Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 Ritme yang Dipilih
Pagi di Sukamaju selalu datang dengan cara yang sama, namun tidak pernah terasa serupa. Hari ini, matahari muncul perlahan dari balik perbukitan, cahayanya menyelinap di antara pepohonan dan atap-atap rumah warga. Udara masih basah oleh embun, membawa aroma tanah dan rumput yang menyegarkan. Alya berdiri di halaman rumah, menyiram tanaman kecil yang baru ia tanam beberapa minggu lalu—cabai, serai, dan dua pot bunga liar yang ia tidak tahu namanya, namun tumbuh dengan keras kepala.
Ia memperhatikan air mengalir pelan ke tanah, meresap tanpa suara. Ada kepuasan sederhana dalam gerakan itu, kepuasan yang dulu tidak pernah ia sadari keberadaannya.
Dari dalam rumah, suara langkah kecil terdengar berlari. Satria muncul dengan tas kecil di punggungnya, wajahnya penuh semangat.
“Bun, hari ini aku ikut Pak Lurah ke kebun singkong!” katanya antusias.
Alya tersenyum. “Belajar apa hari ini?”
“Katanya belajar sabar,” jawab Satria polos. “Soalnya singkong tidak bisa dipaksa cepat.”
Jawaban itu membuat Alya terdiam sejenak, lalu tertawa pelan. “Itu pelajaran yang bagus. Untuk semua orang.”
Sultan keluar menyusul, membawa topi caping yang sudah mulai pudar warnanya. “Aku akan mengantar Satria sebentar, lalu ke balai desa. Ada warga yang ingin bicara soal kelompok usaha baru.”
Alya mengangguk. “Aku ke sana juga nanti. Tapi aku mau mampir ke rumah Bu Wening dulu.”
Nama itu membuat Sultan menoleh. “Yang rumahnya di ujung timur desa?”
“Iya. Katanya dia ingin ikut pelatihan, tapi ragu karena usianya.”
Sultan tersenyum tipis. “Kadang yang paling butuh diyakinkan bukan kemampuannya, tapi keberaniannya.”
Orang-Orang yang Perlahan Berani
Rumah Bu Wening sederhana, berdinding papan dengan teras kecil yang bersih. Perempuan itu menyambut Alya dengan senyum ragu.
“Saya takut merepotkan,” ucapnya pelan. “Anak-anak muda itu cepat belajar. Saya… sudah lambat.”
Alya duduk di sampingnya. “Bu, desa ini tidak sedang lomba cepat. Kita sedang belajar berjalan bersama.”
Bu Wening menunduk, matanya berkaca-kaca. “Dulu saya selalu merasa tertinggal.”
“Kita semua pernah,” jawab Alya lembut. “Tapi tertinggal bukan berarti selesai.”
Ketika Alya pamit, Bu Wening menggenggam tangannya erat. Ada getar kecil di sana—bukan ketakutan lagi, melainkan harapan.
Balai Desa dan Percakapan yang Jujur
Menjelang siang, balai desa kembali ramai. Tidak dengan keramaian yang gaduh, melainkan hiruk pikuk ringan dari orang-orang yang merasa punya tempat. Beberapa warga duduk melingkar, membahas rencana kelompok usaha olahan singkong. Tidak ada Alya di posisi memimpin. Ia duduk di antara mereka, mendengarkan.
Seorang pemuda bernama Arif mengangkat suara. “Aku setuju usaha ini jalan. Tapi kita harus jujur—tidak semua dari kita punya waktu yang sama.”
Perempuan di sebelahnya menimpali, “Dan tidak semua punya modal.”
Percakapan berjalan tanpa emosi berlebihan. Alya memperhatikan dengan kagum. Dulu, ia mungkin akan segera menawarkan solusi, menyusun struktur, membagi peran. Sekarang, ia membiarkan proses itu tumbuh dari dalam.
Sultan mendekatinya pelan. “Kamu sadar tidak,” katanya, “kamu sekarang lebih sering diam.”
Alya tersenyum. “Dan justru lebih banyak yang bergerak.”
Bayangan Masa Lalu yang Datang Tanpa Undangan
Sore hari, sebuah mobil berpelat kota masuk ke Sukamaju. Tidak banyak yang memperhatikan, kecuali Alya. Ada rasa asing yang langsung mengusik dadanya—bukan takut, lebih seperti gema dari kehidupan lama.
Seorang pria turun dari mobil. Kemeja rapi, sepatu bersih, ponsel selalu di tangan. Ia memperkenalkan diri sebagai Dimas, perwakilan lembaga yang pernah bekerja sama dengan Alya di masa lalu.
“Kami dengar program di sini berkembang menarik,” katanya dengan senyum profesional. “Kami ingin menjajaki kemungkinan kolaborasi.”
Alya mengangguk sopan. “Kami terbuka berdiskusi. Tapi dengan cara desa.”
Dimas tertawa kecil. “Tentu. Tapi tetap perlu target dan skala.”
Kata-kata itu menggantung di udara.
“Skala penting,” jawab Alya tenang. “Tapi tidak semua hal harus dibesarkan. Ada yang cukup dijaga.”
Dimas tampak terkejut dengan ketenangan Alya. Ia terbiasa berhadapan dengan ambisi, bukan keyakinan yang lembut namun teguh.
