Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Dermaga Harapan
BAB 19: Dermaga Harapan
Pukul tiga pagi di pertengahan Februari 2026, ruko Matahari Food tampak seperti mercusuar di tengah kegelapan lingkungan sekitarnya. Lampu-lampu LED putih benderang menerangi setiap sudut ruangan. Tidak ada suara obrolan santai seperti biasanya; yang ada hanyalah deru mesin vakum dan suara isolasi yang ditarik kencang. Dua ribu bungkus Basreng Matahari dengan label khusus berbahasa Inggris telah tertata rapi di dalam kardus-kardus tebal yang sudah dilapisi plastik kedap air.
Nayla berdiri di depan tumpukan kardus itu, memegang daftar manifest pengiriman. Matanya sedikit merah, namun punggungnya tegak. Ini adalah pengiriman perdana menuju Melbourne, Australia. Bukan lewat jalur udara yang mahal, melainkan lewat jalur laut menggunakan kontainer berpendingin guna menjaga stabilitas suhu selama perjalanan dua minggu di samudra.
"Ranti, cek kembali nomor batch di setiap kardus. Pastikan sesuai dengan dokumen Packing List dan Invoices yang sudah kita kirim ke pihak kepabeanan semalam," instruksi Nayla.
"Sudah, Nay. Semua dokumen Customs Clearance juga sudah dipegang oleh sopir truk logistik yang akan menjemput sebentar lagi," jawab Ranti sambil merapikan map berisi dokumen ekspor.
Pukul lima pagi, tepat saat adzan subuh berkumandang, sebuah truk besar dengan logo perusahaan logistik internasional berhenti di depan ruko. Inilah momen yang selama ini hanya ada dalam bayangan Nayla saat ia masih menjajakan basreng di pinggir jalan stasiun. Proses pemuatan barang dilakukan dengan sangat hati-hati. Setiap kardus dianggap seperti emas yang berharga.
"Hati-hati, Pak. Jangan ditumpuk lebih dari lima baris," ujar Bagas mengingatkan para kuli panggul truk.
Nayla memperhatikan setiap kardus yang masuk ke dalam perut truk. Di setiap kemasan itu, ada identitas dirinya, ada keringat karyawannya, dan ada reputasi negara yang ia bawa. Ia merasa seperti seorang ibu yang sedang melepas anaknya pergi merantau ke negeri yang sangat jauh.
Setelah pintu truk ditutup dan dikunci dengan segel baja, Nayla menandatangani surat jalan. Truk itu pun perlahan bergerak meninggalkan ruko, membelah kabut pagi menuju Pelabuhan Tanjung Priok.
"Ayo, kita tidak boleh hanya diam di sini. Kita harus ikut ke pelabuhan," ajak Nayla kepada ayah dan ibunya.
Perjalanan menuju Jakarta memakan waktu dua jam. Sesampainya di Pelabuhan Tanjung Priok, Nayla terpana melihat ribuan kontainer bertumpuk seperti balok-balok mainan raksasa. Inilah gerbang Indonesia menuju dunia. Di sini, di tahun 2026, sistem pelabuhan sudah jauh lebih canggih dengan pemeriksaan otomatis dan pemindaian sinar-X yang super cepat.
Nayla harus menunggu di area kantor agen pengapalan untuk memastikan kontainernya naik ke kapal MV Oceanic Star. Namun, drama belum berakhir. Pihak otoritas pelabuhan memanggil Nayla karena ada ketidaksesuaian kecil pada kode HS (Harmonized System) di dokumen ekspornya terkait kategori produk "olahan ikan".
"Mbak Nayla, kode yang Anda gunakan merujuk pada ikan beku, sedangkan produk Anda adalah camilan olahan ikan matang. Kami butuh revisi dokumen dalam tiga puluh menit atau kontainer Anda tertinggal jadwal kapal minggu ini," ujar petugas bea cukai di balik loket kaca.
Jantung Nayla berdegup kencang. Jika tertinggal, ia harus membayar biaya penumpukan kontainer yang sangat mahal dan reputasinya di mata pembeli Australia akan hancur pada pengiriman pertama.
"Ranti, buka laptop sekarang! Hubungi konsultan ekspor kita, minta mereka kirim revisi dokumen detik ini juga melalui portal sistem integrasi!" seru Nayla.
Suasana menjadi sangat tegang. Jari-jari Ranti menari cepat di atas keyboard. Ayah Nayla terus berdoa, sementara ibunya tampak pucat. Menit demi menit berlalu seperti jam. Saat sisa waktu tinggal lima menit, notifikasi "Approved" muncul di layar. Dokumen revisi berhasil diterima oleh sistem pelabuhan.
"Berhasil, Mbak. Kontainer Anda sudah bergerak menuju crane pengangkut," ujar petugas itu dengan senyum tipis.
Nayla berlari menuju pagar pembatas yang menghadap ke dermaga. Dari kejauhan, ia melihat sebuah kontainer berwarna biru—kontainer yang berisi Basreng Matahari—perlahan diangkat oleh derek raksasa ke atas kapal kargo yang sangat besar. Kapal itu bersiap berlayar melintasi samudra, membawa bumbu rempah asli Indonesia ke benua kangguru.
Nayla menggenggam tangan ibunya. Matanya berkaca-kaca saat kapal itu mulai membunyikan klakson panjang, pertanda akan segera lepas sandar.
"Ibu lihat itu? Basreng kita ada di atas kapal itu. Basreng yang dulu Ibu bikin di dapur kecil kita, sekarang mau keliling dunia," bisik Nayla haru.
Ibunya memeluk Nayla erat. "Ibu bangga sekali sama kamu, Nay. Kamu benar-benar mengubah takdir kita. Kamu bukan cuma jadi pengusaha, kamu sudah jadi pahlawan buat keluarga kita."
Malam harinya, setelah kembali dari pelabuhan, Nayla terduduk lemas namun bahagia di meja kerjanya.
"Hari ini saya belajar bahwa dermaga bukan hanya tempat kapal bersandar, tapi tempat di mana ketakutan kita harus dilepaskan dan keberanian harus dikibarkan setinggi layar. Melihat kontainer Basreng Matahari diangkat ke atas kapal kargo adalah momen paling ajaib dalam hidup saya di tahun 2026. Kita sering merasa kecil di depan dunia yang luas, tapi dunia tidak pernah terlalu luas bagi mereka yang berani melangkah dengan kejujuran. Australia, sambutlah rasa dari desa kami. Sinar matahari kami kini telah resmi melintasi samudra."
Ia tahu, tugasnya belum selesai. Setelah Melbourne, ia harus memikirkan bagaimana menjaga stok tetap stabil dan bagaimana jika permintaan dari luar negeri terus bertambah. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia ingin tidur dengan tenang, memimpikan basreng-basrengnya yang sedang menari di tengah ombak laut lepas.