NovelToon NovelToon
Sekte Aliran Abadi

Sekte Aliran Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Dan budidaya abadi / Sistem
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Di puncak Gunung Qingyun yang berkabut, gerbang Sekte Aliran Abadi telah miring dimakan rayap. Tidak ada teknik dewa, tidak ada tumpukan batu roh, tidak ada ribuan murid yang bersujud. Hanya ada Su Lang, pemuda biasa dengan tulang kultivasi rata-rata, dan sebuah plakat kayu tua warisan mendiang gurunya.
​Su Lang memiliki sebuah "Sistem Pondasi Sekte". Benda itu tidak memberinya kekuatan instan. Sistem itu hanya sebuah panduan kaku yang menuntut keringat darah. Ingin beras? Cangkul tanah di belakang gunung. Ingin teknik pernapasan dasar? Perbaiki atap aula utama dengan tangan sendiri. Ingin menjadi kuat? Latih satu gerakan pedang sepuluh ribu kali di bawah air terjun musim dingin.
​Ini bukan kisah tentang penaklukan dunia atau pembantaian musuh yang arogan. Ini adalah catatan harian seorang pemuda yang menolak membiarkan api sektenya padam membangun kembali kejayaan dari serpihan genting pecah satu napas , satu langkah satu hari pada satu waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31 pasar hitam di ujung dunia

Kabut itu bukan sekadar uap air. Itu adalah nafas orang mati.

Dua jam setelah memasuki Lautan Kabut, *Naga Penyeberang* melaju dalam kesunyian mutlak. Mesin pendorong inti monster telah dimatikan. Layar hitam dikembangkan untuk menangkap angin dingin yang berhembus tak menentu.

Di atas dek, Li Yun mondar-mandir dengan gelisah. Dia terus-menerus mengusap gagang pedang di punggungnya.

"Guru," bisik Li Yun, suaranya terdengar terlalu keras di tengah keheningan itu. "Ada sesuatu yang salah. Aku merasa... diawasi. Bukan oleh satu pasang mata, tapi ribuan."

Su Lang duduk bersila di tengah dek, matanya terpejam. Di pangkuannya, *Pedang Naga Hitam* bergetar pelan, memancarkan dengungan rendah yang berfungsi sebagai penyeimbang mental bagi murid-muridnya.

"Itu adalah *Ilusi Siren*," jawab Su Lang tenang tanpa membuka mata. "Kabut ini mengandung partikel Qi yang mempengaruhi kelenjar pineal di otakmu. Apa yang kau rasakan adalah manifestasi dari ketakutan bawah sadarmu sendiri. Abaikan."

"Mudah bagi Guru bicara," gumam Chen Ling. Wajah gadis itu pucat pasi. Dia memeluk lututnya di dekat tiang layar. "Aku... aku mendengar suara ibuku memanggil dari dalam air. Dia minta tolong."

Lin Yue, yang biasanya dingin, juga tampak berkeringat dingin. Dia menatap kosong ke arah kabut putih pekat. "Dan aku melihat desa masa kecilku terbakar... lagi dan lagi."

Su Lang membuka matanya. Pupil emasnya bersinar, menembus kabut ilusi.

"Ling'er, ibumu sudah tenang di alam sana. Lin Yue, masa lalu adalah abu. Fokus pada napas kalian."

Tiba-tiba, *Fragmen Kuali* di inventaris Su Lang memberikan sinyal peringatan tajam.

*KREEEEK...*

Suara kayu bergesekan dengan kayu terdengar dari sisi kiri kapal.

Dari balik tirai kabut tebal, sebuah haluan kapal tua muncul. Kayunya lapuk, berlumut, dan layar-layarnya robek compang-camping. Tidak ada lampu, tidak ada tanda kehidupan.

Namun, kapal itu bergerak dengan kecepatan tinggi, mengarah tepat untuk menabrak lambung *Naga Penyeberang*.

"Serangan!" teriak Li Yun.

"Jangan gunakan serangan fisik!" peringatkan Su Lang. "Itu *Kapal Hantu* kelas rendah. Kayunya tidak nyata!"

Kapal hantu itu menembus lambung *Naga Penyeberang* seolah-olah kapal itu terbuat dari asap. Tidak ada benturan fisik. Namun, saat kapal hantu itu melewati mereka, gelombang hawa dingin yang menusuk tulang menyapu dek.

Dan bersamaan dengan hawa dingin itu, belasan sosok transparan melompat turun ke dek *Naga Penyeberang*.

Mereka adalah *Roh Laut Kelaparan*. Wujud mereka seperti manusia yang tenggelam—bengkak, pucat, dengan mata bolong yang mengalirkan air hitam.

"Daging... Hangat..." desis salah satu roh, menerjang ke arah Chen Ling.

