Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death
(update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB.30 — PULANG KE WANGGUAN
Rumah sakit Bai Ma. Gedung putih. Bau obat. Bau kematian.
Zhao Bowen turun dari mobil. Daniel di tangan mereka. Terbaring. Tidak bergerak. Hampir tidak bernapas.
"CEPAT!!!"
Zhao Bowen bentak. Suaranya kasar. Penuh takut. Penuh amarah.
Dokter keluar. Perawat keluar. Tandu. Ruangan darurat. Pintu tertutup.
Zhao Bowen berdiri. Di luar. Menunggu. 150 orang di belakangnya. Berdiri. Menunggu. Seperti tembok. Seperti penjaga.
Dia ambil ponsel. Mengetik.
"Kak Kenzo. Daniel di rumah sakit. Kritis. Racun. Aku tunggu di sini."
Kirim.
Markas Wangguan. Kamar Kenzo. Gelap. Hanya lampu satu. Merah.
Kenzo duduk. Di kursi. Tangan di wajah. Menutupi. Tidak ingin melihat. Tidak ingin diingat.
Xiu Zhu di kamar sebelah. Belum sadar. Dokter pribadi Wangguan yang merawat. Bukan rumah sakit. Tidak aman. Tidak bisa.
Kenzo ingin melihatnya. Tapi tidak berani. Tidak bisa. Dia tahu. Xiu Zhu melihat. Apa yang dia jadi. Monster. Bayangan maut. Sesuatu yang tidak manusia.
Takut. Pasti takut. Harus takut.
Kenzo merasa bersalah. Tapi juga marah. Marah pada diri sendiri. Marah pada Cao Xiu. Marah pada semuanya.
Pintu terbuka.
BRAAKKK!!!
Bukan ketukan. Bukan izin. Langsung masuk.
Hong Feng. Pemimpin Bai Ma. Raja kota hitam. Datang sendiri. Tanpa pengawal. Berani. Atau bodoh.
Dia berdiri. Di tengah ruangan. Menatap Kenzo. Yang masih duduk. Yang masih menutupi wajah.
"Kau."
Hong Feng bicara. Suaranya dingin. Tidak ramah. Tidak lagi seperti partner.
"Kau membuat kekacauan besar."
"Kau membunuh Zhou Ming."
"Kau hampir membunuh Cao Xiu."
"Di tempatku. Di kekuasaan ku."
Kenzo tidak bergerak. Tidak menoleh. Tidak menjawab.
"Kau dengar?"
Hong Feng mendekat. Dua langkah. Tiga langkah.
"Aku bicara padamu!!!"
Suaranya naik. Marah. Kehilangan kendali.
Kenzo bergerak. Perlahan. Angkat kepala. Lihat Hong Feng.
Mata Kenzo. Tidak merah. Tidak hitam. Normal. Coklat. Tapi dingin. Tapi kosong. Tapi berbahaya.
"Dengar."
Kenzo bicara. Pertama kali. Suaranya parau. Tapi keras. Tapi tegas.
"Aku tidak peduli."
"Kau marah? Silahkan."
"Kau mau bunuh aku? Coba."
Dia berdiri. Perlahan. Tegak. Seperti tidak lelah. Seperti tidak takut.
"Tapi ingat."
"Kalau kau sentuh aku sekarang..."
"Aku akan menghancurkan mu."
"Bukan seperti Cao Xiu."
"Lebih parah."
Hong Feng terkejut. Mundur. Satu langkah. Tidak disadari.
Dia melihat. Mata Kenzo. Bukan monster. Tapi bukan manusia. Sesuatu di tengah. Sesuatu yang lebih berbahaya.
Hong Feng diam. Terlalu lama. Lalu tertawa. Pendek. Pahit.
"Baik."
"Kau menang kali ini."
Dia berbalik. Ke pintu. Tapi berhenti. Setengah berbalik.
"Tapi Cao Xiu tidak akan diam."
"Dia akan datang."
"Tanpa izinku."
"Tanpa aturan."
Hong Feng pergi. Pintu tertutup.
BRAAKKK!!!
