NovelToon NovelToon
The Wrong Proposal

The Wrong Proposal

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Bad Boy / Tamat
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.

Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Satu tahun di New York adalah tentang pergantian musim yang kejam dan langkah kaki yang tak pernah melambat. Bagi Danisha Audreyna, satu tahun ini adalah tentang belajar bernapas di balik kain sutra yang kini menjadi identitasnya, sekaligus belajar menerima bahwa sebuah kehadiran bisa terasa sangat menyesakkan justru dalam ketidadirannya.

Percakapan singkat di kantin hari itu rupanya menjadi titik perhentian. Keenan Atharrazka benar-benar membuktikan julukannya sebagai "benteng berjalan". Sejak hari itu, tidak ada lagi teguran, tidak ada lagi lambaian tangan, bahkan tidak ada lagi tatapan perlindungan. Keenan kembali menjadi orang asing yang paling familiar di mata Audrey.

Audrey berjalan menyusuri koridor fakultas dengan buku-buku desain yang didekap erat di dada. Hijabnya berwarna abu-abu gelap, senada dengan langit Manhattan yang sedang mendung. Beberapa kali ia berpapasan dengan Keenan. Pria itu selalu dikelilingi oleh teman-temannya, tertawa tipis, atau sekadar berjalan dengan tatapan lurus ke depan.

Setiap kali bahu mereka nyaris bersenggolan di keramaian, Audrey menahan napas. Ia berharap ada satu detik saja di mana mata tajam itu meliriknya, memberikan sinyal bahwa malam di apartemen dan pembelaan di kantin itu nyata. Namun, Keenan hanya melintas seolah Audrey adalah bagian dari dinding bangunan tua itu.

Dingin. Lebih dingin dari salju pertama di Central Park.

Di sisi lain, Rafael masih menjadi duri yang tak kunjung lepas. Pria itu tidak lagi kasar, namun ia menjadi bayangan yang melelahkan. Di kantin, di perpustakaan, Rafael akan muncul dengan senyum sinisnya.

"Satu tahun, Audrey. Satu tahun kau membungkus dirimu seperti ini," bisik Rafael suatu siang, menghalangi jalan Audrey. "Dan kekasih rahasiamu itu... dia masih belum menunjukkan batang hidungnya? Apa dia malu memiliki kekasih sekuno kamu? Atau mungkin dia memang hanya karanganmu agar aku menjauh?"

Audrey hanya menunduk, meremas tali tasnya. Ia tidak bisa menjawab. Karena pada kenyatannya, pria yang ia jadikan alasan untuk menolak Rafael, pria yang secara imajiner ia sebut kekasih kini bahkan tidak lagi mengenali namanya saat mereka berpapasan.

"Jujur padaku, Audrey. Dia tidak ada, kan?" desak Rafael, suaranya melembut namun menyakitkan.

"Dia ada," jawab Audrey lirih, nyaris seperti bisikan kepada dirinya sendiri. "Dia adalah alasan aku belajar menghargai diriku sendiri, meskipun dia tidak tahu itu."

Malam-malam Audrey kini dihabiskan dalam kesunyian kamarnya yang luas. Mansion keluarga Richard terasa terlalu besar bagi hatinya yang sedang menyempit. Satu-satunya hiburan yang ia miliki adalah sebuah layar kecil di tangannya.

Keenan menjadi sangat aktif di media sosial dalam setahun terakhir. Seolah ia sedang mencatatkan jejak sebelum ia lulus dan meninggalkan NYU.

Audrey membuka profil itu dengan ibu jari yang gemetar.

Foto pertama, Keenan di garis finish, memegang piala dengan wajah tanpa ekspresi, namun keringat di dahinya menceritakan kerja kerasnya.

Foto keduanya, Keenan duduk di perpustakaan, kacamata bertengger di hidung tegasnya, tampak sangat jauh namun sangat nyata.

Foto ketiga, Sebuah siluet Keenan di depan jendela apartemennya saat hujan turun. Keterangan fotonya hanya satu kata: Respite. Istirahat.

Audrey menyentuh foto itu di layar. Ia merasakan rindu yang tak berhak ia miliki. Bagaimana bisa ia merindukan pria yang bahkan tidak pernah menyentuh ujung jarinya? Bagaimana bisa ia jatuh hati pada seseorang yang memilih untuk melupakannya setelah menyelamatkannya?