"Menjauh darinya!" Li Yun menebas dengan *Cakar Guntur*-nya.

*ZRRRT!*

Cakar itu menembus tubuh roh itu tanpa hambatan. Roh itu hanya terbelah sebentar, lalu menyatu kembali sambil tertawa melengking.

"Serangan fisik tidak mempan!" teriak Li Yun panik.

"Gunakan Qi elemen!" perintah Su Lang. Dia bangkit berdiri.

Roh itu mencoba menyentuh Chen Ling. Tangan hantunya yang dingin hampir menyentuh pipi gadis itu.

Chen Ling menjerit, refleks melempar *Bubuk Fosfor Hijau* dari kantongnya. Bubuk itu terbakar saat menyentuh udara.

*FWOOSH!*

Api hijau membakar tubuh roh itu. Roh itu menjerit kesakitan—jeritan nyata—dan tubuh asapnya mulai memudar.

"Api dan Petir! Itu kelemahan mereka!" seru Lin Yue. Dia segera mengubah taktik. Bukan membekukan, tapi menggunakan *Api Yin Dingin*—teknik tingkat tinggi yang baru dia pelajari dari manual sekte. Pita sutranya menyala dengan api biru pucat.

"Enyahlah!" Lin Yue memutar pitanya, menciptakan lingkaran api yang menghanguskan tiga roh sekaligus.

Li Yun juga paham. Dia tidak lagi mencakar, tapi memancarkan ledakan listrik murni dari tubuhnya. "Seni Guntur: Medan Listrik Statis!"

*BOOM!*

Listrik menyambar ke segala arah, menghancurkan struktur spiritual para roh tersebut.

Namun, semakin banyak roh yang bermunculan dari kabut. Ratusan. Mereka merayap naik dari sisi kapal.

Su Lang melihat ini akan menjadi pertarungan yang menghabiskan stamina. Dia harus mengakhirinya dengan satu serangan otoritas.

Dia menghentakkan kakinya ke dek kapal.

**[Aktifkan: Aura Kuali Penempa (Mode Pemurnian Jiwa).]**

Sebuah gelombang kejut berwarna emas transparan meledak dari tubuh Su Lang, menyapu seluruh kapal dalam radius lima puluh meter.

Saat gelombang emas itu menyentuh para roh, mereka tidak menjerit kesakitan. Ekspresi mereka yang mengerikan tiba-tiba berubah menjadi damai. Hawa jahat di tubuh mereka dimurnikan seketika, meninggalkan gumpalan energi jiwa murni yang kemudian menghilang ke langit.

"Kembalilah ke siklus reinkarnasi," kata Su Lang pelan. "Jangan berkeliaran di sini."

Dalam sekejap, dek kapal bersih. Kapal hantu yang tadi menembus mereka juga lenyap menjadi uap air biasa.

Suasana kembali hening. Tapi kali ini, kabut di depan mereka mulai menipis.

"Lihat ke depan," tunjuk Su Lang.

***

### Pulau Karang Merah

Kabut terbelah seperti tirai panggung, mengungkapkan pemandangan yang mengerikan sekaligus menakjubkan.

Di tengah lautan abu-abu, sebuah pulau raksasa menjulang. Pulau itu tidak terbuat dari tanah atau batu biasa, melainkan dari tumpukan karang berwarna merah darah yang telah membatu selama ribuan tahun. Bentuknya runcing-runcing dan tajam, menyerupai tulang rusuk raksasa yang mencuat dari laut.

Di sela-sela karang merah itu, ribuan lampu lampion berwarna hijau dan ungu berkelap-kelip. Bangunan-bangunan kayu reyot bertingkat-tingkat dibangun menempel pada dinding karang, dihubungkan oleh jembatan gantung yang terbuat dari tulang ikan paus dan rantai besi berkarat.

Ini adalah **Pulau Karang Merah**. Ibukota dunia hitam di Lautan Timur.

Pelabuhannya penuh sesak. Kapal-kapal bajak laut dengan bendera tengkorak, kapal pedagang budak, hingga kapal-kapal sekte hitam yang bersembunyi dari hukum, semuanya bersandar di sini.

"Sembunyikan aura kalian," perintah Su Lang. "Tekan kultivasi kalian ke Tingkat 4. Jangan terlihat lemah, tapi jangan terlihat terlalu kuat. Kita adalah pedagang."

Su Lang mengenakan topeng setengah wajah berwarna perak. Li Yun dan Lin Yue mengenakan jubah bertudung. Chen Ling, yang paling terlihat polos, diberi tugas membawa kotak barang dagangan (sebagai umpan visual bahwa mereka membawa harta).

Kapal *Naga Penyeberang* perlahan merapat ke dermaga yang kosong.