Kenzo berdiri. Tegak. Lalu jatuh. Ke kursi. Lemas. Seperti boneka yang talinya putus.
Cao Xiu. Di tempatnya sendiri. Di markasnya. Di utara.
Dia mendengar. Dari mata-mata. Hong Feng pergi ke Wangguan. Hong Feng kembali. Hong Feng tidak berbuat apa-apa.
Dia tertawa. Panjang. Pahit. Gila.
"Pengecut."
"Semua pengecut."
Dia berdiri. Ke meja. Ambil ponsel. Mengetik nomor. Lama. Tidak digunakan. Untuk darurat. Untuk sesuatu yang besar.
"Apa kau masih membunuh?"
Pesan singkat. Jawaban cepat.
"Siapa target?"
Cao Xiu tersenyum. Lebar. Seperti ular. Seperti sesuatu yang berbahaya.
"Kenzo Huang."
"Shadow of Death."
"Harga? Sebut."
Malam. Wangguan sunyi. Tidak ada suara. Hanya angin.
Kenzo di kamar. Tidak tidur. Tidak bisa. Mata terbuka. Menatap langit-langit.
Dia pikir. Tentang Daniel. Tentang Xiu Zhu. Tentang apa yang terjadi di arena.
Dia membunuh Zhou Ming. Dengan tangan kosong. Dengan kekuatan yang bukan manusia.
Dia melihat mata Zhou Ming. Terkejut. Takut. Lalu mati.
Kenzo tidak merasa apa-apa. Saat itu. Tapi sekarang. Sesuatu mengganggu.
Bukan penyesalan. Bukan. Tapi... apa?
Dia tidak tahu.
Pagi. Matahari terbit. Kabut tipis.
Zhao Bowen datang. Ke kamar Kenzo. Wajahnya lelah. Matanya merah.
"Daniel stabil. Tapi masih kritis. Racunnya aneh. Dokter tidak tahu apa itu."
Kenzo diam. Mendengar.
"Xiu Zhu?" tanya Kenzo. Suaranya parau.
"Belum sadar. Tapi napasnya normal. Dokter bilang... trauma. Mental. Bisa sembuh. Bisa tidak."
Kenzo mengangguk. Lambat. Sangat lambat.
"Jaga mereka," kata Kenzo.
"Kau mau kemana?" tanya Zhao Bowen.
Kenzo tidak menjawab. Dia berdiri. Ke jendela. Melihat luar.
Wangguan. Markasnya. Tempat yang dia bangun. Tempat yang akan dia hancurkan. Jika perlu.
"Aku tunggu," kata Kenzo. "Cao Xiu akan datang."
"Kau yakin?"
"Ya."
Kenzo berbalik. Melihat Zhao Bowen.
"Siapkan orang. Semua. Jaga RS. Jaga markas. Jaga Xiu Zhu."
"Kau?"
"Aku tunggu di sini."
Zhao Bowen mengangguk. Dia pergi.
Siang. Panas. Tidak ada angin.
Kenzo masih di kamar. Tidak makan. Tidak minum. Hanya duduk. Hanya menunggu.
Dia tahu. Cao Xiu tidak akan lama. Hong Feng sudah bilang. Tanpa izin. Tanpa aturan.
Ini bukan lagi bisnis. Ini dendam. Ini perang.
Kenzo tidak takut. Dia sudah mati rasa. Sejak penjara. Sejak Lin Dong mati.
Tapi sekarang. Ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang mengganjal.
Xiu Zhu. Daniel. Orang-orang yang dia jaga. Yang dia janjikan untuk lindungi.
Dia gagal. Hampir. Daniel hampir mati. Xiu Zhu hancur. Karena dia.
Kenzo mengepalkan tangan. Kuat. Sampai kuku putih.
Tidak lagi. Tidak akan lagi.
Sore. Matahari merah. Seperti darah.
Ponsel Kenzo berbunyi. Pesan dari Zhao Bowen.
"Cao Xiu bergerak. Bukan ke sini. Ke utara. Tidak tahu apa yang dia rencanakan."
Kenzo membaca. Dua kali. Tiga kali.
Ke utara. Bukan ke Wangguan.
