SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Majalah & Video Syuur
"Huuuu merinding banget gue liatnya... serem, menakutkan dan......haaaa sialan banget sih si Romi!" ucap Yuli dengan suara yang mulai menggigil. "Awas aja nanti klo gue minta sambungannya dia gak kasih, langsung gue laporin ke kepala sekolah biar dia di keluarin dari sekolah!" gumamnya dengan penuh kemarahan, namun matanya masih tetap terpaku pada halaman terakhir majalah tersebut sebelum dia akhirnya menutupnya dengan cepat.
Tapi rasa penasaran belum hilang sepenuhnya. Setelah dirinya melihat adegan-adegan syuur di majalah PlayBoy tersebut, rasa ingin tahu Yuli semakin besar tentang isi keping DVD yang masih berada di sampingnya. Dia merasa seperti sedang terjebak dalam kebingungan—marah karena merasa dipermainkan, namun juga penasaran apa yang sebenarnya ada di dalam DVD tersebut.
Lalu Yuli mengambil keping DVD dengan hati-hati, matanya tetap memandangnya seolah mencoba membaca apa yang mungkin ada di dalamnya. Dia berdiri dan berjalan ke arah meja kerja di sudut kamar, di mana laptopnya terletak tertutup rapi.
"Paling-paling isinya orang lagi mesum juga, tapi yang ini gambar lagi apa film Bokepnya? Gue jadi penasaran pengen liat," ucap Yuli dalam hatinya, tangan kanannya sudah mulai membuka tutup laptop dengan perlahan.
Akhirnya Yuli mengambil Laptopnya yang masih menyala dan memasukan keping DVD ke dalam slot DVD-RW. Dalam hitungan detik, layar laptop langsung menampilkan daftar file yang ada di dalamnya. Tanpa berpikir panjang lagi, dia mengklik salah satu file dan video langsung mulai diputar.
Segera saja adegan syuur dan seronok muncul di layar, disertai suara-suara yang membuat Yuli jadi resah dan gelisah. Tubuhnya merasa semakin panas dan kulitnya bergetar merinding setiap kali melihat adegan yang semakin eksplisit. Awal-awal menonton, Yuli dengan cepat menutup wajah dan matanya dengan kedua belah tangannya, namun tanpa disadari, jari-jemarinya di renggangkan sedikit sehingga dia tetap bisa melihat video dewasa tersebut dari celah jarinya.
Setelah beberapa menit dan merasa sudah puas melihat semua Video di dalam keping DVD tersebut, Yuli dengan cepat menekan tombol stop dan mengeluarkan DVD dari laptopnya. Dia merasa sangat tidak nyaman dengan apa yang telah dia lihat dan rasakan. Tanpa berpikir panjang, dia mengambil majalah dan kepingan DVD porno tersebut, membungkusnya kembali dengan kertas bekas dan langsung membawanya ke tempat sampah di luar kamar. Dia membuangnya dengan keras seolah ingin menyingkirkan semua hal yang telah membuatnya merasa tidak nyaman.
Kemudian Yuli langsung kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya dengan lepas di kasur empuknya yang lembut. Matanya tetap terbuka namun kosong, tidak fokus ke arah mana pun. Sambil membayangkan adegan demi adegan yang telah dia tonton tadi di Laptopnya, dia merasa seperti ada sesuatu yang tidak benar dengan dirinya.
"Gawat tujuh keliling kalau otak gue udah di rasuki ama gambar-gambar majalah PlayBoy dan Video porn sialan itu! Bisa-bisa hidup gue setiap hari di HANTUI DAN di BAYANGIN sama itu semua,"* gumam Yuli dengan suara penuh ketakutan, tangannya mulai menggenggam seprai di bawahnya dengan erat.
"TIDAAAAK!!! Gue gak mauuuu, gue gak sukaaa!!!" TERIAK Yuli dengan suara keras seperti kesetanan, tangannya langsung menutup kedua telinganya agar tidak bisa mendengar suara-suara yang masih bergema di benaknya. Hati sucinya yang masih muda tidak menerima kalau telah di nodai oleh gambar dan Video SYUUR itu yang membuatnya merasa kotor dari dalam. Dia menjerit berkali-kali sampai suara nya mulai menjadi serak dan tubuhnya merasa sangat lelah. Akhirnya, kekosongan dan kelelahan membuatnya tertidur dengan pakaian yang berantakan serta rambut yang sudah awut-awutan alias acak-acakan.
