NovelToon NovelToon
Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: bg.Hunk

Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Pilihan yang tak mudah

Di tempat tongkrongan yang biasa Dio datangi sepulang sekolah, ia terlihat duduk bersama beberapa teman laki-lakinya.

Bangku panjang di bawah pohon rindang itu sudah seperti markas tetap mereka. Tas dilempar sembarangan, suara tawa bersahutan, dan obrolan tentang tantangan duet lawan jenis jadi topik utama siang itu.

“Eh gue udah ada calon nih!”

“Siapa? Yang kelas sebelah itu?”

“Ogah ah, fals mulu dia!”

Mereka tertawa.

Santai.

Seperti biasa.

Tapi tidak dengan Dio.

Ia duduk sedikit menjauh dari lingkaran mereka.

Bola basket di tangannya dipantulkan pelan ke tanah—sekali, dua kali, berulang-ulang.

Tatapannya kosong.

Seolah pikirannya sedang di tempat lain.

“Yo!” salah satu temannya menepuk bahunya tiba-tiba.

“Lu kenapa sih dari tadi bengong mulu? Kesurupan ya?”

Dio mendengus.

“Mana ada kesurupan, diem.”

Temannya malah menyeringai.

“Soalnya kalau lu normal tuh kayak orang kesurupan. Berarti kalau lagi kesurupan harusnya kalem dong.”

Tawa pecah lagi.

Dio ikut tertawa kecil, lalu mengacak rambut temannya kasar.

“Berani ya lu sama gue,” katanya sambil setengah mengancam, tapi tetap santai.

Suasana kembali cair.

Namun tak lama, Dio kembali duduk. Kali ini bola basket berhenti memantul. Tangannya menggenggam bola itu lebih erat.

“Enggak… gue cuma kepikiran soal duet,” ucapnya akhirnya.

Teman-temannya langsung menoleh.

“Tumben lu mikirin pelajaran. Biasanya juga cuek,” celetuk salah satu dari mereka.

Dio menarik napas pendek.

“Kali ini beda.”

Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada lebih pelan.

“Ada satu cewek yang pengen gue ajak… tapi gue ragu.”

Suasana yang tadi penuh canda mendadak sedikit berubah.

Teman-temannya saling pandang.

“Ragu kenapa?”

“Takut ditolak?”

“Atau takut direbut orang?”

Dio terdiam beberapa detik.

“Yaelah… lu kan Dio. Masa takut ditolak?”

“Nyoba dulu lah. Ditolak masih mending daripada nyesel karena nggak pernah nyoba.”

“Kesempatan nggak datang dua kali, Yo.”

Kata-kata itu terdengar sederhana. Santai. Bahkan setengah bercanda.

Tapi entah kenapa… tepat kena.

Dio terdiam.

Di kepalanya, bayangan ditolak Rahmalia muncul begitu jelas. Canggung. Sunyi. Memalukan.

Namun di saat yang sama… ada dorongan lain yang lebih kuat.

Perasaan yang sejak tadi ia tahan.

Keinginan untuk langsung menanyakannya.

Langsung memastikan.

Tanpa berputar-putar.

Dio menelan pelan, lalu mengangguk. Tangannya mengepal kuat di atas lutut, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.

“Oke… baiklah,” ucapnya akhirnya.

Ia berdiri.

Tanpa banyak kata, Dio mendekat ke temannya yang tadi bicara paling semangat. Kedua tangannya langsung menangkup kepala temannya itu—lalu membenturkannya pelan ke kepalanya sendiri.

Tok.

“Anjir! Sakit, bego!” protes temannya sambil meringis.

Dio malah tertawa.

“Makasi, kawan,” katanya santai.

Ia meraih bola basketnya, lalu berbalik.

“Gue pamit dulu.”

Langkahnya cepat.

Kali ini… tanpa ragu.

...----------------...

Keesokan harinya, saat jam istirahat, Dio berjalan sendiri menyusuri koridor sekolah.

Tidak seperti biasanya.

Langkahnya lebih pelan. Tatapannya serius, tidak banyak menoleh ke kanan-kiri. Bola basket yang biasanya selalu ada di tangannya pun tidak dibawa.

Jantungnya terasa sedikit menegang.

Untuk pertama kalinya… ia benar-benar gugup.

Wajahnya tidak lagi santai seperti Dio yang biasa orang kenal. Tidak ada senyum usil. Tidak ada candaan.

Ia hanya berjalan.

Mencari.

Dio tidak bertanya pada siapa pun.

Tidak menyapa teman.

Tidak juga berhenti di kerumunan.

Ia hanya mengikuti instingnya—menuju tempat-tempat yang biasa Rahmalia datangi saat istirahat.

Kantin.

Taman belakang.

Koridor dekat ruang musik.

