Queenza Celeste tidak pernah menyangka suami yang selama ini dia cintai, tega menduakan cintanya. Di detik terakhir hidupnya dia baru sadar jika selama ini Xavier hanya memanfaatkan dirinya saja untuk menghancurkan keluarganya. Saat Queenza terbangun kembali, dia memutuskan untuk membalas semuanya.
Bagaimana kisah selengkapnya? Simak kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Surat Peringatan
Mia menggenggam tangannya dengan erat. Bahkan dia terlihat sedikit gemetaran. Namun, karena dia penasaran, ia berinisiatif untuk ikut.
"Sa_saya ikut karena merasa kalau diperlukan untuk mencatat poin poin penting, saya bisa membantu mencacatnya."
"Tidak perlu. Keluarlah sekarang." Blake tidak menganggap Mia, bahkan ketika mengusirnya, dia sama sekali tidak memandang perempuan itu. Dia merasa akan terlalu mengotori matanya jika ia menatap wanita yang sudah menghancurkan rumah tangga adiknya.
Mia keluar dengan wajah memerah. Namun, bukan karena malu, melainkan marah. Dia sangat marah pada Blake.
"Adik dan kakak sama saja. Paling pinter buat marah orang," ujar Mia mengeluh.
Mia akhirnya pergi kembali ke ruangan Xavier sambil marah marah. Dia membanting ponselnya ke meja dan menyapu semua barang yang ada di meja dengan kasar.
"Akhhh, sialan. Benar-benar menyebalkan. Awas saja kalian. Saat aku dan Xavier berhasil mengusai harta keluarga kalian. Akan aku buat kalian berlutut dan menjilat sepatuku."
Setelah puas melampiaskan kemarahannya, Mia menegakkan tubuhnya dan mulai mengatur napas. Perempuan itu mulai tenang. Mia mengambil tas make up nya dan masuk ke toilet di ruangan Xavier. Dia sudah seperti istri Xavier yang memakai segala fasilitas di ruangan Xavier dengan bebas.
Sementara itu di ruangan Blake masih terasa tegang. Xavier dimarahi habis habisan oleh Blake di depan Ethan. Xavier terus menunduk, kedua tangannya mengepal dengan kuat. Dia akui dia salah, tetapi apakah perlu dia dimarahi di depan klien penting seperti ini.
"Apakah kamu mendengar ucapanku, Pak Xavier?"
"Sa_saya dengar."
"Coba ulangi apa yang saya katakan!"
"A_apa?" Xavier entah mengapa tiba-tiba menjadi gagap. Dia tidak benar-benar mendengarkan omelan Blake. Apakah dia akan semakin dimarahi lagi.
"Keluar dari ruangan ini." Tanpa ampun Blake mengusir Xavier tanpa menunggu waktu lama. Xavier masih tampak bingung dengan apa yang terjadi. Dia menoleh menatap Ethan dan timnya. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang menatap kearahnya.
Kemarahan dihati Xavier semakin besar. Namun, hal ini juga membuat dia sedikit khawatir tentang sesuatu. Jika kondisinya terus seperti ini, situasinya akan jauh dari rencananya dan jika semakin lama ditunda, maka akan semakin lama juga dia menguasai harta kekayaan keluarga Celeste.
Xavier tidak kembali ke ruangannya. Dia yakin betul jika Blake marah padanya, kemungkinan seharian nanti Blake tidak akan mungkin mencarinya. Jadi sebaiknya dia bersenang-senang dengan Calia.
Sementara itu di ruangan Blake, Ethan dan Blake terlihat begitu santai membicarakan bisnis lain. Karena bisnis ini memang bertujuan untuk menghancurkan Xavier sesuai dengan permintaan Queen.
Namun, meski demikian, dana yang dikeluarkan oleh pihak Grup Lewis adalah dana sungguhan, karena Bryan benar-benar ingin membantu Queen dengan sempurna.
"Jadi bagaimana dengan tambangnya?"
"Semuanya berjalan aman, hanya saja sepertinya untuk menghemat waktu sebaiknya dibangun pabrik di dekatnya. Tuan Bryan menyarankan pabrik pengolahan barang setengah jadi. Soal nanti siapa pembelinya, perusahan kami memiliki banyak koneksi."
"Atur saja semuanya. Saya percaya dengan kemampuan tuan Bryan. Saya hanya menaruh uang adik saya, agar dia punya pemasukan untuk bersenang-senang bersama anaknya."
"Anda sungguh sangat memikirkan nona Queen."
"Ya, dia adik saya satu-satunya. Mana mungkin saya mengabaikannya."