“Kita bicarakan nanti,” katanya akhirnya.
Saat mobil itu pergi, Alya menghela napas panjang. Sultan mendekat.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.
Alya mengangguk. “Lebih dari sebelumnya. Aku hanya diingatkan—bahwa dunia lama selalu bisa mengetuk. Tapi kita tidak wajib membukakan pintu.”
Pelajaran yang Tidak Tertulis
Malam itu, Satria duduk di meja kecil, menulis dengan serius. Alya mengintip dari balik pintu.
“Apa yang kamu tulis?” tanyanya.
“Catatan kebun singkong,” jawab Satria. “Pak Lurah bilang, kalau kita tidak menulis, kita lupa.”
Alya duduk di sampingnya. “Dan kalau lupa?”
“Kita bisa ulang,” jawab Satria ringan.
Jawaban itu kembali mengendap di hati Alya.
Ketika rumah sudah tenang, Alya dan Sultan duduk berdampingan. Tidak banyak yang mereka bicarakan. Keheningan di antara mereka tidak kosong, melainkan penuh kepercayaan.
“Kamu bahagia?” tanya Sultan akhirnya.
Alya berpikir sejenak. “Aku merasa utuh. Tidak sempurna. Tapi utuh.”
Sultan tersenyum. “Itu lebih jarang dari bahagia.”
Menjelang Hari yang Baru
Sebelum tidur, Alya membuka buku catatannya. Ia tidak menulis rencana besar. Hanya satu kalimat:
Aku tidak lagi terburu-buru menjadi apa-apa. Aku sedang belajar menjadi hadir.
Ia menutup buku itu, mematikan lampu, dan membiarkan malam menyelimuti rumah mereka.
Di luar, Sukamaju bernafas dalam ritmenya sendiri. Tidak cepat. Tidak lambat. Cukup.
Dan di tengah desa yang bertumbuh tanpa paksaan itu, Alya tahu—perjalanan ini masih panjang. Akan ada pilihan sulit, godaan lama, dan ketidakpastian yang kembali datang. Namun kali ini, ia tidak merasa sendirian. Ia tidak merasa harus menang.
Ia hanya perlu setia pada ritme yang telah ia pilih.
Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.
Beberapa hari setelah kedatangan Dimas, suasana desa kembali ke ritme biasanya. Namun Alya merasakan perubahan halus—bukan pada orang-orangnya, melainkan pada caranya sendiri memandang waktu. Ia tidak lagi menunggu sesuatu terjadi, tapi juga tidak menolak ketika sesuatu mengetuk.
Pagi itu, Alya membantu Bu Wening menyiapkan bahan pelatihan pertama. Tangan-tangan tua dan muda bekerja berdampingan, bergerak canggung namun penuh niat. Tawa kecil sesekali pecah ketika hasil anyaman tidak sesuai harapan.
“Tidak apa-apa,” kata Alya lembut. “Yang penting kita tahu cara memperbaikinya.”
Bu Wening mengangguk, matanya berbinar. “Saya sudah lama tidak belajar hal baru. Rasanya… hidup lagi.”
Kalimat itu menancap di hati Alya.
Siang menjelang, Sultan datang membawa kabar dari balai desa. “Dimas menghubungi Pak Lurah. Katanya ingin kembali minggu depan, membawa proposal tertulis.”
Alya mengelap tangannya, berpikir sejenak. “Apakah Pak Lurah keberatan?”
“Tidak. Tapi beliau bilang, keputusan ada di tangan warga.”
Alya tersenyum tipis. “Itu jawaban yang tepat.”
Sore hari, Alya mengumpulkan beberapa warga di teras balai desa. Bukan rapat, hanya percakapan. Ia menceritakan kemungkinan kerja sama—tanpa janji, tanpa bujukan.
“Kita tidak harus menolak,” ujarnya tenang. “Tapi kita juga tidak harus menerima hanya karena terlihat besar.”
Seorang pemuda bertanya, “Kalau kita bilang tidak, apa kita akan kehilangan kesempatan?”
Alya menatapnya dengan jujur. “Mungkin. Tapi kita juga bisa kehilangan diri sendiri kalau menerima tanpa siap.”
Keheningan menyusul, bukan karena bingung, melainkan karena setiap orang sedang menimbang.
Malam itu, Alya duduk sendirian di teras rumah. Angin membawa suara serangga malam dan bau tanah lembap. Sultan duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa.
“Aku tidak takut pada dunia luar,” ucap Alya akhirnya. “Aku hanya ingin memastikan, ketika kita melangkah, itu karena kita mau—bukan karena kita merasa kecil.”
Sultan mengangguk. “Dan desa ini tidak kecil.”
Alya tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mempercayai kalimat itu.
Di kejauhan, lampu balai desa masih menyala. Beberapa warga masih berbincang, tertawa pelan, merencanakan hal-hal sederhana. Tidak ada kepastian besar, tidak ada janji cepat.
Namun Alya tahu, dari percakapan-percakapan kecil itulah arah akan ditentukan.
Dan apa pun pilihan yang kelak diambil, ia siap menjalaninya—tanpa tergesa, tanpa takut, dan tanpa kehilangan rasa cukup yang kini telah tumbuh di dalam dirinya.