diri. Tolong, Pak... terima saya jadi pembantu Bapak."

Kemampuan Bimo dalam memutarbalikkan keadaan memang luar biasa. Ia menggunakan narasinya tentang "pertobatan" untuk mendapatkan akses ke ladang pemuasan syarat santetnya. Pak Haji, yang merasa bangga melihat seorang pemuda ingin bertaubat, akhirnya luluh.

"Jarang ada anak muda yang mau berurusan dengan tanah pemakaman, apalagi dengan alasan tobat. Baiklah, Bimo. Kamu bisa tinggal di gubuk kecil dekat gudang keranda di belakang rumahku. Kamu akan membantuku menggali liang lahat dan memandikan jenazah jika dibutuhkan."

Bimo tersenyum di dalam hatinya. Gawang sudah terbuka lebar.

------Gubuk Keranda-------

Malam pertama di Desa Karang Anyar, Bimo tidur di dekat tumpukan kayu papan nisan dan keranda yang tertutup kain hijau kusam. Bau kayu kamboja dan tanah makam terasa sangat akrab. Anehnya, ulat sengkolo di tubuhnya tidak lagi menggigit. Mereka seolah bersorak, merasakan bahwa inang mereka sedang menuju meja perjamuan yang mereka inginkan.

Namun, di luar gubuk, di bawah pohon beringin yang membatasi pekarangan Pak Haji dengan area pemakaman, Ratih berdiri mematung. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi kemarahan yang tertahan.

"Dasar manusia kotor!" desis Ratih. Ia tahu apa yang direncanakan Bimo. Ia bisa merasakan niat bejat Bimo yang dibalut dengan kedok agama dan pertobatan. "Kamu pikir dengan menodai orang mati kamu bisa sembuh dan kembali normal? Kamu sedang menggali liang lahatmu sendiri, Bimo."

Ratih merasa sangat jijik. Ia berharap Bimo memilih untuk bertaubat dengan sungguh-sungguh atau setidaknya membuang kejantanannya sebagai bentuk tanggung jawab. Namun, pilihan Bimo untuk mengikuti syarat "tujuh mayat perawan" menunjukkan bahwa jati diri Bimo sebagai predator tidak pernah benar-benar hilang.

Ratih mengambil ponselnya, ia mencoba menghubungi nomor seseorang yang ia kenal di desa itu untuk menyebarkan "peringatan", namun tiba-tiba suara Mbah Suro kembali berdengung di telinganya.

"Biarkan dia melakukannya, Ratih... Biarkan dia menjadi lebih rendah dari binatang. Semakin banyak dosa yang dia tumpuk di atas santet ini, semakin hancur jiwanya saat ulat itu meledak nanti. Dia pikir dia sedang mengobati penyakitnya, padahal dia sedang menyempurnakan kutukannya."

Ratih terdiam. Ia melihat Bimo keluar dari gubuk, menatap ke arah pemakaman di puncak bukit dengan pandangan lapar.

Menanti Mangsa Pertama

Dua hari kemudian, kabar duka datang ke desa. Seorang gadis muda, anak dari salah satu petani kaya, meninggal dunia karena kecelakaan mendadak. Kabarnya, gadis itu adalah seorang kembang desa yang masih sangat murni.

Bimo yang mendengar kabar itu merasakan jantungnya berdegup kencang. Ini adalah "kesempatan" pertamanya. Ia dengan sangat rajin membantu Pak Haji menyiapkan segala keperluan penguburan. Ia menggali liang lahat dengan semangat yang tak wajar, peluhnya menetes ke dasar lubang yang gelap.

"Kamu rajin sekali, Bimo," puji Pak Haji Mansur sambil mengelap keringat. "Semoga kerja kerasmu ini menghapus dosa-dosamu."

"Amin, Pak Haji. Saya hanya ingin yang terbaik untuk almarhumah," jawab Bimo dengan wajah yang tampak tulus, padahal otaknya sedang merancang skenario busuk untuk kembali ke pemakaman itu tengah malam nanti saat semua orang sudah pulang.

Bimo merasa rencananya berjalan sempurna. Ia yakin setelah tujuh jenazah, kulitnya akan kembali mulus, bau busuknya akan hilang, dan ia bisa kembali ke Jakarta untuk memulai hidup baru. Ia bahkan sudah berkhayal akan mengganti namanya dan mencari wanita kaya lainnya.

Ia tidak sadar bahwa di setiap sudut liang lahat yang ia gali, ulat sengkolo yang ada di tubuhnya mulai meneteskan lendir hitam ke dalam tanah. Tanah makam yang seharusnya suci kini mulai terkontaminasi oleh keberadaan Bimo.

Kenyataan di Bawah Rembulan

Malam harinya, setelah penguburan selesai dan desa telah sunyi, Bimo menyelinap keluar dari gubuknya. Ia membawa sebuah cangkul kecil dan sebuah lampion yang ia tutupi kain agar tidak terlihat dari kejauhan.

Ia mendaki bukit menuju makam gadis tadi siang. Suara burung hantu bersahut-sahutan, seolah memberi peringatan bagi siapa pun yang berani mengusik ketenangan orang mati. Bau kamboja yang harum mendadak berubah menjadi amis saat Bimo mendekati gundukan tanah yang masih basah itu.

Bimo tersentak, lampu petromax jatuh ke tanah. Ia menatap ke atas dan melihat bayangan wanita duduk di dahan pohon dengan gaun yang melambai ditiup angin.

1
Bp. Juenk
Bagus kisah nya. cinta ya g tulis dari seorang gadis desa berubah menjadi pembunuh. karena dikhianati.
Halwah 4g
iya ka..ada lanjutannya kok
Rembulan menangis
gantung
Bp. Juenk
ooh masih dalam bentuk ghaib toh. belum sampe ke media
Bp. Juenk
pantesan. Ratih nya terlalu lugu
Halwah 4g: hehehehe..maklum dari kampung ka 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis ya si ratih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!