NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.

Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.

Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.

Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.

Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.

Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Tiga minggu berlalu sejak hari pengukuran itu. Tidak ada kejadian besar. Tidak ada keributan. Tidak ada kabar yang mengubah segalanya secara tiba-tiba. Hidup berjalan seperti biasa terlalu biasa, sampai Alya hampir percaya bahwa perasaan gelisah di dadanya hanya perasaan berlebihan.

Pagi tetap datang. Ladang tetap hijau. Cabai-cabai mulai berbuah kecil, mengilat di bawah matahari. Alya tetap bangun lebih awal, menyiapkan peralatan, menyusuri galengan dengan langkah yang ia hafal di luar kepala.

Yang berubah hanya satu: Bayu tidak lagi datang sepagi dulu.

Bukan menghilang. Tidak sepenuhnya. Bayu masih muncul di ladang, tapi waktunya berbeda. Kadang lebih siang. Kadang sore. Kadang hanya lewat sebentar, menanyakan kabar tanaman, lalu pergi dengan alasan yang terdengar masuk akal menengok sawah, ke kota kecamatan, membantu tetangga.

Semua alasan itu wajar. Terlalu wajar untuk dicurigai. Tapi Alya merasakan jarak itu, meski Bayu tidak pernah menyebutkannya.

Mereka masih bicara. Masih tertawa kecil sesekali. Masih makan bersama jika kebetulan bertemu di waktu istirahat. Tapi ada sesuatu yang hilang ketulusan yang dulu hadir tanpa usaha. Kini, semuanya terasa seperti dipikirkan lebih dulu.

Suatu siang, Alya sedang memindahkan keranjang cabai ke pinggir ladang ketika ia melihat Bayu berdiri di ujung jalan, berbincang dengan seorang pria asing. Pria itu berpakaian rapi, sepatu bersih, membawa map cokelat yang tampak terlalu kontras dengan tanah desa.

Bayu tampak serius. Terlalu serius. Alya tidak berniat menguping. Ia hanya bekerja sambil menunggu Bayu menghampirinya seperti biasanya. Tapi Bayu tidak datang.

Ia melihat Bayu mengangguk, menjabat tangan pria itu, lalu berjalan pergi ke arah berlawanan dari ladang Alya menuju jalan besar. Tanpa menoleh.

Alya berdiri dengan keranjang di tangan lebih lama dari yang seharusnya. Mungkin ada urusan penting, pikirnya. Mungkin ia hanya lupa, lanjut hatinya, mencoba menenangkan diri.

Sore itu, Bayu tidak kembali. Dua hari kemudian, kabar kecil beredar di desa. Tidak heboh. Hanya obrolan warung kopi, gumam para bapak yang duduk di bangku panjang sambil menyeruput kopi hitam.

“Ana wong Jakarta teko maneh,” kata seseorang.

“Ngurusi jalur proyek lawas,” sahut yang lain.

“Kayane ana jeneng Bayu kecantol meneh.”

Nama itu terdengar sampai ke telinga Alya tidak jelas, tidak utuh, tapi cukup untuk membuat langkahnya melambat.

 Dada Alya terasa penuh, entah kenapa ia merasa jika akhir-akhir ini ada perubahan dari sikap Bayu.

☘️☘️☘️☘️☘️

Malamnya, Bayu datang ke rumah Alya. Tidak lama. Tidak seperti biasanya.

“Aku cuma mampir,” katanya sambil berdiri di teras. “Besok aku ke kota dua hari.”

Alya mengangguk. “Ke Jakarta?”

Bayu terdiam sebentar. “Ke Surabaya dulu.”

“Kerja?”

“Ngurus hal lama.”

Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Alya ingin bertanya. Ingin sekali. Tapi wajah Bayu tampak tertutup, seperti pintu yang dikunci dari dalam.

“Jaga diri,” kata Alya akhirnya.

Bayu mengangguk. “Kamu juga.”

Ia pergi tanpa menoleh, tanpa janji akan menghubungi, tanpa kepastian kapan kembali. Dan Alya tidak menyadari itulah pertama kalinya ia merasa ditinggalkan, padahal belum pernah benar-benar dimiliki.

