NovelToon NovelToon
Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Status: tamat
Genre:Romantis / Office Romance / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:29.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
​Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
​Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Tak lama setelah Rangga masuk ke kamar mandi, dokter datang melakukan kunjungan terakhir.

Setelah memeriksa catatan medis dan memastikan kondisi fisik luar Rangga stabil, dokter akhirnya memberikan lampu hijau.

"Pak Rangga sudah boleh pulang hari ini. Tapi ingat, jangan terlalu lelah dan jaga pola makannya," pesan dokter sebelum meninggalkan ruangan.

Linggar hanya menganggukkan kepalanya patuh, mencatat semua pesan dokter dalam benaknya.

Kemudian ia duduk di sofa kecil, menunggu Rangga yang masih berada di dalam kamar mandi.

Pikirannya melayang pada jadwal tinjauan lokasi yang harus mereka lakukan hari ini.

Ceklek.

Suara pintu terbuka memecah keheningan. Rangga melangkah keluar dengan penampilan yang jauh berbeda.

Ia sudah menanggalkan baju rumah sakitnya dan berganti dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, dipadukan dengan celana chino yang rapi.

Meskipun wajahnya masih sedikit pucat, aura kepemimpinannya kembali terpancar.

Rangga menyadari Linggar sedang menatapnya tanpa kedip.

Ia menghentikan langkahnya, menyugar rambutnya ke belakang dengan gaya percaya diri yang menyebalkan sekaligus menawan.

"Kenapa menatapku seperti itu? Rindu ya?" goda Rangga sambil berjalan mendekat ke arah Linggar.

"Bilang saja kalau kamu rindu sama bos Rangga yang tampan ini. Aku tidak akan memotong gajimu karena itu."

Linggar tersadar dari lamunannya. Ia segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir bayangan memar biru yang sempat ia khawatirkan secara tidak sadar tadi.

Ia berdiri dengan sigap dan menyambar tas punggungnya dari atas meja.

"Jangan terlalu percaya diri, Rangga. Aku menatapmu karena heran, orang sakit kenapa masih bisa bicara melantur seperti itu," sahut Linggar ketus sambil melangkah melewati Rangga menuju pintu.

"Ayo cepat, Pak Richard dan Fabian pasti sudah menunggu di kantor. Kita sudah kehilangan banyak waktu."

Rangga tersenyum tipis melihat punggung Linggar yang menjauh.

Ia sempat memegang dadanya sejenak, memastikan rasa nyeri itu masih bisa ia tahan, sebelum akhirnya menyusul langkah wanita itu keluar dari kamar rawat inap

Ponsel Linggar bergetar di dalam saku celananya tepat saat mereka baru saja keluar dari lobi rumah sakit. Nama "Pak Richard" berkedip di layar.

"Halo, Pak Richard?" ucap Linggar sambil memberi isyarat pada Rangga untuk menunggu sebentar.

"Linggar, kalian langsung saja ke lokasi proyek sekarang," suara Pak Richard terdengar terburu-buru di seberang telepon.

"Mandor bangunan sudah saya hubungi, namanya Pak Surya. Dia sudah ada di lapangan menunggu kalian untuk memberikan laporan perkembangan terbaru dan membantu teknis peninjauan."

"Baik, Pak. Lalu Bapak dan Fabian?" tanya Linggar.

"Saya dan Fabian sedang dalam perjalanan menuju Jakarta lewat jalur darat untuk menemui beberapa investor potensial lainnya. Kita butuh suntikan dana tambahan agar proyek ini bisa berjalan lebih cepat. Saya percayakan kendali di lapangan pada kamu dan Rangga. Kabari saya jika ada kendala."

"Mengerti, Pak. Hati-hati di jalan," tutup Linggar.

Ia menoleh ke arah Rangga yang sedang menyandarkan tubuhnya pada tiang lobi, mencoba mengatur napasnya yang diam-diam terasa berat.

