aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Volume I — The Day the World Fell Chapter 6 — A World That Refused to End
Suara sirene tidak pernah berhenti.
Nada panjang, parau, dan menusuk, menggantung di udara seperti ratapan yang diputar ulang tanpa akhir. Daniel terbangun dengan napas tersentak, seolah baru saja ditarik paksa dari dasar laut.
Langit-langit putih retak menyambutnya.
Lampu darurat berkedip pelan, tak stabil. Dinding ruangan dipenuhi bayangan orang-orang yang bergerak cepat—tenaga medis darurat, relawan, dan beberapa sosok berseragam abu-abu gelap dengan lambang sederhana di lengan mereka.
Ia berada di pusat evakuasi sementara.
Tubuhnya terasa… salah.
Bukan karena luka—rasa sakit masih ada, menusuk dan konstan—melainkan karena kesadarannya terlalu utuh. Ia mengingat semuanya: teriakan, darah, iblis, dan momen saat jantungnya berhenti.
Daniel menelan ludah.
Denyut dingin di dadanya merespons.
Segel Pertama tidak menyala.
Ia hanya ada.
Seorang wanita paruh baya mendekat, rambutnya diikat asal, mata cekung karena kelelahan. “Kau sadar?” tanyanya cepat, tangannya sudah memeriksa denyut nadi Daniel.
Daniel mengangguk.
“Nama?”
“Daniel.”
“Usia?”
“Dua puluh satu.”
Jawaban-jawaban itu keluar otomatis. Terlalu otomatis. Ia menyadari napasnya stabil, detak jantungnya konsisten—padahal tubuhnya seharusnya kolaps.
Wanita itu berhenti sejenak, menatap monitor sederhana di samping ranjang darurat.
“Aneh,” gumamnya pelan.
Daniel tidak bertanya apa maksudnya.
Ia takut mendengar jawabannya.
Di luar ruangan, dunia bergerak dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.
Layar besar dipasang di dinding bekas aula olahraga. Gambar-gambar kehancuran berganti tanpa henti: distrik runtuh, langit merah, bayangan raksasa melintas di antara gedung-gedung. Angka korban terus bertambah—tidak pernah turun.
Invasi bukan insiden.
Ia adalah permulaan.
“Ini baru gelombang pertama,” suara seorang pria terdengar tegas. Daniel menoleh.
Pria itu berdiri di dekat peta kota yang dipenuhi tanda merah. Tubuhnya tegap, wajahnya penuh bekas luka lama. Seragam abu-abu gelap yang ia kenakan berbeda—lebih rapi, lebih tegas. Di dadanya tersemat simbol yang sama dengan para petugas di luar, namun lebih besar.
“Asosiasi sementara,” lanjut pria itu kepada sekelompok orang yang berkumpul. “Mulai sekarang, siapa pun yang mampu bertarung akan direkrut. Kita tidak punya kemewahan memilih.”
Asosiasi.
Kata itu terasa berat.
Daniel merasakan sesuatu bergerak di dalam dirinya—bukan keinginan, melainkan respon. Tubuhnya menegang samar saat suara ledakan terdengar dari kejauhan.
Ia menyadari kakinya telah menapak ke lantai.
Tanpa izin.
“Apa yang kau lakukan?” gumamnya pelan, menatap kakinya sendiri.
Namun tubuhnya sudah berdiri.
Rasa sakit menjalar saat ia menahan beban. Lututnya bergetar, tapi tidak runtuh. Postur tubuhnya—aneh, seimbang—membuatnya tetap tegak meski seharusnya tidak mampu.
Basic Stance.
Ia tidak tahu namanya.
Ia hanya tahu tubuhnya menolak jatuh.
Seorang petugas melihatnya. “Hei! Kau seharusnya tetap di ranjang.”
Daniel membuka mulut untuk menjawab—
Dan lantai bergetar.
Bukan gempa.
Raungan menggema, lebih dekat dari sebelumnya.
Teriakan meledak di aula. Orang-orang berhamburan. Lampu berkedip liar. Di layar besar, kamera pengawas menangkap bayangan bergerak cepat di antara gedung—lebih kecil dari sebelumnya, tapi lebih banyak.
“Unit iblis kecil!” teriak seseorang. “Mereka menembus perimeter!”
Kekacauan menyapu ruangan.
Daniel tidak sempat berpikir.
Sesuatu melesat ke arahnya—pecahan logam, terpental akibat ledakan di luar. Ia tidak melihatnya. Ia hanya merasakan ancaman.
Kakinya bergerak.
Satu langkah pendek ke samping.
Tubuh condong.
Bahunya turun.
Emergency Step.
Logam itu melintas di tempat kepalanya berada sedetik lalu dan menghantam dinding, meninggalkan bekas dalam.
Daniel terhuyung.
Rasa sakit menyerang terlambat, menghantam otot betisnya seperti cambukan. Ia hampir jatuh—namun posturnya menahan.
“Bagaimana—” suara petugas itu tercekat.
Daniel sendiri gemetar hebat.
“Aku… tidak tahu,” bisiknya.
Gerbang darurat di ujung aula jebol.
Makhluk itu masuk—tingginya sekitar dua meter, tubuhnya kurus namun padat, kulitnya gelap seperti arang basah. Matanya merah kusam, rahangnya terbelah memperlihatkan gigi tak beraturan.
Iblis tingkat rendah.
Namun bagi manusia biasa—itu sudah cukup untuk membunuh.
Teriakan pecah. Beberapa orang mencoba melawan dengan alat seadanya. Sia-sia.
Makhluk itu melompat.
Daniel berdiri tepat di jalurnya.
Waktu melambat.
Ia ingin lari.
Ia ingin berteriak.
Ia ingin bersembunyi.
Namun tubuhnya memilih bertahan.
Tangannya terangkat. Otot menegang pada momen yang tepat. Saat makhluk itu menghantamnya, Daniel mendorong—bukan dengan tenaga penuh, melainkan dengan struktur.
Reinforced Impact.
Benturan itu menggelegar. Daniel terlempar ke belakang, punggungnya menghantam lantai. Rasa sakitnya luar biasa—tulangnya berteriak—namun ia tidak hancur.
Makhluk itu terpental, terhuyung beberapa langkah.
Hening sesaat.
Lalu suara tembakan dan teriakan perintah memenuhi ruangan. Unit berseragam abu-abu menyerbu, menjatuhkan iblis itu dengan koordinasi yang terlatih.
Daniel terbaring, napasnya terengah.
Langit-langit aula berputar di atasnya.
Seorang pria berlutut di sampingnya—pria berseragam dengan bekas luka di wajah yang tadi berbicara tentang Asosiasi. Matanya tajam, penuh perhitungan.
“Kau,” katanya pelan. “Ulangi. Apa yang barusan kau lakukan?”
Daniel menelan ludah.
“Aku… bertahan,” jawabnya jujur.
Pria itu menatapnya lama. Terlalu lama.
“Nama?”
“Daniel.”
“Baik, Daniel,” katanya akhirnya. “Dunia sudah berakhir untuk orang sepertimu.”
Ia berdiri, memberi isyarat pada anak buahnya.
“Tapi dunia baru,” lanjutnya, “baru saja menolak membunuhmu.”
Daniel memejamkan mata.
Di dadanya, Segel Pertama berdenyut pelan—bukan sebagai hadiah, melainkan peringatan.
Ia telah melangkah ke jalan yang tidak bisa ia tinggalkan.