Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death
(update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.6 – GADIS PENJUAL BUNGA
"Mie ayam telah siap..."
Akhirnya makanan Kenzo pun tiba dan pemilik kedai tersebut mengantarkan makannya. Mangkuk keramik putih dengan ukiran naga sederhana, berisi mie kuning lebat, potongan ayam rebus, dan kuah kaldu yang menguap. Kenzo mengambil sumpit bambu, mencium aroma kaldu yang gurih. Ini makanan pertama sebagai orang bebas.
"Bos, apakah Anda pernah melihat gadis ini?"
Kenzo menunjukkan foto Lin Xian Mei kepada pemilik kedai tersebut. Foto itu sudah kusut di tepinya, terlipat dan dibuka berkali-kali. Wajah Xian Mei tersenyum polos, tak tahu bahwa kakaknya sudah tewas dan seorang pria asing sedang mencarinya.
"Tidak, aku belum pernah melihat gadis ini."
"Baiklah, terima kasih bos."
Setelah menghabiskan dan membayar makanannya, Kenzo melanjutkan perjalanannya menyelusuri kota Xiuqin untuk mencari jejak Lin Xian Mei. Jalanan sempit, bangunan tua, toko-toko yang saling bertumpuk. Bau sampah dan bau makanan jalanan bercampur di udara. Kenzo bertanya ke penjual koran, tukang becak, penjaga toko. Semuanya menggeleng.
Hingga hari menjelang petang, Kenzo pun beristirahat di halaman sebuah KTV. Lampu neon merah dan biru berkedip-kedip, musik terdengar samar dari dalam. Tempat seperti ini bukan pilihan ideal, tapi kakinya sudah lelah. Dia duduk di bangku beton, meletakkan tas ranselnya di samping.
Dan di saat yang bersamaan, Kenzo mendengar jeritan seorang gadis. Suara itu tajam, penuh ketakutan, terpotong oleh suara tamparan.
Kenzo pun terkejut dan mencari sumber suara jeritan tersebut. Tubuhnya langsung tegang, insting bertarung dari penjara kembali bangkit. Dia berdiri, telinganya menajam, mencari arah.
Hingga akhirnya dia menemukan gadis kecil berusia sekitar lima belas tahun yang sedang terduduk di jalan dengan beberapa tangkai bunga mawar yang berserakan. Rambutnya berantakan, pipi merah memar, matah berkaca-kaca. Bunga-bunga merah itu terinjak-injak di aspal, kelopaknya lecek.
"Dasar bocah sialan!!"
"Kau tahu harga baju ku ini!!"
"M-maaf tuan, aku tidak sengaja menabrak mu."
Plak!!!
Suara tamparan keras menggema. Kepala gadis itu terlempar ke samping.
"Kurang ajar!!"
"Bagaimana kau akan menggantinya!!!"
Pria botak itu mengangkat tangannya lagi, siap menampar untuk kedua kalinya. Dua temannya berdiri di belakang, tersenyum puas. Salah satu dari mereka memegang botol bir, mabuk setengah sadar.
"Kak, bagaimana kalau kita ajak dia untuk menemani minum di KTV Shehua."
"Apa kalian bodoh!!"
Plak
"Dia masih bocah!!! Apa kalian mau ditangkap polisi?!!!"
Pria botak itu menampar temannya sendiri, marah karena saran yang bodoh. Tapi matanya tetap melirik ke arah gadis itu dengan tatapan tak senonoh.
Melihat hal tersebut, Kenzo dari kejauhan berlari ke arah mereka dan melompat sambil menendang ke arah pria botak itu. Tubuhnya melayang di udara sejenak, siluet di bawah lampu jalanan yang redup.
Membuat pria botak tersebut terpental, jatuh terlentang di trotoar. Botol bir di tangannya pecah berkeping-keping. Semua orang terkejut atas kemunculan Kenzo. Gadis itu menatap dengan mata terbelalak, tak percaya.
"B-bajingan tengik!!!"
"S-siapa kau !!!"
"Menganiaya seorang gadis kecil, apa ini mental seorang preman di kota ini?"
Suara Kenzo datar, dingin, tak ada amarah yang terlihat. Tapi matanya. Mata itu seperti es, seperti maut yang pernah dilihat banyak napi di penjara.
"Kalian, hajar mereka!!"
Ketiga orang itu pun menyerang Kenzo bersamaan. Pria botak bangkit sambil memegangi perutnya, dua temannya mengambil posisi kiri kanan. Satu meraih pipa besi dari sampah, satu membuka pisau saku.
Dengan teknik tai chi-nya, Kenzo pun berhasil menjatuhkan mereka semua. Dia mengelak dari ayunan pipa, merebutnya, membalikkannya menubruk perut pemegangnya. Pisau saku ditangkap pergelangan tangannya, diputar, dipatahkan. Pria botak mendapat tendangan ke lutut, jatuh berlutut kesakitan.
(Kalian cepat kemari!!!)
Pria botak tersebut menghubungi anak buahnya melalui ponselnya. Suaranya gemetar, napasnya sesak. Dia tahu. Dia tahu orang ini berbeda.
