Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Pilihan yang tak mudah
Di tempat tongkrongan yang biasa Dio datangi sepulang sekolah, ia terlihat duduk bersama beberapa teman laki-lakinya.
Bangku panjang di bawah pohon rindang itu sudah seperti markas tetap mereka. Tas dilempar sembarangan, suara tawa bersahutan, dan obrolan tentang tantangan duet lawan jenis jadi topik utama siang itu.
“Eh gue udah ada calon nih!”
“Siapa? Yang kelas sebelah itu?”
“Ogah ah, fals mulu dia!”
Mereka tertawa.
Santai.
Seperti biasa.
Tapi tidak dengan Dio.
Ia duduk sedikit menjauh dari lingkaran mereka.
Bola basket di tangannya dipantulkan pelan ke tanah—sekali, dua kali, berulang-ulang.
Tatapannya kosong.
Seolah pikirannya sedang di tempat lain.
“Yo!” salah satu temannya menepuk bahunya tiba-tiba.
“Lu kenapa sih dari tadi bengong mulu? Kesurupan ya?”
Dio mendengus.
“Mana ada kesurupan, diem.”
Temannya malah menyeringai.
“Soalnya kalau lu normal tuh kayak orang kesurupan. Berarti kalau lagi kesurupan harusnya kalem dong.”
Tawa pecah lagi.
Dio ikut tertawa kecil, lalu mengacak rambut temannya kasar.
“Berani ya lu sama gue,” katanya sambil setengah mengancam, tapi tetap santai.
Suasana kembali cair.
Namun tak lama, Dio kembali duduk. Kali ini bola basket berhenti memantul. Tangannya menggenggam bola itu lebih erat.
“Enggak… gue cuma kepikiran soal duet,” ucapnya akhirnya.
Teman-temannya langsung menoleh.
“Tumben lu mikirin pelajaran. Biasanya juga cuek,” celetuk salah satu dari mereka.
Dio menarik napas pendek.
“Kali ini beda.”
Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada lebih pelan.
“Ada satu cewek yang pengen gue ajak… tapi gue ragu.”
Suasana yang tadi penuh canda mendadak sedikit berubah.
Teman-temannya saling pandang.
“Ragu kenapa?”
“Takut ditolak?”
“Atau takut direbut orang?”
Dio terdiam beberapa detik.
“Yaelah… lu kan Dio. Masa takut ditolak?”
“Nyoba dulu lah. Ditolak masih mending daripada nyesel karena nggak pernah nyoba.”
“Kesempatan nggak datang dua kali, Yo.”
Kata-kata itu terdengar sederhana. Santai. Bahkan setengah bercanda.
Tapi entah kenapa… tepat kena.
Dio terdiam.
Di kepalanya, bayangan ditolak Rahmalia muncul begitu jelas. Canggung. Sunyi. Memalukan.
Namun di saat yang sama… ada dorongan lain yang lebih kuat.
Perasaan yang sejak tadi ia tahan.
Keinginan untuk langsung menanyakannya.
Langsung memastikan.
Tanpa berputar-putar.
Dio menelan pelan, lalu mengangguk. Tangannya mengepal kuat di atas lutut, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
“Oke… baiklah,” ucapnya akhirnya.
Ia berdiri.
Tanpa banyak kata, Dio mendekat ke temannya yang tadi bicara paling semangat. Kedua tangannya langsung menangkup kepala temannya itu—lalu membenturkannya pelan ke kepalanya sendiri.
Tok.
“Anjir! Sakit, bego!” protes temannya sambil meringis.
Dio malah tertawa.
“Makasi, kawan,” katanya santai.
Ia meraih bola basketnya, lalu berbalik.
“Gue pamit dulu.”
Langkahnya cepat.
Kali ini… tanpa ragu.
...----------------...
Keesokan harinya, saat jam istirahat, Dio berjalan sendiri menyusuri koridor sekolah.
Tidak seperti biasanya.
Langkahnya lebih pelan. Tatapannya serius, tidak banyak menoleh ke kanan-kiri. Bola basket yang biasanya selalu ada di tangannya pun tidak dibawa.
Jantungnya terasa sedikit menegang.
Untuk pertama kalinya… ia benar-benar gugup.
Wajahnya tidak lagi santai seperti Dio yang biasa orang kenal. Tidak ada senyum usil. Tidak ada candaan.
Ia hanya berjalan.
Mencari.
Dio tidak bertanya pada siapa pun.
Tidak menyapa teman.
Tidak juga berhenti di kerumunan.
Ia hanya mengikuti instingnya—menuju tempat-tempat yang biasa Rahmalia datangi saat istirahat.
Kantin.
Taman belakang.
Koridor dekat ruang musik.
Hingga langkahnya berhenti sesaat di depan perpustakaan.
Tangannya sempat menggenggam gagang pintu… lalu ia tarik napas pelan sebelum mendorongnya masuk.
Suasana perpustakaan terasa hening.
Rak-rak buku berdiri rapi, udara dingin, dan suara halaman yang dibalik pelan menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar.
Di salah satu meja baca, Rahmalia duduk sendiri.
Tubuhnya sedikit condong ke depan, matanya fokus pada buku yang terbuka di tangannya. Wajahnya tenang, seolah dunia di sekelilingnya benar-benar hilang saat ia membaca.