Jebakan? Atau...
Kenzo berdiri. Cepat. Mengambil jaket. Mengambil pisau.
Dia harus pergi. Ke RS. Jaga Daniel. Jaga Xiu Zhu.
Cao Xiu licik. Cao Xiu gila. Tapi Cao Xiu pintar.
Kalau tidak ke Wangguan. Maka ke tempat lain. Tempat yang lemah. Tempat yang bisa disakiti.
Kenzo berlari. Keluar kamar. Tangga. Lobi.
Orang-orang Wangguan melihat. Diam. Tidak berani tanya.
Kenzo tidak peduli. Dia masuk mobil. Nyalakan mesin. Gas.
RS Bai Ma. Sama. Putih. Bau obat.
Kenzo masuk. Cepat. Tidak ada yang berani halangi.
Kamar Daniel. Dia lihat. Daniel terbaring. Pucat. Tapi bernapas. Masih hidup.
Kenzo lega. Sedikit.
Kamar Xiu Zhu. Dia lihat. Xiu Zhu terbaring. Matanya tertutup. Tidak bergerak.
Kenzo duduk. Di sampingnya. Menatap.
"Maaf," bisik Kenzo. Hampir tidak terdengar.
Xiu Zhu tidak merespons. Tidak bergerak.
Kenzo menunggu. Di sana. Sampai malam.
Malam. Gelap. Sunyi.
Kenzo masih di samping Xiu Zhu. Tidak bergerak. Seperti patung.
Pintu terbuka. Perlahan.
Bukan Zhao Bowen. Bukan perawat.
Seseorang. Berjas hitam. Topi. Wajah tidak kelihatan.
Dia masuk. Cepat. Ke arah Xiu Zhu.
Kenzo bergerak. Lebih cepat. Tangannya ke leher orang itu. Mencekik.
"Siapa kau?" tanya Kenzo. Suaranya dingin.
Orang itu tidak bisa bicara. Tercekik. Matanya terbelalak. Takut.
Kenzo melihat. Mata itu. Bukan mata pembunuh bayaran. Bukan mata profesional.
Mata ini. Mata korban. Mata yang dipaksa.
Kenzo melepaskan. Sedikit.
"Siapa yang kirim kau?" tanya Kenzo.
Orang itu batuk. Terengah-engah.
"Cao... Cao Xiu," jawabnya. "Dia... dia tangkap keluargaku. Paksa aku... bunuh wanita itu."
Kenzo diam. Menatap. Lalu melepaskan sepenuhnya.
Orang itu jatuh. Ke lantai. Terengah-engah.
"Pergi," kata Kenzo. "Lari. Jangan kembali."
Orang itu melihat. Terkejut. Tidak percaya. Lalu berdiri. Lari. Keluar.
Kenzo menatap pintu. Wajahnya tidak berubah. Tapi matanya. Lebih dingin. Lebih gelap.
Cao Xiu. Tidak bermain main. Tidak ada aturan. Tidak ada batas.
Ini perang. Total.
Kenzo ambil ponsel. Mengetik.
("Zhao Bowen. Pindahkan Daniel dan Xiu Zhu. Sekarang. Tempat rahasia. Hanya kau yang tahu.")
Kirim.
Jawaban cepat.
("Oke.")
Kenzo berdiri. Melihat Xiu Zhu. Terakhir kali.
Dia akan kembali. Setelah ini selesai. Setelah Cao Xiu mati.
Dia berbalik. Keluar. Ke malam.
Cao Xiu. Di markasnya. Menunggu.
Ponselnya berbunyi. Pesan.
("Gagal. Target lari.")
Cao Xiu tersenyum. Tidak marah. Tidak kecewa.
"(Bagus,)" bisiknya.
Dia ingin Kenzo tahu. Ingin Kenzo takut. Ingin Kenzo sibuk jaga orang-orangnya.
Sementara. Dia siapkan sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Cao Xiu melihat ke luar jendela. Ke kota. Ke Wangguan.
"Kau pikir kau menang, Shadow of Death?"
"Tunggu saja."
"Tunggu."
...$ BERSAMBUNG $...