Tak berselang lama, orang-orang pria botak tersebut berdatangan. Lima orang, sepuluh orang, lima belas orang. Mereka turun dari mobil dan motor, membawa senjata berbagai macam. Rantai, batang besi, golok. Kerumunan yang cukup untuk menghabisi satu orang.
"Sepertinya awal hari kebebasanku akan mengalami sedikit pertumpahan darah."
Kenzo melepaskan jaket Levis-nya serta menjatuhkan tas ranselnya dan hanya mengenakan kaus tanpa lengan yang ketat sehingga lekukan tubuh atletisnya menonjol terlihat. Otot-otot dada dan perutnya bergelombang saat napas. Luka-luka bekas di lengan dan punggung terlihat samar di bawah lampu jalanan.
"Majulah!!"
Kenzo pun mengambil sikap kuda-kuda tai chi-nya. Kaki kanan maju, tangan kanan di depan dada, tangan kiri di samping. Posisi yang sama diajarkan Lin Dong dulu. Posisi yang sama digunakan untuk membunuh Hua Mao.
"Kalian cepat hajar dia!!"
Teriak kepala botak kepada anak buahnya, dan mereka pun maju serentak ke arah Kenzo. Suara teriakan, suara langkah kaki, suara besi berdenting. Kerumunan itu seperti gelombang hitam.
"BERHENTI!!"
Teriak seorang wanita dari kejauhan yang muncul tiba-tiba dengan lima pengawalnya mendekati mereka. Suara itu tajam, berwibawa, menghentikan semua gerakan. Pengawal-pengawal itu berpakaian serba hitam, berpostur tegap, tangan di belakang punggung.
"Apa yang akan kalian lakukan?"
"N-nona Liu..."
Sui He terdiam gemetar. Wajahnya pucat, keringat dingin mengucur. Nama itu seperti kutukan baginya.
"Sebaiknya kau jelaskan kepadaku secara jelas, Sui He!!"
Sui He terdiam gemetar. Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara yang keluar.
"Biar aku bantu menjelaskannya."
Ucap Kenzo menyela pembicaraan mereka. Suaranya tenang, tak terpengaruh oleh ketegangan. Lalu Kenzo pun menjelaskan semuanya. Singkat, jelas, tanpa embel-embel. Gadis penjual bunga, tabrakan tidak sengaja, penganiayaan, usulan yang mesum.
"Sui He, kau mulai berani membuat onar di wilayahku."
"M-maaf nona Liu, aku tidak berani lagi."
"T-tolong l-lepaskan kami."
"Cepat pergi!! Sebelum aku berubah pikiran."
Mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut. Berdesakan, tergesa-gesa, seperti tikus yang ketakutan. Sui He terakhir pergi, menatap Kenzo dengan dendam, tapi tak berani berbuat apa-apa.
"Kau tidak apa-apa?",Tanya Kenzo kepada gadis muda tersebut.
"Tidak, aku baik-baik saja."
"Terima kasih kak, telah menolongku."
Kenzo pun membantu gadis kecil itu berdiri, dan memungut bunga mawar yang berserakan. Beberapa tangkai masih utuh, merah segar. Dia menyerahkannya ke tangan gadis itu.
"Terima kasih nona Liu telah menyelamatkan kami."ucap Kenzo kepada wanita yg muncul beserta pengikutnya.
"Kau... siapa namamu?",Liu Xiang memandangi tubuh Kenzo dengan sangat detail, dan mulai terpesona oleh lekukan tubuh Kenzo yang atletis. Matanya menyapu dari kaki ke dada, berhenti di wajah yang dingin. Dia terbiasa melihat pria berotot, tapi tidak yang seperti ini. Tidak yang memancarkan aura berbahaya sekaligus menarik.
"Aku... Ke..."
Kenzo menghentikan kalimatnya, dan ragu untuk menjawabnya. Nama Kenzo Huang. Nama yang tercatat di berkas penjara. Nama yang mungkin masih dicari.
"Ada apa?"
"Oh tidak, tidak apa-apa."
"Namaku Kenzo Huang."
Liu Xiang mengernyit heran.
"Namamu terlihat aneh, apa kau orang Jepang?",tanya Liu Xiang memastikannya.
"Ayahku berasal dari Jepang, ibuku adalah orang Cina."
"Oh... jadi seperti itu. Lalu apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku kebetulan lewat dan beristirahat sejenak di sini."
"Sebelum semua ini terjadi."
"Lalu kau... siapa nama mu gadis kecil?"
"A-aku namaku Yue Yan."
"Sebaiknya kalian berhati-hati, malam hari di jalanan sungguh tidak aman."
Mereka mengangguk kecil.
Lalu Liu Xiang pun pergi meninggalkan mereka. Langkahnya anggun, dipenuhi parfum mahal. Tapi sebelum masuk ke mobil, dia menoleh sekali lagi ke arah Kenzo. Senyum tipis di bibirnya.
...$ BERSAMBUNG $...