Baru saja tali tambat dilempar, lima orang berbadan besar dengan kulit bersisik—manusia setengah ikan atau mutan teknik kultivasi—menghadang mereka.

"Biaya sandar: 50 Batu Roh per jam," kata pemimpin mereka, seorang pria dengan insang di lehernya. Matanya kuning, menatap rakus ke arah kapal mewah Su Lang.

"Mahal sekali," komentar Li Yun datar.

"Ini wilayah Raja Hantu. Kalau tidak suka, silakan parkir di dasar laut," ejek si pria insang.

Su Lang melempar kantong berisi 500 Batu Roh. "Kami sewa sepuluh jam. Dan aku butuh informasi tentang lokasi Lelang Bulan Darah."

Si pria insang menangkap kantong itu, menimbangnya, lalu menyeringai lebar hingga memperlihatkan gigi-giginya yang tajam. "Lelang ada di Aula Tengkorak Naga, di puncak pulau. Tapi hati-hati, Tuan Asing. Uang saja tidak cukup untuk masuk ke sana. Kau butuh undangan... atau barang yang sangat berharga."

"Kami punya barangnya," jawab Su Lang singkat, lalu memimpin murid-muridnya turun dari kapal.

Dia meninggalkan *Golem Penjaga* (yang baru dia buat dari sisa-sisa material kapal musuh sebelumnya) di dalam kapal untuk menjaga keamanan.

***

### Pasar Bawah Tanah

Berjalan di jalanan Pulau Karang Merah adalah serangan terhadap semua indra.

Baunya adalah campuran amis darah, parfum murah, dan dupa pembakar mayat. Di kiri-kanan jalan, pedagang menggelar lapak mereka secara terbuka.

"Hati Monster Laut Tingkat 4! Masih berdenyut! Bagus untuk sup peningkat vitalitas!"

"Budak dari Benua Tengah! Gadis-gadis sekte yang diculik! Masih perawan! Lelang dimulai dari 100 batu roh!"

"Racun Ular Laut Tujuh Langkah! Dijamin membunuh mertua Anda tanpa jejak!"

Chen Ling menutup matanya saat melewati kandang budak. Hatinya yang lembut terasa sakit, tapi dia ingat ajaran Su Lang: *Jangan menyelamatkan dunia sebelum kau bisa menyelamatkan dirimu sendiri.*

Mereka sampai di depan sebuah bangunan besar yang terbuat dari kerangka *Naga Laut* raksasa. Pintu masuknya adalah mulut naga yang menganga. Dua penjaga berpakaian zirah hitam dengan lambang hantu putih di dada berdiri di sana. Kultivasi mereka: Qi Condensation Tingkat 8.

Penjaga pintu di sini lebih kuat daripada Ketua Sekte di wilayah selatan!

"Berhenti. Tunjukkan undangan," kata penjaga kiri.

"Aku tidak punya undangan," kata Su Lang.

"Kalau begitu enyahlah. Atau jadi makanan anjing laut."

Su Lang dengan tenang mengeluarkan sebuah botol giok kecil dari lengan bajunya. Dia membuka tutupnya sedikit.

Aroma obat yang sangat murni dan kuat menyebar keluar. Aroma itu begitu harum hingga membuat para kultivator di sekitar mereka langsung merasa aliran Qi mereka lancar.

Si penjaga terbelalak. "Itu... Pil Tingkat Bumi?"

"Pil Pemurnian Sumsum Tulang Naga. Tingkat Bumi Kualitas Sempurna," kata Su Lang datar. "Apakah ini cukup sebagai tiket masuk?"

Penjaga itu menelan ludah. Pil Tingkat Bumi adalah harta karun yang diperebutkan oleh ahli Foundation Establishment. Kualitas Sempurna? Itu legenda.

"Tu-Tuan... Silakan masuk. Manajer Lelang akan menyambut Anda secara pribadi." Sikap mereka berubah 180 derajat. Di dunia ini, kekuatan dan harta adalah raja.

***

### Di Dalam Aula Lelang

Interior Aula Tengkorak Naga sangat mewah, kontras dengan kekumuhan di luar. Lantainya dilapisi karpet bulu monster, dan lampu kristal menerangi ruangan.

Ratusan kursi tersusun melingkar, menghadap panggung utama. Di lantai dua, terdapat bilik-bilik VIP tertutup tirai sutra.

Su Lang dipandu menuju salah satu bilik VIP setelah "mendonasikan" satu pil tersebut untuk dilelang.

Dari ketinggian bilik VIP, Su Lang mengamati para peserta yang mulai berdatangan.

"Lihat itu, Guru," bisik Lin Yue, menunjuk ke arah pintu masuk utama.

Seorang pria raksasa setinggi dua setengah meter masuk. Kulitnya biru tua, dan dia memanggul sebuah jangkar kapal berkarat sebagai senjata.

