"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Kendaraan roda empat milik Seruni berjalan pelan sambil membawa dua anak nya ke suatu tempat. Rencana nya, mereka akan pergi berbelanja ke sebuah supermarket yang ada di sana.
Sepulang dari acara tadi, Seruni ingin memberikan kado pada empat anak nya itu. Namun, ia tidak tahu dan lebih baik Rima dan juga Tari yang memilih nya di sana.
Di supermarket besar itu, menjual segala nya. Jika sudah masuk ke sana, maka tidak perlu lagi pergi ke tempat lain. Hanya saja, memang harga di sana lebih mahal daripada di pasar.
Jalanan di siang itu tidak begitu ramai. Karena orang-orang sudah banyak yang pulang ke rumah masing-masing. Jadi, Seruni pun membawa mobil nya dengan santai.
Ia tidak terburu-buru karena pekerjaan di rumah sudah di kerjakan oleh para tetangga. Hari itu, ia bebas menemani Rima dan Mentari jalan-jalan.
Saat mereka hampir tiba ke tempat itu, sebuah mobil melaju kencang dari arah belakang dan langsung menyalip mobil Seruni. Dan yang membuat Seruni terkejut, mobil itu tiba-tiba saja mengerem mendadak dan...
Boooom
Seruni pun menabrak mobil itu dari belakang karena tidak siap dengan kejadian yang tiba-tiba itu. Ia panik. Anak-anak nya pun menangis karena kepala mereka terkena bagian depan mobil.
Untung saja mereka mengenakan seat belt. Jadi, tubuh mereka tidak terlalu terguncang karena kejadian itu.
Seruni masih sedikit syok. Ia menarik dan menghembuskan nafas nya secara perlahan. Selama ini, ia sudah hati-hati dalam mengendarai mobil. Dan baru hari ini, ia mengalami kejadian yang membuat nya bergetar.
Seorang gadis muda turun dari mobil itu dengan wajah yang di penuhi dengan amarah. Dan Seruni, langsung tahu siapa gadis itu. Dia adalah Syasya.
"Hey, turun kamu kampungan. Berani sekali mobil rongsokan mu ini mena-brak mobil ku. Ayo turun. Kita selesaikan di sini."
Seruni diam dan tidak melawan. Ia ambil ponsel nya dan menghubungi Adelia. Ya. Hanya Adelia yang bisa ia harapkan.
Di luar sana, Syasya masih terus memukul kaca mobil Seruni. Beberapa orang pun sudah ramai di sana. Seruni tidak ingin gegabah. Ada anak-anak yang harus ia lindungi. Resiko menjadi janda, ya seperti itu.
"Halo, Adel. Tolong kakak."
"Iya, kak? Ada apa?"
"Kakak tidak sengaja mena-brak mobil orang dari belakang. Tapi, kakak yakin kakak tidak salah."
"Kalau kakak yakin tidak salah, lebih baik kalian selesaikan di kantor polisi saja."
"Tapi, perempuan itu terus saja ribut. Dia memiliki sedikit masalah dengan kami."
"Oh, aku mengerti. Kakak sekarang dimana? Coba cari kantor polisi terdekat di sana. Lebih baik kalian ke sana daripada terjadi sesuatu."
"Baik, Adel. Kakak akan kirimkan pesan. Sudah dulu dan terima kasih."
Setelah mengakhiri panggilan itu, Seruni langsung mengirim pesan pada Adelia. Seruni juga menenangkan kedua anak-anak nya yang ketakutan. Setelah itu, ia membuka perlahan kaca jendela mobil nya.
"Akhirnya, di buka juga. Lihat ni, kelakuan orang kampung. Berani sekali dia mena-brak mobil saya. Saya mau dia ganti rugi satu milyar." Ucap Syasya.
"Bu Syasya, saya akan bertanggung jawab kalau memang saya yang salah. Tapi, saya tidak mau kita menyelesaikan masalah di sini. Ayo kita pergi ke kantor polisi terdekat. Lebih baik kita ke sana saja."