Air mata Audrey jatuh, membasahi layar ponselnya, tepat di atas wajah Keenan yang ada di dalam foto.

"Kenapa kau membiarkan aku memulai ini semua sendirian, Keenan?" bisiknya dalam isak yang tertahan. "Kau memintaku menjadi luar biasa, kau memintaku menjadi bercahaya, tapi setelah aku melakukannya, kau justru mematikan cahayamu untukku."

***

Suatu sore di akhir semester, Audrey melihat Keenan berdiri sendirian di balkon gedung lantai empat, menatap matahari terbenam. Audrey berdiri di lantai bawah, di taman fakultas. Ia mendongak, menatap punggung tegap pria itu yang kini mengenakan jaket kelulusan.

Seolah ada ikatan batin, Keenan perlahan menoleh ke bawah.

Mata mereka bertemu. Kali ini tidak ada Rafael, tidak ada teman-teman, tidak ada suara bising. Hanya ada mereka berdua dan angin sore yang bertiup kencang.

Keenan menatap Audrey cukup lama. Matanya tidak lagi sedingin biasanya, namun ada kesedihan yang sangat dalam di sana. Ia melihat Audrey dengan hijabnya yang sempurna, melihat gadis yang ia minta untuk tetap bersinar.

Keenan ingin turun. Ia ingin berlari dan mengatakan bahwa setiap foto yang ia unggah setahun terakhir ini adalah pesannya untuk Audrey. Bahwa ia aktif di sosial media agar Audrey bisa terus melihat keberadaannya tanpa ia harus melanggar batas yang sudah Audrey bangun. Bahwa ia diam karena ia tahu, seorang pria seperti dirinya, yang masih mencari jati diri di antara dua keyakinan, belum pantas untuk mendekati wanita yang sudah menyerahkan seluruh hidupnya pada Tuhan.

Namun, Keenan hanya mengangguk pelan. Sebuah anggukan penghormatan terakhir sebelum ia berbalik dan masuk ke dalam gedung.

Audrey berdiri mematung di taman itu hingga matahari benar-benar tenggelam. Ia menyadari bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki. Terkadang, cinta adalah tentang seseorang yang memberimu cermin untuk melihat betapa berharganya dirimu, lalu dia pergi agar kau bisa mencintai dirimu sendiri tanpa bantuan siapa pun.

Keenan adalah "kekasih rahasia" yang paling nyata sekaligus paling semu dalam hidup Audrey. Pria yang tidak pernah mencium bibirnya, tidak pernah memegang tangannya, namun berhasil mengubah seluruh jalan hidupnya.

Audrey mengusap air matanya. Ia merapikan hijabnya yang sedikit berantakan karena angin. Ia akan terus berjalan, terus menjadi "luar biasa" seperti pinta Keenan, meskipun pria itu mungkin hanya akan menjadi sebuah nama di daftar following-nya yang tak pernah lagi menyapa.

Di dalam hatinya, Audrey membisikkan doa yang sama dengan yang ia ucapkan malam itu di apartemen: "Demi Allah, aku akan tetap menjaganya, meski dia tidak pernah tahu bahwa dia adalah alasanku berdiri di sini."

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Retno Isusiloningtyas
Masya Allah...
Retno Isusiloningtyas
😭
falea sezi
uda end kah
Retno Isusiloningtyas
oh.wow.ternyata Kenan ayahnya Muslim
Retno Isusiloningtyas
semangat,Thor
Retno Isusiloningtyas
semangat Alana....
Retno Isusiloningtyas
wow....
siap2....
Mei Mei
suka sama semuaa ceritamu Thor. semangat buat nulisnya
ros 🍂: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
irma hidayat
lancar sukses rencananya alana
chika aprilia
harusnya 23 tahun kemudian bukan 23 tahun lalu, othor nya salah
ros 🍂: makasih kak udah ingatin 😍🙏
total 1 replies
Mei Mei
/Kiss/
Mei Mei
suka cerita nya
ros 🍂: Makasih kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
bagus .. bagus karyamu Thor

tetep sehat
selalu semangat

karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku
ros 🍂: Ma'aciww 😍😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
ditunggu upload nya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!