Hingga langkahnya berhenti sesaat di depan perpustakaan.

Tangannya sempat menggenggam gagang pintu… lalu ia tarik napas pelan sebelum mendorongnya masuk.

Suasana perpustakaan terasa hening.

Rak-rak buku berdiri rapi, udara dingin, dan suara halaman yang dibalik pelan menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar.

Di salah satu meja baca, Rahmalia duduk sendiri.

Tubuhnya sedikit condong ke depan, matanya fokus pada buku yang terbuka di tangannya. Wajahnya tenang, seolah dunia di sekelilingnya benar-benar hilang saat ia membaca.

Namun ketenangan itu tidak sepenuhnya utuh.

Di meja sebelah, dua siswa laki-laki duduk sambil bercanda pelan. Sesekali kursi mereka bergeser, bunyinya cukup terdengar di ruangan yang sepi. Kadang mereka berdehem, kadang tertawa tertahan.

Kecil.

Tapi cukup mengganggu.

Rahmalia sempat mengangkat kepala sebentar, lalu kembali menunduk. Ia berusaha fokus, meski alisnya sedikit berkerut.

Tak lama, langkah kaki terdengar mendekat.

Dio.

Ia berjalan tanpa ragu menuju meja itu. Tatapannya langsung tertuju ke arah dua siswa yang membuat keributan tadi.

Tanpa banyak bicara, Dio menggeser kursi salah satu dari mereka pelan—cukup tegas untuk membuat mereka berhenti.

Lalu ia duduk di samping Rahmalia.

Dua siswa itu sempat terdiam, kaget. Namun begitu menyadari siapa yang datang, mereka saling melirik… lalu memilih berdiri dan pergi tanpa komentar.

Suasana kembali sunyi.

Rahmalia yang sejak tadi membaca akhirnya menoleh.

Matanya bertemu dengan Dio.

Ada raut kaget di wajahnya.

Bukan karena Dio datang…

Tapi karena Dio datang ke tempat seperti ini.

“Kamu… di perpustakaan?” tanyanya pelan, hampir seperti tidak percaya.

Dio mengangkat bahu ringan, mencoba terlihat santai… meski detak jantungnya sendiri belum sepenuhnya tenang.

Atmosfer di antara mereka berubah.

Untuk pertama kalinya, Dio merasa… malu.

Bukan malu karena diejek.

Bukan juga karena takut.

Tapi malu karena kali ini ia benar-benar serius.

Rahmalia tetap menatap bukunya, terlihat tenang. Seolah kehadiran Dio di sampingnya hanyalah hal biasa.

“Ca… kamu udah punya pasangan duet?” tanya Dio pelan.

Rahmalia berhenti membaca.

Matanya perlahan terangkat, menatap Dio.

Ia diam.

Karena ia sudah tahu ke mana arah pertanyaan itu.

Di kepalanya, kalimat Gina kembali terngiang.

Aku sih udah kepikiran mau duet sama siapa. Lagian kita emang udah deket.

Rahmalia yakin—yang dimaksud Gina adalah Dio.

Dan kalau ia menerima ajakan ini…

Apakah itu berarti ia merebut sesuatu dari sahabatnya sendiri?

“Belum sih…” jawabnya pelan, ragu.

Senyum Dio langsung melebar.

“Kalau gitu duet sama aku, please?” ucapnya cepat, hampir tanpa jeda.

“Aku nggak mau duet sama yang lain. Cuma kamu kayaknya yang bisa nyambung sama aku.”

Nada suaranya tidak bercanda.

Tidak santai seperti biasanya.

Tulus.

Rahmalia benar-benar terdiam.

Menerima Dio… berarti berisiko menyakiti Gina.

Menolak Dio… berarti menyakiti Dio yang sedang berdiri di depannya dengan wajah memohon seperti itu.

Ia kembali menatap buku di hadapannya.

Namun huruf-huruf itu tidak lagi terbaca.

Pikirannya kacau.

Pelan-pelan ia menoleh lagi ke arah Dio.

Wajah itu—yang biasanya penuh canda—kini terlihat berbeda. Ada harap yang jelas di sana.

Rahmalia menarik napas kecil.

“Kasih aku waktu… sampai besok. Bisa kan?”

Dio langsung mengangguk, senyum lega muncul di wajahnya.

“Oke. Aku tunggu jawaban kamu besok.”

Ia berdiri.

“Kalau gitu aku pamit dulu. Masuk kelas duluan ya.”

Tanpa menunggu lama, Dio melangkah pergi meninggalkan perpustakaan.

Rahmalia tetap duduk di sana.

Sunyi kembali mengisi ruangan.

Ia menatap buku di tangannya, tapi tetap tidak membaca.

Di dalam dadanya, ada perasaan yang sulit ia jelaskan.