"Rencana berubah, Ngga. Pak Richard dan Fabian sedang mencari investor lain. Kita harus langsung ke lapangan sekarang. Pak Surya si mandor sudah menunggu kita di sana," lapor Linggar.

Rangga mengangkat alisnya, ada kilat kepuasan di matanya meskipun wajahnya masih pucat.

"Jadi, hanya kita berdua? Dan mandor itu?"

"Iya, jadi jangan berani-berani berulah. Aku yang pegang kemudi hari ini," ucap Linggar sambil mengeluarkan kunci mobil dari tasnya.

Rangga tersenyum miring, ia melangkah menuju mobil dengan sisa-sisa kekuatannya.

"Siap, Ibu Komandan. Mari kita lihat apakah perbukitan Yogya masih secantik ingatan kita."

Mobil baru saja meluncur beberapa kilometer dari area rumah sakit saat suasana hening di dalam kabin dipecahkan oleh suara yang sangat tidak asing.

Krucuk... krucuk...

Linggar seketika mematung, tangannya refleks memegangi perutnya yang berkhianat.

Wajahnya yang tadi tampak tegas sebagai "komandan" kini memerah karena malu.

Rangga tidak membuang waktu. Dengan gerakan tenang, ia memutar kemudi dan menepikan mobil di depan sebuah kedai sarapan tradisional yang cukup ramai.

"Kenapa berhenti? Kita sudah ditunggu Pak Surya," protes Linggar, mencoba menutupi rasa malunya.

Rangga mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Linggar dengan senyum jahil yang tertahan.

"Pak Surya bisa menunggu, tapi cacing di perutmu sepertinya sudah mulai melakukan demonstrasi anarkis, Linggar. Kita makan dulu."

Mereka turun dan masuk ke kedai. Aroma santan gurih dan bumbu rempah langsung menyambut indra penciuman.

Rangga memesan dua porsi: satu bubur terik daging dan satu bubur gudeg komplit.

Begitu pesanan datang, aroma krecek pedas dari bubur gudeg itu sangat menggoda. Namun, sebelum Rangga sempat menyentuh sendoknya, Linggar dengan sigap menarik piring berisi bubur gudeg milik Rangga ke hadapannya, lalu menukarnya dengan piring berisi bubur terik yang kuahnya bening dan tidak pedas.

"Eh? Kok punyaku ditukar?" tanya Rangga heran.

"Ngga, kamu makan yang ini saja. Ini tidak pedas sama sekali," ucap Linggar tegas sambil mulai menyuap bubur gudegnya.

"Ingat kata dokter, lambungmu masih sensitif. Jangan cari penyakit dengan makan krecek sepagi ini."

Rangga menatap bubur terik di depannya, lalu menatap Linggar yang makan dengan lahap seolah tak terjadi apa-apa.

Ia tersenyum tipis. Perhatian kecil ini jauh lebih mengenyangkan daripada porsi makanan mana pun.

"Galak, tapi perhatian. Itulah kenapa aku sulit pindah ke lain hati," gumam Rangga pelan.

"Makan, Rangga! Jangan mulai lagi!" potong Linggar tanpa menoleh, walau sebenarnya ia sedang menyembunyikan senyum di balik suapan buburnya.

Rangga menatap piring bubur terik di depannya, lalu melirik tangannya yang terpasang plester bekas infus semalam.

Sebuah ide cemerlang (dan sedikit licik) muncul di kepalanya.

Ia mencoba memegang sendok, namun sengaja membuatnya bergetar hebat hingga sendok itu terjatuh kembali ke piring.

"Aduh..." rintih Rangga pelan, sambil memegangi pergelangan tangannya dengan wajah yang dibuat sepucat mungkin.

Linggar, yang sedang asyik mengunyah krecek pedas, langsung berhenti.

"Kenapa lagi, Ngga? Sakit?"