Jam sudah menunjukan pukul 21.25 malam, langit sudah sangat gelap dan hanya sedikit cahaya lampu taman yang menerangi halaman rumah Pak Hartawan. Terlihat Pak Hartawan baru saja pulang dari meetingnya dengan klien, dia masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan dan langsung berjalan ke ruangan tengah yang terletak di lantai dasar. Kebetulan di ruangan tengah masih ada kedua pembantunya—Yati yang merupakan ibu kandung Yuli, dan Narti adik dari Bu Yati yang jadi bibinya Yuli—yang sedang membersihkan meja makan setelah menyelesaikan pekerjaan malam.
"Malam Pak Hartawan," ucap Yati dan Narti secara bersamaan dengan sikap sopan, segera berdiri ketika melihat tuan besar mereka datang.
"Malam juga," jawab Pak Hartawan dengan senyum ramah, matanya sedikit mengerut melihat Narti yang berpakaian sangat terbuka dan menggoda. Pakaiannya yang tipis membuat bagian tubuhnya terlihat jelas, sesuatu yang membuat Pak Hartawan merasa tidak nyaman namun dia tidak mau menunjukkan hal itu.
Pak Hartawan berjalan menuju kulkas yang terletak di sudut ruangan tengah, bermaksud mengambil air minum dingin karena merasa sedikit haus setelah berbicara lama dengan kliennya. Namun sebelum dia bisa membuka pintu kulkas, dia di cegah oleh Narti yang dengan cepat mendekatinya.
"Jangan Pak Hartawan, biar aku saja yang mengambil air dari kulkas," ucap Narti dengan suara yang sedikit menggoda, matanya terus memandangi Pak Hartawan dengan tatapan yang tidak biasa.
"Oke Narti silahkan saja," ucap Pak Hartawan dengan suara tenang, namun matanya tetap memperhatikan pakaian Narti yang membuatnya merasa perlu untuk menjaga diri.
Setelah Narti mengambil segelas air dingin dari kulkas, Pak Hartawan kembali bertanya kepada Yati dengan suara lembut. "Ooh ya istri saya ada di mana Yati?"
"Eeh anu... anu tuan, Ny belum pulang. Tadi sih bilangnya dalam perjalanan menuju rumah, mungkin ada sesuatu yang membuatnya terlambat," ucap Ibu Yati dengan suara polos apa adanya, tidak menyadari bahwa Pak Hartawan sedang merasa khawatir tentang keberadaan istrinya.
"Emang kemana sih dia Yati? Sudah cukup lama juga kan?" tanya Pak Hartawan dengan sedikit kekhawatiran, karena biasanya Ny. Lusi sudah pulang jauh sebelum jam sembilan malam.
"Saya juga gak tahu tuan besar, mungkin Ny Lusi ada urusan penting saja," jawab Yati dengan senyum ramah, mencoba membuat Pak Hartawan merasa tenang.
Tidak berapa lama setelah itu, terdengar suara mobil mewah yang lambat lalu berhenti tepat di garasi rumah Pak Hartawan. Bunyi pintu garasi yang terbuka kemudian ditutup kembali membuat semua orang di ruangan tengah menyadari bahwa tamu telah datang.
"Itu mungkin Ny, tuan besar," ucap Yati kepada Pak Hartawan dengan suara penuh kepastian, lalu segera berdiri bersama Narti untuk menyambut nyonya besar mereka.
Pintu ruangan tengah terbuka dan Narti dengan cepat membukanya dengan sopan. Masuklah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dengan tubuhnya yang tetap sintal dan langsing. Rambutnya yang dirapikan rapi dan aroma parfum mahal yang menyebar membuatnya terlihat sangat anggun dan menarik.
Pak Hartawan melihat Ny Lusi berjalan anggun mendekatinya, wajahnya langsung menunjukkan rasa lega karena akhirnya istrinya sudah pulang.
"Malam papah sayang, kok jam segini papah belum bobo sih?" ucap Ny Lusi dengan suara mesra, kemudian duduk di kursi samping suaminya dan dengan lembut memegang tangannya.
"Mamah habis kemana sih? Papah khawatir kamu terlambat pulang," tanya lembut Pak Hartawan, matanya penuh dengan perhatian kepada istrinya.
"Tumben papah nanya mamah? Padahal biasanya papah gak pernah nanya kemana mamah pergi," ucap Ny Lusi dengan senyum manis, kedua tangannya mulai memegang lengan Pak Hartawan dan sedikit menggosoknya dengan lembut.
"Emang gak boleh kalau papah nanya? Papah cuma khawatir aja kan sama kamu," ucap Pak Hartawan dengan suara lembut, matanya menatap istrinya dengan pandangan yang penuh cinta.