Malam itu, setelah Bayu pergi, Alya tidak langsung masuk ke rumah. Ia masih duduk di teras, mendengarkan suara motor Bayu yang perlahan menghilang di tikungan jalan. Baru ketika suara itu benar-benar lenyap, Alya berdiri dan menutup pintu. Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.

Keesokan paginya, Alya bangun lebih awal. Ia ke ladang seperti biasa, menyiram tanaman, membersihkan gulma, melakukan semua hal yang selama ini selalu ia lakukan bersama Bayu—atau setidaknya, dengan Bayu tak jauh dari sana.

Hari pertama, Alya masih menunggu. Setiap suara motor yang lewat membuatnya menoleh. Setiap getaran ponsel membuat jantungnya berdebar kecil.

Tidak ada pesan. Ia mencoba menenangkan diri. Dua hari saja, pikirnya. Bayu bukan tipe yang suka kabar-kabaran.

Hari kedua, Alya berhenti sering melihat ponsel.

Ia mulai merasa bodoh menunggu sesuatu yang tidak pernah dijanjikan. Ia mengikat tanaman lebih kencang dari biasanya, jarinya sampai perih tanpa ia sadari.

Sementara itu selesai ke ladang Alya menyempatkan diri untuk berhenti di warung, dan ia mendengar orang-orang mulai berbisik.

“Bayu ke kota lagi ya?”

“Katanya urusan proyek lama.”

“Kasus lama itu?”

Alya hanya tersenyum dan mengangguk singkat. Ia tidak menambahkan apa pun. Ia juga tidak membela. Entah karena tidak tahu harus membela apa, atau karena takut tahu terlalu banyak.

Malam kedua, Alya menangis pelan. Bukan karena Bayu pergi. Tapi karena ia merasa tidak cukup penting untuk ditinggali cerita.

Hari ketiga, Alya tidak lagi menunggu. Ia bangun, bekerja, pulang, memasak, dan tidur seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang mati pelan-pelan di dadanya harapan kecil yang tidak sempat tumbuh, sudah lebih dulu dipatahkan oleh diam.

☘️☘️☘️☘️

Sementara itu, di Surabaya, Bayu duduk di ruang tunggu kantor lama yang pernah ia tinggalkan dengan tergesa-gesa.

Map cokelat di tangannya terasa berat, meski isinya hanya berkas klarifikasi dan tanda tangan. Nama Bayu masih tercantum di sana, terseret urusan lama yang tak sepenuhnya bersih dari gosip.

Ia menyelesaikan semuanya dalam tiga hari. Cepat. Melelahkan. Tanpa drama. Beberapa kali, Bayu membuka ponselnya. Menatap nama Alya. Menutupnya kembali.

Nanti saja, pikirnya. Kalau sudah selesai.

Ia tidak tahu, menunda kabar adalah cara paling halus untuk melukai seseorang yang sedang belajar berharap.

☘️☘️☘️☘️

Bayu kembali tiga hari kemudian. Wajahnya lebih lelah. Bahunya tampak berat. Tapi yang paling terasa adalah jarak di matanya jarak yang tidak ada sebelumnya.

Mereka bertemu di ladang, seperti biasa. Bayu menyapa, membantu sebentar, lalu duduk di pematang sambil menatap tanah.

“Kamu capek,” kata Alya.

“Iya.”

“Kabarnya gimana?”

Bayu menghela napas. “Ada yang harus diberesin.”

Alya menunggu. Detik demi detik berlalu. Bayu tidak melanjutkan.

“Aku dengar namamu disebut-sebut di warung,” kata Alya pelan, akhirnya. “Soal proyek lama.”

Bayu menoleh cepat. Ada kilat tak nyaman di matanya.

“Desa kecil begini cepat sekali kabarnya,” katanya.

“Jadi benar?”

Bayu diam terlalu lama.

“Sedikit,” jawabnya akhirnya. “Aku cuma bantu klarifikasi.”

Alya mengangguk, meski dadanya terasa aneh. “Dan kamu… bakal pergi lagi?”

Bayu mengusap wajahnya. “Aku belum tahu.”