Kenapa keputusan sederhana seperti ini terasa berat?

Ia tidak pernah berniat masuk ke dalam situasi rumit seperti ini.

Ia hanya ingin menyelesaikan tugas dengan tenang.

Namun sekarang…

Ia berada di antara dua hal yang sama-sama tidak ingin ia sakiti.

Gina.

Dan Dio.

Rahmalia menutup bukunya perlahan.

Untuk pertama kalinya, ia sadar—

mungkin bukan duetnya yang sulit.

Tapi menjaga semua perasaan agar tetap utuh… yang terasa hampir mustahil.

1
Choco Syam
good girl... kmu punya sahabat yg tepat ginaaa..😊
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
Choco Syam
maaf bang, tpi aku klo di posisi gina jg bkal mikir sperti itu sihh hehe... kliatan dangkal namun, menyakitkann.. proud of you gina..
maaf yaa nangis sedikittt
Choco Syam: yahh.. berusaha tegarr itu kita harus benar" kuatt..
total 2 replies
Choco Syam
Aku adalah gina di cerita ini. entah kapan kbruntungan itu datang. bukan anak sukung namun, anak harapan yg bahkan kerja kerasnya tidak pernah di lirik sma sekali. bhkan ketika jatuh hanya cemoohan yg di dpat. Gin prgi tenangin diri lo. semakin kamu bersandiwara semakin sakit. dan kamu bisa menghancurkan dirimu sendiri.
Hunk: Karakter Gina mungkin merasa sendirian disini, tapi percayalah… anak harapan yang tak pernah dilirik bukan berarti tak berharga. Kadang semesta memang menunda keberuntungan, bukan menolaknya. Jangan berhenti ya, karena kerja keras yang hari ini tak terlihat, suatu saat akan jadi alasan orang lain menoleh. Tetap kuat, kak. Kamu lebih hebat dari yang kamu kira 🤍✨
total 1 replies
APRILAH
"Tunggu bentar, ca." kata Dio, membuat Gina pun menghentikan langkah kakinya, "res sleting mu terbuka, aku bantu benerin, ya." sambung Dio, menawarkan bantuan.

keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
APRILAH: tapi gak tau sih, aku biasa gitu kalo dialog aksi.
tapi gak tau kalo di genre lain
total 2 replies
Panda
cuma mau bilang deskripsi sama percakapan bisa lebih padet

di sini alur belum maju lagi 🤔
Panda
dari kalimat ini sampai beberapa paragraf ke bawah sebelum percakapan itu bisa dipadatkan sebenarnya

jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn

perhatikan dinamis Pace
Hunk: Makasih banget masukannya, Kak panda. Aku paham maksudnya, bagian awal memang masih agak kepanjangan. Ke depannya bakal aku evaluasi biar pacing-nya lebih enak.

Maaf kan diriku yang masih banyak ke kurangan🙏/Cry/
total 1 replies
Serena Khanza
payungnya kek punya ponakan aku 😂😂😂
baby shark doo dooo doo
Kaka's
telat mulu.. 🤣🤣
Kaka's
jadi tukang servis nih 🤭
Kaka's
enak gak.. 🤭
Sean Sensei
/CoolGuy/ : ada yang punya nomor teleponnya?
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Gina sama Azmi pagi" udah bikin sekolah heboh aja /Facepalm/
Panda
bagian akhirnya rada mellow ye e

chapter ini cukup menarik

slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
Hunk: Makasih banyak kak🤭 Aku harap bisa bawain chapter yang lebih mellow nanti.
total 1 replies
APRILAH
songong emang kalo banyak duit mah
Hunk: Hahaha kapan ya aku bisa sombong kaya gitu pamer uang🤣. Makasih kak sudah membaca🙏
total 1 replies
Kaka's
coba baca dengan gaya.. menirukan adegan film film, 🤭🤭
Serena Khanza
apa ini apa ini🤔
azmi sama siapa sih mau mu.. gina apa rahmalian 😏
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Apa sebenarnya rencana kedua orang tua mereka ya 🤔
kayak mau deketin Azmi sama gina
Val07
busyet tangannya ringan bener, main tarik rambut anak orang 🤣
Hunk: gpp dio emang pingin botak katanya.
makasih kak sudah membaca🤭🤭/Heart/🙏
total 1 replies
Serena Khanza
duuh kata kata nya jleb banget lagi 🥹
Serena Khanza: sama sama kak 🤭
total 2 replies
Panda
serius ini Dio nempel banget sama cewek cewek

kek nyaman bener

ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok

aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏

ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)

main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..

ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita

penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???
Panda: nahhh kannn beneran ini harusnya Uda ada di lebih awal chapterrr biar Dio gak jadi sus 😏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!