"Oh, mau bawa-bawa polisi? Baiklah. Aku tunggu kamu di sana ya, jan-da gatal. Awas saja kalau kamu tidak ke sana, akan aku viral kan video mu yang menabrak mobil ku."
"Iya. Aku akan bertanggung jawab."
Dan akhirnya, Syasya mau untuk di ajak pergi ke sana. Setelah anak-anak tenang, mereka pun pergi. Seruni jadi merasa bersalah pada Rima dan Mentari. Karena nya, mereka pun jadi ketakutan.
Setelah beberapa lama kemudian, mereka pun tiba di kantor polisi. Ternyata di sana, Syasya sudah berdiri bersama dengan seorang wanita.
Wajah nya sangat mirip dengan wanita itu. Bahkan, wajah wanita paruh baya itu lebih judes lagi dari pada wajah nya Syasya.
"Oh, jadi kamu yang selalu cari masalah dengan anak saya?" Ucap wanita itu.
"Iya, Mi. Ini janda gatal yang suka merayu Bang Restu. Dia juga yang udah nabrak mobil aku. Aku salah apa, Mi."
Syasya malah berubah jadi manja di depan wanita yang di panggil nya Mami. Seruni sungguh merasa jika Syasya sangat lah pinter dalam bersandiwara.
"Maaf, Bu. Apa yang anak anda katakan semua itu tidak benar. Saya dan Pak Restu sama sekali tidak ada hubungan. Beliau hanya lah guru seni anak saya. Dan, kejadian hari ini juga tidak saya sengaja, mobil nya Bu Syasya..."
Plak
Belum lagi Seruni menyelesaikan kata-katanya, wajah nya tiba-tiba saja sudah di tam-par oleh Mami nya Syasya. Seruni benar-benar kaget di buat oleh wanita itu.
"Diam kamu! Dasar wanita kampungan. Tidak tahu diri. Kamu kira di depan kami, kamu berhak memberi alasan."
Seruni tersenyum kecut. Ternyata tidak salah jika Syasya memiliki sikap sombong seperti itu. Bahkan Mami nya saja bisa bertindak kasar pada orang yang baru saja ia temui.
"Kalian sungguh aneh dan lucu. Kalian hina aku kampungan. Tapi apa kalian tahu, justru kalian yang lebih kampungan. Bahkan orang kampung pun, tidak suka seenak nya memukul orang lain. Atau jangan-jangan, kalian berasal dari tempat yang lebih kampungan lagi?"
"Ku-rang ajar!"
Mami nya Syasya ingin melayangkan tamparan nya lagi ke arah Seruni. Akan tetapi, kali ini wanita itu lebih waspada dengan menghindar.
"Saya manusia. Saya tidak bersalah. Jaga Marwah anda sebagai orang yang lebih tua."
Wajah Mami nya Syasya merah padam. Ia begitu kesal dengan Seruni yang tidak bisa ia taklukkan.
"Pak polisi... Cepat tangkap pembu-nuh ini. Wanita ini ingin membu-nuh anak saya dengan menabrak kan mobil nya ke mobil anak saya."
Beberapa polisi sudah berada di depan dan bersiap untuk menangkap Seruni. Sungguh ia merasa heran. Masalah nya masih belum selesai, tapi pihak kepolisian sudah mau menangkap nya tanpa mencari bukti.
Wajah Mami nya Syasya langsung bahagia saat melihat Seruni yang siap untuk di bawa ke dalam kantor polisi. Apalagi, ada borgol yang akan di pakai kan ke tangan nya.
"Siapa kalian yang berani menyentuh nya."
Sebuah suara dari arah belakang, membuat semua yang ada di sana terkejut. Pak Adam datang membawa seorang pengacara di samping nya.
"Pak Adam? Ada keperluan apa anda datang ke sini?" Wajah Mami nya Syasya langsung berubah saat melihat Pak Adam.
"Lepaskan wanita itu. Saya yang akan menyelesaikan masalah nya."
bersinar 😮