Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggu Hujan
Pukul setengah sembilan pagi, Bima sudah tiba di kafe dekat UGM. Ia memilih meja di pojok dekat jendela, tempat yang memungkinkannya melihat setiap orang yang masuk. Hari itu ia mengenakan kemeja batik lengan panjang—pemberian Laras—dan celana bahan hitam yang sudah disetrika rapi.
Rambut ikalnya yang agak panjang ia sisir ke belakang, berusaha tampil rapi. Di tangannya, ia membawa sebuah amplop coklat berisi surat dan buku sketsa terbarunya.
Pelayan datang. "Mau pesan, Mas?"
Bima menatap menu, lalu memesan es teh. Sederhana. Ia tidak ingin pesan sesuatu yang mahal, takut jika nanti Kay datang dan ia harus pergi cepat.
Jam sembilan lewat sepuluh. Kay belum datang.
"Mungkin macet," gumam Bima.
Ia membuka buku sketsa, mencoba menggambar untuk membunuh waktu. Tangannya bergerak luwes, menggambar suasana kafe—meja-meja kayu, lampu gantung, jendela kaca. Tapi matanya terus melirik ke pintu.
Jam sepuluh. Kay belum datang.
Bima mulai gelisah. Ia mengeluarkan ponsel, melihat pesan terakhir dari Mika tadi pagi: "Dia belum bilang apa-apa. Tapi gue usahain."
Ia membalas: "Makasih, Mik."
Lalu menunggu lagi.
Jam sebelas. Es tehnya sudah habis. Ia pesan lagi—es teh kedua.
Pikirannya mulai dipenuhi bayangan buruk. Mungkin Kay tidak mau menemuinya. setelah melihat kejadian kemarin, mungkin ia sudah menyerah.
Bima menggeleng, mencoba membuang pikiran negatif. Ia mengambil pensil, menggambar lagi—kali ini wajah Kay. Matanya yang besar, rambutnya yang panjang, senyumnya yang manis. Setiap goresan pensil membawa kenangan.
Jam dua belas siang. Matahari tepat di atas kepala. Pelayan datang lagi.
"Mas, mau makan siang? Ada nasi goreng spesial."
Bima menggeleng. "Nggak, makasih. Air putih aja."
Ia tidak bisa makan. Perutnya mual menahan cemas.
---
Jam dua siang. Kafe mulai sepi. Pengunjung berganti, ada yang datang dan pergi, tapi Kay tak kunjung tiba. Bima sudah menghabiskan lima gelas air putih. Buku sketsanya penuh dengan gambar—wajah Kay dari berbagai sudut.
Di luar, langit mulai mendung. Awan hitam bergulung, pertanda hujan akan turun.
Bima menatap langit, lalu kembali ke pintu. Masih kosong.
"Kay, di mana lo?" bisiknya.
Jam empat sore. Hujan turun deras. Bima masih duduk di meja yang sama. Kafenya mulai ramai lagi—orang-orang berteduh, memesan kopi hangat. Tapi Kay tidak ada di antara mereka.
Ponsel Bima bergetar.
Mika: "Bim, maaf. Gue udah coba, tapi dia nggak mau. Katanya dia belum siap."
Bima membaca pesan itu berulang kali. Dadanya sesak.
Ia membalas: "Gue tunggu sampai kapan pun."
Lalu meletakkan ponsel.
Jam lima sore. Hujan masih deras. Bima sudah tidak bisa menunggu lebih lama. Ia melambai pada pelayan, minta bon. Tagihannya 35 ribu—lima gelas air putih. Ia membayar, lalu berdiri.
Tubuhnya lelah, matanya sembab menahan tangis. Ia berjalan menuju pintu kafe, bersiap masuk ke dalam hujan.
"Sudah," bisiknya. "Mungkin ini memang akhirnya."
Ia membuka pintu kaca, udara dingin menerpa. Hujan deras mengguyur, membasahi rambut dan bajunya dalam hitungan detik. Ia melangkah keluar, menunduk, pasrah.
Dan di tengah derasnya hujan, ia melihatnya.
Sosok wanita dengan payung hitam besar, berdiri tepat di depan kafe. Rambutnya basah di ujung, wajahnya pucat, matanya merah. Tapi ia di sana. Menatap Bima.
Bima tertegun. Air hujan bercampur air mata mengalir di wajahnya.
"Kay..." bisiknya, nyaris tidak terdengar.
Kay tidak bergerak. Ia hanya berdiri di bawah payung itu, menatap Bima dengan pandangan rumit—antara marah, sedih, dan rindu.
Bima melangkah mendekat, hujan terus mengguyur. Ia berhenti tepat di depan Kay, setengah langkah dari payung.
"Lo datang," katanya, suara serak.
Kay menatapnya. "Gue sudah di sini dari jam setengah empat. Di seberang jalan. Gue lihat lo tunggu. Gue lihat lo gambar. Gue lihat lo gelisah."
Bima terkejut. "Lo... lo dari tadi di situ?"
Kay mengangguk. Air matanya jatuh, bercampur hujan. "Gue takut, Bim. Gue takut kalau lo udah berubah. Takut kalau video itu benar. Takut kalau... kalau lo udah nggak sayang gue lagi."
Bima menggeleng keras. "Nggak, Kay. Nggak pernah."
"Tapi lo sama cewek itu—"
"Dia Laras. Dia yang nyelametin gue pas dipukuli Gerry. Dia yang rawat gue sebulan di rumahnya. Dia... dia cuma temen, Kay. Sahabat. Gue gambar dia karena dia minta. Nggak lebih."