"Itu **Hiu Besi**, Kapten Bajak Laut Gigi Gergaji. Buronan Kekaisaran dengan harga kepala 50.000 Batu Roh."

Lalu masuk seorang wanita tua bungkuk yang dikelilingi oleh lalat-lalat hijau.

"Nenek Racun Seribu Pulau. Jangan menatap matanya, dia bisa menanamkan larva di bola matamu dari jarak jauh."

Su Lang mengangguk. Tempat ini adalah sarang monster.

Tiba-tiba, suhu ruangan turun drastis. Lampu-lampu kristal meredup.

Dari pintu khusus di belakang panggung, serombongan orang masuk. Mereka mengenakan jubah abu-abu compang-camping yang tampak basah, namun memancarkan aura keagungan yang mengerikan.

Di tengah-tengah mereka, berjalan seorang pria kurus kering dengan kulit seputih kertas. Dia tidak berjalan, melainkan melayang satu inci di atas lantai. Wajahnya tampan namun mati, seolah-olah dia adalah mayat yang diawetkan dengan sempurna.

Di lehernya, tergantung sebuah kalung dengan liontin berupa kepingan logam hitam yang memancarkan cahaya redup.

Jantung Su Lang berdetak kencang. *Fragmen Kuali* di dalam inventarisnya bergetar hebat, resonansinya begitu kuat hingga Su Lang harus menekannya dengan Qi.

Itu dia.

**Raja Bajak Laut Hantu. Kapten The Specter.**

**Kultivasi: Foundation Establishment Tingkat Menengah (Mid-Tier).**

Dan di lehernya adalah **Fragmen Kuali Penempa Surga (5/9).**

"Selamat datang, sampah-sampah laut sekalian," suara Raja Hantu bergema tanpa dia membuka mulut. Suaranya masuk langsung ke otak setiap orang. "Malam ini, aku bosan. Jadi aku memutuskan untuk menjual beberapa mainanku."

Su Lang menyipitkan mata. Fragmen itu... berbeda.

**[Analisis Sistem: Fragmen ke-5 (Elemen Jiwa/Air).]**

**[Status: Aktif. Digunakan sebagai Artefak Pengendali Jiwa.]**

**[Peringatan: Target memiliki koneksi jiwa dengan fragmen tersebut. Mencurinya akan memicu serangan mental langsung.]**

"Dia menggunakannya untuk mengendalikan awak kapal hantunya," gumam Su Lang. "Ini akan rumit."

Lelang dimulai. Barang-barang aneh dijual dengan harga fantastis. Su Lang tetap diam, menunggu momen. Dia tidak berniat membeli sampah. Dia sedang menyusun rencana.

Membeli fragmen itu mustahil; Raja Hantu tidak akan menjual sumber kekuatannya.

Mencurinya di sini sama dengan bunuh diri.

Satu-satunya cara adalah memancingnya keluar.

"Item selanjutnya!" seru juru lelang. "Sebuah Peta Kuno menuju **Makam Paus Purba**! Dikatakan di sana terdapat Api Roh Lautan yang hilang!"

Mata Su Lang berbinar. Bukan karena peta itu, tapi karena dia melihat reaksi Raja Hantu.

Raja Hantu, yang tadinya tampak bosan, tiba-tiba duduk tegak.

"Api Roh Lautan..." bisik Su Lang. "Kelemahan mayat hidup adalah api murni. Raja Hantu menginginkannya agar tidak ada yang bisa menggunakannya melawannya... atau untuk menyempurnakan tubuh mayatnya."

"Li Yun," bisik Su Lang. "Kita akan memenangkan peta itu. Berapapun harganya."

"Tapi Guru, itu akan membuat kita menjadi target Raja Hantu," kata Li Yun kaget.

Su Lang tersenyum tipis di balik topengnya. "Tepat sekali. Aku ingin dia mengejarku. Di laut terbuka, aku punya kejutan untuknya."

"Buka harga: 5.000 Batu Roh!"

"Enam ribu!" teriak Hiu Besi.

"Tujuh ribu!" seru Nenek Racun.

Su Lang menekan tombol di kursinya. Suaranya diperkuat ke seluruh ruangan.

"Lima puluh ribu."

Hening.

Seluruh aula menoleh ke arah bilik VIP Su Lang. Lonjakan harga yang gila.

Di panggung bawah, Raja Hantu mendongak. Mata matinya menatap langsung ke arah tirai bilik Su Lang. Bibirnya yang pucat menyeringai perlahan.

"Menarik," suara Raja Hantu bergema. "Ada tikus kaya yang ingin bermain."

Su Lang menatap balik, meski terhalang tirai.

"Umpan sudah dimakan," batin Su Lang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!