Setelah bertukar informasi sebentar, Ethan segera undur diri. Blake bersandar di kursinya dan menghela napas panjang.
"Tuan, kenapa tuan Bryan sampai mau menawari anda bisnis tambang mineral ini?"
"Mungkin karena dia menyukai adikku," jawab Blake asal. Tetapi meski begitu, di dalam hatinya dia memang menyadari sesuatu. Bryan Lewis kemungkinan besar memang jatuh hati pada adiknya. Bukan hanya karena Queen menjadi ibu susu bagi bayinya, tetapi ada sesuatu yang lebih dalam dari itu.
"Lalu apa yang akan anda lakukan dengan Xavier."
"Ayo kita ke ruangannya. Sudah saatnya kita memberinya sedikit pelajaran. Beraninya dia menyakiti adikku dan mengabaikan keponakanku yang cantik."
Blake berdiri dari kursinya dia dan Andreas akhirnya pergi ke ruangan Xavier.
Blake sengaja tidak mengetuk pintu. Dia ingin memamerkan kekuasaannya. Namun, saat pintu terbuka, dia justru tercengang melihat ruangan itu.
"Apa yang terjadi dengan ruangan ini?" Wajah Blake kali ini terlihat serius. Andreas yang berdiri di belakang Blake pun juga terkejut melihat ruangan yang seperti habis diterjang badai itu.
"Tu_tuan ini .... "
KLEK!!
Pintu toilet terbuka. Mia terkejut mendapati Blake berdiri bersama asistennya di depan ruangan.
"Tuan Blake. A_anda ... ada apa Anda datang kemari?"
"Di mana Xavier?"
"Tu_tuan Xavier sejak tadi belum kembali ke ruangan ini."
Blake menyalah artikan sikap gugup Mia, dia langsung menyuruh Andreas untuk memeriksa toilet dan ruang pribadi Xavier. Namun, rupanya hasilnya tetap nihil. Xavier benar-benar tidak ada di ruangan ini.
"Andreas, katakan pada pihak personalia untuk memberikan surat peringatan pada Xavier sekarang juga," perintah Blake pada Andreas.
Lalu Blake menoleh menatap Mia, "Dan kamu, hubungi atasanmu itu, katakan padanya kalau dia tidak kembali untuk bekerja hari ini, dia tidak perlu datang lagi." Blake menjeda ucapannya.
Tatapan mata pria itu menajam. "Juga katakan padanya, kalau dia tidak berniat bekerja, segera kembalikan saham milik adikku. Sungguh orang yang hanya membuang sumber daya."
Blake berbalik menuju pintu. Mia hampir menghembuskan napas lega, tetapi dalam hitungan detik dia kembali berbalik. Mia segera menegakkan tubuhnya. Blake menatap Mia dengan tajam, "Oh aku lupa mengatakan sesuatu padamu, perusahaan ini bukan rumahmu. Segala poperti yang ada di perusahaan ini milik perusahaan Celestial sepenuhnya. Aku akan menyuruh staf administrasi untuk menghitung kerugian atas kerusakan ini. Bulan ini gajimu akan dipotong."
Setelah mengutarakan semuanya, Blake pergi meninggalkan Mia yang masih ketakutan. Ekspresi Mia berubah ubah, antara marah, geram dan benci. Mia mengepalkan tangannya.
"Blake, kamu benar-benar membuatku marah. Lihat saja. Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti."
Mia segera mengambil ponselnya yang tadi sempat dia banting ke meja, sayangnya layar ponselnya retak dan tidak bisa dipakai. Mia segera ke meja Xavier. Dia mencoba menghubungi nomor Xavier, tetapi nomornya tidak bisa dihubungi. Mia hampir limbung karena marah, dia memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Sepertinya tekanan darahnya naik lagi.
Perempuan itu duduk di kursi Xavier. Dia tampak frustasi, merasa akhir akhir ini Xavier benar-benar berubah. Tak ingin berpikir terlalu banyak, Mia menghubungi staf kebersihan untuk membersihkan ruangannya. Dia memutuskan untuk pulang ke apartemennya saat istirahat nanti. Dia harap bisa bertemu dengan Xavier dan memberi Xavier peringatan. Jika tidak, dia tahu apa yang akan Blake lakukan pada Xavier.
Menurut Mia, Blake sebagai salah satu ahli waris Celestial Corporation, dia bisa saja membuat Xavier kehilangan segalanya, termasuk kehilangan saham di tangannya.
Hanya dengan memikirkan kehilangan yang akan dia tanggung saja sudah membuat Mia merasa lemas.