Kalimat itu jatuh seperti batu kecil ke air tenang tidak menimbulkan gelombang besar, tapi tenggelam pelan dan dalam.

“Aku pikir,” kata Alya hati-hati, “kalau ada hal penting, kamu akan cerita.”

Bayu menatapnya. “Aku nggak mau nambah beban kamu.”

Alya tersenyum tipis. “Aku nggak pernah merasa kamu beban.”

Bayu mengalihkan pandangan. “Tapi aku merasa begitu.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada penolakan terang-terangan.

Malamnya, Alya tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi ranjang, menatap gelap, memutar ulang percakapan sore itu. Tidak ada kata kasar. Tidak ada pertengkaran. Tapi hatinya terasa kosong seperti seseorang yang perlahan dikeluarkan dari hidup orang lain tanpa pernah diberi alasan jelas.

Ia sadar sesuatu malam itu. Bayu bukan tidak peduli. Bayu hanya takut melibatkan siapa pun dalam hidupnya yang belum selesai. Dan Alya tanpa sadar sudah berdiri terlalu dekat.

Keesokan harinya, Alya pergi ke ladang lebih pagi dari biasanya. Ia bekerja cepat, fokus, seolah ingin menyelesaikan sesuatu sebelum hatinya sempat runtuh.

Saat Bayu datang, Alya tidak menyapanya lebih dulu.

Bayu mendekat. “Kamu marah?”

Alya menggeleng. “Tidak.”

“Kamu berubah.”

Alya tersenyum, kali ini pahit. “Mungkin aku cuma belajar jaga jarak.”

Bayu terdiam.

“Aku nggak minta kamu cerita semuanya,” lanjut Alya, suaranya tenang tapi bergetar halus. “Aku cuma pengin tahu… aku ini ada di bagian mana dalam hidupmu.”

Bayu membuka mulut, menutupnya lagi.

“Aku belum bisa jawab itu,” katanya akhirnya.

Dan di situlah patah kecil itu terjadi. Bukan karena ditinggalkan. Bukan karena dikhianati.

Tapi karena seseorang memilih diam saat satu jawaban sederhana bisa menyelamatkan hati orang lain.

Alya mengangguk pelan. “Nggak apa-apa.”

Ia berdiri, mengangkat keranjang, dan berjalan menjauh.

Bayu tidak mengejar. Dan di ladang yang sama tempat hampir pengakuan pernah menggantung kini yang tersisa hanya jarak, sunyi, dan perasaan yang belum sempat diberi nama, tapi sudah terlanjur hidup.

Bersambung…

1
Dew666
💐💐💐💐💐
Dew666
💜💜💜💜💜
Dew666
🏆🏆🏆🏆🏆
ari sachio
makin penasaran dg bayu
PanggilsajaKanjengRatu: Halo kak, kalo berkenan yuk mampi juga ke cerita ku, judulnya “Cinta Yang Tergadai ”🙏
total 1 replies
Wanita Aries
wah bayu sama alya sama2 trluka berrti bsa saling menyembuhkan
ari sachio
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Wanita Aries
semangat trus alya menuju sukses
Wanita Aries
kl sudah tiada baru terasaaa
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
Wanita Aries
penasaran ma khidupan bayu
Sartini 02
ditunggu updatenya kak...😍
Wanita Aries
halimah kocak😁
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
Wanita Aries
sabar yaa al smua akan indah pada wktnya
Dew666
🍎👑
Wanita Aries
kabar keluarga alya gmn thor masa gk nyariin
Ayumarhumah: sabar Kakak ....
total 1 replies
Wanita Aries
wahh apa bayu jodoh alya.

thor novelnya jgn trllu kaku dong
Ayumarhumah: owalah iya kak makasih sarannya
total 3 replies
Wiwik Susilowati
biasa baca bahasa jawa halus tiba2 ada bahasa jawa yg lain msh bingung ngartiinny...lanjut thor💪💪
Ayumarhumah: iya kak, ini bahasa Osing khasnya Banyuwangi. he he
total 1 replies
Dew666
💜💜💜💜💜
Wanita Aries
lanjut thor
Ayumarhumah: OK kakak ...
total 2 replies
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!