Kay terisak. "Tapi cara lo liat dia—"
"Kay." Bima memegang wajah Kay, memaksanya menatap matanya. "Denger gue baik-baik. Gue nggak pernah berhenti sayang lo. Setiap malam gue gambar lo. Setiap hari gue mikirin lo. Setiap rupiah yang gue hasilkan dari jasa website, gue tabung buat bayar utang ke lo. Utang rumah sakit, utang motor, semua."
Kay membelalak. "Utang?"
"Iya. 15,7 juta. Gue udah nabung 10 juta. Sisa 5,7. Bentar lagi lunas. Tapi gue kecelakaan harus di rawat di rumah sakit dan gue harus mulai dari nol lagi buat ngumpulin bayar hutang ke Lo, Itu sebabnya gue belum berani nemuin lo. Gue mau datang sebagai laki-laki yang udah mandiri. Bukan sebagai beban."
Kay menangis lebih keras. "Bodoh! Gue nggak pernah anggap lo beban!"
"Gue tahu. Tapi gue perlu buktiin ke diri sendiri dan ke Ibu Lo"
Kay memukul dada Bima pelan. "Bodoh! Bodoh banget! Enam bulan! Enam bulan gue cari lo! Nyewa detektif! Pasang iklan! Dan lo di sini, bilang gak bisa nemuin gue cuma karena urusan utang!"
Bima tersenyum tipis di tengah tangis. "Maaf."
"Maaf doang?!" Kay memukul lagi. "Lo tahu gue nangis tiap malam? Lo tahu gue hampir gila?"
"Iya. Maaf."
Kay akhirnya menyerah. Ia menjatuhkan payung, lalu memeluk Bima erat-erat. Hujan mengguyur mereka berdua, tapi tidak ada yang peduli.
"Gue marah," isaknya di dada Bima. "Marah banget."
"Iya."
"Tapi gue juga kangen."
Bima memeluknya lebih erat. "Gue juga. Kangen banget."
Mereka berpelukan lama di tengah hujan. Orang-orang di kafe menonton, beberapa tersenyum, beberapa mengabadikan momen. Tapi Bima dan Kay tidak peduli. Dunia hanya milik mereka berdua.
Setelah beberapa saat, Kay melepaskan pelukan, menatap Bima. "Lo harus janji."
"Apa?"
"Janji nggak akan pergi lagi. Janji kalau ada masalah, lo cerita. Janji nggak akan ngilang tanpa kabar."
Bima mengangguk. "Janji."
"Janji sungguhan?"
Bima tersenyum. Ia mengeluarkan buku sketsa dari dalam jaketnya yang basah, membuka halaman terakhir. Di sana, gambar Kay sedang menangis. Di bawahnya tertulis:
"Aku akan kembali. Bukan sebagai beban, tapi sebagai tempatmu bersandar. Tunggu aku."
Kay membaca itu, lalu menangis lagi. "Lo udah gambar ini dari kapan?"
"Beberapa bulan lalu. Pas gue mulai bisa ngumpulin duit."
Kay memeluknya lagi. "Gue cinta lo, Bima. Cinta banget."
Bima membalas pelukannya. "Gue juga. Lebih dari yang lo tahu."
Mereka berdiri di tengah hujan, berpelukan, merasakan hangat di tengah dingin. Payung tergeletak di samping, tidak berguna. Karena mereka tidak butuh payung. Mereka punya satu sama lain.
---
Dari balik jendela kafe sebrang, Mika tersenyum. Ia diam-diam mengikuti Kay dari tadi, mengawasi dari dalam. Ia melihat semuanya—pertemuan yang mengharukan itu. Ia mengelap air matanya, lalu mengirim pesan pada Laras yang juga ikut khawatir.
"Udah ketemu. Baik-baik aja."
Laras membalas: "Syukurlah. Gue lega."
Mika tersenyum. Cinta sejati selalu menemukan jalannya.
---
Hujan mulai reda. Bima dan Kay akhirnya masuk ke mobil Kay, basah kuyup tapi bahagia. Kay menyalakan mesin, menghidupkan penghangat.
"Lo mau ke mana?" tanya Kay.
Bima menatapnya. "Ke mana pun lo mau. Yang penting sama lo."
Kay tersenyum. "Gue tahu tempat yang pas."
Mobil melaju meninggalkan kafe. Di dalam, dua insan yang terpisah enam bulan akhirnya bersatu. Bukan tanpa luka, bukan tanpa air mata. Tapi cinta mereka—sejelas awan mendung yang selalu berujung pada pelangi.
---
Di kos Demak, Laras duduk sendiri. Ia menatap sketsa dirinya yang digambar Bima kemarin. Tersenyum getir, lalu menyimpannya di laci.
"Bahagia, Bim," bisiknya. "Lo pantas bahagia."
Di kos Mika, Kay dan Bima duduk di lantai, berbicara tentang enam bulan yang terlewat. Bima menunjukkan buku sketsanya, menceritakan setiap gambar. Kay menunjukkan rekaman detektif dan iklan-iklan yang ia pasang.
"Gue kira lo benci gue," kata Kay.
"Gue? Benci lo?" Bima menggeleng. "Gue cuma benci diri sendiri."
"Jangan. Lo hebat, Bim. Lo bangkit sendiri. Lo buktiin."
Bima tersenyum. "Berkat lo."
Kay memeluknya. "Berkat kita."
Di luar, hujan benar-benar reda. Langit cerah, menampakkan bintang-bintang. Malam itu, mereka berdua berjanji: tidak akan ada lagi rahasia, tidak akan ada lagi lari. Apapun yang terjadi, mereka akan hadapi bersama.
Cinta sejelas awan mendung—kadang gelap, kadang hujan, tapi selalu berujung pada cerah.