"Tanganku, Linggar. Sepertinya sarafnya masih kaku karena infus semalam. Pegang sendok saja rasanya ngilu sekali," ucap Rangga dengan nada yang sangat meyakinkan.

Ia memasang wajah memelas, tipe wajah yang biasanya membuat para investor langsung luluh, tapi kali ini sasarannya adalah hati Linggar.

Linggar menghela napas panjang, menatap Rangga dengan curiga.

"Jangan akting ya, Rangga."

"Siapa yang akting? Ini beneran, Linggar. Lihat, jariku sampai gemetar," kilah Rangga sambil menunjukkan tangannya yang memang sengaja ia getarkan sedikit.

Melihat kondisi Rangga yang memang baru saja keluar dari rumah sakit, benteng pertahanan Linggar akhirnya runtuh.

Ia menggeser duduknya menjadi lebih dekat ke arah Rangga.

"Sini piringnya," ucap Linggar ketus namun tangannya dengan lembut mengambil alih sendok milik Rangga.

Ia meniup perlahan sesendok bubur terik yang masih mengepul itu, lalu mendekatkannya ke mulut Rangga.

"Buka mulutmu. Cepat makan, jangan banyak protes."

Rangga menerima suapan itu dengan perasaan menang yang luar biasa.

"Enak.... Kalau disuapi bidadari, bubur hambar pun rasanya jadi seperti makanan bintang lima."

"Diam atau aku jejalkan sendok ini ke hidungmu," ancam Linggar, walau sebenarnya ia sangat telaten membersihkan sisa kuah di sudut bibir Rangga dengan tisu.

Rangga menikmati setiap suapan itu sambil menatap lekat mata Linggar. Di balik akting "tangan sakit" itu, Rangga benar-benar bersyukur.

Ia tahu, meskipun Linggar terus berkata mereka adalah musuh, tindakan wanita itu tidak pernah bisa berbohong.

"Linggar," panggil Rangga di sela-sela suapannya.

"Apa?"

"Terima kasih ya. Tetap di sampingku seperti ini, ya?"

Linggar terdiam sejenak, tangannya yang sedang memegang sendok tertahan di udara.

Ia tidak menjawab, hanya kembali menyuapkan bubur itu ke mulut Rangga untuk menutupi kegugupannya yang mulai memuncak.

1
Uthie
Kisah yg seru disimak👍
mengharukan 👍
dan juga penuh pembelajaran agar lebih menghargai orang lain, bukan dari cover nya saja 👍👍👍
Good....sukses selalu 👍👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Uthie
bagian yg disukai 😁👍
Uthie
ikut baper bacanya 👍👍
Uthie
😭😭😭😭
Uthie
😭😭😭😭😭
Uthie
pergi aja dehhhh Linggar dr siapapun orang2 yg gak bisa mengerti perasaan kamu👍
Uthie
Good 👍👍👍🤨
my name is pho
good
Uthie
Kasiannya....
Uthie
semoga sdh ada getar-getar cinta nya 😁
Uthie
Sukkkkaaa BANGETTT ceritanya 👍👍👍🤩
Uthie
Awal mampir yg berkesan 👍👍👍
Endang Sulistia
keren
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
si kecil nikkey
sedih juga ya klo d posisi Linggar, antara senang dan bingung dlm ktakutan
falea sezi
good bgt
Istatik Cell
ceritanya bagus 👍
Susi Susi
ntah kenapa ya asal aku ketemu cerita yg pas selalu putus2..ccemangat kk💪
merry yuliana
hiks haduhhhh sedih kak...tolong bernaik hati ya kak thor yang bauk dan cantik serta keren...please buat rangga sembuh
buat linggar bersatu dengan rangga
menikah beranak cucu sampai maut memisahkan
kak thor sehat swmangat terus yaaa
crazy upnya ditunggu selalu💪🙏👍
merry yuliana
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
merry yuliana
duhhh sakit apa emangnya kak..baik hati ya kak buat rangga bersatu happy ending sm.linggar sampai anak cucu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!