Namun ketenangan itu tidak sepenuhnya utuh.
Di meja sebelah, dua siswa laki-laki duduk sambil bercanda pelan. Sesekali kursi mereka bergeser, bunyinya cukup terdengar di ruangan yang sepi. Kadang mereka berdehem, kadang tertawa tertahan.
Kecil.
Tapi cukup mengganggu.
Rahmalia sempat mengangkat kepala sebentar, lalu kembali menunduk. Ia berusaha fokus, meski alisnya sedikit berkerut.
Tak lama, langkah kaki terdengar mendekat.
Dio.
Ia berjalan tanpa ragu menuju meja itu. Tatapannya langsung tertuju ke arah dua siswa yang membuat keributan tadi.
Tanpa banyak bicara, Dio menggeser kursi salah satu dari mereka pelan—cukup tegas untuk membuat mereka berhenti.
Lalu ia duduk di samping Rahmalia.
Dua siswa itu sempat terdiam, kaget. Namun begitu menyadari siapa yang datang, mereka saling melirik… lalu memilih berdiri dan pergi tanpa komentar.
Suasana kembali sunyi.
Rahmalia yang sejak tadi membaca akhirnya menoleh.
Matanya bertemu dengan Dio.
Ada raut kaget di wajahnya.
Bukan karena Dio datang…
Tapi karena Dio datang ke tempat seperti ini.
“Kamu… di perpustakaan?” tanyanya pelan, hampir seperti tidak percaya.
Dio mengangkat bahu ringan, mencoba terlihat santai… meski detak jantungnya sendiri belum sepenuhnya tenang.
Atmosfer di antara mereka berubah.
Untuk pertama kalinya, Dio merasa… malu.
Bukan malu karena diejek.
Bukan juga karena takut.
Tapi malu karena kali ini ia benar-benar serius.
Rahmalia tetap menatap bukunya, terlihat tenang. Seolah kehadiran Dio di sampingnya hanyalah hal biasa.
“Ca… kamu udah punya pasangan duet?” tanya Dio pelan.
Rahmalia berhenti membaca.
Matanya perlahan terangkat, menatap Dio.
Ia diam.
Karena ia sudah tahu ke mana arah pertanyaan itu.
Di kepalanya, kalimat Gina kembali terngiang.
Aku sih udah kepikiran mau duet sama siapa. Lagian kita emang udah deket.
Rahmalia yakin—yang dimaksud Gina adalah Dio.
Dan kalau ia menerima ajakan ini…
Apakah itu berarti ia merebut sesuatu dari sahabatnya sendiri?
“Belum sih…” jawabnya pelan, ragu.
Senyum Dio langsung melebar.
“Kalau gitu duet sama aku, please?” ucapnya cepat, hampir tanpa jeda.
“Aku nggak mau duet sama yang lain. Cuma kamu kayaknya yang bisa nyambung sama aku.”
Nada suaranya tidak bercanda.
Tidak santai seperti biasanya.
Tulus.
Rahmalia benar-benar terdiam.
Menerima Dio… berarti berisiko menyakiti Gina.
Menolak Dio… berarti menyakiti Dio yang sedang berdiri di depannya dengan wajah memohon seperti itu.
Ia kembali menatap buku di hadapannya.
Namun huruf-huruf itu tidak lagi terbaca.
Pikirannya kacau.
Pelan-pelan ia menoleh lagi ke arah Dio.
Wajah itu—yang biasanya penuh canda—kini terlihat berbeda. Ada harap yang jelas di sana.
Rahmalia menarik napas kecil.
“Kasih aku waktu… sampai besok. Bisa kan?”
Dio langsung mengangguk, senyum lega muncul di wajahnya.
“Oke. Aku tunggu jawaban kamu besok.”
Ia berdiri.
“Kalau gitu aku pamit dulu. Masuk kelas duluan ya.”
Tanpa menunggu lama, Dio melangkah pergi meninggalkan perpustakaan.
Rahmalia tetap duduk di sana.
Sunyi kembali mengisi ruangan.
Ia menatap buku di tangannya, tapi tetap tidak membaca.
Di dalam dadanya, ada perasaan yang sulit ia jelaskan.
Kenapa keputusan sederhana seperti ini terasa berat?
Ia tidak pernah berniat masuk ke dalam situasi rumit seperti ini.
Ia hanya ingin menyelesaikan tugas dengan tenang.
Namun sekarang…
Ia berada di antara dua hal yang sama-sama tidak ingin ia sakiti.
Gina.
Dan Dio.
Rahmalia menutup bukunya perlahan.
Untuk pertama kalinya, ia sadar—
mungkin bukan duetnya yang sulit.
Tapi menjaga semua perasaan agar tetap utuh… yang terasa hampir mustahil.
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
maaf yaa nangis sedikittt
keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
di sini alur belum maju lagi 🤔
jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn
perhatikan dinamis Pace
baby shark doo dooo doo
chapter ini cukup menarik
slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
azmi sama siapa sih mau mu.. gina apa rahmalian 😏
kayak mau deketin Azmi sama gina
kek nyaman bener
ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok
aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏
ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)
main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..
ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita
penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???